<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>CATATAN SEORANG PENJELAJAH</title>
	<atom:link href="http://jel4jah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jel4jah.wordpress.com</link>
	<description>my notes</description>
	<lastBuildDate>Thu, 27 Oct 2011 20:50:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='jel4jah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/b29d668c3dea86800720ecffeefdf8d2?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>CATATAN SEORANG PENJELAJAH</title>
		<link>http://jel4jah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://jel4jah.wordpress.com/osd.xml" title="CATATAN SEORANG PENJELAJAH" />
	<atom:link rel='hub' href='http://jel4jah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Hukum Darah pada Wanita yang Mengalami Keguguran</title>
		<link>http://jel4jah.wordpress.com/2010/11/25/hukum-darah-pada-wanita-yang-mengalami-keguguran/</link>
		<comments>http://jel4jah.wordpress.com/2010/11/25/hukum-darah-pada-wanita-yang-mengalami-keguguran/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Nov 2010 17:57:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ummu naila</dc:creator>
				<category><![CDATA[fikih]]></category>
		<category><![CDATA[darah wanita]]></category>
		<category><![CDATA[fikih wanita]]></category>
		<category><![CDATA[keguguran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jel4jah.wordpress.com/?p=328</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullaahu Fadhilatusy Syaikh ditanya tentang seorang wanita yang mengalami keguguran pada usia 3 bulan kandungannya. Apakah dia tetap shalat atau harus meninggalkannya? Beliau menjawab: Yang dikenal di sisi para ulama, jika wanita mengalami keguguran maka dia tidak melaksanakan shalat, karena yang gugur dari kandungannya sudah berupa janin yang telah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jel4jah.wordpress.com&amp;blog=9561536&amp;post=328&amp;subd=jel4jah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jel4jah.files.wordpress.com/2010/11/dg.jpeg"><img class="aligncenter size-full wp-image-331" title="dg" src="http://jel4jah.files.wordpress.com/2010/11/dg.jpeg?w=259&#038;h=194" alt="" width="259" height="194" /></a></p>
<p><em>Oleh: Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullaahu</em></p>
<p><strong>Fadhilatusy Syaikh ditanya tentang  seorang wanita yang mengalami keguguran pada usia 3 bulan kandungannya.  Apakah dia tetap shalat atau harus meninggalkannya?</strong></p>
<p><strong>Beliau menjawab:</strong></p>
<p>Yang dikenal di sisi para ulama, jika  wanita mengalami keguguran maka dia tidak melaksanakan shalat, karena  yang gugur dari kandungannya sudah berupa janin yang telah jelas padanya  bentuk manusia, sehingga darah yang keluar darinya merupakan darah  nifas yang menghalanginya dari pelaksanaan shalat.</p>
<p>Para ulama menyatakan: <strong>Dan sangat  mungkin bentuk manusia itu begitu jelas jika sudah genap 81 hari usia  kehamilan, dan hitungan ini kurang dari 3 bulan. Jika dia yakin bahwa  janinnya gugur pada usia 3 bulan, maka darah yang keluar darinya darah  nifas. Adapun jika usia kehamilannya sebelum 80 hari, maka darah yang  keluar darinya dihukumi darah fasad <em>(istihadhah)</em>, sehingga dia tidak boleh meninggalkan shalat hanya karena keluarnya darah tersebut.</strong></p>
<p>Maka wajib baginya untuk  mengingat-ingat, jika kegugurannya sebelum 80 hari usia kehamilannya dia  mengqadha shalat (yang dia tinggalkan), jika dia tidak ingat berapa  kali shalat yang dia tinggalkan maka dia perkirakan kemungkinan yang  paling besar jumlah shalat yang dia tinggalkan kemudian mengqadhanya.</p>
<p><em>(Dinukil dari <strong>رسالة في الدماء الطبيعية للنساء</strong> (Problema Darah Wanita), karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih  Al-‘Utsaimin, hal. 143-144, penerjemah: Abu Hamzah Kaswa, penerbit:  Ash-Shaf Media Tegal, cet. ke-1 November 2007M, untuk  http://almuslimah.co.nr</em></p>
<p><em>****<br />
</em></p>
<p><em>Oleh: Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullaahu</em></p>
<p><strong>Fadhilatusy Syaikh ditanya tentang hukum darah yang keluar setelah keguguran?</strong></p>
<p><strong>Beliau menjawab:</strong></p>
<p>Jika janin keluar, maka darah keluar  mengikuti keluarnya janin tersebut. Jika telah nampak bentuk manusia  pada janin tersebut, tampak tangan, kaki dan anggota badan lainnya, maka  darah yang keluar adalah darah nifas sehingga dia tidak boleh shalat  dan puasa sampai suci dari darah tersebut. Jika belum nampak bentuk  manusia maka darahnya bukan darah nifas, sehingga dia tetap shalat dan  puasa kecuali pada hari-hari yang biasanya dia mengalami haidh. Sehingga  pada hari-hari tersebut dia tidak melaksanakan shalat dan puasa sampai  berakhir masa kebiasaan haidhnya.</p>
<p><span id="more-328"></span></p>
<p><strong>Fadhilatusy Syaikh ditanya tentang hukum darah yang keluar dari seorang wanita setelah keguguran?</strong></p>
<p><strong>Beliau menjawab:</strong></p>
<p>Para ulama berkata: Jika janin yang  keluar telah jelas berbentuk manusia, maka darahnya darah nifas, dia  harus meninggalkan shalat dan puasa serta tidak boleh digauli sampai  suci dari darah tersebut.</p>
<p>Jika janin yang keluar belum berbentuk manusia, maka tidak dianggap sebagai darah nifas tetapi dihukumi darah <em>fasad</em> yang tidak menghalanginya dari shalat, puasa dan perbuatan lainnya.</p>
<p>Mereka mengatakan: Usia minimal  kehamilan yang dengannya janin sudah terbentuk adalah 81 hari, karena  janin dalam kandungan, sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Abdullah bin  Mas’ud <em>radhiyallaahu ‘anhu</em>:</p>
<p>حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ -وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوقُ-: إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ  فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ  عَلَقَةً مِثْلُ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلُ ذَلِكَ، ثُمَّ  يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ، فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ وَيُؤْمَرُ  بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ  أَمْ سَعِيْدٌ</p>
<p><em>“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah  bercerita kepada kami -dan beliau adalah orang yang jujur dan beritanya  dibenarkan-: ‘Sesungguhnya salah seorang di antara kalian penciptaannya  dikumpulkan dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa mani, kemudian 40  hari berupa darah, kemudian 40 hari berupa sekerat daging. Kemudian  seorang malaikat diutus kepadanya untuk meniupkan ruh dan memberitakan  tentang 4 perkara: ketentuan rizkinya, ajalnya, amalannya, dan nasibnya  apakah menjadi orang yang sengsara atau bahagia.’”</em> (<strong>Muttafaqun ‘alaih</strong>)</p>
<p>Oleh karena itu, jika janin gugur sebelum usia 80  hari kehamilan, darah yang keluar bukan darah nifas karena usia tersebut  belum terbentuk janin. Maka dia tetap berpuasa dan shalat dan melakukan  amalan yang dilakukan oleh wanita-wanita yang dalam masa sucinya.</p>
<p><em>(Dinukil dari <strong>رسالة في الدماء الطبيعية للنساء</strong> (Problema Darah Wanita), karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih  Al-‘Utsaimin, hal. 144-146, penerjemah: Abu Hamzah Kaswa, penerbit:  Ash-Shaf Media Tegal, cet. ke-1 November 2007M, untuk  http://almuslimah.co.nr)</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jel4jah.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jel4jah.wordpress.com/328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jel4jah.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jel4jah.wordpress.com/328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jel4jah.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jel4jah.wordpress.com/328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jel4jah.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jel4jah.wordpress.com/328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jel4jah.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jel4jah.wordpress.com/328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jel4jah.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jel4jah.wordpress.com/328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jel4jah.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jel4jah.wordpress.com/328/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jel4jah.wordpress.com&amp;blog=9561536&amp;post=328&amp;subd=jel4jah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jel4jah.wordpress.com/2010/11/25/hukum-darah-pada-wanita-yang-mengalami-keguguran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c6d361f940b6351a10fd921bbb8e3699?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">D' Tari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jel4jah.files.wordpress.com/2010/11/dg.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">dg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BOLEHKAH WANITA HAIDH DUDUK DI MASJID?</title>
		<link>http://jel4jah.wordpress.com/2010/11/25/bolehkah-wanita-haidh-duduk-di-masjid/</link>
		<comments>http://jel4jah.wordpress.com/2010/11/25/bolehkah-wanita-haidh-duduk-di-masjid/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Nov 2010 17:33:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ummu naila</dc:creator>
				<category><![CDATA[fikih]]></category>
		<category><![CDATA[fikih wanita]]></category>
		<category><![CDATA[haid]]></category>
		<category><![CDATA[hukum haid]]></category>
		<category><![CDATA[hukum wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jel4jah.wordpress.com/?p=320</guid>
		<description><![CDATA[HUKUM WANITA HAIDL DUDUK DI MASJID Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum wanita haidl duduk di masjid menjadi dua pendapat: Pertama: Jumhur mengharamkan kecuali sebatas lewat saja. Kedua: Ibnu Hazm dan Al Muzani dari kalangan Syafi&#8217;iyah membolehkan. Dalil-dalil jumhur. 1. Hadits Ummu &#8216;Athiyyah ia berkata: أُمِرْنَا أَنْ نُخْرِجَ الْحُيَّضَ يَوْمَ الْعِيدَيْنِ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ فَيَشْهَدْنَ جَمَاعَةَ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jel4jah.wordpress.com&amp;blog=9561536&amp;post=320&amp;subd=jel4jah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>HUKUM WANITA HAIDL DUDUK DI MASJID</strong></p>
<p><a href="http://jel4jah.files.wordpress.com/2010/11/masjid1.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-325" title="masjid" src="http://jel4jah.files.wordpress.com/2010/11/masjid1.jpeg?w=259&#038;h=194" alt="" width="259" height="194" /></a>Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum wanita haidl duduk di masjid menjadi dua pendapat:</p>
<p>Pertama: Jumhur mengharamkan kecuali sebatas lewat saja.</p>
<p>Kedua: Ibnu Hazm dan Al Muzani dari kalangan Syafi&#8217;iyah membolehkan.</p>
<p>Dalil-dalil jumhur.</p>
<p>1. Hadits Ummu &#8216;Athiyyah ia berkata:</p>
<p><strong>أُمِرْنَا  أَنْ نُخْرِجَ الْحُيَّضَ يَوْمَ الْعِيدَيْنِ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ  فَيَشْهَدْنَ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَدَعْوَتَهُمْ وَيَعْتَزِلُ  الْحُيَّضُ عَنْ مُصَلَّاهُنَّ</strong><strong> </strong></p>
<p>&#8220;Kami diperintahkan untuk mengeluarkan wanita haidl  dan pingitan pada dua hari raya agar mereka menyaksikan jama&#8217;ah kaum  muslimin dan seruan mereka, sedangkan wanita haidl memisahkan diri dari  mushalla (tempat shalat) mereka&#8221;. (HR Bukhari dan Muslim dan ini adalah  lafadz Bukhari).</p>
<p>Dalam hadits ini Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam  memerintahkan para wanita haidl untuk memisahkan diri dari mushalla dan  yang dimaksud mushalla di sini adalah tempat shalat, jadi hadits adalah  nash yang melarang wanita haidl masuk ke dalam masjid.</p>
<p>2. Hadits Jasrah binti Dajajah dari Aisyah ia berkata:</p>
<p><strong>فَإِنِّي لَا أُحِلُّ الْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلَا جُنُبٍ</strong><strong> </strong></p>
<p>&#8220;Sesungguhnya aku tidak menghalalkan masjid untuk wanita haidl tidak juga junub&#8221;. (HR Abu Dawud).</p>
<p>3. Kisah haidlnya Aisyah sewaktu haji wada&#8217; dan Nabi bersabda:</p>
<p><strong>افْعلِي مَا يَفْعَلُ الحَاجَّ غَيْرَ ألاَّ تَطُوفِي بِالبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِي</strong><strong> </strong></p>
<p>&#8220;lakukanlah semua apa yang dilakukan oleh orang yang  berhaji kecuali engkau tidak boleh thawaf di Ka&#8217;bah sampai engkau suci&#8221;.  (HR Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Dalam hadits ini Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam  melarang wanita haidl thawaf di Ka&#8217;bah karena dikhawatirkan akan tinggal  di masjid.</p>
<p>4. Diqiyaskan  kepada orang yang junub, karena orang yang junub tidak boleh masuk  masjid berdasarkan surat An Nisa : 43 yang disebutkan di dalamnya:  &#8220;Tidak pula junub kecuali &#8216;abiri sabiil sampai ia mandi&#8221;. Ibnu Mas&#8217;ud  dan ibnu Abbas menafsirkan bahwa maknanya orang junub tidak boleh masuk  masjid kecuali sebatas melewat saja.</p>
<p>5. Hadits  Aisyah bahwa ia pernah menyisir rambut Nabi shallallahu &#8216;alaihi  wasallam yang sedang beri&#8217;tikaf di masjid sementara Aisyah haidl dan  Aisyah berada di rumahnya dan Nabi memasukkan kepalanya ke dalam rumah.  (HR Muslim).</p>
<p>Kalaulah wanita haidl boleh masuk ke dalam masjid tentu Nabi tidak akan melakukan perbuatan seperti itu.</p>
<p>Dalil-dalil pendapat kedua.</p>
<p>Dalil yang paling kuat untuk pendapat kedua adalah  karena tidak adanya dalil yang shahih dan sharih yang menunjukkan  haramnya wanita haidl duduk-duduk di masjid sehingga di kembalikan  kepada hukum istishhab yaitu bahwa pada asalnya sesuatu itu halal.</p>
<p>Mereka menjawab dalil-dalil jumhur sebagai berikut:</p>
<p><span id="more-320"></span></p>
<ul>
<li>· Adapun dalil pertama dijawab sebagai berikut:</li>
</ul>
<p>1. Bahwa yang dimaksud dengan mushalla dalam hadits itu adalah shalat itu sendiri sebagaimana dijelaskan dalam hadits lain:</p>
<p><strong>فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلَاةَ وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ</strong><strong> </strong></p>
<p>&#8220;Adapun wanita haidl meninggalkan shalat dan menyaksikan kebaikan dan seruan kaum muslimin&#8221;. (HR Muslim).</p>
<p>Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam dan para shahabatnya  melaksanakan shalat hari raya di lapangan bukan di masjid, sehingga  perintah untuk wanita haidl meninggalkan mushalla tiada lain maksudnya  adalah shalat.</p>
<p>2. Walaupun  misalnya kita menerima bahwa maknanya adalah tempat shalat, maka  lapangan tidak bisa dikiyaskan dengan masjid karena ini adalah qiyas  yang amat jauh berbeda.</p>
<ul>
<li>· Adapun dalil yang kedua dijawab :</li>
</ul>
<p>Bahwa haditsnya adalah dla&#8217;if karena di dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama Jasrah binti Dajajah.</p>
<p>Al Hafidz berkata: &#8220;Maqbul&#8221;. Artinya diterima bila ada  mutaba&#8217;ah dan bila tidak ada maka haditsnya lemah, dan tidak ada  seorangpun perawi lain yang memutaba&#8217;ah Jasrah sehingga hadits ini  lemah. Ibnul Qathan berkata: &#8220;Sanadnya tidak shahih&#8221;. (Bayanul wahmi  5/327), ibnu Rusyd berkata: &#8220;Hadits tersebut tidak shahih menurut para  ahli hadits&#8221;. (Al Hidayah takhrij Al Bidayah 2/31).</p>
<ul>
<li>· Adapun dalil yang ketiga dijawab:</li>
</ul>
<p>Bahwa berdalil dengan hadits ini untuk melarang wanita  haidl sangat lemah sekali karena Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasllam hanya  melarang thawaf bagi wanita haidl, sedangkan larangan thawaf lebih  khusus dari larangan masuk masjid, kalaulah larangan thawaf di ka&#8217;bah  karena dikhawatirkan terkotori oleh darah haidl tentu beliau akan  menyuruhnya untuk menyumbat kemaluannya sebagaimana menyuruh Asma bintu  Umais ketika melahirkan di miqat.</p>
<p>Dan membawa makna larangan thawaf bagi wanita haidl  kepada makna larangan masuk masjid adalah memalingkan lafadz dari  maknanya secara lahiriah dengan tanpa dalil.</p>
<ul>
<li>· Adapun dalil yang keempat dijawab:</li>
</ul>
<p>1. Bahwa  yang dimaksud dengan &#8216;abiri sabiil adalah musafir sebagaimana yang  ditafsirkan oleh ibnu Abbas dalam riwayat Qatadah dari Abu Mijlaz dari  ibnu Abbas dan ini adalah sanad yang shahih.</p>
<p>2. Penafsiran  ibnu Mas&#8217;ud terhadap ayat tersebut untuk orang junub yang melewati  masjid, riwayatnya lemah karena ia berasal dari riwayat Abu Ubaidah bin  Abdullah dari ibnu Mas&#8217;ud, sedangkan Abu Ubaidah tidak mendengar dari  ibnu Mas&#8217;ud sehingga sanadnya terputus. Demikian pula penafsiran ibnu  Abbas yang semakna dengannya, riwayatnya juga lemah karena berasal dari  periwayatan Abu Ja&#8217;far Ar Razi.</p>
<p>3. Walaupun  bisa diterima bahwa yang dimaksud dengan ayat adalah orang junub, namun  mengkiyaskan wanita haidl dengan junub adalah qiyas yang jauh berbeda</p>
<p>4. Adanya  riwayat bahwa beberapa shahabat pernah duduk di masjid dalam keadaan  junub apabila mereka telah berwudlu, dikeluarkan oleh Sa&#8217;id bin Manshur  dalam sunannya dengan sanad yang hasan.</p>
<ul>
<li>· Adapun dalil yang kelima dijawab:</li>
</ul>
<p>Bahwa hadits ini adalah hikayat perbuatan yang  mempunyai banyak kemungkinan diantaranya adalah boleh jadi Nabi  shallallahu &#8216;alaihi wasallam melakukan demikian karena di dalam masjid  banyak laki-laki sehingga beliau tidak mengizinkan Aisyah untuk menyisir  rambutnya di dalam masjid, atau karena Aisyah meyakini bahwa masjid  bukan tempat untuk mencuci rambut sebagaimana disebutkan dalam Muslim  Aisyah berkata: &#8220;Lalu aku mencucinya sedangkan aku dalam keadaan haidl&#8221;.  Sedangkan dalil bila mempunyai banyak kemungkinan-kemungkinan yang sama  kuatnya tidak dapat dijadikan dalil sampai didapatkan dalil lain yang  tegas.</p>
<p>Diantara dalil yang dipegang oleh pendapat kedua  adalah hadits Aisyah bahwa Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda  kepadanya:</p>
<p><strong>نَاوِلِينِي الْخُمْرَةَ مِنْ الْمَسْجِدِ قَالَتْ فَقُلْتُ إِنِّي حَائِضٌ فَقَالَ إِنَّ حَيْضَتَكِ لَيْسَتْ فِي يَدِكِ</strong>.</p>
<p>&#8220;Ambilkan khumrah dari masjid ! aku berkata: &#8220;Akan  tetapi aku sedang haidl&#8221;. Beliau bersabda: &#8220;Sesungguhnya haidlmu bukan  di tanganmu&#8221;. (HR Muslim).</p>
<p>Hadits ini menunjukkan bahwa badan wanita haidl itu  suci dan bahwa ia boleh mengambil sesuatu dari masjid dan tidak ada  bedanya antara sebatas melewat dengan duduk, karena bila alasannya bahwa  wanita haidl tidak boleh masuk masuk karena haidlnya tentu Nabi  shallallahu &#8216;alaihi wasallam tidak akan mengidzinkan Aisyah masuk ke  masjid untuk mengambil khumrah.</p>
<p>Adapun perkataan imam An Nawawi bahwa yang dimakna  hadits itu artinya bahwa Nabi menyuruh Aisyah dari masjid dan Aisyah  mengambilnya dari luar masjid adalah pemahaman yang tidak ditunjukkan  oleh redaksi hadits tersebut, oleh karena itu para penulis sunan yang  empat kecuali An nasai memberikan judul untuk hadits tersebut: &#8220;Bab  wanita haidl mengambil sesuatu dari masjid&#8221;. At Tirmidzi berkata:  &#8220;Hadits Aisyah hasan shahih dan ia adalah pendapat seluruh ahli ilmu,  kami tidak mengetahui adanya perselisihan dalam masalah ini yaitu  bolehnya wanita haid mengambil sesuatu dari masjid&#8221;. (Ats TSamat Al  Mustathab 1/741).</p>
<p>Dan inilah pendapat yang shahih bahwa wanita haidl boleh duduk di masjid, wallahu a&#8217;lam.</p>
<p>sumber : http://abuyahyabadrusalam.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jel4jah.wordpress.com/320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jel4jah.wordpress.com/320/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jel4jah.wordpress.com/320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jel4jah.wordpress.com/320/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jel4jah.wordpress.com/320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jel4jah.wordpress.com/320/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jel4jah.wordpress.com/320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jel4jah.wordpress.com/320/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jel4jah.wordpress.com/320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jel4jah.wordpress.com/320/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jel4jah.wordpress.com/320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jel4jah.wordpress.com/320/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jel4jah.wordpress.com/320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jel4jah.wordpress.com/320/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jel4jah.wordpress.com&amp;blog=9561536&amp;post=320&amp;subd=jel4jah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jel4jah.wordpress.com/2010/11/25/bolehkah-wanita-haidh-duduk-di-masjid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c6d361f940b6351a10fd921bbb8e3699?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">D' Tari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jel4jah.files.wordpress.com/2010/11/masjid1.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">masjid</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tsabitkan Penisbahan Kalimah “Sayyidina” Kepada Nabi Di Dalam Selawat?</title>
