my notes

Pernak-pernik Hukum Wanita

oleh: ustadz Ahmad Sabiq Abu Yusuf

1. Wanita Saudara Kandung Laki-Laki, tetapi Bukan Laki-Laki

Rosululloh bersabda :

إنما النساء شقائق الرجال

“Sesungguhnya wanita itu saudara kandung laki-laki.”

Maksud dari sabda Rosululloh ini adalah bahwa wanita itu sama hukumnya dengan laki-laki, baik dalam masalah perintah maupun larangan, pahala dan dosa serta lainnya

Namun sesuatu yang harus disadari bahwa Alloh dan Rosul Nya telah membedakan antara keduanya dalam beberapa masalah, karena memang bagaimanapun wanita itu bukan laki-laki, sebagaimana firman Nya :

وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَى

“Dan laki-laki itu bukan seperti wanita.”

(QS. Ali Imron : 36)

Syaikh Mushthofa Al Adawi berkata:

“Hadits di atas berlaku secara umum bagi sebuah masalah yang tidak terdapat nash yang membedakan antara laki-laki dengan wanita. Adapun kalau didapatkan sebuah nash yang membedakan antara laki-laki dengan wanita maka maka wajib tunduk pada nash tersebut dan memberikan hukum tersendiri pada wanita begitu pula hukum tersendiri pada laki-laki.

Contoh :

  • Jangan ada seorangpun yang berkata bahwa persaksian seorang wanita sama dengan persaksian laki-laki hanya karna berdasarkan hadits diatas, ini adalah sebuah pendapat yang sangat munkar.
  • Jangan pula ada seorang pun yang berpendapat bahwa warisan wanita sama dengan warisan laki-laki, ini adalah sebuah kesalahan nyata.

(Lihat Jami’ Ahkamin Nisa’ 1/12 dengan diringkas)

2. Dzikir yang Menggunakan Lafadz Mudzakkar (maskulin-ed) Apakah Boleh Diucapkan oleh Seorang Wanita dengan Lafadz  Mu’anats (feminin-ed)?


  • Syaikhul Islam pernah ditanya tentang seorang wanita yang mendengar sabda Rosululloh berdo’a :

اللَّهُمَّ إنِّي عَبْدُك وَابْنُ عَبْدِك نَاصِيَتِي بِيَدِك

“Ya Alloh, saya adalah hamba (laki-laki) Mu dan anak dari hamba (laki-laki) Mu, ubun-ubunku berada diTangan Mu…..”

lalu wanita tersebut selalu mengucapkan dengan lafadz ini, kemudian ada yang mengatakan kepadanya : Katakanlah :

اللَّهُمَّ إنِّي أَمَتُك بِنْتُ أَمَتِك

“Ya Alloh, saya adalah hamba (wanita) Mu  dan anak wanita dari hamba (wanita) Mu……”

namun wanita tersebut tetap menggunakan lafadz hadits diatas, apakah ini sebuah kesalahan ataukah bukan ?

  • Syaikhul Islam menjawab : “Yang seharusnya dilakukan oleh wanita tersebut adalah mengucapkan :

اللَّهُمَّ إنِّي أَمَتُك بِنْتُ عَبْدِك ابْنِ أَمَتِك

“Ya Alloh, saya adalah hamba (wanita) Mu dan saya adalah anak wanita dari hamba (laki-laki) Mu yang merupakan anak laki-laki dari hamba (wanita) Mu …”

maka ini adalah lebih baik dan lebih utama. Meskipun kalau dia mengucapkan : عَبْدُك ابْنُ عَبْدِك. maka itu ada sisi benarnya dalam bahasa arab seperti lafadz : Zauj 1. Wallohu a’lam

(Lihat Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah 22/488)


3. Sholat membawa anak kecil

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتَ زَيْنَبَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِأَبِي الْعَاصِ بْنِ رَبِيعَةَ بْنِ عَبْدِ شَمْسٍ فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا وَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا

Dari Qotadah al Anshori bahwasannya Rosululloh sholat sambil membawa Umamah putri Zainab binti Rosululloh dengan Abul Ash bin Robi’ah bin Abdu Syams, lalu apabila Rosululloh sujud beliau meletakkannya dan apabila berdiri maka beliau menggendongnya.”

(HR. Bukhori Muslim)

Imam Nawawi berkata:

  • “Hadits ini menunjukkan pada pendapatnya Imam Syafi’i serta para ulama’ yang mengikuti beliau. Bahwa boleh membawa anak laki-laki ataupun wanita juga binatang suci saat sholat wajib maupun sholat sunnah, dan ini boleh dilakukan oleh imam, ma’mum maupun yang sholat sendirian.
  • Namun para ulama’ Malikiyyah membawa hadits ini pada sholat sunnah saja, dan mereka melarang melakukan itu pada sholat wajib. Ini adalah sebuah ta’wil yang salah karena lafadz : Beliau mengimami manuisa.” (sebagaimana dalam riwayat lainnya –pent) adalah sebuah keterangan yang tegas menunjukkan bahwa beliau dalam sholat wajib. Maka yang benar dalam masalah ini bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya dilakukan oleh kita dan kebolehan ini berlaku sampai hari kiamat.”


