my notes

Terbaru

Bolehkah Bersalam-salaman Setelah Sholat?

BERSALAMAN [BERJABAT TANGAN] SETELAH SHALAT

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaa,
Syaikh Abdul Aiz bin Abdullah bin Baz ditanya : Bagaimana hukum bersalaman setelah shalat, dan apakah ada perbedaan antara shalat fardhu dan shalat sunnah ?

Baca kelanjutan halaman ini »

BERTEPUK TANGAN MERUPAKAN PERBUATAN JAHILIYAH

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apakah bertepuk tangan dalam suatu acara atau pesta diperbolehkan, ataukah itu termasuk pebuatan makruh?

Baca kelanjutan halaman ini »

Apakah Bekerja di Kantor Pajak Itu Haram?

Berikut ada fatwa menarik tentang hukum bekerja di kantor pajak yang sering dipertanyakan sebagian orang. Semoga bermanfaat.

حكم العمل في الجمارك والضرائب
أعمل في الجمارك ، وقد سمعت أن هذا العمل غير جائز شرعاً ، فشرعت في البحث في هذه المسألة وقد مرت مدة طويلة وأنا أبحث دون أن أصل إلى نتيجة شافية . أرجو منكم أن تفصلوا لي المسألة قدر المستطاع

Hukum Bekerja di Bidang Bea Cukai dan Perpajakan

Pertanyaan, “Aku bekerja di kantor bea cukai. Aku pernah mendengar bahwa pekerjaan semacam ini itu tidak diperbolehkan oleh syariat. Mendengar hal tersebut aku lantas mengadakan pengkajian tentang permasalahan ini. Setelah sekian lama aku mengkaji, aku tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Aku berharap agar anda menjelaskan hukum permasalahan ini sejelas-jelasnya”.

Baca kelanjutan halaman ini »

Apakah Istri Harus Mengetahui Semua Persoalan Suami?

Sebuah mahligai rumah tangga tidak pernah lepas dari berbagai macam problematika keluarga yang cenderung menumpuk dan mengkristal, baik datangnya dari pihak suami maupun istri. Penumpukan problem ini bisa menjadi bom waktu yang suatu saat meledak meluluhlantakkan rumah tangga.

Karena itu, usaha maksimal untuk menjinakkan bom permasalahan menjadi sebuah keniscayaan, agar kita tidak mendengar ucapan seseorang , “Aku lebih bahagia saat bujang, daripada keadaanku sekarang setelah menikah”.

Baca kelanjutan halaman ini »

Kurma dan Beragam Khasiatnya

Kurma Sering Digunakan Sebagai Simbol Kebaikan Dalam Islam

[a]. Kurma Sering Digunakan Sebagai Simbol Kebaikan Dalam Islam
Kurma adalah termasuk kebutuhan pangan yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat Arab sebagai makanan pokok, oleh karena itu kurma termasuk bahan makanan untuk zakat fitrah.

Sebagaimana hadits.

“Artinya : (Kategori makanan yang termasuk) zakat itu ada empat macam, tepung gandum, terigu, kismis, dan kurma kering” [1]

Sedangkan kurma sebagai gambaran dari kebaikan terkandung dalam hadits berikut ini.

Dari Al-Mundzir bin Jarir, dari ayahnya,ia berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada permulaan siang yang terik”. Lalu ia melanjutkan : ‘Lalu datanglah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu kaum dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak memakai baju, hanya memakai kain selimut (yang nampak dari yang memakainya hanya bagian kepala saja), atau mantel dari karung sambil menyandang pedang, kebanyakan mereka dari kabilah Mudhar, bahkan semuanya dari Mudhar. Melihat kondisi demikian, wajah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berubah (karena merasa iba) melihat kefakiran yang menimpa mereka. Beliau masuk dan keluar kembali, kemudian menyuruh Bilal untuk mengumandangkan adzan dan iqamat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat kemudian diikuti dengan khutbah, beliau bersabda : “ Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakanmu dari seroang diri… hingga akhir ayat …. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu” (An-Nisaa : 1) (Juga membaca ayat dalam surat Al-Hasyr), “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) ; dan bertakwalah kepada Allah..” [Al-Hasyr : 18]

Beliau melanjutkan,’Ada seseorang bershadaqah dari dinarnya, dirhamnya, pakaiannya, dari satu sha gandumnya, satu sha kurma (sampai beliau mengatakan) … walaupun hanya dengan sebutir kurma kering”.