		<link>http://jel4jah.wordpress.com/2010/08/30/tsabitkan-penisbahan-kalimah-%e2%80%9csayyidina%e2%80%9d-kepada-nabi-di-dalam-selawat/</link>
		<comments>http://jel4jah.wordpress.com/2010/08/30/tsabitkan-penisbahan-kalimah-%e2%80%9csayyidina%e2%80%9d-kepada-nabi-di-dalam-selawat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Aug 2010 04:03:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ummu naila</dc:creator>
				<category><![CDATA[adab islam]]></category>
		<category><![CDATA[fikih]]></category>
		<category><![CDATA[shalawat nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jel4jah.wordpress.com/?p=315</guid>
		<description><![CDATA[Dalam hal ini, Sheikh al-Muhaddis Muhammad Nashiruddin al-Albani menyatakan: Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah pernah ditanya berkenaan kalimat selawat untuk Nabi yang dibaca dalam solat dan di luar solat, sama ada yang wajib atau pun yang sunnah/sunat: “Apakah dalam ucapan selawat itu disyari’atkan menggunakan kata-kata Sayyid, seperti orang mengatakan “Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad” atau “’ala [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jel4jah.wordpress.com&amp;blog=9561536&amp;post=315&amp;subd=jel4jah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><strong> </strong><br />
Dalam hal ini, Sheikh al-Muhaddis Muhammad Nashiruddin al-Albani menyatakan:</p>
<p>Ibnu  Hajar al-Asqalani rahimahullah pernah ditanya berkenaan kalimat selawat  untuk Nabi yang dibaca dalam solat dan di luar solat, sama ada yang  wajib atau pun yang sunnah/sunat:</p>
<p>“Apakah dalam ucapan selawat  itu disyari’atkan menggunakan kata-kata Sayyid, seperti orang mengatakan  “Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad” atau “’ala sayyidina khalqi”  atau “’ala sayyid waladi” atau hanya menggunakan kata-kata “Allahumma  shalli ‘ala Muhammad”. Manakah yang lebih baik daripada ucapan-ucapan  itu? Apakah digunakan kata-kata sayyid atau tidak menggunakannya kerana  tidak tersebut dalam hadis-hadis.”<br />
<span id="more-315"></span><br />
Jawab al-Hafiz Ibnu Hajar:  “Benar, mengucapkan lafaz-lafaz selawat sebagaimana tersebut dalam  riwayat hadis adalah yang benar. Janganlah sehingga ada orang yang  mengatakan Nabi tidak menggunakan kata-kata sayyid dalam bacaan selawat  hanya disebabkan sikap rendah diri (tawadhu’) sahaja sebagaimana juga  tidak layak ketika orang mendengar disebut nama Nabi tidak menyahut  dengan ucapan shalallahu ‘alaihi wasallam. Semua orang Islam dianjurkan  untuk mengucapkan kata tersebut setiap kali mendengar sebutan nama Nabi  shalallahu ‘alaihi wasallam. Saya (Ibnu Hajar) menyatakan bahawa  sekiranya benar bahawa ucapan sayyid itu ada, niscaya disebutkan dalam  riwayat dari sahabat dan tabi’in. Akan tetapi, saya (Ibnu Hajar) tidak  menemukan adanya riwayat seperti itu dari seorang sahabat atau tabi’in  pun, padahal begitu banyak cara bacaan selawat yang diterima dari  mereka. Al-Syafi’i rahimahullah sebagai seorang yang sangat memuliakan  Nabi shalallhu ‘alaihi wasallam juga tidak menyebutkan kata sayyidina  dalam awal pembukaan (muqaddimah) kitabnya. Padahal al-Syafi’i adalah  contoh ikutan para pengikut mazhabnya. Beliau (al-Syafi’i) hanya  menyebutkan “Allahumma shalli ‘ala Muhammad.” (Dinukil dari Kitab Sifat  Sholat Nabi, Oleh Sheikh Muhammad Nashidruddin al-Albani, Terbitan Media  Hidayah, m/s. 215-216)</p>
<p>Tsabit pula melalui beberapa hadis bahawa  Nabi Shallallahu ‘alaihi was Sallam sendiri melarang para sahabatnya  yang menisbahkan kalimah “Sayyidina” atas nama dan diri beliau.</p>
<p>Ia adalah sebagaimana hadis berikut,</p>
<p>“Muharrif  bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu berkata bahawa ayahnya pernah bersama  satu rombongan dari Banu Amir pergi berjumpa Rasulullah Shalallahu  ‘alaihi was Sallam. Apabila mereka tiba, mereka berkata kepada  Rasulullah: “Anta Sayyidina!” Mereka  (Banu Amir) berkata lagi: “Engkau  adalah yang paling mulia kemuliaannya, dan yang paling besar  keutamaannya.” Rasulullah menjawab: “Berkatalah kamu dengan perkataan  kamu itu, akan tetapi janganlah sampai syaitan menjadikan kamu sebagai  wakilnya”.” (Diriwayatkan oleh Abu Daud, dinilai sahih oleh Sheikh  al-Albani dalam Sahih Sunan Abu Daud, hadis no. 4806. Berkata Ibn Muflih  dalam al-Adab al-Syar’iyyah wa al-Minah al-Mar’iyyah, jil. 3, m/s. 455,  “Sanadnya baik (jayyid))</p>
<p>Dalam riwayat yang lain, Anas bin Malik r.a. berkata,</p>
<p>“Seorang  lelaki telah datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi was Sallam  seraya berkata: “Ya Muhammad! Ya Sayyidina Ibni Sayyidina! Wahai yang  terbaik di kalangan kami dan anak kepada yang terbaik di kalangan kami!”  Rasulullah menjawab: “Wahai manusia, hendaklah kalian bertaqwa dan  jangan membiarkan syaitan mempermainkan engkau. Sesungguhnya aku adalah  Muhammad bin Abdillah, hamba Allah dan Rasul-Nya; dan aku bersumpah  kepada Allah bahawasanya aku tidak suka sesiapa mengangkat kedudukan aku  melebihi apa yang telah Allah ‘Azza wa Jalla tentukan bagiku”.”  (Diriwayatkan oleh Ahmad di dalam Musnadnya, hadis no. 12551, jil. 3,  m/s. 153. Sanadnya dinilai sahih oleh Sheikh Syu’aib al-Arnauth dan  rakan-rakan. Juga dikeluarkan oleh al-Nasa’i dalam ‘Amal al-Lail wa  al-Yaum dengan sanad yang baik (jayyid) sebagaimana nilai Ibn Muflih  dalam al-Furu’, jil. 3, m/s. 568)</p>
<p>Daripada apa yang dipaparkan,  ia menjelaskan bahawa Rasulullah s.a.w. sendiri menegah dari menggunakan  lafaz Sayyidina ke atas dirinya.</p>
<p><strong>Diringkaskan:</strong></p>
<p>1  &#8211; Semua lafaz selawat yang diajarkan oleh Nabi s.a.w. tidak ada satu  pun tambahan kalimat sayyidina. (Lihat Fadha’il ash-Sholat wa as-Salam  ‘ala Muhammad Khoiril Anam oleh Sheikh Muhammad bin Jamil Zainu  rahimahullah hal. 10-11, dan perkataan semisal oleh Ibnu Utsaimin  rahimahullah dalam Syarh Bulughul Maram dalam penjelasan hadis Ibnu  Mas’ud, 249)</p>
<p>2 – Dalam riwayat-riwayat yang sahih, para Sahabat  sendiri yang begitu mencintai Rasullah s.a.w., tidak menggunakan lafaz  Sayyidina dalam berselawat.</p>
<p>3 – Para imam mazhab sendiri juga  tidak menggunakan lafaz Sayyidina dalam berselawat. Malah, dalam  mukaddimah kitab al-Umm oleh Imam asy-Syafi’i, beliau sendiri tidak  meletakkan kalimat Sayyidina dalam selawatnya.</p>
<p>Maka, perkataan siapakah yang lebih baik?</p>
<p>Contoh  yang ditunjukkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi was Sallam atau  rekaan-rekaan baru dalam agama yang dibuat oleh tangan-tangan manusia?</p>
<p>Seandainya  benar kalimah Sayyidina itu bagus, kenapa tidak ditambahkan ke dalam  lafaz kalimah Syahadah atau seterusnya ke dalam lafaz azan dan iqamah?  Wajarlah kita semua menilaikannya semula. Perlu difahami bahawa  lafaz-lafaz zikir dan selawat yang diajarkan nabi berserta dengan  fadhilat-fadhilatnya yang tersebut adalah suatu bentuk ibadah yang  tauqifiyah (bersifat tetap/baku). Tidak boleh kita menokok tambah dan  mereka cipta dengan lafaz-lafaz yang baru selainnya.</p>
<p><strong>Penutup:</strong></p>
<p>Sebagai  mengakhiri artikel ini, berikut dibawakan dua contoh selawat yang  tsabit dan sahih yang mana jelas tiada tambahan dengan lafaz kalimat  “Sayyidina”,</p>
</div>
<div><strong><br />
اَللَّهُمَّ  صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى  إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ،  اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا  بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ  مَجِيْدٌ<br />
</strong></div>
<div>“Ya Allah,  berilah rahmat kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah  memberikan rahmat kepada Ibrahim dan keluarganya. Se-sungguhnya Engkau  Maha Terpuji dan Maha Agung. Berilah berkah kepada Muhammad dan  keluarganya (termasuk anak dan isteri atau umatnya), sebagai-mana Engkau  telah memberi berkah kepada Ibrahim dan keluarganya. Se-sungguhnya  Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung.” (Hadis Riwayat al-Bukhari dalam  Fathul Bari, 6/408)</div>
<div><strong><br />
اَللَّهُمَّ  صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا  صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى  أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ  إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ<br />
</strong></div>
<div>“Ya  Allah, berilah rahmat kepada Muhammad, istri-istri dan keturunannya,  sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada keluarga Ibrahim.  Beri-lah berkah kepada Muhammad, istri-istri dan keturunannya,  sebagaimana Eng-kau telah memberkahi kepada keluarga Ibrahim.  Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung.” (Hadis Riwayat  al-Bukhari dalam Fathul Bari, 6/407 dan Imam Muslim meriwayatkannya  dalam kitabnya, 1/306. Lafazh hadis tersebut menurut riwayat Muslim)</p>
<p>Wallahu a’lam&#8230;</p>
<p>sumber: fiqh-sunnah.blogspot.com</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jel4jah.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jel4jah.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jel4jah.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jel4jah.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jel4jah.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jel4jah.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jel4jah.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jel4jah.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jel4jah.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jel4jah.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jel4jah.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jel4jah.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jel4jah.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jel4jah.wordpress.com/315/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jel4jah.wordpress.com&amp;blog=9561536&amp;post=315&amp;subd=jel4jah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jel4jah.wordpress.com/2010/08/30/tsabitkan-penisbahan-kalimah-%e2%80%9csayyidina%e2%80%9d-kepada-nabi-di-dalam-selawat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c6d361f940b6351a10fd921bbb8e3699?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">D' Tari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Transkrip : Sifat Gerakan Telunjuk Ketika Tasyahhud, Syaikh al-Muhaddits Abu Ishaq al-Huwaini</title>
		<link>http://jel4jah.wordpress.com/2010/08/30/transkrip-sifat-gerakan-telunjuk-ketika-tasyahhud-syaikh-al-muhaddits-abu-ishaq-al-huwaini/</link>
		<comments>http://jel4jah.wordpress.com/2010/08/30/transkrip-sifat-gerakan-telunjuk-ketika-tasyahhud-syaikh-al-muhaddits-abu-ishaq-al-huwaini/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Aug 2010 04:01:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ummu naila</dc:creator>
				<category><![CDATA[fikih]]></category>
		<category><![CDATA[gerakan jari tasyahud]]></category>
		<category><![CDATA[tasyahud]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jel4jah.wordpress.com/?p=313</guid>
		<description><![CDATA[TRANSKRIP : Tahrik al-Ishba’ (menggerakkan jari telunjuk) sebagaimana yang ditunjukkan oleh guru kami al-Albani rahimahullahu. Saya pernah sholat di samping beliau pada suatu hari, lalu aku menggerakkan jari (telunjukku) seperti ini. Saya melakukannya seperti ini (yaitu menaikturunkan jari telunjuk). Lalu, setelah kami selesai sholat, beliau (Syaikh al-Albani) berkata kepadaku : هل قرأت شيئا يوفق هذه [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jel4jah.wordpress.com&amp;blog=9561536&amp;post=313&amp;subd=jel4jah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>TRANSKRIP :</p>
<p>Tahrik al-Ishba’ (menggerakkan jari telunjuk) sebagaimana yang  ditunjukkan oleh guru kami al-Albani rahimahullahu. Saya pernah sholat  di samping beliau pada suatu hari, lalu aku menggerakkan jari  (telunjukku) seperti ini. Saya melakukannya seperti ini (yaitu  menaikturunkan jari telunjuk). Lalu, setelah kami selesai sholat, beliau  (Syaikh al-Albani) berkata kepadaku :</p>
<p>هل قرأت شيئا يوفق هذه الحركة؟</p>
<p>“Apakah Anda pernah membaca sesuatu yang mendukung gerakan seperti ini?”</p>
<p>Subhanallah. Saya benar-benar terkesan dengan adab (etika) syaikh  rahimahullahu terhadapku. Beliau tidak dengan serta merta mengkritik  diriku atau perkataanku, (dengan mengatakan) “apa yang kamu lakukan?”…  tidak!!! Namun beliau bertanya kepadaku, apakah saya memiliki  sandaran/dasar di dalam melakukan gerakan seperti ini (yaitu naik dan  turun).<br />
<span id="more-313"></span><br />
Saya mengatakan, “tidak, hanya saja saya pernah membacanya di dalam buku  Anda, Shifat Sholah an-Nabi, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam  biasa menggerakkan (jari telunjuknya), maka saya pun turut menggerakkan  (jari telunjukku).” Beliau (Syaikh al-Albani) mengatakan : “Tidak, hal  ini (gerakan yang Anda lakukan) namanya bukanlah tahrîk (menggerakkan  jari telunjuk) namun namanya adalah al-Khafdh war Raf’u (mengangkat dan  menurunkan jari telunjuk).” Namanya apa? Namanya adalah al-Khafdh war  Raf’u.</p>
<p>Lantas saya bertanya, “bagaimana cara saya menggerakkannya wahai guru  kami?”. Beliau menjawab “beginilah caranya”, yaitu beliau meletakkan  jarinya di atas lutut dan mengarahkan jari telunjuknya ke arah kiblat,  seperti ini lalu beliau menggerakkan jari (telunjuknya) secara kuat di  tempatnya (harokatan syadidatan fi makanihi). Bukan menggerakkannya naik  turun sehingga berpaling dari kiblat. Namun, (lakukanlah) seperti ini,  jari telunjuk mengarah ke kiblat lalu gerakkan secara kuat seperti ini.</p>
<p>Beginilah sifat tahrîk (menggerakkan) jari telunjuk sebagaimana yang  pernah saya lihat dari guru kami, al-Albani rahmatullahu ‘alaihi.</p>
<p>[Ditranskip oleh Abu Salma abusalma.wordpress.com]</p>
<p>Artikel (note) terkait:<br />
Sahihnya Sunnah Menggerak-gerakkan Jari Telunjuk Ketika Tasyahud<br />
<a rel="nofollow" href="http://facebook.com/n/?note.php&amp;note_id=159318776990" target="_blank">http://facebook.com/n/?note.php&amp;note_id=159318776990</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jel4jah.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jel4jah.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jel4jah.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jel4jah.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jel4jah.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jel4jah.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jel4jah.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jel4jah.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jel4jah.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jel4jah.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jel4jah.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jel4jah.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jel4jah.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jel4jah.wordpress.com/313/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jel4jah.wordpress.com&amp;blog=9561536&amp;post=313&amp;subd=jel4jah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jel4jah.wordpress.com/2010/08/30/transkrip-sifat-gerakan-telunjuk-ketika-tasyahhud-syaikh-al-muhaddits-abu-ishaq-al-huwaini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c6d361f940b6351a10fd921bbb8e3699?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">D' Tari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penjelasan Seputar Qodho dan Fidyah Puasa Ramadhan</title>
		<link>http://jel4jah.wordpress.com/2010/08/16/penjelasan-seputar-qodho-dan-fidyah-puasa-ramadhan/</link>
		<comments>http://jel4jah.wordpress.com/2010/08/16/penjelasan-seputar-qodho-dan-fidyah-puasa-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Aug 2010 04:57:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ummu naila</dc:creator>
				<category><![CDATA[fikih]]></category>
		<category><![CDATA[fidyah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[puasa menyusui]]></category>
		<category><![CDATA[puasa ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[qodho]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jel4jah.wordpress.com/?p=270</guid>
		<description><![CDATA[MEMBAYAR UTANG (QODHO) PUASA RAMADHAN Berbagai permasalahan qodho&#8217; puasa (membayar utang atau nyaur puasa) masih belum dipahami oleh sebagian kaum muslimin. Oleh karena itu, pembahasan ini sangat menarik jika kami ketengahkan. Semoga bermanfaat. Yang dimaksud dengan qodho’ adalah mengerjakan suatu ibadah yang memiliki batasan waktu di luar waktunya.[1] Untuk kasus orang sakit misalnya, di bulan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jel4jah.wordpress.com&amp;blog=9561536&amp;post=270&amp;subd=jel4jah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://jel4jah.files.wordpress.com/2010/08/image018.jpg"><img class="size-medium wp-image-272 alignnone" title="image018" src="http://jel4jah.files.wordpress.com/2010/08/image018.jpg?w=144&#038;h=144" alt="" width="144" height="144" /></a>MEMBAYAR UTANG (QODHO) PUASA RAMADHAN</strong></p>
<p>Berbagai permasalahan qodho&#8217; puasa (membayar utang atau <em>nyaur</em> puasa) masih belum dipahami oleh sebagian kaum muslimin. Oleh karena  itu, pembahasan ini sangat menarik jika kami ketengahkan. Semoga  bermanfaat.</p>
<p>Yang dimaksud dengan <em>qodho’</em> adalah mengerjakan suatu ibadah yang memiliki batasan waktu di luar waktunya.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2752-membayar-utang-qodho-puasa-ramadhan.html#_ftn1">[1]</a> Untuk kasus orang sakit misalnya, di bulan Ramadhan seseorang mengalami  sakit berat sehingga tidak kuat berpuasa. Sesudah bulan Ramadhan dia  mengganti puasanya tadi. Inilah yang disebut <em>qodho’</em>.</p>
<p><strong>Orang yang Diberi Keringanan untuk Mengqodho’ Puasa</strong></p>
<p><strong> </strong>Ada beberapa golongan yang diberi keringanan atau diharuskan untuk  tidak berpuasa di bulan Ramadhan dan mesti mengqodho’ puasanya setelah  lepas dari <em>udzur</em>, yaitu:</p>
<p><span id="more-270"></span></p>
<p>Pertama, orang yang sakit dan sakitnya memberatkan untuk puasa.  Dimisalkan ini pula adalah wanita hamil dan menyusui apabila berat untuk  puasa.</p>
<p>Kedua, seorang musafir dan ketika bersafar sulit untuk berpuasa atau sulit melakukan amalan kebajikan.</p>
<p>Ketiga, wanita yang mendapati haidh dan nifas.</p>
<p>Dalil golongan pertama dan kedua adalah firman Allah Ta’ala,</p>
<p>وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ</p>
<p>“<em>Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka),  maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya  itu, pada hari-hari yang lain</em>.” (QS. Al Baqarah: 185)</p>
<p>Dalil wanita haidh dan nifas adalah hadits dari ‘Aisyah, beliau mengatakan,</p>
<p>كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ.</p>
<p>“<em>Kami dulu mengalami haidh. Kami diperintarkan untuk mengqodho puasa dan kami tidak diperintahkan untuk mengqodho’ shalat.</em>”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2752-membayar-utang-qodho-puasa-ramadhan.html#_ftn2">[2]</a></p>
<p><strong>Adakah Qodho’ bagi Orang yang Sengaja Tidak Puasa?</strong></p>
<p>Yang dimaksud di sini, apakah orang yang sengaja tidak puasa  diharuskan mengganti puasa yang sengaja ia tinggalkan. Mayoritas ulama  berpendapat bahwa siapa saja yang sengaja membatalkan puasa atau tidak  berpuasa baik karena ada <em>udzur</em> atau pun tidak, maka wajib baginya untuk mengqodho’ puasa.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2752-membayar-utang-qodho-puasa-ramadhan.html#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Namun ada ulama yang memiliki pendapat yang berbeda. Ibnu Hazm dan  ulama belakangan seperti Syaikh Muhammad bin  Sholih Al Utsaimin  berpendapat bahwa bagi orang yang tidak berpuasa dengan sengaja tanpa  ada udzur, tidak wajib baginya untuk mengqodho’ puasa. Ada kaedah ushul fiqih yang mendukung pendapat ini: “<em>Ibadah  yang memiliki batasan waktu awal dan akhir, apabila seseorang  meninggalkannya tanpa udzur (tanpa alasan), maka tidak disyariatkan  baginya untuk mengqodho’ kecuali jika ada dalil baru yang  mensyariatkannya</em>”.</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin memaparkan pula kaedah di atas: <em>“Sesungguhnya  ibadah yang memiliki batasan waktu (awal dan akhir), apabila seseorang  mengerjakan ibadah tersebut di luar waktunya tanpa ada udzur (alasan),  maka ibadah tadi tidaklah bermanfaat dan tidak sah.”</em></p>