4. Wanita yang Sudah Menikah Lalu Berkunjung ke Rumah Orang Tuanya, Apakah Disyariatkan Mengqoshor Sholat ?

Kasus masalah ini adalah seorang wanita yang menikah lalu dia menetap bersama suaminya di tempat yang jauh. Lalu suatu ketika keduanya berkunjung ke tempat orang tua istri, apakah disyariatkan baginya mengqoshor sholat ?

  • Bagi si suami,  disyariatkan qoshor sholat kalau dia sholat sendirian atau sebagai imam karena dia sebagai musafir
  • adapun bagi si istri,  Syaikh Mushthofa al Adawi menjelaskannya sebagai berikut: “Saya tidak menemukan dalil yang shorih (tegas) dalam masalah ini, meskipun yang nampak bagiku bahwa dia mengqoshor sholat, hal ini karena Alloh Ta’ala menyebut rumah suaminya sebagai rumahnya, sebagaimana firman Nya :

وَاتَّقُوا اللَّهَ رَبَّكُمْ لَا تُخْرِجُوهُنَّ مِنْ بُيُوتِهِنَّ

“Dan bertaqwalah kalian kepada Robb kalian, jangan kalian (para suami) mengeluarkan mereka (para istri) dari rumah-rumah mereka.”

(QS. Ath Tholaq : 1)

juga firman Nya :

وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آَيَاتِ اللَّهِ

“Dan sebutlah oleh kalian (para wanita) apa yang dibacakan di dalam rumah-rumah kalian dari ayat-ayat Alloh …”

(QS. Al Ahzab : 34)

  • maka apabila dia berkunjung ke rumah orang tuanya berarti itu sudah bukan rumahnya lagi, maka dia harus mengqoshor sholat di rumah orang tuanya.” Wallohu a’lam

(Lihat Jami’ Ahkamin Nisa’ oleh Syaikh Mushthofa Al Adawi 1/429)

5. Wanita Memberikan Zakatnya kepada Suami dan Anaknya

Apabila ada seorang istri yang kaya, maka boleh baginya memberikan zakat dan shodaqohnya kepada suaminya apabila si suami termasuk salah satu dari delapan golongan yang berhak menerima zakat. Hal ini dikarenakan seoang istri tidak berkewajiban memberikan nafkah kepada suami, jadi boleh memberikan harta zakat dan shodaqoh kepadanya.

Ini adalah madzhab Imam Syafi’i, Ats Tauri, Abu Yusuf, Muhammad bin Hasan asy Syaibani, salah satu riwayat dari Malik juga Ahmad bin Hambal.

Dalilnya adalah hadits berikut :

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَضْحًى أَوْ فِطْرٍ إِلَى الْمُصَلَّى ثُمَّ انْصَرَفَ فَوَعَظَ النَّاسَ وَأَمَرَهُمْ بِالصَّدَقَةِ فَقَالَ أَيُّهَا النَّاسُ تَصَدَّقُوا فَمَرَّ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ فَقُلْنَ وَبِمَ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ ثُمَّ انْصَرَفَ فَلَمَّا صَارَ إِلَى مَنْزِلِهِ جَاءَتْ زَيْنَبُ امْرَأَةُ ابْنِ مَسْعُودٍ تَسْتَأْذِنُ عَلَيْهِ فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذِهِ زَيْنَبُ فَقَالَ أَيُّ الزَّيَانِبِ فَقِيلَ امْرَأَةُ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ نَعَمْ ائْذَنُوا لَهَا فَأُذِنَ لَهَا قَالَتْ يَا نَبِيَّ اللَّهِ إِنَّكَ أَمَرْتَ الْيَوْمَ بِالصَّدَقَةِ وَكَانَ عِنْدِي حُلِيٌّ لِي فَأَرَدْتُ أَنْ أَتَصَدَّقَ بِهِ فَزَعَمَ ابْنُ مَسْعُودٍ أَنَّهُ وَوَلَدَهُ أَحَقُّ مَنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَلَيْهِمْ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَ ابْنُ مَسْعُودٍ زَوْجُكِ وَوَلَدُكِ أَحَقُّ مَنْ تَصَدَّقْتِ بِهِ عَلَيْهِمْ

Dari Abu Sa’id al Khudri berkata : Pada hari raya idul adlha atau idul fithri, Rosululloh keluar ke lapangan sholat, lalu beliau memperingatkan manusia dan memerintahkan mereka untuk bershodaqoh.

Beliau bersabda : Wahai sekalian manusia, bershodaqohlah.”

Lalu beliau melewati jamaah wanita seraya berkata : “Wahai sekalian kaum wanita, saya melihat kebanyakan kalian adalah penduduk neraka.”

Para wanita bertanya : “Kenapa wahai Rosululloh ?.”