Perawi berkata : “Kemudian seorang laki-laki dari kaum Anshar membawa sekantung penuh kurma, hampir-hampir telapak tangannya tidak kuat untuk membawanya, bahkan benar-benar lemah, maka hal ini diikuti silih berganti oleh banyak orang. Aku pun melihat raut wajah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bergembira seakan-akan berbinar cerah sekali, kemudian beliau bersabda, ‘Barangsiapa yang mencontohkan suatu sunnah dalam Islam dengan sunnah yang baik, maka baginya pahala sunnah tersebut dan pahala orang yang mengamalkannya sesudahnya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa mencontohkan suatu sunnah dalam Islam dengan sunnah yang buruk, maka dosanya akan ditanggungnya dan juga dosa orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun”[2]

Hadits tersebut menurut Imam An-Nawawy dalam Syarh Shahih Muslim [3] berkaitan dengan hadits yang lain.

Baca kelanjutan halaman ini »

Inilah Zaitun, Pohon yang Penuh Berkah

Zaitun adalah pohon yang penuh berkah dan hal ini telah disifatkan oleh Alloh subhanahu wa ta’ala dalam Al Qur’an surah an-Nur ayat 35:

“Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api.


Imam Tirmidzi dan Ibnu Majah meriwayatkan dengan isnad yang jayyid, dari hadits Abu Hurairah, Nabi kita Shalallahu alaihi wassalam bersabda:

Makanlah minyak zaitun dan minyakilah dengannya, karena ia berasal dari pohon yang penuh barakah”

Baca kelanjutan halaman ini »

Pernak-pernik Hukum Wanita

oleh: ustadz Ahmad Sabiq Abu Yusuf

1. Wanita Saudara Kandung Laki-Laki, tetapi Bukan Laki-Laki

Rosululloh bersabda :

إنما النساء شقائق الرجال

“Sesungguhnya wanita itu saudara kandung laki-laki.”

Maksud dari sabda Rosululloh ini adalah bahwa wanita itu sama hukumnya dengan laki-laki, baik dalam masalah perintah maupun larangan, pahala dan dosa serta lainnya

Namun sesuatu yang harus disadari bahwa Alloh dan Rosul Nya telah membedakan antara keduanya dalam beberapa masalah, karena memang bagaimanapun wanita itu bukan laki-laki, sebagaimana firman Nya :

وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَى

“Dan laki-laki itu bukan seperti wanita.”

(QS. Ali Imron : 36)

Syaikh Mushthofa Al Adawi berkata:

“Hadits di atas berlaku secara umum bagi sebuah masalah yang tidak terdapat nash yang membedakan antara laki-laki dengan wanita. Adapun kalau didapatkan sebuah nash yang membedakan antara laki-laki dengan wanita maka maka wajib tunduk pada nash tersebut dan memberikan hukum tersendiri pada wanita begitu pula hukum tersendiri pada laki-laki.

Contoh :

  • Jangan ada seorangpun yang berkata bahwa persaksian seorang wanita sama dengan persaksian laki-laki hanya karna berdasarkan hadits diatas, ini adalah sebuah pendapat yang sangat munkar.
  • Jangan pula ada seorang pun yang berpendapat bahwa warisan wanita sama dengan warisan laki-laki, ini adalah sebuah kesalahan nyata.

(Lihat Jami’ Ahkamin Nisa’ 1/12 dengan diringkas)

2. Dzikir yang Menggunakan Lafadz Mudzakkar (maskulin-ed) Apakah Boleh Diucapkan oleh Seorang Wanita dengan Lafadz  Mu’anats (feminin-ed)?

Baca kelanjutan halaman ini »

Ahlan Wa Sahlan

AHlaN wa SaHlan

Alhamdulillah ‘ala kulli hal…

akhirnya bisa hadir blogsite pribadi saya,

Semoga dapat mendatangkan manfaat bagi saya pribadi dan pembaca

[Ummu Naila]