<p>Syaikh <em>rahimahullah</em> kemudian membawakan contoh. Misalnya  shalat dan puasa. Apabila seseorang sengaja meninggalkan shalat hingga  keluar waktunya, lalu jika dia bertanya, “Apakah aku  wajib mengqodho’  (mengganti) shalatku?” Kami katakan, “Engkau tidak wajib mengganti  (mengqodho’) shalatmu. Karena hal itu sama sekali tidak bermanfaat  bagimu dan amalan tersebut akan tidak diterima.</p>
<p>Begitu pula apabila ada seseorang yang tidak berpuasa sehari di bulan  Ramadhan (dengan sengaja, tanpa udzur, -pen),  lalu dia bertanya pada  kami, “Apakah aku wajib untuk mengqodho’ puasa tersebut?” Kami pun akan  menjawab, “Tidak wajib bagimu untuk mengqodho’ puasamu yang sengaja  engkau tinggalkan hingga keluar waktu karena Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ</p>
<p>“<em>Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada dasarnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak.</em>”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2752-membayar-utang-qodho-puasa-ramadhan.html#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Seseorang apabila mengakhirkan ibadah yang memiliki batasan waktu  awal dan akhir dan mengerjakan di luar waktunya, maka itu berarti dia  telah melakukan suatu amalan yang tidak ada dasarnya dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, amalan tersebut adalah amalan yang batil dan tidak ada manfaat sama sekali.”</p>
<p>Mungkin ada yang ingin menyanggah penjelasan Syaikh Ibnu Utsaimin di  atas dengan mengatakan, “Lalu kenapa ada qodho’ bagi orang yang memiliki  udzur seperti ketiduran atau lupa? Tentu bagi orang yang tidak memiliki  <em>udzur</em> seharusnya lebih pantas ada <em>qodho’</em>, artinya lebih layak untuk mengganti shalat atau puasanya.”</p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin –alhamdulillah- telah merespon perkataan semacam tadi. Beliau <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Seseorang yang memiliki udzur, maka waktu ibadah untuknya  adalah sampai udzurnya tersebut hilang. Jadi, orang seperti ini tidaklah  mengakhirkan ibadah sampai keluar waktunya. Oleh karena itu, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>mengatakan bagi orang yang lupa shalat, “<em>Shalatlah ketika dia ingat”.</em></p>
<p>Adapun orang yang sengaja meninggalkan ibadah hingga keluar waktunya  lalu dia tunaikan setelah itu, maka dia berarti telah mengerjakan ibadah  di luar waktunya. Oleh karena itu, untuk kasus yang kedua ini,  amalannya tidak diterima.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2752-membayar-utang-qodho-puasa-ramadhan.html#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Lalu jika seseorang yang tidak berpuasa dengan sengaja tanpa ada  udzur di atas tidak perlu mengqodho’, lalu apa kewajiban dirinya?  Kewajiban dirinya adalah bertaubat dengan <em>taubat nashuha</em> dan hendaklah dia tutup dosanya tersebut dengan melakukan amalan sholih, di antaranya dengan memperbanyak puasa sunnah.</p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan, “Amalan ketaatan seperti puasa,  shalat, zakat dan selainnya yang telah lewat (ditinggalkan tanpa ada  udzur), ibadah-ibadah tersebut tidak ada kewajiban qodho’, taubatlah  yang nanti akan menghapuskan kesalahan-kesalahan tersebut. Jika dia  bertaubat kepada Allah dengan sesungguhnya dan banyak melakukan amalan  sholih, maka itu sudah cukup daripada mengulangi amalan-amalan  tersebut.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2752-membayar-utang-qodho-puasa-ramadhan.html#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Syaikh Masyhur bin Hasan Ali Salman mengatakan, “Pendapat yang kuat,  wajib baginya untuk bertaubat dan memperbanyak puasa-puasa sunnah, dan  dia tidak memiliki kewajiban kafaroh.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2752-membayar-utang-qodho-puasa-ramadhan.html#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Itulah yang harus dilakukan oleh orang yang meninggalkan puasa dengan  sengaja tanpa ada udzur. Yaitu dia harus bertaubat dengan ikhlash  (bukan riya’), menyesali dosa yang telah dia lakukan, kembali  melaksanakan puasa Ramadhan jika berjumpa kembali, bertekad untuk tidak  mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan, dan taubat tersebut  dilakukan sebelum datang kematian atau sebelum matahari terbit dari  sebelah barat. <em>Semoga Allah memberi taufik.</em></p>
<p><strong>Qodho’ Ramadhan Boleh Ditunda</strong></p>
<p>Qodho’ Ramadhan boleh ditunda, maksudnya tidak mesti dilakukan  setelah bulan Ramadhan yaitu di bulan Syawal. Namun boleh dilakukan di  bulan Dzulhijah sampai bulan Sya’ban, asalkan sebelum masuk Ramadhan  berikutnya. Di antara pendukung hal ini adalah ‘Aisyah pernah menunda  qodho’ puasanya  sampai bulan Sya’ban.</p>
<p>Dari Abu Salamah, beliau mengatakan bahwa beliau mendengar ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha </em>mengatakan,</p>
<p>كَانَ يَكُونُ عَلَىَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِىَ إِلاَّ فِى شَعْبَانَ</p>
<p>“Aku masih memiliki utang puasa Ramadhan. Aku tidaklah mampu  mengqodho’nya kecuali di bulan Sya’ban.” Yahya (salah satu perowi  hadits) mengatakan bahwa hal ini dilakukan ‘Aisyah karena beliau sibuk  mengurus Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2752-membayar-utang-qodho-puasa-ramadhan.html#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Ibnu Hajar <em>rahimahullah </em>mengatakan, “Di dalam hadits ini  terdapat dalil bolehnya mengundurkan qodho’ Ramadhan baik  mengundurkannya karena ada udzur atau pun tidak.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2752-membayar-utang-qodho-puasa-ramadhan.html#_ftn9">[9]</a></p>
<p>Akan tetapi yang dianjurkan adalah qodho’ Ramadhan dilakukan dengan segera (tanpa ditunda-tunda) berdasarkan firman Allah <em>Ta’ala</em> yang memerintahkan untuk bersegera dalam melakukan kebaikan,</p>
<p>أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ</p>
<p><em>“Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” </em>(QS. Al Mu’minun: 61)</p>
<p><strong>Mengakhirkan Qodho’ Ramadhan </strong><strong>H</strong><strong>ingga Ramadhan Berikutnya</strong></p>
<p>Hal ini sering dialami oleh sebagian saudara-saudara kita. Ketika  Ramadhan misalnya, dia mengalami haidh selama 7 hari dan punya kewajiban  qodho’ setelah Ramadhan. Setelah Ramadhan sampai bulan Sya’ban, dia  sebenarnya mampu untuk membayar utang puasa Ramadhan tersebut, namun  belum kunjung dilunasi sampai Ramadhan tahun berikutnya. Inilah yang  menjadi permasalahan kita, apakah dia memiliki kewajiban qodho’ puasa  saja ataukah memiliki tambahan kewajiban lainnya.</p>
<p>Sebagian ulama mengatakan bahwa bagi orang yang sengaja mengakhirkan  qodho’ Ramadhan hingga Ramadhan berikutnya, maka dia cukup mengqodho’  puasa tersebut disertai dengan taubat. Pendapat ini adalah pendapat Abu  Hanifah dan Ibnu Hazm.</p>
<p>Namun, Imam Malik dan Imam Asy Syafi’i mengatakan bahwa jika dia  meninggalkan qodho’ puasa dengan sengaja, maka di samping mengqodho’  puasa, dia juga memiliki kewajiban memberi makan orang miskin bagi  setiap hari yang belum diqodho’. Pendapat inilah yang lebih kuat  sebagaimana difatwakan oleh beberapa sahabat seperti Ibnu ‘Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma.</em></p>
<p>Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz –pernah menjabat sebagai  ketua Lajnah Ad Da’imah (komisi fatwa Saudi Arabia)- ditanyakan, “Apa  hukum seseorang yang meninggalkan qodho’ puasa Ramadhan hingga masuk  Ramadhan berikutnya dan dia tidak memiliki udzur untuk menunaikan qodho’  tersebut. Apakah cukup baginya bertaubat dan menunaikan qodho’ atau dia  memiliki kewajiban kafaroh?”</p>
<p>Syaikh Ibnu Baz menjawab, “Dia  wajib bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan dia wajib memberi  makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan disertai  dengan qodho’ puasanya<strong>.</strong> Ukuran makanan untuk  orang miskin adalah setengah sha’ Nabawi dari makanan pokok negeri  tersebut (kurma, gandum, beras atau semacamnya) dan ukurannya adalah  sekitar 1,5 kg sebagai ukuran pendekatan. Dan tidak ada kafaroh  (tebusan) selain itu. Hal inilah yang difatwakan oleh beberapa sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em> seperti Ibnu ‘Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>.</p>
<p>Namun apabila dia menunda qodho’nya karena ada udzur seperti sakit  atau bersafar, atau pada wanita karena hamil atau menyusui dan sulit  untuk berpuasa, maka tidak ada kewajiban bagi mereka selain mengqodho’ puasanya.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2752-membayar-utang-qodho-puasa-ramadhan.html#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Kesimpulan: Bagi seseorang yang dengan sengaja menunda qodho’ puasa  Ramadhan hingga Ramadhan berikutnya, maka dia memiliki kewajiban: (1)  bertaubat kepada Allah, (2) mengqodho’ puasa, dan (3) wajib memberi  makan (fidyah) kepada orang miskin, bagi setiap hari puasa yang belum ia  qodho’. Sedangkan untuk orang yang memiliki udzur (seperti karena sakit  atau menyusui sehingga sulit menunaikan qodho’), sehingga dia menunda  qodho’ Ramadhan hingga Ramadhan berikutnya, maka dia tidak memiliki  kewajiban kecuali mengqodho’ puasanya saja.<em> </em></p>
<p><strong>Tidak Wajib Untuk Berurutan Ketika Mengqodho’ Puasa</strong></p>
<p>Apabila kita memiliki kewajiban qodho’ puasa selama beberapa hari,  maka untuk menunaikan qodho’ tersebut tidak mesti berturut-turut. Misal  kita punya qodho’ puasa karena sakit selama lima hari, maka boleh kita  lakukan qodho’ dua hari pada bulan Syawal, dua hari pada bulan Dzulhijah  dan sehari lagi pada bulan Muharram. Dasar dibolehkannya hal ini  adalah,</p>
<p>فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ</p>
<p>“<em>Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain</em>.” (QS. Al Baqarah: 185). Ibnu ‘Abbas mengatakan, “<em>Tidak mengapa jika (dalam mengqodho’ puasa) tidak berurutan</em>”.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2752-membayar-utang-qodho-puasa-ramadhan.html#_ftn11">[11]</a></p>
<p>Semoga sajian ini bermanfaat.</p>
<p>Bersambung insya Allah pada &#8220;Meninggal Dunia, Masih Memiliki Qodho&#8217; Puasa&#8221;</p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Cuplikan dari <a title="Download Buku Panduan Ramadhan" href="http://rumaysho.com/download-e-book/doc_details/43-panduan-ramadhan-cetakan-ke-2.html" target="_blank"><strong>Buku Panduan Ramadhan</strong></a></p>
<hr /><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2752-membayar-utang-qodho-puasa-ramadhan.html#_ftnref1">[1]</a> Lihat Rowdhotun Nazhir wa Junnatul Munazhir, 1/58.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2752-membayar-utang-qodho-puasa-ramadhan.html#_ftnref2">[2]</a> HR. Muslim no. 335</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2752-membayar-utang-qodho-puasa-ramadhan.html#_ftnref3">[3]</a> Pendapat ini juga menjadi pendapat Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts  ‘Ilmiyyah wal Ifta’ (komisi fatwa di Saudi Arabia) dalam beberapa  fatwanya.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2752-membayar-utang-qodho-puasa-ramadhan.html#_ftnref4">[4]</a> HR. Muslim no. 1718</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2752-membayar-utang-qodho-puasa-ramadhan.html#_ftnref5">[5]</a> Kutub wa Rosa-il lil ‘Utsaimin, 172/68.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2752-membayar-utang-qodho-puasa-ramadhan.html#_ftnref6">[6]</a> Idem</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2752-membayar-utang-qodho-puasa-ramadhan.html#_ftnref7">[7]</a> Fatawa Syaikh Masyhur bin Hasan Ali Salman, soal no. 53, Asy Syamilah</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2752-membayar-utang-qodho-puasa-ramadhan.html#_ftnref8">[8]</a> HR. Bukhari no. 1950 dan Muslim no. 1146</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2752-membayar-utang-qodho-puasa-ramadhan.html#_ftnref9">[9]</a> Fathul Bari, 4/191.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2752-membayar-utang-qodho-puasa-ramadhan.html#_ftnref10">[10]</a> Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, no. 15 hal. 347.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2752-membayar-utang-qodho-puasa-ramadhan.html#_ftnref11">[11]</a> Dikeluarkan oleh Bukhari secara mu’allaq –tanpa sanad- dan juga  dikeluarkan oleh Abdur Rozaq dalam Mushonnafnya (4/241, 243) dengan  sanad yang shahih.</p>
<p>***</p>
<p><strong>PERSELISIHAN ULAMA MENGENAI PUASA WANITA HAMIL DAN MENYUSUI</strong></p>
<p><em>Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya</em>.</p>
<p>Di antara kemudahan dalam syar’at Islam adalah memberi keringanan  kepada wanita hamil dan menyusui untuk tidak berpuasa. Jika wanita hamil  takut terhadap janin yang berada dalam kandungannya dan wanita menyusui  takut terhadap bayi yang dia sapih –misalnya takut kurangnya susu-  karena sebab keduanya berpuasa, maka boleh baginya untuk tidak berpuasa,  dan hal ini tidak ada perselisihan di antara para ulama.</p>
<p>Dalil yang menunjukkan hal ini adalah sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p dir="rtl">إِنَّ اللَّهَ  عَزَّ وَجَلَّ وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ شَطْرَ الصَّلاَةِ وَعَنِ  الْمُسَافِرِ وَالْحَامِلِ وَالْمُرْضِعِ الصَّوْمَ أَوِ الصِّيَامَ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya Allah &#8216;azza wa jalla meringankan setengah shalat  untuk musafir dan meringankan puasa bagi musafir, wanita hamil dan  menyusui.</em>”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftn1">[1]</a></p>
<p><strong>Perselisihan Ulama</strong></p>
<p>Namun apa kewajiban wanita hamil dan menyusui jika tidak berpuasa,  apakah ada qodho’ ataukah mesti menunaikan fidyah? Inilah yang  diperselisihkan oleh para ulama.</p>
<p>Al Jashshosh <em>rahimahullah </em>mengatakan, “Para ulama salaf  telah berselisih pendapat dalam masalah ini menjadi tiga pendapat. ‘Ali  berpendapat bahwa wanita hamil dan menyusui wajib qodho’ jika keduanya  tidak berpuasa dan tidak ada fidyah ketika itu. Pendapat ini juga  menjadi pendapat Ibrahim, Al Hasan dan ‘Atho’. Ibnu ‘Abbas berpendapat  cukup keduanya membayar fidyah saja, tanpa ada qodho’. Sedangkan Ibnu  ‘Umar dan Mujahid berpendapat bahwa keduanya harus menunaikan fidyah  sekaligus qodho’.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Lengkapnya dalam masalah ini ada lima pendapat.</p>
<p>Pendapat pertama:  wajib mengqodho’ (mengganti) puasa dan memberi makan kepada orang miskin  bagi setiap hari yang ditinggalkan. Inilah pendapat Imam Asy Syafi’i,  Imam Malik dan Imam Ahmad. Namun menurut ulama Syafi’iyah dan Hanabilah,  jika wanita hamil dan menyusui takut sesuatu membahayakan dirinya  (tidak anaknya), maka wajib baginya mengqodho’ puasa saja karena  keduanya disamakan seperti orang sakit.</p>
<p>Pendapat kedua: cukup mengqodho’ saja. Inilah pendapat Al Auza’i, Ats Tsauriy, Abu Hanifah dan murid-muridnya, Abu Tsaur dan Abu ‘Ubaid.</p>
<p>Pendapat ketiga: cukup memberi makan kepada orang miskin tanpa mengqodho’. Inilah pendapat Ibnu Abbas, Ibnu ‘Umar, Ishaq, dan Syaikh Al Albani.</p>
<p>Pendapat keempat:  mengqodho’ bagi yang hamil sedangkan bagi wanita menyusui adalah dengan  mengqodho’ dan memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang  ditinggalkan. Inilah pendapat Imam Malik dan ulama Syafi’iyah.</p>
<p>Pendapat kelima: tidak mengqodho’ dan tidak pula memberi makan kepada orang miskin. Inilah pendapat Ibnu Hazm.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftn3">[3]</a></p>
<p><strong>Dalil Ulama yang Mengharuskan Penunaian Fidyah</strong></p>
<p>Firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p>وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ</p>
<p>“<em>Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika  mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang  miskin</em>” (QS. Al Baqarah: 184). Menurut ulama yang berpendapat  seperti ini, mereka mengatakan bahwa kewajiban fidyah masih berlaku bagi  orang yang sudah tua renta, juga bagi wanita hamil dan menyusui.</p>
<p>Dari Ibnu ‘Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, beliau berkata,</p>
<p>رخص للشيخ الكبير  والعجوز الكبيرة في ذلك وهما يطيقان الصوم أن يفطرا إن شاءا ويطعما كل يوم  مسكينا ولا قضاء عليهما ثم نسخ ذلك في هذه الاية : ( فمن شهد منكم الشهر  فليصمه ) وثبت للشيخ الكبير والعجوز الكبيرة لذا كانا لا يطيقان الصوم  والحبلى والمرضع إذا خافتا أفطرتا وأطعمتا كل يوم مسكينا</p>
<p>“Keringanan dalam hal ini adalah bagi orang yang tua renta dan wanita  tua renta, lalu mereka mampu berpuasa. Mereka berdua berbuka jika  mereka mau dan memberi makan kepada orang miskin setiap hari yang  ditinggalkan, pada saat ini tidak ada qodho’ bagi mereka. Kemudian hal  ini dihapus dengan ayat (yang artinya): “<em>Karena itu, barang siapa di  antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka  hendaklah ia berpuasa pada bulan itu</em>”. Namun hukum fidyah ini masih  tetap ada bagi orang yang tua renta dan wanita tua renta jika mereka  tidak mampu berpuasa. Kemudian bagi wanita hamil dan menyusui jika  khawatir mendapat bahaya, maka dia boleh berbuka (tidak berpuasa) dan  memberi makan orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan.” <a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Dalam riwayat Abu Daud,</p>
<p dir="rtl">عَنِ ابْنِ  عَبَّاسٍ (وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ)  قَالَ كَانَتْ رُخْصَةً لِلشَّيْخِ الْكَبِيرِ وَالْمَرْأَةِ الْكَبِيرَةِ  وَهُمَا يُطِيقَانِ الصِّيَامَ أَنْ يُفْطِرَا وَيُطْعِمَا مَكَانَ كُلِّ  يَوْمٍ مِسْكِينًا وَالْحُبْلَى وَالْمُرْضِعُ إِذَا خَافَتَا &#8211; قَالَ  أَبُو دَاوُدَ يَعْنِى عَلَى أَوْلاَدِهِمَا &#8211; أَفْطَرَتَا وَأَطْعَمَتَا.</p>
<p>Dari Ibnu ‘Abbas, mengenai firman Allah (yang artinya), “<em>Dan  wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak  berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin</em>,”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftn5">[5]</a> beliau mengatakan, “Ayat ini menunjukkan keringanan bagi laki-laki dan  perempuan yang sudah tua renta dan mereka merasa berat berpuasa, mereka  dibolehkan untuk tidak berpuasa, namun mereka diharuskan untuk memberi  makan setiap hari satu orang miskin sebagai ganti tidak berpuasa. Hal  ini juga berlaku untuk wanita hamil dan menyusui jika keduanya khawatir  –Abu Daud mengatakan: khawatir pada keselamatan anaknya-, mereka  dibolehkan tidak berpuasa, namun keduanya tetap memberi makan (kepada  orang miskin).”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Dalam perkataan lainnya, Ibnu &#8216;Abbas menyamakan wanita hamil dan  menyusui dengan tua renta yaitu sama dalam membayar fidyah. Dari Ibnu  ‘Abbas, beliau dulu pernah menyuruh wanita hamil untuk tidak berpuasa di  bulan Ramadhan. Beliau mengatakan,</p>
<p>أنت بمنزلة الكبير لا يطيق الصيام ، فأفطري وأطعمي عن كل يوم نصف صاع من حنطة</p>
<p>“Engkau seperti orang tua yang tidak mampu berpuasa, maka berbukalah  dan berilah makan kepada orang miskin setengah sho’ gandum untuk setiap  hari yang ditinggalkan.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Begitu pula hal yang sama dilakukan oleh Ibnu ‘Umar. Dari Nafi’, dia berkata,</p>
<p dir="rtl">كانت بنت لابن عمر تحت رجل من قريش وكانت حاملا فأصابها عطش في رمضان فأمرها إبن عمر أن تفطر وتطعم عن كل يوم مسكينا</p>
<p>“Putri Ibnu Umar yang menikah dengan orang Quraisy sedang hamil.  Ketika berpuasa di bulan Ramadhan, dia merasa  kehausan. Kemudian Ibnu  ‘Umar memerintahkan putrinya tersebut untuk berbuka dan memberi makan  orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftn8">[8]</a> <a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftn9">[9]</a></p>
<p><strong>Dalil Ulama yang Mengharuskan Qodho’</strong></p>
<p><strong>Alasan pertama</strong>: Dari Anas bin Malik, ia berkata,</p>
<p dir="rtl">إِنَّ اللَّهَ وَضَعَ عَنْ الْمُسَافِرِ نِصْفَ الصَّلَاةِ وَالصَّوْمَ وَعَنْ الْحُبْلَى وَالْمُرْضِعِ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya Allah meringankan separuh shalat dari musafir, juga puasa dari wanita hamil dan menyusui.</em>”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Al Jashshosh <em>rahimahullah </em>menjelaskan,</p>