Beliau menjawab : “Kalian banyak melaknat dan mengkufuri keluarga, dan saya tidak melihat seseorang yang kurang akal dan agamanya namun menghilangkan hati seorang laki-laki yang tegar melebihi salah seorang dari kalian wahai kaum wanita.”

Kemudian, beliau pun pergi. Tatkala sudah sampai rumah, maka Zainab istri Abdulloh ibnu Mas’ud minta izin kepada beliau untuk bertemu, maka dikatakan kepada beliau : “Wahai Rosululloh, ini Zainab.”

Rosululloh bertaya : Zainab siapa ?.”

Dijawab : Istrinya Ibnu Mas’ud.”

Maka Rosululloh berkata : “Silahkan , izinkan dia masuk.”

Zaenab berkata : “Wahai Rosululloh, engkau tadi memerintahkan untuk bershodaqoh, sedangkan saya memiliki perhiasan , dan saya kepingin menshodaqohkannya, namun Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa dia dan anaknya lebih berhak untuk diberi harta shodaqoh tersebut.”

Maka Rosululloh bersabda : “ Ibnu Mas’ud benar, suami dan anakmu lebih berhak engkau beri shodaqoh.”

(HR. Bukhori : 1462)

Dalam riwayat lainya Rosululloh bersabda : “Boleh (memberi shodaqoh kepada suami-pent) dan dia mendapatkan dua pahala, pahala menyambung hubungan kekeluargaan dan pahala shodaqoh.”  (HR. Bukhori : 1466)

(Lihat Fathul Bari 3/329, Nailul Author 4/177)

  • Namun hukum ini tidak boleh dibalik, yaitu tidak boleh seorang suami memberikan zakat kepada istrinya, karena suami wajib memberi nafkah kepada istri, yang karena sebab itulah tidak boleh memberikan zakat kepadanya
  • Imam Ibnu Qudamah berkata: “Adapun istri, maka tidak boleh memberikan zakat kepadanya dengan kesepakaan para ulama’.
  • Ibnul Mundzir berkata: “Para ulama’ sepakat bahwa seorang suami tidak boleh memberikan zakat kepada istrinya.” (Lihat Al Mughni 2/649)

6. Jika Suami Pelit


عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ هِنْدَ بِنْتَ عُتْبَةَ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ وَلَيْسَ يُعْطِينِي مَا يَكْفِينِي وَوَلَدِي إِلَّا مَا أَخَذْتُ مِنْهُ وَهُوَ لَا يَعْلَمُ فَقَالَ خُذِي مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوفِ

Dari Aisyah bahwasannya Hindun binti Utbah berkata : “Ya Rosululloh, Abu Sufyan seorang yang kikir, dia tidak memberikan nafkah yang cukup bagiku dan bagi anak-anakku kecuali apa yang saya ambil dari hartanya tanpa sepengetahuan dia.” Maka Rosululloh bersabda : “Ambillah apa yang cukup untukmu dan anakmu dengan cara yang baik.”

(HR. Bukhori Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa kalau seorang suami tidak memberikan nafkah yang cukup kepada istri dan anaknya maka boleh bagi mereka untuk mengambil harta suami atau bapaknya tanpa sepengetahuannya, namun yang boleh diambil adalah sekedar yang cukup dengan cara yang baik dan tidak boleh lebih daripada itu.

Berkata Imam Ibnul Qoyyim : “Fatwa Rosululloh ini mengandung beberapa hal :

  1. Bahwa nafkah kepada istri itu tidak ada ketentuannya, namun kembali kepada urf yang berlaku.
  2. Bahwa nafkah istri itu sama dengan nafkah anak, kedua sama-sama menurut urf yang ada.
  3. Hanya bapak yang wajib memberi nafkah kepada anak-anaknya
  4. Apabila suami dan bapak tidak memberikan nafkah untuk istri dan anak, maka mereka boleh mengambil sesuatu yang cukup dengan cara yang baik
  5. Apabila seorang istri masih bisa mengambil nafkah yang cukup dari suaminya maka dia tidak boleh menuntut cerai
  6. Apabila Alloh dan Rosul Nya tidak menentukan ukuran sebuah kewajiban, maka dikembalikan kepada urf yang berlaku
  7. Barang siapa yang tidak melaksanakan kewajibannya, maka bagi yang seharusnya mendapatkannya boleh mengambilnya sendiri apabila dia mampu, sebagaimanayang difatwakan oleh Rosululloh kepada Hindun.”

(Lihat i’lamul Muwaqqi’in oleh Imam Ibnul Qoyyim)

7. Wanita Mencicipi Makanan Saat Puasa

  • Boleh bagi seorang wanita untuk mencicipi makanan atau mengunyah makanan saat puasa dengan syarat tidak sampai masuk kedalam kerongkongannya.
  • Telah datang beberapa atsar dari salaf akan hal ini, diantaranya :
  • Ibnu Abbas berkata: Tidak mengapa mencicipi cuka atau lainnya selagi tidak masuk kedalam kerongkongannya saat puasa.” (HR. Ibnu Abi Syaibah 3/47)
  • Hal senada datang pula dari Hammad dan Hasan al Bashri serta lainnya.

Wallohu A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s