<p>“Keringanan separuh shalat tentu saja khusus bagi musafir. Para ulama  tidak ada beda pendapat mengenai wanita hamil dan menyusui bahwa mereka  tidak dibolehkan mengqoshor shalat. &#8230; Keringanan puasa bagi wanita  hamil dan menyusui sama halnya dengan keringanan puasa bagi musafir. &#8230;  Dan telah diketahui bahwa keringanan puasa bagi musafir yang tidak  berpuasa adalah mengqodhonya, tanpa adanya fidyah. Maka berlaku pula  yang demikian pada wanita hamil dan menyusui. Dari sini juga menunjukkan  bahwa tidak ada perbedaan antara wanita hamil dan menyusui jika  keduanya khawatir membahayakan dirinya atau anaknya (ketika mereka  berpuasa) karena Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sendiri tidak merinci hal ini.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftn11">[11]</a></p>
<p>Perkataan Al Jashshosh ini sebagai sanggahan terhadap pendapat  keempat yaitu ulama yang berpendapat wajib mengqodho’ bagi yang hamil  sedangkan bagi wanita menyusui adalah dengan mengqodho’ dan memberi  makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan.</p>
<p><strong>Alasan kedua</strong>: Selain alasan di atas, ulama yang  berpendapat cukup mengqodho’ saja (tanpa fidyah) menganggap bahwa wanita  hamil dan menyusui seperti orang sakit. Sebagaimana orang sakit boleh  tidak puasa, ia pun harus mengqodho’ di hari lain. Ini pula yang berlaku  pada wanita hamil dan menyusui. Karena dianggap seperti orang sakit,  maka mereka cukup mengqodho’ sebagaimana disebutkan dalam firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p dir="rtl">فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ</p>
<p>“<em>Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam  perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak  hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain</em>.” (QS. Al Baqarah: 184)</p>
<p>Pendapat ini didukung pula oleh ulama belakangan semacam Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz <em>rahimahullah<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftn12"><strong>[12]</strong></a></em>. Syaikh Ibnu Baz <em>rahimahullah </em>berkata,</p>
<p dir="rtl">&#8220;الحامل  والمرضع حكمهما حكم المريض ، إذا شق عليهما الصوم شرع لهما الفطر ، وعليهما  القضاء عند القدرة على ذلك ، كالمريض ، وذهب بعض أهل العلم إلى أنه  يكفيهما الإطعام عن كل يوم : إطعام مسكين ، وهو قول ضعيف مرجوح ، والصواب  أن عليهما القضاء كالمسافر والمريض ؛ لقول الله عز وجل : ( فَمَنْ كَانَ  مِنْكُمْ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ )  البقرة/184&#8243; اهـ</p>
<p>“Hukum wanita hamil dan menyusui jika keduanya merasa berat untuk  berpuasa, maka keduanya boleh berbuka (tidak puasa). Namun mereka punya  kewajiban untuk mengqodho (mengganti puasa) di saat mampu karena mereka  dianggap seperti orang yang sakit. Sebagian ulama berpendapat bahwa  cukup baginya untuk menunaikan fidyah (memberi makan kepada orang  miskin) untuk setiap hari yang ia tidak berpuasa. Namun pendapat ini  adalah pendapat yang lemah. Yang benar, mereka berdua punya kewajiban  qodho’ (mengganti puasa) karena keadaan mereka seperti musafir atau  orang yang sakit (yaitu diharuskan untuk mengqodho’ ketika tidak  berpuasa, -pen). Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala (yang artinya),  “<em>Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam  perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak  hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain</em>.” (QS. Al Baqarah: 184)<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftn13">[13]</a></p>
<p><strong>Sanggahan untuk Ulama yang Menggabungkan antara Fidyah dan Qodho’</strong></p>
<p>Syaikh Musthofa Al ‘Adawi <em>hafizhohullah </em>ketika menjelaskan perselisihan ulama mengenai puasa wanita hamil dan menyusui, beliau mengatakan,</p>
<p dir="rtl">فمنهم من ذهب إلى أنهما تفطران وتطعمان وتقضيان من هؤلاء سفيان ومالك والشافعي وأحمد ، ولا أعلم لهذا الفريق دليلا من الكتاب والسنة</p>
<p>“Di antara para ulama ada yang berpendapat bahwa wanita hamil dan  menyusui boleh tidak puasa, namun ia harus menggantinya dengan  menunaikan fidyah dan mengqodh0’ (mengganti) puasanya. Yang berpendapat  seperti ini adalah Sufyan, Malik, Asy Syafi’i dan Ahmad. Aku tidak  mengetahui adanya dari Al Kitab (Al Qur’an) dan As Sunnah mengenai  pendapat ini.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftn14">[14]</a></p>
<p>Sedangkan ulama yang berpendapat bahwa diharuskannya mengqodho’ bagi  yang hamil sedangkan bagi wanita menyusui adalah dengan mengqodho’ dan  memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan,  maka disanggah oleh Ibnu Hazm <em>rahimahullah. </em>Beliau mengatakan,</p>
<p dir="rtl">وقال مالك:  أما المرضع فتفطر وتطعم عن كل يوم مسكنا وتقضى مع ذلك، وأما الحامل فتقضى  ولا اطعام عليها ولا يحفط هذا التقسيم عن احد من الصححابة والتابعين</p>
<p>“Imam Malik berpendapat bahwa adapun wanita menyusui, maka ia  dibolehkan untuk tidak berpuasa dan diharuskan untuk mengganti puasannya  dengan menunaikan fidyah dengan memberi makan kepada orang miskin bagi  setiap hari yang ditinggalkan, dan ia juga diharuskan untuk mengqodho’  puasanya. Sedangkan untuk wanita hamil ia cukup mengqodho’, tanpa  menunaikan fidyah. Mengenai pembagian semacam ini sama sekali tidak  diketahui adanya sahabat dan tabi’in yang berpegang dengannya.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftn15">[15]</a></p>
<p>Ibnu Rusyd Al Maliki <em>rahimahullah </em>mengatakan,</p>
<p dir="rtl">ومن أفرد لهما  أحد الحكمين أولى &#8211; والله أعلم &#8211; ممن جمع كما أن من أفردهما بالقضاء أولى  ممن أفردهما بالاطعام فقط، لكون القراءة غير متواترة فتأمل هذا، فإنه بين.</p>
<p>“Barangsiapa yang memilih qodho’ saja atau fidyah saja itu lebih  utama –wallahu a’lam- daripada menggabungkan antara keduanya. Adapun  memilih mengqodho’ saja itu lebih utama daripada memilih menunaikan  fidyah saja. Alasannya karena qiro’ah (yang menyebabkan adanya hukum  fidyah saja bagi wanita hamil-menyusui) adalah riwayat yang <strong>tidak mutawatir</strong>. Renungkanlah hal ini karena hal tersebut begitu jelas.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftn16">[16]</a></p>
<p><strong>Sanggahan untuk Ulama yang Menyatakan Tidak Ada Qodho’ dan Tidak Ada Fidyah</strong></p>
<p>Yang berpendapat semacam ini adalah Ibnu Hazm <em>rahimahullah</em>. Pendapat ini beralasan bahwa hukum asalnya adalah seseorang terlepas dari kewajiban. Ibnu Hazm <em>rahimahullah </em>–nama kunyahnya Abu Muhammad- berkata,</p>
<p dir="rtl">فلم يتفقوا على ايجاب القضاء ولا على ايجاب الاطعام فلا يجب شئ من ذلك إذ لا نص في وجوبه ولا اجماع</p>
<p>“Para ahli fiqih pun belum sepakat adanya kewajiban qodho’ dan fidyah  (memberi makan pada orang miskin). Sehingga tidak ada sama sekali  kewajiban (bagi wanita hamil dan menyusui yang tidak berpuasa, -pen)  karena tidak ada satu pun dalil yang mewajibkannya dan tidak ada pula  klaim ijma’ (kesepakatan ulama) dalam hal ini.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftn17">[17]</a></p>
<p>Namun perkataan di atas dapat saja disanggah dengan kita katakan  bahwa sesungguhnya perselisihan semata tidak bisa menggugurkan suatu  dalil, namun hendaknya mengambil pendapat dari orang yang memiliki dalil  yang lebih kuat. Seandainya setiap perselisihan yang terjadi antara  ahli fiqh itu dijadikan sebab untuk menghukumi gugurnya suatu dalil yang  menjadi sandaran hukum, niscaya tidak akan ada hukum syar’i yang  bertahan kecuali sedikit.</p>
<p>Pendapat Ibnu Hazm juga disanggah oleh Syaikh Ibnu Baz <em>rahimahullah </em>dalam perkataannya,</p>
<p>فمن المسائل المنسوبة  إليكم القول بسقوط القضاء والإطعام عن الحامل والمرضع مع أنه لا قائل من  أهل العلم بسقوط القضاء والإطعام عنهما سوى ابن حزم في المحلى ، وقوله هذا  شاذ مخالف للأدلة الشرعية ولجمهور أهل العلم فلا يلتفت إليه ولا يعول عليه ،  مع العلم بأن أرجح الأقوال في ذلك وجوب القضاء عليهما من دون إطعام لعموم  الأدلة الشرعية في حق المريض والمسافر ، وهما من جنسهما ، ولحديث أنس بن  مالك الكعبي في ذلك .</p>
<p>“Tidak ada satu pun ulama yang berpendapat gugurnya qodho’ dan fidyah  bagi wanita hamil dan menyusui selain Ibnu Hazm dalam Al Muhalla.  Pendapatnya ini adalah pendapat yang syadz (menyimpang), yaitu  menyelisihi dalil-dalil syar’i yang digunakan oleh mayoritas ulama. Oleh  karena itu, pendapat tersebut tidak perlu diperhatikan dan tidak perlu  diikuti. Pendapat yang terkuat dalam masalah ini adalah diwajibkan untuk  qodho’ bagi wanita hamil dan menyusui, tanpa perlu menunaikan fidyah.  Hal ini berdasarkan keumuman hadits-hadits syar’i yang membicarakan  wajibnya qodho’ bagi orang yang sakit dan musafir (ketika ia tidak  berpuasa). Wanita hamil dan menyusui adalah semisal orang sakit dan  musafir. Dasar dari hal ini disebutkan dalam hadits Anas bin Malik Al  Ka’bi.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftn18">[18]</a></p>
<p><strong>Mengkritisi Pendapat Ibnu ‘Abbas</strong></p>
<p>Sebagaimana yang telah kami nukilkan di awal tulisan, Ibnu ‘Abbas  berpendapat bahwa hukum yang disebutkan dalam surat Al Baqarah ayat 184  belumlah dihapus yaitu masih disyariatkan fidyah pada wanita hamil dan  menyusui. Inilah alasan ulama yang menyatakan bahwa wanita hamil dan  menyusui yang tidak berpuasa cukup menunaikan fidyah saja, tanpa  mengqodho’. Ayat yang dimaksud adalah,</p>
<p>وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ</p>
<p>“<em>Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika  mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang  miskin</em>” (QS. Al Baqarah: 184).</p>
<p>Namun pendapat yang benar, ayat di atas telah dinaskh (dihapus) dengan ayat,</p>
<p dir="rtl">فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ</p>
<p>“<em>Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat  tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.</em>” (QS. Al Baqarah: 185)<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftn19">[19]</a>.  Surat Al Baqarah ayat 184 yang disebutkan di atas menerangkan bahwa  orang yang mampu untuk berpuasa, maka ia punya pilihan untuk berpuasa  ataukah menunaikan fidyah. Ayat ini telah dihapus dengan ayat  setelahnya, yaitu ayat 185, yang menerangkan mengenai penegesan wajibnya  puasa. Inilah yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar dan Salamah bin Al  Akwa’<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftn20">[20]</a>.</p>
<p>Namun kenapa Ibnu ‘Abbas berpendapat adanya fidyah bagi wanita hamil dan menyusui yang tidak berpuasa?</p>
<p>Ini berasal dari qiro’ah ayat 184 yang dipilih oleh Ibnu ‘Abbas. Sebagaimana disebutkan riwayat dalam Shahih Al Bukhari,</p>
<p dir="rtl">حَدَّثَنِى  إِسْحَاقُ أَخْبَرَنَا رَوْحٌ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ بْنُ إِسْحَاقَ  حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ عَنْ عَطَاءٍ سَمِعَ ابْنَ عَبَّاسٍ  يَقْرَأُ ( وَعَلَى الَّذِينَ يُطَوَّقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ )  . قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ لَيْسَتْ بِمَنْسُوخَةٍ ، هُوَ الشَّيْخُ  الْكَبِيرُ وَالْمَرْأَةُ الْكَبِيرَةُ لاَ يَسْتَطِيعَانِ أَنْ يَصُومَا ،  فَلْيُطْعِمَانِ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا</p>
<p>Dari ‘Atho’, ia mendengar Ibnu ‘Abbas membaca ayat tersebut dengan bacaan,</p>
<p>وَعَلَى الَّذِينَ يُطَوَّقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ</p>
<p>“<em>Dan wajib bagi <strong>orang-orang yang dibebani menjalankannya (yuthowwaquunahu)<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftn21"><strong>[21]</strong></a></strong> membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin</em>”  Lantas Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Ayat ini tidaklah dimansukh (dihapus).  Ayat ini masih berlaku pada laki-laki yang sudah tua renta, pada  perempuan yang sudah tua renta yang tidak mampu lagi berpuasa. Maka  mereka punya kewajiban untuk menunaikan fidyah, yaitu memberi makan pada  orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftn22">[22]</a></p>
<p>Ibnu Hajar dalam <em>Al Fath</em> ketika menjelaskan riwayat di atas, beliau menerangkan,</p>
<p dir="rtl">هَذَا مَذْهَب اِبْن عَبَّاس ، وَخَالَفَهُ الْأَكْثَر ، وَفِي هَذَا الْحَدِيث الَّذِي بَعْده مَا يَدُلّ عَلَى أَنَّهَا مَنْسُوخَة</p>
<p>“Inilah yang menjadi pendapat Ibnu ‘Abbas, namun qiro’ah ini  diselisihi oleh kebanyakan ulama. Hadits yang disebutkan oleh Al Bukhari  setelah ini menunjukkan bahwa ayat tersebut (surat Al Baqarah ayat 184)  telah dimansukh.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftn23">[23]</a></p>
<p>Selain berargumen dengan alasan di atas, mengenai pendapat yang  menyatakan bahwa wanita hamil dan menyusui cukup menunaikan fidyah saja  ketika tidak berpuasa, kita katakan bahwa <strong>pendapat tersebut hanyalah pendapat sahabat yaitu Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Umar, dan bukanlah riwayat marfu’ sampai pada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em></strong>.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftn24">[24]</a></p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Setelah panjang lebar membahas dalil-dalil yang digunakan oleh  masing-masing pihak dan menyanggah pendapat yang dinilai kurang tepat,  maka kami menyimpulkan bahwa pendapat yang menyatakan bahwa wanita hamil  dan menyusui –ketika tidak berpuasa- cukup mengqodho’ tanpa menunaikan  fidyah karena kuatnya dalil yang disampaikan oleh ulama yang berpegang  dengan pendapat ini.</p>
<p>Kondisi ini berlaku bagi keadaan wanita hamil dan menyusui yang masih  mampu menunaikan qodho’. Dalam kondisi ini dia dianggap seperti orang  sakit yang diharuskan untuk mengqodho’ di hari lain ketika ia tidak  berpuasa. Namun apabila mereka tidak mampu untukk mengqodho’ puasa,  karena setelah hamil atau menyusui dalam keadaan lemah dan tidak kuat  lagi, maka kondisi mereka dianggap seperti orang sakit yang tidak  kunjung sembuhnya. Pada kondisi ini, ia bisa pindah pada penggantinya  yaitu menunaikan fidyah, dengan cara memberi makan pada satu orang  miskin setiap harinya.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftn25">[25]</a></p>
<p><strong>Catatan penting yang perlu diperhatikan</strong> bahwa wanita  hamil dan menyusui boleh tidak berpuasa jika memang ia merasa  kepayahan, kesulitan, takut membahayakan dirinya atau anaknya. Al  Jashshosh <em>rahimahullah </em>mengatakan, “Jika wanita hamil dan  menyusui berpuasa, lalu dapat membahayakan diri, anak atau keduanya,  maka pada kondisi ini lebih baik bagi keduanya untuk tidak berpuasa dan  terlarang bagi keduanya untuk berpuasa. Akan tetapi, jika tidak membawa  dampak bahaya apa-apa pada diri dan anak, maka lebih baik ia berpuasa,  dan pada kondisi ini tidak boleh ia tidak berpuasa.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftn26">[26]</a></p>
<p>Semoga Allah memberi ilmu yang bermanfaat dari sajian kami ini. <em>Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.</em></p>
<p>Tentang permasalahan qodho&#8217; puasa, kami sarankan untuk membaca artikel berikut <a title="Pembahasan Qodho' Puasa Ramadhan" href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2752-membayar-utang-qodho-puasa-ramadhan.html" target="_blank"><strong>di sini</strong></a>.</p>
<p>Diselesaikan di Pangukan-Sleman, 5 Rajab 1431 H</p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Artikel <a href="http://www.rumaysho.com/">www.rumaysho.com</a></p>
<hr /><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftnref1">[1]</a> HR. An Nasai no. 2275, Ibnu Majah no. 1667, dan Ahmad 4/347. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftnref2">[2]</a> Ahkamul Qur’an, Ahmad bin ‘Ali Ar Rozi Al Jashshosh, 1/224, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobi, Beirut, 1405.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftnref3">[3]</a> Lihat Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, Ibnu Rusyd Al Qurthubi  Al Andalusi, hal. 276, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah, cetakan ketiga, 1428  H;  Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik Kamal bin As Sayid Salim, 2/125-126,  Al Maktabah At Taufiqiyah.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftnref4">[4]</a> Dikeluarkan oleh Ibnul Jarud dalam Al Muntaqho dan Al Baihaqi. Lihat Irwa’ul Gholil 4/18</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftnref5">[5]</a> QS. Al Baqarah: 184.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftnref6">[6]</a> HR. Abu Daud no. 2318. Ibnul Mulaqqin mengatakan bahwa hadits ini <em>shahih atau hasan</em> sebagaimana dalam Tuhfatul Muhtaaj, 2/102.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftnref7">[7]</a> Diriwayatkan oleh ‘Abdur Razaq dengan sanad yang shahih</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftnref8">[8]</a> Lihat Irwa’ul Gholil, 4/20. Sanadnya shahih</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftnref9">[9]</a> Pendapat ini menyatakan: Tidak diketahui ada sahabat lain yang  menyelisihi pendapat Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Umar ini. Juga dapat kita  katakan bahwa hadits Ibnu ‘Abbas yang membicarakan surat Al Baqarah ayat  185 dihukumi marfu’ (sebagai sabda Nabi shallallallahu ‘alaihi wa  sallam). Alasannya, karena ini adalah perkataan sahabat tentang tafsir  yang berkaitan dengan sababun nuzul (sebab turunnya surat Al Baqarah  ayat 185). Maka hadits ini dihukumi sebagai sabda Nabi shallallahu  ‘alaihi wa sallam sebagaimana sudah dikenal dalam ilmu mustholah.   (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2/126-127)</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftnref10">[10]</a> HR. An Nasai no. 2274 dan Ahmad 5/29. Syaikh Al Albani dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftnref11">[11]</a> Ahkamul Qur’an, Ahmad bin ‘Ali Ar Rozi Al Jashshosh, 1/224</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftnref12">[12]</a> Pernah menjabat sebagai ketua komisi Fatwa di Saudi Arabia (Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’).</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftnref13">[13]</a> Majmu’ Al Fatawa Ibnu Baz, 15/225</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftnref14">[14]</a> Jaami’ Ahkamin Nisa’, Syaikh Musthofa Al ‘Adawi, 5/223-224, Darus Sunnah, cetakan pertama, 1413 H.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftnref15">[15]</a> Al Muhalla, Ibnu Hazm, 6/264, Mawqi’ Ya’sub.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftnref16">[16]</a> Lihat Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, hal. 277.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftnref17">[17]</a> Al Muhalla, 6/264</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftnref18">[18]</a> Sumber: <a href="http://www.ibnbaz.org.sa/mat/8423">http://www.ibnbaz.org.sa/mat/8423</a></p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftnref19">[19]</a> Lihat Adhwaul Bayan, Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi, hal. 2054,  Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, cetakan kedua, 1427 H. Lihat pula pendapat  yang dipilih oleh Syaikh Musthofa Al ‘Adawi dalam Jaami’ Ahkamin Nisaa’,  5/224.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftnref20">[20]</a> Lihat Shahih Al Bukhari pada Bab firman Allah Ta’ala “Wa ‘alalladziina yuthiqunahu fidyah”.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftnref21">[21]</a> Demikianlah maksud <strong><em>yuthowwaquunahu</em></strong> yaitu orang yang dibebani sedangkan ia tidak mampu. Berarti wanita  hamil dan menyusui pun masih dikenakan fidyah berdasarkan qiro’ah Ibnu  ‘Abbas ini. Lihat Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 8/180, Darul  Ma’rifah, 1379.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftnref22">[22]</a> HR. Bukhari no. 4505, Bab firman Allah “Ayyamam Ma’duudaat &#8230;”</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftnref23">[23]</a> Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 8/180, Darul Ma’rifah, 1379.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftnref24">[24]</a> Keterangan dari Salman bin Fahd Al Audah dalam forum www.ahlalhdeeth.com , tertanggal 15/9/1423</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftnref25">[25]</a> Lihat Panduan Ibadah Wanita Hamil, Yahya bin Abdurrahman Al Khatib, hal. 46, Qiblatuna.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html#_ftnref26">[26]</a> Ahkamul Qur’an, Al Jashshosh, 1/223.</p>
<p>***</p>
<p><strong>CARA PEMBAYARAN FIDYAH PUASA</strong></p>
<p>Para ulama Hanafiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah sepakat bahwa fidyah  dalam puasa dikenai pada orang yang tidak mampu menunaikan qodho’ puasa.  Hal ini berlaku pada orang yang sudah tua renta yang tidak mampu lagi  berpuasa, serta orang sakit dan sakitnya tidak kunjung sembuh.  Pensyariatan fidyah disebutkan dalam firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p>وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ</p>
<p>“<em>Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika  mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang  miskin</em>” (QS. Al Baqarah: 184).<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3118-cara-pembayaran-fidyah-puasa.html#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Ibnu ‘Abbas <em>radhiyallahu &#8216;anhuma</em> mengatakan,</p>
<p dir="rtl">هُوَ  الشَّيْخُ الْكَبِيرُ وَالْمَرْأَةُ الْكَبِيرَةُ لاَ يَسْتَطِيعَانِ أَنْ  يَصُومَا ، فَلْيُطْعِمَانِ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا</p>
<p>“(Yang dimaksud dalam ayat tersebut) adalah untuk orang yang sudah  sangat tua dan nenek tua, yang tidak mampu menjalankannya, maka  hendaklah mereka memberi makan setiap hari kepada orang miskin”.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3118-cara-pembayaran-fidyah-puasa.html#_ftn2">[2]</a></p>
<p><strong>Jenis dan Kadar Fidyah</strong></p>
<p>Ulama Malikiyah dan Syafi’iyah berpendapat bahwa kadar fidyah adalah 1  mud bagi setiap hari tidak berpuasa. Ini juga yang dipilih oleh Thowus,  Sa’id bin Jubair, Ats Tsauri dan Al Auza’i. Sedangkan ulama Hanafiyah  berpendapat bahwa kadar fidyah yang wajib adalah dengan 1 sho’ kurma,  atau 1 sho’ sya’ir (gandum) atau ½ sho’ hinthoh (biji gandum). Ini  dikeluarkan masing-masing untuk satu hari puasa yang ditinggalkan dan  nantinya diberi makan untuk orang miskin.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3118-cara-pembayaran-fidyah-puasa.html#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Al Qodhi ‘Iyadh mengatakan, “Jumhur (mayoritas ulama) berpendapat bahwa fidyah satu mud bagi setiap hari yang ditinggalkan”.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3118-cara-pembayaran-fidyah-puasa.html#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Beberapa ulama belakangan seperti Syaikh Ibnu Baz<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3118-cara-pembayaran-fidyah-puasa.html#_ftn5">[5]</a>, Syaikh Sholih Al Fauzan<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3118-cara-pembayaran-fidyah-puasa.html#_ftn6">[6]</a> dan Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ (Komisi Fatwa Saudi Arabia)<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3118-cara-pembayaran-fidyah-puasa.html#_ftn7">[7]</a> mengatakan bahwa ukuran fidyah adalah setengah sho’ dari makanan pokok  di negeri masing-masing (baik dengan kurma, beras dan lainnya). Mereka  mendasari ukuran ini berdasarkan pada fatwa beberapa sahabat di  antaranya Ibnu ‘Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>.</p>
<p>Ukuran 1 sho’ sama dengan 4 mud. Satu sho’ kira-kira 3 kg. Setengah sho’ kira-kira 1½ kg.</p>
<p><strong>Yang lebih tepat</strong> dalam masalah ini adalah dikembalikan pada ‘urf (kebiasaan yang lazim).  Maka kita dianggap telah sah membayar fidyah jika telah memberi makan  kepada satu orang miskin untuk satu hari yang kita tinggalkan.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3118-cara-pembayaran-fidyah-puasa.html#_ftn8">[8]</a></p>
<p><strong>Fidyah Tidak Boleh Diganti Uang</strong></p>
<p>Perlu diketahui bahwa tidak boleh fidyah yang diwajibkan bagi orang  yang berat berpuasa diganti dengan uang yang senilai dengan makanan  karena dalam ayat dengan tegas dikatakan harus dengan makanan. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="rtl">فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ</p>
<p>“<em>Membayar fidyah dengan memberi makan pada orang miskin.</em>”</p>
<p>Syaikh Sholih Al Fauzan <em>hafizhohullah </em>mengatakan,  “Mengeluarkan fidyah tidak bisa digantikan dengan uang sebagaimana yang  penanya sebutkan. Fidyah hanya boleh dengan menyerahkan makanan yang  menjadi makanan pokok di daerah tersebut. Kadarnya adalah setengah sho’  dari makanan pokok yang ada yang dikeluarkan bagi setiap hari yang  ditinggalkan. Setengah sho’ kira-kira 1½ kg. Jadi, tetap harus  menyerahkan berupa makanan sebagaimana ukuran yang kami sebut. Sehingga  sama sekali tidak boleh dengan uang. Karena Allah Ta’ala berfirman (yang  artinya), “<em>Membayar fidyah dengan memberi makan pada orang miskin.</em>” Dalam ayat ini sangat jelas memerintah dengan makanan.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3118-cara-pembayaran-fidyah-puasa.html#_ftn9">[9]</a></p>
<p><strong>Cara Pembayaran Fidyah</strong></p>
<p>Inti pembayaran fidyah adalah mengganti satu hari puasa yang  ditinggalkan dengan memberi makan satu orang miskin. Namun, model  pembayarannya dapat diterapkan dengan dua cara,</p>
<ol>
<li>Memasak atau membuat makanan, kemudian mengundang orang miskin  sejumlah hari-hari yang ditinggalkan selama bulan Ramadhan. Sebagaimana  hal ini dilakukan oleh Anas bin Malik ketika beliau sudah menginjak usia  senja (dan tidak sanggup berpuasa)<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3118-cara-pembayaran-fidyah-puasa.html#_ftn10">[10]</a>.</li>
<li>Memberikan kepada orang miskin berupa makanan yang belum dimasak.  Alangkah lebih sempurna lagi jika juga diberikan sesuatu untuk dijadikan  lauk.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3118-cara-pembayaran-fidyah-puasa.html#_ftn11">[11]</a></li>
</ol>
<p>Pemberian ini dapat dilakukan sekaligus, misalnya membayar fidyah  untuk 20 hari disalurkan kepada 20 orang miskin. Atau dapat pula  diberikan hanya kepada 1 orang miskin saja sebanyak 20 hari.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3118-cara-pembayaran-fidyah-puasa.html#_ftn12">[12]</a> Al Mawardi mengatakan, “Boleh saja mengeluarkan fidyah pada satu orang  miskin sekaligus. Hal ini tidak ada perselisihan di antara para ulama.”<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3118-cara-pembayaran-fidyah-puasa.html#_ftn13">[13]</a></p>
<p><strong>Waktu Pembayaran Fidyah</strong></p>
<p>Seseorang dapat membayar fidyah, pada hari itu juga ketika dia tidak  melaksanakan puasa. Atau diakhirkan sampai hari terakhir bulan Ramadhan,  sebagaimana dilakukan oleh sahabat Anas bin Malik ketika beliau telah  tua<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3118-cara-pembayaran-fidyah-puasa.html#_ftn14">[14]</a>.</p>
<p>Yang tidak boleh dilaksanakan adalah pembayaran fidyah yang dilakukan  sebelum Ramadhan. Misalnya: Ada orang yang sakit yang tidak dapat  diharapkan lagi kesembuhannya, kemudian ketika bulan Sya’ban telah  datang, dia sudah lebih dahulu membayar fidyah. Maka yang seperti ini  tidak diperbolehkan. Ia harus menunggu sampai bulan Ramadhan benar-benar  telah masuk, barulah ia boleh membayarkan fidyah ketika hari itu juga  atau bisa ditumpuk di akhir Ramadhan.<a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3118-cara-pembayaran-fidyah-puasa.html#_ftn15">[15]</a></p>
<p>Semoga sajian singkat ini bermanfaat.</p>
<p><em>Alhamdulillahilladzi bi ni&#8217;matihi tatimmush sholihaat.</em></p>
<p>Diselesaikan di Panggang-GK, Senin 30 Rajab 1431 H (12/07/2010)</p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Artikel <a href="http://rumaysho.com/undefined/" target="_blank">www.rumaysho.com</a></p>
<hr /><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3118-cara-pembayaran-fidyah-puasa.html#_ftnref1">[1]</a> Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/1586.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3118-cara-pembayaran-fidyah-puasa.html#_ftnref2">[2]</a> HR. Bukhari no. 4505.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3118-cara-pembayaran-fidyah-puasa.html#_ftnref3">[3]</a> Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/11538.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3118-cara-pembayaran-fidyah-puasa.html#_ftnref4">[4]</a> Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8/21.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3118-cara-pembayaran-fidyah-puasa.html#_ftnref5">[5]</a> Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 15/203.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3118-cara-pembayaran-fidyah-puasa.html#_ftnref6">[6]</a> Al Muntaqo min Fatawa Syaikh Sholih Al Fauzan, 3/140.  Dinukil dari Fatwa Al Islam Sual wa Jawab no. 66886.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3118-cara-pembayaran-fidyah-puasa.html#_ftnref7">[7]</a> Fatawa Al Lajnah  Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ no. 1447, 10/198.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3118-cara-pembayaran-fidyah-puasa.html#_ftnref8">[8]</a> Lihat penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin dalam Syarhul Mumthi’, 2/30-31.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3118-cara-pembayaran-fidyah-puasa.html#_ftnref9">[9]</a> Al Muntaqo min Fatawa Syaikh Sholih Al Fauzan, 3/140.  Dinukil dari Fatwa Al Islam Sual wa Jawab no. 66886.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3118-cara-pembayaran-fidyah-puasa.html#_ftnref10">[10]</a> Lihat Irwaul Gholil, 4/21-22 dengan sanad yang shahih.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3118-cara-pembayaran-fidyah-puasa.html#_ftnref11">[11]</a> Lihat penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin dalam Syarhul Mumthi’, 2/22.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3118-cara-pembayaran-fidyah-puasa.html#_ftnref12">[12]</a> Lihat penjelasan dalam Fatawa Al Lajnah  Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ no. 1447, 10/198.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3118-cara-pembayaran-fidyah-puasa.html#_ftnref13">[13]</a> Al Inshof, 5/383.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3118-cara-pembayaran-fidyah-puasa.html#_ftnref14">[14]</a> Lihat Irwaul Gholil, 4/21-22 dengan sanad yang shahih.</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3118-cara-pembayaran-fidyah-puasa.html#_ftnref15">[15]</a> Lihat Syarhul Mumthi’, 2/22.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jel4jah.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jel4jah.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jel4jah.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jel4jah.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jel4jah.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jel4jah.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jel4jah.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jel4jah.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jel4jah.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jel4jah.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jel4jah.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jel4jah.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jel4jah.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jel4jah.wordpress.com/270/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jel4jah.wordpress.com&amp;blog=9561536&amp;post=270&amp;subd=jel4jah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jel4jah.wordpress.com/2010/08/16/penjelasan-seputar-qodho-dan-fidyah-puasa-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c6d361f940b6351a10fd921bbb8e3699?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">D' Tari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jel4jah.files.wordpress.com/2010/08/image018.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">image018</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pertanyaan Seputar Shalat Witir</title>
		<link>http://jel4jah.wordpress.com/2010/08/15/pertanyaan-seputar-shalat-witir/</link>
		<comments>http://jel4jah.wordpress.com/2010/08/15/pertanyaan-seputar-shalat-witir/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Aug 2010 19:23:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ummu naila</dc:creator>
				<category><![CDATA[fikih]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[qunut witir]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat witir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jel4jah.wordpress.com/?p=261</guid>
		<description><![CDATA[Adab-Adab Shalat Witir oleh Ustadz Abu Muawiyah Dari Thalq bin Ali radhiallahu anhu dia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: لَا وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ “Tidak ada dua witir dalam satu malam.” (HR. Abu Daud no. 1439, At-Tirmizi no. 470, dan Ibnu Majah no. 1661) Al Hasan bin Ali radliallahu anhuma berkata: Rasulullah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jel4jah.wordpress.com&amp;blog=9561536&amp;post=261&amp;subd=jel4jah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Adab-Adab Shalat Witir</strong></p>
<p><strong>oleh Ustadz Abu Muawiyah<br />
</strong></p>
<p>Dari Thalq bin Ali radhiallahu anhu dia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:<br />
<strong>لَا وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ</strong><br />
<em>“Tidak ada dua witir dalam satu malam.” </em>(HR. Abu Daud no. 1439, At-Tirmizi no. 470, dan Ibnu Majah no. 1661)<br />
Al Hasan bin Ali radliallahu anhuma berkata: Rasulullah shallallahu  alaihi wasallam telah mengajarkan kepadaku beberapa kalimat yang aku  ucapkan ketika melakukan witir, yaitu:</p>
<p><span id="more-261"></span><br />
<strong>اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِي فِيمَنْ  عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِي فِيمَا  أَعْطَيْتَ وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ إِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى  عَلَيْكَ وَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلَا يَعِزُّ مَنْ  عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ</strong><br />
<em>“ALLAAHUMMAH DINII FIIMAN HADAIT, WA ‘AAFINII FIIMAN TAWALLAIT, WA  BAARIK LII FIIMAA A’THAIT, WA QINII SYARRA MAA QADHAIT, INNAKA TAQDHII  WA LAA YUQDHAA ‘ALAIK, WA INNAHU LAA YADZILLU MAN WAALAIT, WA LAA  YA’IZZU MAN ‘AADAIT, TABAARAKTA RABBANAA WA TA’AALAIT (Ya Allah, berilah  aku petunjuk diantara orang-orang yang Engkau beri petunjuk, dan  berilah aku keselamatan diantara orang-orang yang telah Engkau beri  keselamatan, uruslah diriku diantara orang-orang yang telah Engkau urus,  berkahilah untukku apa yang telah Engkau berikan kepadaku, lindungilah  aku dari keburukan apa yang telah Engkau putuskan, sesungguhnya Engkau  Yang memutuskan dan tidak diputuskan kepadaku, sesungguhnya tidak akan  hina orang yang telah Engkau jaga dan Engkau tolong, dan tidak akan  mulia orang yang Engkau musuhi. Engkau Maha Suci dan Maha Tinggi).”</em> (HR. Abu Daud no. 1425, At-Tirmizi no. 464, An-Nasai no. 1746, Ibnu  Majah no. 1178, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Al-Misykah:  1/398)<br />
Dari Ubay bin Ka’ab radhiallahu anhu dia berkata:<br />
<strong>أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ  يُوتِرُ بِثَلَاثِ رَكَعَاتٍ كَانَ يَقْرَأُ فِي الْأُولَى بِسَبِّحْ اسْمَ  رَبِّكَ الْأَعْلَى وَفِي الثَّانِيَةِ بِقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ  وَفِي الثَّالِثَةِ بِقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَيَقْنُتُ قَبْلَ  الرُّكُوعِ فَإِذَا فَرَغَ قَالَ عِنْدَ فَرَاغِهِ سُبْحَانَ الْمَلِكِ  الْقُدُّوسِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ يُطِيلُ فِي آخِرِهِنَّ</strong><br />
<em>“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah shalat witir tiga  rakaat, pada rakaat pertama beliau membaca: “Sabbihisma rabbikal a’laa  (surah Al A’la).” Pada rakaat kedua membaca: “Qul ya ayyuhal kafirun  (surah Al Kaafiruun), ” dan pada rakaat ketiga beliau membaca “Qul  huwallahu ahad (surah Al Ikhlas).” Lalu beliau qunut sebelum ruku’.  Setelah selesai, beliau membaca: “SUBHANAL MALIKIL QUDDUS” sebanyak tiga  kali. Beliau memanjangkan pada yang terakhir kalinya.” </em>(HR. An-Nasai: 3/235 dan sanadnya dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan An-Nasai: 1/371-372)</p>
<p><strong>Penjelasan ringkas:</strong><br />
Ada beberapa adab yang harus diperhatikan sehubungan dengan shalat witir:<br />
a.    Tidak boleh mengerjakan 2 shalat witir dalam satu malam.<br />
Karenanya, barangsiapa yang telah shalat witir di awal malam lalu dia  ingin lagi shalat lail atau tahajjud di akhir malam, maka hendaknya dia  melakukan shalat lail/tahajjud sesuai dengan keinginannya akan tetapi  dia tidak boleh lagi mengerjakan shalat witir, sebagaimana yang telah  kami jelaskan dalam artikel ‘Shalat Witir’ sebelumnya.<br />
b.    Jika shalat witir yang dikerjakan 3 rakaat, maka bacaan yang  disunnahkan setelah Al-Fatihah adalah apa yang tersebut dalam hadits  Ubay bin Ka’ab di atas.<br />
c.    Disunnahkan qunut dalam shalat witir, baik dia sebagai imam maupun  shalat sendirian, sementara makmum mengaminkan qunut imam. Ini  berdasarkan hadits Ubay bin Ka’ab di atas. Adapun bacaannya, maka yang  diamalkan oleh para ulama adalah apa yang tersebut dalam hadits Al-Hasan  bin Ali radhiallahu anhuma di atas.<br />
d.    Tempat qunut adalah pada rakaat terakhir dan dibaca sebelum ruku’,  sebagaimana dalam hadits Ubay bin Ka’ab di atas. Hanya saja, dibolehkan  terkadang qunut setelah ruku’ berdasarkan atsar Umar bin Al-Khaththab  riwayat Ibnu Khuzaimah (2/155-156) dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani  dalam Shalat At-Tarawih hal. 41-42<br />
e.    Disunnahkan membaca: “SUBHANAL MALIKIL QUDDUS” sebanyak tiga kali  dan memanjangkan bacaannya pada pengucapan yang ketiga. Bacaan ini  dibaca setelah selesai dari shalat witir.</p>
<h2>Surat yang Dibaca Ketika Sholat Witir</h2>
<p><!--end meta--><br />
<strong>Tanya:</strong></p>
<p><em>Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh</em><br />
Pak Ustadz mau tanya, apakah ada surah-surah pendek tertentu yang harus  dibaca pada rakaat-rakaat dalam sholat witir. Terima kasih atas  jawabannya.</p>
<p><em>Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.</em></p>
<p>(Bu Elly, Pontianak)</p>
<p><strong>Jawab: </strong></p>
<p><em>Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.</em><br />
Beberapa hadist menunjukkan bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> membaca surat-surat tertentu ketika shalat witir, akan tetapi ini  hukumnya tidak wajib. Dan kita boleh membaca surat apa saja yang mudah  bagi kita.</p>
<p>Diantara surat yang disunnahkan dibaca:<br />
1. Jika shalat witirnya 3 rakaat, membaca surat Al-A’laa pada rakaat  pertama, surat Al-Kafirun pada rakaat kedua, surat Al-Ikhlas pada rakaat  ketiga.</p>
<p>Dalilnya:</p>
<p>عن أبي بن كعب قال كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يوتر بسبح اسم ربك الأعلى وقل يا أيها الكافرون وقل هو الله أحد</p>
<p><em>“Dari ‘Ubay bin Ka’ab beliau berkata: Dahulu Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat witir dengan membaca  (Sabbihismarabbikal a’laa),dan (Qul yaa ayyuhal kafirun), dan (Qul  huwallahu ahad).” </em>(HR. An-Nasai’y dan Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albany)</p>
<p>2. Atau Membaca surat Al-A’laa pada rakaat pertama, surat Al-Kafirun  pada rakaat kedua, surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas pada rakaat ketiga</p>
<p>Dalilnya:</p>
<p>عن عبد العزيز بن جريج قال:  سألنا عائشة بأي شيء كان يوتر رسول الله صلى الله عليه و سلم ؟ قالت كان  يقرأ في الركعة الأولى بسبح اسم ربك الأعلى . وفي الثانية قل يا أيها  الكافرون . وفي الثالثة قل هو الله أحد والمعوذتين</p>
<p><em>“Dari Abdul Aziz bin Juraij beliau berkata: Kami bertanya kepada  ‘Aisyah: Dengan apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat  witir? Maka ‘Aisyah menjawab: Beliau membaca (sabbihismarabbikal a’la)  pada rakaat pertama, dan (qul yaa ayyuhal kafirun) ada rakaat yang  kedua, dan (qul huwallahu ahad) serta (al mu’awwidzatain/al-falaq dan  An-Naas) pada rakaat yang ketiga.” </em>(HR. Abu Dawud, At-Tirmidzy, Ibnu Majah, dan dishahihkan Syeikh Al-Albany)</p>
<p>3. Ketika shalat witir satu rakaat , membaca seratus ayat dari surat An-Nisa</p>
<p>عن أبي مجلز أن أبا موسى كان  بين مكة والمدينة فصلى العشاء ركعتين ثم قام فصلى ركعة أوتر بها فقرأ فيها  بمائة آية من النساء ثم قال ما ألوت أن أضع قدمي حيث وضع رسول الله صلى  الله عليه و سلم قدميه وأنا أقرأ بما قرأ به رسول الله صلى الله عليه و سلم</p>
<p><em>“Dari Abu Majliz bahwasanya Abu Musa Al-Asy’ary berada diantara  Mekah dan Madinah, kemudian beliau shalat isya 2 rakaat, setelah itu  shalat witir satu rakaat, membaca 100 ayat dari surat An-nisa, kemudian  beliau mengatakan: Aku tidak akan meninggalkan untuk meletakkan kedua  kakiku di tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan  kedua kakinya, dan aku membaca apa yang dibaca Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wa sallam.” </em>(HR. An-nasa’I, dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albany)</p>
<p>Wallahu a’lam.</p>
<p>Ustadz Abdullah Roy, Lc.</p>
<p>Sumber: tanyajawabagamaislam.blogspot.com</p>
<p>***</p>
<h2>Shalat Witir Tiga Raka’at dan Sekali Salam, Bolehkah?</h2>
<p><!--end meta--><br />
<strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apakah boleh mengerjakan shalat <a title="Witir Konsultasi Syariah" href="http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/sholat/3-rakaat-witir-1-salam.html" target="_blank">witir</a> tiga raka’at sekaligus dengan sekali salam?</p>
<p><strong> Jawaban:</strong></p>
<p>Tidak mengapa mengerjakan shalat <a title="Witir Konsultasi Syariah" href="http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/fikih/ibadah-fikih/sholat/3-rakaat-witir-1-salam.html" target="_blank">witir</a> tiga raka’at sekaligus dengan sekali salam, tanpa duduk tahiyyat (awal)  dan salamnya di raka’at terakhir. Akan tetapi yang lebih afdhal (lebih  utama) dan lebih baik adalah mengerjakan shalat <a title="Witir Konsultasi Syariah" href="http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/fikih/ibadah-fikih/sholat/3-rakaat-witir-1-salam.html" target="_blank">witir</a> dengan dua raka’at terlebih dahulu secara terpisah kemudian salam, lalu  ditambah satu raka’at lagi sehingga berjumlah tiga raka’at. Inilah yang  lebih afdhal. Akan tetapi jika seseorang mengerjakan shalat <a title="Witir Konsultasi Syariah" href="http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/fikih/ibadah-fikih/sholat/3-rakaat-witir-1-salam.html" target="_blank">witir</a> tiga raka’at sekaligus dengan sekali tahiyat, maka itu juga diperbolehkan.</p>
<p>Sumber: Syaikh Sholih Al Fauzan <em>hafizhahullah</em>, <em>Al Muntaqo min Fatawa Al Fauzan</em> no. 117, 49/43</p>
<p>Diterjemahkan oleh: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Diarsipkan di: Majalah Fatawa</p>
<h2>Membaca Qunut Setiap Kali Witir, Bolehkah?</h2>
<p><!--end meta--><br />
<strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apa hukum membaca do’a qunut setiap malam ketika (shalat sunnah) witir?</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Tidak masalah mengenai hal ini. Do’a qunut (witir) adalah sesuatu yang disunnahkan. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pun biasa membaca qunut tersebut. Beliau pun pernah mengajari (cucu  beliau) Al Hasan beberapa kalimat qunut untuk shalat witir. Ini termasuk  hal yang disunnahkan. Jika engkau merutinkan membacanya setiap  malamnya, maka itu tidak mengapa. Begitu pula jika engkau  meninggalkannya suatu waktu sehingga orang-orang tidak menyangkanya  wajib, maka itu juga tidak mengapa. Jika imam meninggalkan membaca do’a  qunut suatu waktu dengan tujuan untuk mengajarkan manusia bahwa hal ini  tidak wajib, maka itu juga tidak mengapa. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ketika mengajarkan do’a qunut pada cucunya Al Hasan, beliau tidak  mengatakan padanya: “Bacalah do’a qunut tersebut pada sebagian waktu  saja”.</p>
<p>Sehingga hal ini menunjukkan bahwa membaca qunut witir terus menerus adalah sesuatu yang dibolehkan.</p>
<p>(Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz <em>rahimahullah</em>, Fatawa Nur ‘alad Darb, 2/10621)</p>
<p>Diterjemahkan oleh: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Diarsipkan di: Majalah Fatawa</p>
<h2>Jagalah Sholat Witir</h2>
<p><!--end meta--><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Ada seseorang yang tidak mengerjakan shalat witir, apakah boleh baginya  meninggalkannya?</p>
<p><img title="More..." src="http://konsultasisyariah.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" /><strong><br />
Jawaban:</strong></p>
<p>Segala puji bagi Allah. Sebagaimana kesepakatan para ulama kaum   muslimin, shalat witir adalah shalat yang sangat dianjurkan. Barangsiapa   yang terus menerus meninggalkan shalat witir, maka persaksiannya   tertolak. Lalu para ulama berselisih pendapat tentang wajibnya shalat   witir. Imam Abu Hanifah dan sebagian ulama Hambali berpendapat bahwa   shalat witir itu wajib. Sedangkan mayoritas ulama (seperti Imam Malik,   Imam Asy Syafi’i dan Imam Ahmad) berpendapat bahwa shalat witir itu   tidak wajib.</p>
<p>Alasan mereka adalah riwayat yang menyatakan, “Nabi <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> biasa mengerjakan shalat witir di atas  tunggangannya.” Sedangkan untuk  shalat wajib beliau tidak mengerjakannya  di atas tunggangannya  (sehingga ini menunjukkan bahwa shalat witir itu  tidak wajib karena  dikerjakan oleh beliau di atas tungganggannya, -pen).</p>
<p>Namun intinya, para ulama sepakat bahwa shalat witir sangatlah   dianjurkan untuk dikerjakan sehingga jangan sampai ditinggalkan. Shalat   witir itu lebih ditekankan daripada shalat rawatib Zhuhur, Maghrib dan   Isya. Shalat witir pun lebih afdhol (lebih utama) dari seluruh shalat   sunnah yang dikerjakan di siang hari seperti shalat Dhuha. Bahkan   sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah qiyamul lail (shalat   malam). Oleh karenanya, shalat witir dan shalat qobliyah shubuh adalah   dua shalat yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan.</p>
<p>Wallahu a’lam.</p>
<p>Diterjemahkan oleh: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Diarsipkan   di: Majalah Fatawa</p>
<p>Sumber: Abul ‘Abbas Syaikhul Islam Ibnu  Taimiyah, Majmu’ Al Fatawa,23/88</p>
<h3><a href="http://noorakhmad.blogspot.com/2009/08/shalat-witir-satu-rakaat.html">Shalat Witir Satu Raka&#8217;at</a></h3>
<div id="post-803035578180206804"><!-- .fullpost{display:inline;} -->عَنْ عَائِشَةَ<br />
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي بِاللَّيْلِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُوتِرُ  مِنْهَا بِوَاحِدَةٍ فَإِذَا فَرَغَ مِنْهَا اضْطَجَعَ عَلَى شِقِّهِ  الْأَيْمَنِ حَتَّى يَأْتِيَهُ الْمُؤَذِّنُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ  خَفِيفَتَيْنِ</p>
<p>Dari ‘Aisyah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam shalat malam sebelas raka’at termasuk witir satu raka’at.  Kemudian apabila selesai dari shalat tersebut beliau berbaring pada sisi  sebelah kanan hingga datangnya muadzin kemudian beliau shalat dua  raka’at ringan. (HR Muslim No 1215 –Maktabah Syamilah)</p>
<p>عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ<br />
كَانَ  رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِيمَا  بَيْنَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلَاةِ الْعِشَاءِ وَهِيَ الَّتِي يَدْعُو  النَّاسُ الْعَتَمَةَ إِلَى الْفَجْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُسَلِّمُ  بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ وَيُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ فَإِذَا سَكَتَ  الْمُؤَذِّنُ مِنْ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَتَبَيَّنَ لَهُ الْفَجْرُ وَجَاءَهُ  الْمُؤَذِّنُ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ ثُمَّ اضْطَجَعَ  عَلَى شِقِّهِ الْأَيْمَنِ حَتَّى يَأْتِيَهُ الْمُؤَذِّنُ لِلْإِقَامَةِ</p>
<p>Dari  ‘Aisyah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata:  Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di antara  habisnya shalat ‘Isya &#8211;yang biasa disebut dengan shalat ‘Atamah oleh  orang-orang&#8211; sampai fajar, sebelas raka’at dengan melakukan salam  setiap dua raka’at dan melakukan witir dengan satu raka’at. Kemudian  apabila muadzin shalat Fajar masih diam serta nampak nyata datangnya  fajar dan muadzin telah datang, beliau berdiri dan shalat dua raka’at  dengan ringan kemudian berbaring pada sisi sebelah kanan sampai  datangnya muadzin untuk iqamah.</p>
<p>(HR Muslim No 1216 –Maktabah Syamilah)</p>
<p>Muslim memasukkan kedua hadits tersebut dalam Bab :<br />
بَاب  صَلَاةِ اللَّيْلِ وَعَدَدِ رَكَعَاتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ  وَسَلَّمَ فِي اللَّيْلِ وَأَنَّ الْوِتْرَ رَكْعَةٌ وَأَنَّ الرَّكْعَةَ  صَلَاةٌ صَحِيحَةٌ</p>
<p>Bab Shalat malam dan jumlah raka’at Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam hari dan bahwa witir adalah  satu raka’at dan bahwa satu raka’at adalah shalat yang sah.</p>
<p>Muslim mengambil hukum dengan hadits tersebut untuk menyatakan bahwa witir satu raka’at adalah sunnah dan sah.</p>
<p>Pendapat para ulama tentang masalah witir satu raka’at:</p>
<p>An-Nawawi berkata dalam al-Majmu’ (3/506):<br />
Witir  adalah sunnah menurut madzhab kami (madzhab Syafi’i) tanpa ada  perbedaan pendapat, dan minimum adalah satu raka’at tanpa ada perbedaan  pendapat.</p>
<p>Beliau juga berkata dalam kitab yang sama (3/507):<br />
Apabila  seseorang hendak melakukan witir tiga raka’at maka lebih afdhal ada  tiga pendapat dalam madzhab Syafi’i, yang shahih adalah yang lebih  afdhal dengan melakukannya terpisah dengan dua salam ( 2 raka’at salam  kemudian 1 raka’at salam ) karena banyak hadits-hadits shahih tentang  masalah ini.</p>
<p>Beliau juga berpendapat dalam al-Minhaj Syarh Muslim (3/73 –Maktabah Syamilah):<br />
Maka  yang lebih afdhal adalam salam setiap dua raka’at dan itu adalah  masyhur dilakukan Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau  memerintahkan untuk shalat malam dengan dua raka’at dua raka’at.</p>
<p>Ibnu Qudamah dalam al-Mughni (2/578) berkata:<br />
Ahmad  berkata: Kami berpendapat satu raka’at dalam witir. Hal itu  diriwayatkan dari ‘Utsman bin ‘Affan, Sa’ad bin Abi Waqqash, Zaid bin  Tsabit, Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, Ibnu Zubair, Abu Musa, Mu’awiyah dan  ‘Aisyah radhiallahu ‘anhum.<br />
Ibnu Qudamah juga menyebutkan: Ibnu ‘Umar  berkata: Witir satu raka’at, itu adalah witir Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar dan ‘Umar. Ini juga pendapat Sa’id bin  Musayyab, ‘Atha, Malik, al-Auza’i, asy-Syafi’i, Ishaq, Abu Tsaur. Mereka  berkata: Shalat dua raka’at kemudian salam kemudian witir dengan satu  raka’at.</p>
<p>al-Albani berkata dalam Shalatu at-Tarawih (1/110 –Maktabah Syamilah):<br />
Yang  kami pilih bagi orang yang hendak shalat malam di bulan Ramadhan dan  selain bulan Ramadhan yakni dengan melakukan salam setiap dua raka’at  sehingga apabila hendak melakukan shalat tiga raka’at maka membaca  Sabbihisma Rabbikal-A’laa (al-A’laa) di raka’at pertama dan membaca Qul  Yaa Ayyuhal-Kaafiruun (al-Kaafiruun) di raka’at kedua dan bertasyahhud  di raka’at kedua dan salam kemudian berdiri dan shalat satu raka’at  dengan membaca al-Faatihah dan Qul Huwallaahu Ahad (al-Ikhlaas) serta  mu’awwidzatain (al-Falaq dan an-Naas).</p>
<p>al-Albani juga menyebutkan afdhalnya salam setiap dua raka’at dalam Qiyamu Ramadhan (1/29).</p>
<p>NB:<br />
Hadits shalat malam dua raka’at dua raka’at dikeluarkan oleh al-Bukhari.<br />
Riwayat  yang menyebutkan raka’at witir terakhir membaca al-Ikhlas dengan  tambahan mu’awwidzatain (al-Falaq dan an-Naas) adalah lemah sedangkan  yang shahih hanya membaca al-Ikhlas saja sebagaimana disebutkan dalam  Shahih Fiqh as-Sunnah (1/388) oleh Abu Malik Kamal bin as-Sayyid.</p>
<p>noorakhmad.blogspot.com</p>
<h2>Shalat Witir Ketika Safar, Bolehkah?</h2>
<div>
<p><!--end views--></p>
</div>
<p><!--end meta--><strong>Pertaanyaan:</strong></p>
<p>Jika seseorang ber<a title="Safar Ramadhan Konsultasi Syariah" href="http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/sholat/witir-ketika-safar.html" target="_blank">safar</a> dan ketika itu ia mengqoshor shalatnya, apakah ia mengerjakan shalat <a title="Safar Ramadhan Konsultasi Syariah" href="http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/fikih/ibadah-fikih/sholat/witir-ketika-safar.html" target="_blank">witir</a> atau tidak?</p>
<p><strong> Jawaban:</strong><br />
Iya, tetap boleh mengerjakan shalat <a title="Safar Ramadhan Konsultasi Syariah" href="http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/fikih/ibadah-fikih/sholat/witir-ketika-safar.html" target="_blank">witir</a> ketika <a title="Safar Ramadhan Konsultasi Syariah" href="http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/fikih/ibadah-fikih/sholat/witir-ketika-safar.html" target="_blank">safar</a> sebagaimana terdapat dalam hadits,</p>
<p>كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوتِرُ سَفَرًا وَحَضَرًا</p>
<p><em>“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengerjakan shalat witir ketika safar dan ketika mukim (tidak bersafar).” </em></p>
<p>Ketika itu beliau shalat di atas tunggangannya mengikuti arah tunggangannya tersebut. Beliau ber<a title="Safar Ramadhan Konsultasi Syariah" href="http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/fikih/ibadah-fikih/sholat/witir-ketika-safar.html" target="_blank">witir</a> di atas tunggangannya tersebut, sedangkan untuk shalat wajib beliau tidak shalat di atas tunggangannya.</p>
<p><strong>Sumber:</strong> Abul ‘Abbas Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah<em>,</em> <em>Majmu’ Al Fatawa,</em> 23/89</p>
<p>Diterjemahkan oleh: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Diarsipkan di: Majalah Fatawa</p>
<p>Dipublikasikan oleh: <a title="KonsultasiSyariah.Com" href="http://konsultasisyariah.com/fikih/ibadah-fikih/fikih/ibadah-fikih/fikih/ibadah-fikih/fikih/ibadah-fikih/" target="_blank">KonsultasiSyariah.com</a></p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jel4jah.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jel4jah.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jel4jah.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jel4jah.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jel4jah.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jel4jah.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jel4jah.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jel4jah.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jel4jah.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jel4jah.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jel4jah.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jel4jah.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jel4jah.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jel4jah.wordpress.com/261/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jel4jah.wordpress.com&amp;blog=9561536&amp;post=261&amp;subd=jel4jah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jel4jah.wordpress.com/2010/08/15/pertanyaan-seputar-shalat-witir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c6d361f940b6351a10fd921bbb8e3699?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">D' Tari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://konsultasisyariah.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" medium="image">
			<media:title type="html">More...</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Qunut Shubuh dan Qunut Nazilah</title>
		<link>http://jel4jah.wordpress.com/2010/08/14/doa-qunut-shubuh/</link>
		<comments>http://jel4jah.wordpress.com/2010/08/14/doa-qunut-shubuh/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Aug 2010 03:53:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ummu naila</dc:creator>
				<category><![CDATA[fikih]]></category>
		<category><![CDATA[do'a qunut]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[qunut]]></category>
		<category><![CDATA[qunut nazilah]]></category>
		<category><![CDATA[qunut shubuh]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat shubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jel4jah.wordpress.com/?p=218</guid>
		<description><![CDATA[Tanya: Assalamu’alaikum Wr Wb Apakah Rasul baca doa qunut bila shalat shubuh sepanjang hayat? Kapan beliau berqunut? Mohon penjelasan dengan dasar hadits shahih lengkap! P. Mul 0274 782xxxx Jawab: Pertanyaan senada pernah dilayangkan kepada Syeikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin. Beliau ditanya, “Apakah disyariatkan menggunakan doa qunut witir (yaitu allahummahdini fiman hadaita …) pada rakaat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jel4jah.wordpress.com&amp;blog=9561536&amp;post=218&amp;subd=jel4jah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://jel4jah.files.wordpress.com/2010/08/sakura-bawah.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-303" title="sakura-bawah" src="http://jel4jah.files.wordpress.com/2010/08/sakura-bawah.gif?w=431&#038;h=548" alt="" width="431" height="548" /></a>Tanya</strong>:<br />
Assalamu’alaikum Wr Wb<br />
Apakah Rasul baca doa qunut bila shalat shubuh sepanjang hayat? Kapan  beliau berqunut? Mohon penjelasan dengan dasar hadits shahih lengkap!</p>
<p>P. Mul 0274 782xxxx</p>
<p><strong>Jawab</strong>:</p>
<p>Pertanyaan senada pernah dilayangkan kepada Syeikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin.<br />
Beliau ditanya,</p>
<blockquote><p>“Apakah disyariatkan menggunakan doa qunut witir (yaitu <em>allahummahdini fiman hadaita …</em>) pada rakaat terakhir shalat shubuh?!”</p></blockquote>
<p>Jawaban beliau,</p>
<p><span id="more-218"></span></p>
<p>“Doa qunut witir yang terkenal yang Nabi ajarkan kepada al Hasan bin Ali yaitu <em>allahummahdini fiman hadaita</em> …tidak terdapat dalil yang menunjukkan bolehnya menggunakan doa tersebut untuk selain shalat  witir. Tidak terdapat satupun riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi  berqunut dengan membaca doa tersebut baik pada shalat shubuh ataupun  shalat yang lain.<br />
Qunut dengan menggunakan doa tersebut di shalat shubuh sama sekali tidak  ada dasarnya dari sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.<br />
Sedangkan qunut shubuh namun dengan doa yang lain maka inilah yang  diperselisihkan di antara para ulama. Ada dua pendapat dalam hal ini. <strong>Pendapat  yang paling tepat adalah tidak ada qunut pada shalat shubuh kecuali ada  sebab yang terkait dengan kaum muslimin secara umum. </strong></p>
<p>Misalnya ada bencana selain wabah penyakit yang menimpa kaum muslimin  maka kaum muslimin disyariatkan untuk berqunut pada semua shalat wajib,  termasuk di dalamnya shalat shubuh, agar Allah menghilangkan bencana  dari kaum muslimin.<br />
Meski demikian, andai imam melakukan qunut pada shalat shubuh maka  seharusnya makmum tetap mengikuti qunut imam dan mengaminkan doanya  sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ahmad dalam rangka menjaga  persatuan kaum muslimin.<br />
Sedangkan timbulnya permusuhan dan kebencian karena perbedaan pendapat semacam ini adalah suatu yang tidak sepatutnya terjadi. Masalah ini adalah termasuk masalah yang dibolehkan untuk berijtihad di dalamnya.  Menjadi kewajiban setiap muslim dan para penuntut ilmu secara khusus  untuk berlapang dada ketika ada perbedaan pendapat antara dirinya dengan  saudaranya sesama muslim. Terlebih lagi jika diketahui bahwa saudaranya  tersebut memiliki niat yang baik dan tujuan yang benar. Mereka tidaklah  menginginkan melainkan kebenaran. Sedangkan masalah yang  diperselisihkan adalah <em>masalah ijtihadiah</em>. Dalam kondisi  demikian maka pendapat kita bagi orang yang berbeda dengan kita tidaklah  lebih benar jika dibandingkan dengan pendapat orang tersebut bagi kita.  Hal ini dikarenakan pendapat yang ada hanya berdasar ijtihad dan tidak  ada dalil tegas dalam masalah tersebut. Bagaimanakah kita salahkan  ijtihad orang lain tanpa mau menyalahkan ijtihad kita. Sungguh ini  adalah bentuk kezaliman dan permusuhan dalam penilaian terhadap  pendapat” <strong>(Kutub wa Rasail Ibnu Utsaimin 208/12-13, pertanyaan no 772, Maktabah Syamilah).</strong><br />
Pada kesempatan lain, Ibnu Utsaimin mengatakan,</p>
<p>“Qunut dalam shalat shubuh secara terus menerus tanpa ada sebab  syar’i yang menuntut untuk melakukannya adalah perbuatan yang  menyelisihi sunnah Rasul. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak  pernah qunut shubuh secara terus menerus tanpa sebab. Yang ada beliau  melakukan qunut di semua shalat wajib ketika ada sebab. Para ulama  menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan  qunut di semua shalat wajib jika ada bencana yang menimpa kaum muslimin  yang mengharuskan untuk melakukan qunut. Qunut ini tidak hanya khusus  pada shalat shubuh namun dilakukan pada semua shalat wajib.<br />
Tentang qunut nazilah (qunut karena ada bencana yang terjadi), para  ulama bersilang pendapat tentang siapa saja yang boleh melakukannya,  apakah penguasa yaitu pucuk pimpinan tertinggi di suatu negara ataukah  semua imam yang memimpin shalat berjamaah di suatu masjid ataukah semua  orang boleh qunut nazilah meski dia shalat sendirian.<br />
Ada ulama yang berpendapat bahwa qunut nazilah hanya dilakukan oleh  penguasa. Alasannya hanya Nabi saja yang melakukan qunut nazilah di  masjid beliau. Tidak ada riwayat yang mengatakan bahwa selain juga  mengadakan qunut nazilat pada saat itu.<br />
Pendapat kedua, yang berhak melakukan qunut nazilah adalah imam shalat  berjamaah. Alasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengadakan qunut  karena beliau adalah imam masjid. Sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa  sallam sendiri bersabda,</p>
<blockquote><p>“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku mengerjakan shalat” (HR Bukhari).</p></blockquote>
<p>Pendapat ketiga, yang berhak melakukan qunut nazilah adalah semua  orang yang mengerjakan shalat karena qunut ini dilakukan disebabkan  bencana yang menimpa kaum muslimin. Sedangkan orang yang beriman itu  bagaikan sebuah bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.<br />
Pendapat yang paling kuat adalah pendapat ketiga. Sehingga qunut nazilah  bisa dilakukan oleh penguasa muslim di suatu negara, para imam shalat  berjamaah demikian pula orang-orang yang mengerjakan shalat sendirian.<br />
Akan tetapi tidak diperbolehkan melakukan qunut dalam shalat shubuh  secara terus menerus tanpa ada sebab yang melatarbelakanginya karena  perbuatan tersebut menyelisihi petunjuk Nabi.<br />
Bila ada sebab maka boleh melakukan qunut di semua shalat wajib yang  lima meski ada perbedaan pendapat tentang siapa saja yang boleh  melakukannya sebagaimana telah disinggung di atas.<br />
Akan tetapi bacaan qunut dalam qunut nazilah bukanlah bacaan qunut witir yaitu <em>“allahummahdini fiman hadaita” </em>dst.  Yang benar doa qunut nazilah adalah doa yang sesuai dengan kondisi yang  menyebabkan qunut nazilah dilakukan. Demikianlah yang dipraktekkan oleh  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.<br />
Jika seorang itu menjadi makmum sedangkan imamnya melakukan qunut shubuh  apakah makmum mengikuti imam dengan mengangkat tangan dan mengaminkan  doa qunut imam ataukah diam saja?<br />
Jawabannya, sikap yang benar adalah mengaminkan doa imam sambil  mengangkat tangan dalam rangka mengikuti imam karena khawatir merusak  persatuan. Imam Ahmad menegaskan bahwa seorang yang menjadi makmum  dengan orang yang melakukan qunut shubuh itu tetap mengikuti imam dan  mengaminkan doa imam. Padahal Imam Ahmad dalam pendapatnya yang terkenal  yang mengatakan bahwa qunut shubuh itu tidak disyariatkan. Meski  demikian, beliau membolehkan untuk mengikuti imam yang melakukan qunut  shubuh karena dikhawatirkan menyelisihi imam dalam hal ini akan  menimbulkan perselisihan hati di antara jamaah masjid tersebut.<br />
Inilah yang diajarkan oleh para shahabat. Khalifah Utsman di akhir-akhir  masa kekhilafahannya tidak mengqashar shalat saat mabit di Mina ketika  pelaksanaan ibadah haji. Tindakan beliau ini diingkari oleh para  shahabat. Meski demikian, para shahabat tetap bermakmum di belakang  Khalifah Utsman. Sehingga mereka juga tidak mengqashar shalat. Adalah  Ibnu Mas’ud diantara yang mengingkari perbuatan Utsman tersebut. Suatu  ketika, ada yang berkata kepada Ibnu Mas’ud,</p>
<blockquote><p>“Wahai Abu Abdirrahman (yaitu Ibnu Mas’ud) bagaimanakah  bisa-bisanya engkau mengerjakan shalat bersama amirul mukminin Utsman  tanpa qashar sedangkan Nabi, Abu Bakar dan Umar tidak pernah  melakukannya. Beliau mengatakan, “Menyelisihi imam shalat adalah sebuah  keburukan” (Diriwayatkan oleh Abu Daud)” <strong> </strong></p></blockquote>
<p><strong>(Kutub wa Rasail Ibnu Utsaimin 208/14-16, pertanyaan no 774, Maktabah Syamilah). </strong></p>
<p><strong>sumber:ustadzaris.com</strong></p>
<p><strong>==============================</strong></p>
<p><strong>SEPUTAR QUNUT NAZILAH<br />
</strong></p>
<p><strong>Abû Salmâ al-Atsarî</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p dir="rtl">الحمد لله، والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد:</p>
<p>Peristiwa  pembantaian dan penyerangan muslim Palestina di jalur Gaza oleh bangsa  Yahudi terlaknat telah memasuki hari ke-13 (Jum’at, 9 Januari 2009).  Tidak kurang dari 750 orang telah meninggal dunia, dan sebagian besarnya  adalah anak-anak dan kaum wanita. Maka wajib bagi setiap muslim untuk  memberikan pertolongan dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Di  antara bentuk <em>nushroh</em> (pertolongan) yang besar bagi  saudara-saudara kita adalah dengan cara mendoakan mereka di setiap  kesempatan, diantaranya adalah dengan <em>qunût nâzilah</em>.</p>
<p>Beberapa negeri Islam telah menegakkan dan melaksanakan <em>qunût nâzilah</em>. Beberapa hari lalu Syaikh Su’ûd Syuraim telah membacakan <em>qunût nâzilah</em>.  Para ulama juga telah menfatwakan untuk memberikan pertolongan terhadap  saudara-saudara kita kaum muslimin yang tertindas dengan doa dan <em>qunût nâzilah</em>, diantaranya adalah <em>al-Lajnah ad-Dâ`imah</em> secara umum dan Syaikh ‘Abdul Karîm al-Khudair secara khusus. Majelis  Ulama Indonesia, di dalam Pernyataan Sikapnya terhadap agresi Yahudi  kepada kaum muslimin Palestina juga menyerukan pembacaan <em>qunût nâzilah </em>di setiap sholat wajib. (Sumber : <a href="http://www.mui.or.id/konten/berita/mui-tindak-tegas-israel">http://www.mui.or.id/konten/berita/mui-tindak-tegas-israel</a>)</p>
<p>Melihat  begitu urgen dan diperlukannya pembahasan ini, terlebih masalah ini  masih belum diketahui oleh sebagaian kaum muslimin, serta sebagai bentuk  turut andil di dalam menyebarkan sunnah dan pembelaan terhadap kaum  muslimin Palestina, maka saya turunkan seputar konsep <em>qunût nâzilah</em> yang benar –insyâ Allôh- menurut sunnah Nabi <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em> secara ringkas. Dengan memohon taufiq kepada Allôh <em>Subhânahu wa Ta’âlâ</em>, saya memulai pembahasan ini :</p>
<p><strong>Definisi <em>Qunût Nâzilah</em></strong></p>
<p><em>Qunût </em>berasal dari kata <em>qonata – yaqnutu – qunûtan </em>(قنت يقنت قنوتا)  yang berarti ta’at, merendahkan diri, patuh, berdiri dalam sholat, diam  di dalam beribadah, do’a, tasbih dan khusyu’. Sedangkan yang dimaksud  di sini adalah do’a tertentu yang dilakukan sebelum ruku’ atau setelah  ruku’</p>
<p><em>Nâzilah</em> adalah bentuk <em>mufrad</em> (singular) dari <em>nawâzil</em>. Artinya adalah : “keadaan genting di masa yang penuh kesulitan” (lihat <em>Kisyâful Qinâ’</em> : I/421).</p>
<p>Jadi, <em>qunût nâzilah</em> artinya adalah doa khusus yang dipanjatkan di saat sholat di saat kaum  muslimin mengalami suatu musibah atau bencana, agar Allôh menolong dan  memberikan kaum muslimin kemenangan, serta menghancurkan dan  membinasakan kaum kafir yang telah berlaku aniaya kepada kaum muslimin.</p>
<p><strong>Waktu dibacakannya <em>qunût nâzilah</em></strong></p>
<p><em>Qunût nâzilah </em>disyariatkan untuk dibaca di setiap sholat lima waktu selama sebulan. Dalilnya adalah hadits-hadits nabi yang mulia <em>‘alaihi ash-Sholâtu was Salâm</em> sebagai berikut :</p>
<p>Dari Ibnu ‘Abbâs <em>Radhiyallâhu ‘anhu</em> beliau berkata :</p>
<p dir="rtl">قَنَتَ  رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا مُتَتَابِعًا  فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَصَلَاةِ الصُّبْحِ  فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ إِذَا قَالَ « سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ»   مِنَ الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ بَنِي سُلَيْمٍ  عَلَى رِعْلٍ وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ وَيُؤَمِّنُ مَنْ خَلْفَهُ</p>
<p>“Rasulullah <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em> melakukan qunût selama sebulan berturut-turut di waktu zhuhur, ashar,  maghib, isya’ dan shubuh, di akhir waktu setiap sholat setelah beliau  membaca <em>sami’allâhu liman hamidahu</em> pada rakaat terakhir untuk mendoakan keburukan bagi bani Sulaim,  Ri’lin, Dzakwân dan ‘Ushoyyah. Lalu makmum di belakang mengaminkannya.”  (HR Imam Ahmad dan Abu Dawud, dihasankan oleh al-Albânî di dalam <em>Shahih Sunan Abî Dâwûd</em> 1443)</p>
<p>Dari Anas bin Mâlik <em>Radhiyallâhu ‘anhu</em> beliau berkata :</p>
<p dir="rtl">أَنَّ  النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ شَهْرًا يَلْعَنُ  رِعْلاً وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ عَصَوُا اللَّهَ وَرَسُولَهُ</p>
<p>“Nabi <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em> melakukan qunût selama sebulan, beliau mengutuk bani Ri’lan, Dzakwân  dan ‘Ushoyyah yang telah membangkang terhadap Allôh dan Rasul-Nya” (<em>Muttafaq ‘Alaihi</em> dan lafazh hadits atas adalah lafazh Muslim)</p>
<p><strong>Qunût Nâzilah disyariatkan ketika ada sebab bencana</strong></p>
<p>Abû Hurairoh <em>Radhiyallâhu ‘anhu</em> menceritakan :</p>
<p dir="rtl">ثُمَّ  رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم تَرَكَ الدُّعَاءَ بَعْدُ  فَقُلْتُ أُرَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ  تَرَكَ الدُّعَاءَ لَهُمْ قَالَ فَقِيلَ وَمَا تُرَاهُمْ قَدْ قَدِمُوا</p>
<p>“Kemudian aku melihat Rasulullah <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em> meninggalkan doa qunût setelah itu (setelah bencana tidak ada lagi). Lantas aku menyampaikan bahwa aku melihat Rasulullah <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em> telah meninggalkan do’a bagi kaum muslimin (yang teraniaya), dan ada  orang bertanya, apakah Anda melihat bahwa mereka (yaitu al-Walîd dan  rombongannya) telah tiba (di Madinah dengan selamat)” (HR Muslim)</p>
<p>Ibnul Qoyyim <em>rahimahullâhu</em> berkata :</p>
<p dir="rtl">إنما قنت عند النوازل للدعاء لقوم، وللدعاء على آخرين، ثم تركه لما قدم من دعا لهم، وتخلصوا من الأسر</p>
<p>“Sesungguhnya  qunût dilaksanakan ketika tertimpa bencana untuk mendoakan  (keselamatan) bagi kaum muslimin dan mendoakan (kehancuran) bagi  musuh-musuh mereka. Kemudian Nabi meninggalkan doa qunût setelah kaum  muslimin mendapatkan keselamatan dan terbebas dari keburukan.” (<em>Zâdul Ma’âd</em> : I/272)</p>
<p>Ibnu Taimiyah <em>rahimahullâhu</em> berkata :</p>
<p dir="rtl">القنوت مسنون عند النوازل، وهذا القول هو الذي عليه فقهاء أهل الحديث، وهو المأثور عن الخلفاء الراشدي</p>
<p>“Qunût disunnahkan ketika tertimpa bencana. Dan ini merupakan pendapatnya ahli fikih dari kalangan ahli hadits, dan qunût ini <em>ma’tsûr </em>(ada riwayatnya) dari <em>al-Khulafâ` ar-Râsyidîn</em>” (<em>Majmû’ al-Fatâwâ</em> 23/108).</p>
<p><strong>Qunût tidak hanya dilakukan di waktu Shubuh</strong></p>
<p>Qunut  tidak hanya dilakukan pada watu shubuh, namun waktu yang paling sering  Rasulullah melakukan qunut di dalamnya adalah di waktu shubuh.</p>
<p>Ibnu Taimiyah <em>rahimahullâhu</em> berkata :</p>
<p dir="rtl">فيشرع  أن يقنت عند النوازل يدعو للمؤمنين ويدعو على الكفار في الفجر وغيرها من  الصلوات، وهكذا كان عمر يقنت لما حارب النصارى بدعائه الذي فيه ( اللهم  العن كفرة أهل الكتاب )</p>
<p>“Disyariatkan melakukan <em>qunût nâzilah</em> di kala tertimpa bencana, mendoakan kebaikan bagi kaum muslimin dan  keburukan bagi kaum kuffar, baik di waktu shubuh atau waktu-waktu sholat  lainnya. Beginilah ‘Umar tatkala beliau memerangi kaum nasrani, beliau  melakukan qunût dan berdoa : “Ya Allôh, laknatlah kaum kafir ahli  kitab”. (<em>Majmû’ al-Fatâwâ</em> 22/270).</p>
<p>Ibnu Taimiyah <em>rahimahullâhu</em> berkata :</p>
<p dir="rtl">وأكثر قنوته ـ يعني النبي صلى الله عليه وسلم ـ كان في الفجر</p>
<p>“Waktu qunût yang paling sering dilakukan oleh Nabi <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em> adalah pada waktu shubuh.” (<em>Majmû’al- Fatâwâ </em>: 22/269)</p>
<p>Ibnul Qoyyim <em>rahimahullâhu</em> berkata :</p>
<p dir="rtl">وكان هديه صلى الله عليه وسلم القنوت في النوازل خاصة، وترْكَه عند عدمها، ولم يكن يخصه بالفجر، بل كان أكثر قنوته فيها</p>
<p>“Petunjuk Nabi <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em> di dalam melakukan qunût adalah mengamalkannya ketika ditimpa bencana  secara khusus dan meninggalkannya ketika bencana sudah tidak ada. Beliau  tidak mengkhususkannya hanya di waktu shubuh, namun waktu yang paling  sering beliau melakukan qunût adalah di waktu shubuh.” (<em>Zâdul Ma’âd</em> : 1/273)</p>
<p><strong>Kapankah dibacakan qunût nâzilah, sebelum atau setelah ruku’?</strong></p>
<p>Telah tetap dari Nabi <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em> bahwa qunût dapat dilaksanakan sebelum atau setelah ruku’, walau yang  paling sering dilakukan Nabi adalah setelah ruku’. Sebagaimana dalam  riwayat-riwayat berikut :</p>
<p dir="rtl">عن  أنس أنه سئل: أقنت رسول الله صلى الله عليه وسلم في الصبح؟ قال: نعم،  فقيل: أوقنت قبل الركوع أو بعد الركوع؟ قال: بعد الركوع يسيرا</p>
<p>Dari Anas <em>Radhiyallâhu ‘anhu</em> beliau ditanya : “Apakah Rasulullah <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em> melakukan qunût di waktu shubuh?” Beliau menjawab, “iya”. Lantas beliau  ditanya lagi : “Beliau melakukan qunût sebelum atau setelah ruku’?”.  Beliau menjawab : “Setelah ruku’ dengan bacaan ringan.” (<em>Muttafaq ‘alaihi</em>)</p>
<p dir="rtl">عن أنس أنه سئل عن القنوت بعد الركوع أو عند الفراغ من القراءة؟ قال: لا بل عند الفراغ من القراءة.</p>
<p>Dari Anas <em>Radhiyallâhu ‘anhu</em> beliau ditanya tentang masalah qunût, apakah dilakukan setelah ruku’  ataukah setelah membaca al-Qur`ân (sebelum ruku’)? Beliau menjawab :  “dilakukan setelah membaca al-Qur`ân.” (HR Bukhârî)</p>
<p>Anas <em>Radhiyallâhu ‘anhu</em> juga berkata :</p>
<p dir="rtl">كنا نقنت قبل الركوع وبعده</p>
<p>“Kami pernah melakukan qunût sebelum dan setelah ruku’”</p>
<p>Kesemua  hadits di atas menunjukkan bahwa qunût boleh dilakukan sebelum atau  setelah ruku’. Dan yang paling sering dilakukan oleh Nabi <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em> adalah melakukannya setelah ruku’.</p>
<p><strong>Disyariatkannya melakukan Qunût Nâzilah secara ringan dan ringkas</strong></p>
<p>Disunnahkan  untuk tidak memperpanjang do’a qunût, dan mencukupkan dengan do’a-do’a  yang inti saja, yaitu untuk menolong dan menyelamatkan kaum muslimin  dari bencana dan do’a untuk menghancurkan dan menceraiberaikan kaum  kuffar. Hal ini sebagaimana di dalam riwayat Anas bin Mâlik <em>Radhiyallâhu ‘anhu</em> ketika beliau ditanya :</p>
<p dir="rtl">هَلْ قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ</p>
<p>“Apakah Rasulullah <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em> melaksanakan qunût di sholat shubuh?”</p>
<p>Beliau <em>Radhiyallâhu ‘anhu</em> menjawab :</p>
<p dir="rtl">نَعَمْ بَعْدَ الرُّكُوعِ يَسِيرًا</p>
<p>“Iya, setelah ruku dengan bacaan yang ringan.” (HR Muslim)</p>
<p>Hadits di atas menunjukkan bahwa Nabi <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em> melaksanakan qunût dengan bacaan yang ringkas dan ringan, tidak memperpanjangnya.</p>
<p><strong>Imam disunnahkan mengeraskan bacaan qunût dan makmum mengaminkannya</strong></p>
<p>Sebagaimana di dalam hadits Abû Hurairoh <em>Radhiyallâhu ‘anhu</em> :</p>
<p dir="rtl">أَنَّ  رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ  عَلَى أَحَدٍ أَوْ يَدْعُوَ لأحَدٍ قَنَتَ بَعْدَ الرُّكُوعِ فَرُبَّمَا  قَالَ إِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ «اللَّهُمَّ رَبَّنَا  لَكَ الْحَمْدُ اللَّهُمَّ أَنْجِ الْوَلِيدَ بْنَ الْوَلِيدِ وَسَلَمَةَ  بْنَ هِشَامٍ وَعَيَّاشَ بْنَ أَبِي رَبِيعَةَ اللَّهُمَّ اشْدُدْ  وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ وَاجْعَلْهَا سِنِينَ كَسِنِي يُوسُفَ» يَجْهَرُ  بِذَلِكَ</p>
<p>“Bahwasanya Rasulullah <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em> jika hendak berdoa mendoakan keburukan atau kebaikan bagi seseorang  setelah rukû’, seringkali beliau mengucapkan setelah ucapan <em>sami’allôhu liman hamidahu</em> : Rabb kami, segala pujian hanyalah milik-Mu. Ya Allôh selamatkanlah  al-Walîd bin al-Walîd, Salamah bin Hisyâm dan Ayyâsy bin Abî Rabî’ah. Ya  Allôh, keraskanlah adzab-Mu kepada bani Mudhor! Ya Allôh, turunkanlah  paceklik kepada mereka sebagaimana paceklik pada zaman Yusuf!” seraya  mengeraskan bacaannya. (HR Bukhârî)</p>
<p>An-Nawawî <em>rahimahullâhu</em> berkata :</p>
<p dir="rtl">وحديث  قنوت النبي صلى الله عليه وسلم حين قُتل القراء رضي الله عنهم يقتضي أنه  كان يجهر به في جميع الصلوات، هذا كلام الرافعي. والصحيح أو الصواب استحباب  الجهر</p>
<p>“Hadits tentang qunûtnya Nabi <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em> ketika terbunuhnya para <em>qurrô`</em> <em>Radhiyallâhu ‘anhum</em>,  menunjukkan wajibnya bahwa beliau mengeraskan bacaan doanya di setiap  waktu sholatnya, dan ini adalah pendapat ar-Rafi’î. Pendapat yang paling  benar dan tepat adalah sunnah hukumnya mengeraskan bacaan.” (<em>al-Majmû’</em> : 3/482)</p>
<p>Ibnu Hajar <em>rahimahullâhu</em> berkata :</p>
<p dir="rtl">وظهر  لي أن الحكمة في جعل قنوت النازلة في الاعتدال دون السجود مع أن السجود  مظنة الإجابة كما ثبت (أقرب ما يكون العبد من ربه وهو ساجد) وثبوت الأمر  بالدعاء فيه أن المطلوب من قنوت النازلة أن يشارك المأموم الإمام في الدعاء  ولو بالتأمين، ومن ثمَّ اتفقوا على أنه يجهر به</p>
<p>“Tampak  padaku bahwa hikmah ditetapkannya qunût nâzilah di waktu i’tidâl bukan  sujud, padahal sujud adalah saat dikabulkannya doa sebagaimana dalam  hadits “keadaan seorang hamba yang paling dekat dengan Rabb-Nya adalah  di saat sujudnya”, dan diperintahkan doa di dalamnya adalah, bahwa yang  dituju dari dilaksanakannya qunût nâzilah adalah agar makmum dapat  menyertai imam di dalam berdoa dan mengaminkannya. Oleh karena itulah,  para ulama bersepakat untuk mengeraskan bacaan qunut.” (<em>Fath al-Bârî</em> : 2/570)</p>
<p><strong>Disunnahkan mengangkat kedua tangan ketika berdoa qunût</strong></p>
<p>Sebagaimana dalam hadits Anas <em>Radhiyallâhu ‘anhu</em> beliau berkata :</p>
<p dir="rtl">فَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَلَاةِ الْغَدَاةِ رَفَعَ يَدَيْهِ فَدَعَا عَلَيْهِمْ</p>
<p>“Aku melihat Rasulullah <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em> sholat zhuhur mengangkat kedua tangannya dan mendoakan keburukan bagi mereka (kaum kafir).” (HR Ahmad dengan sanad yang shahih)</p>
<p>Dari Abu Râfi’ beliau berkata :</p>
<p dir="rtl">صليت خلف عمر بن الخطاب رضي الله عنه فقنت بعد الركوع، ورفع يديه، وجهر بالدعاء</p>
<p>“Aku pernah sholat di belakan ‘Umar bin Khaththâb <em>Radhiyallâhu ‘anhu</em> dan beliau membaca qunût setelah ruku’ sembari mengangkat kedua  tangannya dan mengeraskan bacaan do’anya.” (Diriwayatkan oleh al-Baihaqî  dalam <em>Sunan al-Baihaqî</em> 2/212 dan mengatakan keshahihannya dari ‘Umar).</p>
<p><strong>Tidak mengusap wajah setelah qunût</strong></p>
<p>Tidak  ada satupun dalil yang shahih yang menunjukkan disyariatkannya mengusap  wajah setelah qunut atau berdoa. Semua hadits yang datang tentang  mengusap wajah adalah hadits yang dha’if dan tidak bisa dijadikan  hujjah.</p>
<p>Al-Baihaqî <em>Rahimahullâhu</em> berkata :</p>
<p dir="rtl">فأما  مسح اليدين بالوجه عند الفراغ من الدعاء فلست أحفظه عن أحد من السلف في  دعاء القنوت، وإن كان يروى عن بعضهم في الدعاء خارج الصلاة، وقد روي فيه عن  النبي صلى الله عليه وسلم حديث فيه ضعف. وهو مستعمل عند بعضهم خارج  الصلاة، وأما في الصلاة فهو عمل لم يثبت بخبر صحيح ولا أثر ثابت، ولا قياس. فالأولى أن لا يفعله ويقتصر على ما فعله السلف رضي الله عنهم من رفع اليدين دون مسحهما بالوجه في الصلاة وبالله التوفيق “</p>
<p>“Adapun  mengusap wajah dengan kedua tangan setelah selesai berdoa qunut, maka  aku tidak menghapal ada satupun riwayat dari kaum salaf yang  mengamalkannya ketika berdoa qunut. Walaupun ada riwayat dari sebagian  mereka tentang mengusap wajah ketika berdoa di luar sholat. Juga  diriwayatkan dari Nabi <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em> tentang  hal ini namun haditsnya dhaif. Hal ini diamalkan oleh sebagian mereka  hanya di luar sholat. Adapun di dalam sholat, maka ini adalah amal yang  tidak ada hadits dan atsar yang shahih menetapkannya, dan tidak pula  qiyas. Yang lebih utama adalah tidak mengamalkan hal ini (mengusap  wajah) dan mencukupkan dengan perbuatan salaf <em>Radhiyallâhu ‘anhum</em> yang mengangkat tangan mereka ketika sholat tanpa mengusap wajah. <em>Wabillahi at-Taufîq</em>.” (<em>Sunan al-Baihaqî</em> 2/212)</p>
<p>Imam Nawawî <em>rahimahullâhu</em> mengomentari :</p>
<p dir="rtl">وله ـ يعني البيهقي ـ رسالة مشهورة كتبها إلى الشيخ أبي محمد الجويني أنكر عليه فيها أشياء من جملتها مسحه وجهه بعد القنوت</p>
<p>“Baihaqî memiliki risalah yang terkenal yang ditulis kepada Syaikh Abu Muhammad  al-Juwainî, beliau mengingkarinya dalam banyak hal, diantaranya tentang  pendapatnya mengenai mengusap wajah setelah qunut.” (<em>al-Majmû’</em> 3/480)</p>
<p>Ibnu Taimiyah <em>Rahimahullâhu</em> berkata :</p>
<p dir="rtl">وأما مسح وجهه بيديه فليس عنه فيه إلا حديث أو حديثان لا يقوم بهما حجة</p>
<p>“Adapun  mengusap wajah dengan kedua tangan, maka tidak ada dalilnya kecuali  satu atau dua hadits yang tidak dapat dijadikan hujjah.” (Majmû’  al-Fatâwâ 22/519)</p>
<p><strong>Bolehkah mengamalkan qunût nâzilah tanpa izin ulil amri?</strong></p>
<p>Tidak  patut bagi imam masjid melaksanakan qunût melainkan setelah mendapatkan  izin dari ulil amri (penguasa dan ulama). Karena qunûtnya imam masjid  tanpa izin ulil amri dapat menimbulkan kekacauan. Apabila pintu ini  dibuka, niscaya akan ada orang akan merasa bahwa sekarang sedang terjadi  musibah besar dan sebagian lagi tidak. Semuanya menurut keyakinan dan  pendapatnya masing-masing. Sehingga dampaknya muncul perselisihan dan  pertikaian.</p>
<p>Sepatutnya  dalam masalah-masalah besar yang berkaitan dengan umat, hendaknya  dibicarakan dengan dengan para ulama, meminta bimbingan dan arahan  mereka. Termasuk pula dalam masalah qunût nâzilah.</p>
<p><strong>Mengamalkan qunût pada sholat jamâ’ah atau munfarid?</strong></p>
<p>Para ulama berbeda pendapat tentang hal ini. Al-Qôdhî dan Ibnu Taimiyah berpendapat bolehnya qunût pada sholat munfarid (<em>al-Inshâf</em> 2/175). Pendapat yang râjih  dan terpilih dalam hal ini adalah, mengamalkan qunût hanya pada sholât  jamâ’ah, bukan munfarid (sholat sendirian). Karena tidak ada dalil  shahih yang menunjukkan bahwa qunût nâzilah pernah dilakukan oleh  Rasulullah dan sahabatnya pada sholat munfarid.</p>
<p><strong>Bagaimana qunût pada sholat jum’at?</strong></p>
<p>Para  ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Bahkan beberapa ulama menjadikan  masalah ini sebagai bab di dalam kitab-kitab mereka, seperti ‘Abdur  Razzâq di dalam <em>Mushonnaf</em>-nya bab <em>al-Qunût Yaum al-Jum’ah</em>, Ibnu Abî Syaibah di dalam <em>Mushonnaf</em>-nya bab <em>Fî Qunûti Yaum al-Jum’ah</em>, Ibnul Mundzir di dalam <em>al-Awsâth</em> bab <em>Dzikrul Qunût fî al-Jum’ah</em>, dan kesemua ulama ini menyebutkan atsar para sahabat dan tabi’in yang  meninggalkan  qunût pada sholat Jum’at. Namun, tidak ada dalil yang jelas bahwa qunût  yang ditinggalkan pada sholat Jum’at tersebut apakah qunût nâzilah atau  bukan, sehingga penunjukan keharamannya tidak jelas.</p>
<p>Al-Mardâwî  mengatakan bahwa qunût diamalkan di seluruh sholat wajib kecuali sholat  Jum’at, dan ini adalah pendapat yang paling benar dari madzhabnya.  Al-Majd di dalam <em>Syarh</em>-nya dan Ibnu ‘Abdûs di dalam <em>Tadzkirah</em>-nya menyatakan tentang pelaksanaan qunût di sholat Jum’at.</p>
<p>Yang râjih  adalah tidak diamalkan qunût pada sholât Jum’at, karena tidak ada  riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi dan sahabat beliau melakukan qunût  pada hari Jum’at. Hukum asal di dalam ibadah adalah terlarang, sampai  ada dalil yang memalingkan larangannya.</p>
<p>Permasalahan ini, yaitu qunût di sholat munfarid dan sholat Jum’at, lebih memerlukan pembahasan lebih jauh lagi. Wallôhu a’lam.</p>
<p><strong>Tidak ada lafazh atau bacaan khusus di dalam qunût nâzilah</strong></p>
<p>Qunût Nâzilah tidak memiliki bacaan doa tertentu, bacaannya sesuai dengan keadaan bencana yang menimpa. Adapun bacaan Nabi <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em> : “<em>Allôhummâ ihdinâ fîman hadaita</em>…”  dst, bacaan ini hanya dibaca Nabi di qunût witir saja. Tidak ada  satupun dalil yang menyebutkan bahwa Nabi membaca doa ini pada qunût  nâzilah.</p>
<p>Ibnu Taimiyah <em>rahimahullâhu</em> berkata :</p>
<p dir="rtl">فالسنة أن يقنت عند النازلة ويدعو فيها بما يناسب القوم المحاربين</p>
<p>“Yang sunnah adalah melakukan qunût di kala tertimpa bencana, dengan membaca doa yang sesuai bagi kaum yang memerangi.” (<em>Majmû’ Fatâwâ</em> : 21/155)</p>
<p>Beliau <em>rahimahullâhu</em> juga berkata :</p>
<p dir="rtl">وينبغي  للقانت أن يدعو عند كل نازلة بالدعاء المناسب لتلك النازلة.وإذا سمى من  يدعو لهم من المؤمنين ومن يدعو عليهم من الكافرين المحاربين كان ذلك حسناً</p>
<p>“Sepatutnya  bagi orang yang melakukan qunût untuk berdoa di kala tertimpa bencana  dengan doa yang sesuai dengan bencana tersebut. Apabila menyebut nama  kaum mukminin yang didoakan kebaikan atasnya dan menyebut nama kaum  kuffar yang memerangi kaum muslimin yang didoakan keburukan bagi mereka,  maka yang demikian ini lebih baik.”</p>
<p>Beliau <em>rahimahullâhu</em> berkata kembali :</p>
<p>“’Umar <em>Radhiyallâhu ‘anhu</em> melakukan qunût tatkala kaum muslimin ditimpa oleh bencana. Beliau  berdoa di dalam qunût dengan doa yang sesuai dengan bencana tersebut,  sebagaimana Nabi <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em> ketika melakukan  qunût pertama kali, beliau mendoakan keburukan bagi kabilah Bani Sulaim  yang telah membunuh para pembaca al-Qur`an (Qurrô’), beliau mendoakan  keburukan bagi mereka yang sesuai dengan tujuannya. Kemudian ketika Nabi  melakukan qunût yang mendoakan keselamatan bagi para sahabat Nabi <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em> yang tertindas, beliau berdoa dengan doa yang sesuai dengan tujuannya.</p>
<p>Sunnah Rasulullah <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em> dan <em>al-Khulafâ` ar-Râsyidîn</em> menunjukkan atas dua hal : Pertama, doa qunût itu disyariatkan ketika  ada sebab yang mengharuskannya, bukan sunnah yang senantiasa diamalkan  di dalam sholat. Kedua, doa di dalam qunût ini bukanlah doa yang sudah  baku lafazhnya. Namun doa di dalam qunût itu sesuai dengan keadaan dan  tujuannya. (<em>Majmû’ Fatâwâ</em> : 23/109)</p>
<p>Jadi, tidaklah mengapa apabila kita berdoa di dalam qunût dengan bacaan yang sesuai dengan keadaan di zaman ini dengan meniru <em>ushlub</em> (gaya bahasa) Nabi <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em>, seperti misalnya :</p>
<p dir="rtl">اللهم  أنج إخواننا المسلمين في العراق وفلسطين وأفغانستان والشيشان وكشمير،  اللهم انصرهم ، اللهم اشدد وطأتك على اليهود و النصارى والهندوس ومن شايعهم  وأعانهم، اللهم العنهم اللهم اجعلها عليهم سنين كسني يوسف</p>
<p>“Ya  Allôh, selamatkanlah saudara-saudara kita kaum muslimin di Iraq,  Palestina, Afghanistan, Chechnya dan Kasymir. Ya Allôh tolonglah mereka.  Ya Allôh, keraskanlah adzab-Mu kepada Yahudi, Nasrani, Hindu dan siapa  saja yang menyokong dan menolong mereka. Ya Allôh laknatlah mereka dan  turunkanlah paceklik kepada mereka sebagaimana paceklik pada zaman  Yusuf.”</p>
<p>Lafazh di atas serupa dengan lafazh bacaan doa Nabi <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em> yang diriwayatkan oleh Abû Hurairoh ketika beliau qunût mendoakan  keselamatan bagi sahabat beliau yang teraniaya dan ditahan kaum kafir  untuk berhijrah. Mereka disiksa, dilukai, dan diancam oleh kaum kafir  ketika itu. Diantara mereka adalah ‘Ayyâsy bin Abî Rabî’ah, al-Walîd bin  al-Walîd dan Salamah bin Hisyâm. Beliau ketika itu membaca :</p>
<p dir="rtl">اللَّهُمَّ  أَنْجِ عَيَّاشَ بْنَ أَبِي رَبِيعَةَ اللَّهُمَّ أَنْجِ الْوَلِيدَ بْنَ  الْوَلِيدِ اللَّهُمَّ أَنْجِ سَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ اللَّهُمَّ أَنْجِ  الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ  عَلَى مُضَرَ اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ سِنِينَ كَسِنِي يُوسُفَ</p>
<p>“Ya  Allôh, selamatkanlah ‘Ayyâsy bin Abî Rabî’ah! Ya Allôh, selamatkanlah  al-Walîd bin al-Walîd! Ya Allôh, selamatkanlah Salamah bin Hisyâm! Ya  Allôh, selamatkanlah kaum mukminin yang tertindas. Ya Allôh, keraskanlah  adzab-Mu kepada bani Mudhor! Ya Allôh, turunkanlah paceklik kepada  mereka sebagaimana paceklik pada zaman Yusuf.” (HR Bukhârî).</p>
<p>Sungguh, meniru <em>ushlub</em> Nabi <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em> adalah lebih baik, walaupun membaca doa yang <em>ushlub</em>-nya berbeda namun sesuai dengan kondisi tidaklah mengapa.</p>
<p><strong>Beberapa kekeliruan dalam masalah bacaan qunût</strong></p>
<p>Ada beberapa kekeliruan di dalam masalah bacaan qunût yang perlu diluruskan, diantaranya :</p>
<p>1. Membaca doa <em>Allôhummâ-hdinâ fîman hadaita</em> dst. Hal ini hanya untuk qunût witr, bukan qunût nâzilah.</p>
<p>2. Melazimkan dan menyenantiasakan bacaan sholawat kepada Nabi <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em> di akhir bacaan doa qunût. Hal ini tidak ada dalil dan tuntunannya dari Nabi <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em>. Adapun riwayat yang <em>ma’tsûr</em> dari para sahabat tentang sholawat adalah pada bacaan qunût witir.</p>
<p>3. Membaca doa dengan konteks yang salah, seperti misalnya memintakan adzab kepada Yahudi dan kaum kuffar, ditutup dengan <em>Ya Arhamar Râhimîn </em>(wahai Dzat yang maha pengasih) atau semisalnya. Hal ini tidak benar sebab <em>tawassul</em> dengan sifat <em>rahmah</em> tidak sesuai dengan maksud doa untuk memberikan adzab dan kehancuran bagi kaum kuffar.</p>
<p>4. Memanjangkan  doa dan berdoa keluar dari konteks nâzilah, seperti berdoa meminta  suatu hal yang tidak ada kaitannya dengan bencana.</p>
<p>5. Makmum tidak mengangkat tangan dan mengaminkan bacaan qunut imam.</p>
<p>6. Mengusap wajah dengan telapak tangan setelah selesai membaca qunut.</p>
<p>Demikianlah  risalah ringkas ini saya susun. Semoga dapat memberikan manfaat baik  bagi diri penyusun sendiri, maupun kaum muslimin lainnya yang  membacanya. Segala tegur sapa, nasehat masukan dan kritikan penyusun  terima dengan lapang dada, dan jangan segan untuk mengingatkan penyusun  apabila ada kesalahan atau kekurangan dari artikel di atas. Semoga Alloh  <em>Subhânahu wa Ta’âlâ </em>segera  mengangkat kezhaliman dan penindasan yang dialami saudara-saudara kita  kaum muslimin di bumi Palestina dan selainnya, dan menghancurkan serta  memporakporandakan barisan kaum kafir yang memerangi kaum muslimin.</p>
<p dir="rtl">وبالله التوفيق، والحمد لله رب العلمين.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jel4jah.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jel4jah.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jel4jah.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jel4jah.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jel4jah.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jel4jah.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jel4jah.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jel4jah.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jel4jah.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jel4jah.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jel4jah.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jel4jah.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jel4jah.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jel4jah.wordpress.com/218/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jel4jah.wordpress.com&amp;blog=9561536&amp;post=218&amp;subd=jel4jah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jel4jah.wordpress.com/2010/08/14/doa-qunut-shubuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c6d361f940b6351a10fd921bbb8e3699?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">D' Tari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jel4jah.files.wordpress.com/2010/08/sakura-bawah.gif" medium="image">
			<media:title type="html">sakura-bawah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pembatal Puasa di Zaman Modern</title>
		<link>http://jel4jah.wordpress.com/2010/08/12/pembatal-puasa-di-zaman-modern/</link>
		<comments>http://jel4jah.wordpress.com/2010/08/12/pembatal-puasa-di-zaman-modern/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Aug 2010 04:12:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ummu naila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[pembatal puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jel4jah.wordpress.com/?p=196</guid>
		<description><![CDATA[Pembatal Puasa di Zaman Modern (2) Berikut ini akan kami sebutkan beberapa alat modern [3] yang biasa digunakan oleh manusia dan hukum penggunaannya bagi orang yang sedang berpuasa.1. بخاخ الربو (Bronkodilator) Yaitu sebuah alat yang berisikan obat pembuka saluran bronki yang menyempit oleh denyutan, yang disemprotkan ke mulut untuk mengobati atau meredakan penyakit sejenis asma/sesak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jel4jah.wordpress.com&amp;blog=9561536&amp;post=196&amp;subd=jel4jah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pembatal Puasa di Zaman Modern (2)</p>
<p>Berikut ini akan kami sebutkan beberapa alat modern [3] yang biasa digunakan oleh manusia dan hukum penggunaannya bagi orang yang sedang berpuasa.1. بخاخ الربو (Bronkodilator)</p>
<p>Yaitu sebuah alat yang berisikan obat pembuka saluran bronki yang menyempit oleh denyutan, yang disemprotkan ke mulut untuk mengobati atau meredakan penyakit sejenis asma/sesak napas [4].</p>
<p>Alat ini mengandung beberapa unsur di dalamnya, antara lain: air, oksigen, dan bahan-bahan kimia lainnya.</p>
<p>Hukumnya?</p>
<p>Para ulama berbeda pendapat tentang alat ini menjadi dua pendapat:</p>
<p>(a) Pendapat pertama. Mereka mengatakan bahwa alat ini tidak membatalkan puasa. Ini adalah pendapat Syaikh Bin Baz [5], Ibnu Utsaimin [6], Ibnu Jibrin [7], dan keputusan Lajnah Da&#8217;imah [8].</p>
<p>Dalil mereka:</p>
<p><span id="more-196"></span></p>
<p>Menurut mereka alat ini tidak membatalkan puasa lantaran bukan termasuk makan dan minum, bahkan unsur yang masuk ke dalam rongga hanya angin saja.</p>
<p>Andaikata kita katakan ada unsur kimia yang masuk ke dalam rongga walaupun sedikit, maka ini hanyalah perkiraan yang belum pasti, dan ini adalah sesuatu yang meragukan. Sedangkan asal hukum puasa adalah sah/tidak batal, sampai ada pembatal yang jelas.</p>
<p>(b) Pendapat kedua. Mereka mengatakan bahwa alat seperti ini membatalkan puasa. Ini adalah pendapat Fadhl Hasan Abbas [9], Syaikh Muhammad Mukhtar as Salami, dan para ahli medis di zaman ini [10].</p>
<p>Dalil mereka:</p>
<p>Menggunakan alat ini hampir dipastikan adanya unsur kimia yang masuk ke dalam rongga sehingga membatalkan puasa.</p>
<p>Pendapat yang kuat. Pendapat yang lebih kuat adalah pendapat pertama, yaitu alat ini tidak membatalkan puasa, lantaran tidak bisa dipastikan unsur bahan kimia dari alat ini yang masuk ke dalam rongga, sehingga asal hukum puasa adalah sah. Kemudian alat ini di-qiyas-kan dengan siwak yang mempunyai beberapa unsur bahan kimia, yang apabila siwak digunakan, pasti unsur-unsur kimia [11] yang berupa angin itu masuk ke rongga, padahal Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menggunakan siwak walaupun beliau sedang berpuasa [12].</p>
<p>Walaupun demikian, sebaiknya tidak menggunakan alat (bronkodilator) ini ketika berpuasa kecuali terpaksa [13].</p>
<p>2. الإبر العلاجيّة (Jarum suntik/injeksi)</p>
<p>Yaitu penggunaan obat yang dimasukkan dengan jarum dan disuntikkan kepada bagian tubuh seperti paha dan semisalnya.</p>
<p>Hukumnya?</p>
<p>Apabila jarum suntik tidak berfungsi sebagai pengganti makan atau minum, maka para ulama kontemporer mengatakan bahwa jarum suntik tidak membatalkan puasa. Sebagaimana pendapat Syaikh Bin Baz [14], Ibnu Utsaimin [15], Ibnu Bakhith [16], Muhammad Saltut [17], DR. Fadhl Hasan Abbas [18], dan keputusan Majma&#8217; al Fiqhi [19], dan tidak diketahui perbedaan pendapat dalam masalah ini [20].</p>
<p>Dalil mereka:</p>
<p>Menurut mereka, jarum suntik yang tidak berfungsi sebagai pengganti makanan dan minuman adalah sekedar memasukkan obat ke aliran darah dan tidak sampai ke rongga manusia. Sehingga tidak dapat dikatakan sebagai makanan dan minuman, dan tidak dapat dikatakan sebagai pengganti keduanya, juga tidak semakna dengan makanan dan minuman; bahkan tidak termasuk ke dalam semua kaidah pembatal puasa.</p>
<p>Asal hukum puasa adalah sah (tidak batal), kecuali ada pembatal yang jelas dengan dalil yang jelas pula, dan dalam hal ini tidak ada dalil bahwa sekedar penggunaan jarum suntik membatalkan puasa.</p>
<p>3. الإبر المغذيّة (Infus)</p>
<p>Yaitu suplemen yang dimasukkan ke dalam tubuh manusia dengan cara suntikan (masuk ke pembuluh darah, red), berfungsi sebagai pengganti makanan dan minuman, dan biasa digunakan oleh orang sakit yang membutuhkan cairan tambahan.</p>
<p>Hukumnya?</p>
<p>Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini menjadi dua pendapat:</p>
<p>(a) Pendapat pertama. Mereka mengatakan bahwa cairan infus dan semua yang dimasukkan ke dalam tubuh manusia yang berfungsi sebagai pengganti makanan dan minuman walaupun tidak melalui mulut dan hidung adalah membatalkan puasa. Inilah pendapat Ibnu Sa&#8217;di [21], Ibnu Baz [22], Ibnu Utsaimin [23], dan juga merupakan keputusan al Majma&#8217; al Fiqhi [24].</p>
<p>Dalil mereka:</p>
<p>Cairan infus apabila berfungsi menggantikan makanan dan minuman, maka hukumnya sama dengan makanan dan minuman.</p>
<p>Hal ini dibuktikan dengan kenyataan bahwa orang-orang sakit yang menggunakannya mampu bertahan berhari-hari bahkan berminggu-minggu tanpa makan dan minum. Ini menunjukkan bahwa infus sama hukumnya dengan makanan dan minuman yang membatalkan puasa.</p>
<p>(b) Pendapat kedua. Mereka mengatakan bahwa infus tidak membatalkan puasa, ini adalah pendapat Syaikh Muhammad Bakhith [25], Muhammad Saltut [26], dan Sayyid Sabiq [27].</p>
<p>Dalil mereka:</p>
<p>Penggunaan alat seperti ini tidak membatalkan puasa lantaran tidak ada sesuatu yang masuk ke dalam rongga dari mulut atau hidung.</p>
<p>Pendapat yang kuat. Pendapat yang kuat adalah pendapat pertama, yaitu penggunaan alat semacam ini membatalkan puasa karena alasan-alasannya lebih kuat.</p>
<p>4. قطرة الأنف (Obat tetes hidung)</p>
<p>Hidung adalah saluran (jalan) yang sangat berkaitan erat dengan tenggorokan dan dapat mengantarkan sesuatu yang masuk melalui hidung menuju tenggorokan, diteruskan ke dalam rongga manusia, sebagaimana telah diketahui dengan kenyataan dan juga dengan dalil syar&#8217;i, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam:</p>
<p>وَ بَالِغْ فِي الإِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ اَنْ تَكُوْنَ صَائِمًا</p>
<p>&#8220;Hiruplah air dalam-dalam ke hidung kecuali kalau engkau berpuasa&#8221; (HR. Tirmidzi: 27, Abu Dawud: 2366, Ibnu Majah: 407, dan dishahihkan oleh al Albani dalam Irwa&#8217;ul Ghalil: 935)</p>
<p>Hukumnya?</p>
<p>Para ulama berbeda pendapat dalam penggunaan tetes hidung ketika sedang berpuasa.</p>
<p>(a) Pendapat pertama. Mereka mengatakan tidak membatalkan puasa. Ini adalah pendapat Syaikh Haitsam al Khayyath dan &#8216;Ajil an Nasyami [28].</p>
<p>Dalil mereka:</p>
<p>Menurut mereka bahwa tetes hidung yang masuk ke dalam rongga sangat sedikit, dan cairan yang sangat sedikit itu kalau dibandingkan dengan bekas berkumur ketika wudhu masih jauh lebih sedikit; padahal seorang yang berkumur ketika berwudhu bisa dipastikan ada sisa-sisa airnya masuk ke rongganya dan sudah dimaklumi bersama bahwa puasanya tidak batal.</p>
<p>Tetes hidung walaupun masuk ke dalam rongga manusia tetapi dia tidak berfungsi sebagai pengganti makan dan minum.</p>
<p>(b) Pendapat kedua. Mereka mengatakan bahwa tetes hidung membatalkan puasa. Ini adalah pendapat Syaikh Bin Baz [29], Ibnu Utsaimin [30], Muhammad as Salami, dan DR. Muhammad al Alfi [31].</p>
<p>Pendapat yang kuat. Pendapat yang kuat adalah pendapat kedua, yaitu tetes hidung yang sampai masuk ke dalam rongga membatalkan puasa. Hal ini dikuatkan oleh beberapa hal, diantaranya:</p>
<p>Sabda Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang telah lalu:</p>
<p>وَ بَالِغْ فِي الإِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ اَنْ تَكُوْنَ صَائِمًا</p>
<p>&#8220;Hiruplah air dalam-dalam ke hidung kecuali kalau engkau berpuasa&#8221; (HR. Tirmidzi: 27, Abu Dawud: 2366, Ibnu Majah: 407, dan dishahihkan oleh al Albani dalam Irwa&#8217;ul Ghalil: 935)</p>
<p>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam melarang orang yang berpuasa untuk terlalu dalam ketika menghirup air ke hidungnya. Tidaklah kita mengetahui hikmahnya melainkan bahwa dikhawatirkan (apabila terlalu kuat menghirup air ke dalam hidung) air akan masuk ke dalam rongga sehingga membatalkan puasa, lalu Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam melarangnya, dan sudah kita maklumi bersama bahwa air yang masuk ke hidung ketika berwudhu (ber-istinsyaq) tidak akan menggantikan makan dan minum [32].</p>
<p>Hidung adalah saluran yang berkaitan sangat erat dengan mulut dan keduanya adalah jalan (saluran) menuju rongga manusia; ini terbukti dengan kenyataan, berbeda dengan mata. Oleh karena itu, suatu ketika seorang yang tersedak akan keluar makanan dan minuman dari mulut dan hidungnya. Begitu juga kita menjumpai suatu ketika ada seorang muntah dari mulut dan hidungnya secara bersama-sama.</p>
<p>Bahkan akhir-akhir ini telah digunakan cara memasukkan cairan pengganti makanan dan minuman melalui hidung bagi orang yang sedang mengalami gangguan pada mulutnya (NGT = Nasogastric Tube, selang untuk memasukkan makanan dan minuman dari hidung dan terhubung sampai ke lambung -admin). Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p>5. قطرة العين (Obat tetes mata)</p>
<p>Pembahasan masalah ini sebenarnya bisa di-qiyas-kan/digabungkan kepada pembahasan penggunaan &#8220;celak mata&#8221; ketika sedang berpuasa, baik celak yang berfungsi untuk obat mata, atau hanya untuk sekedar berhias. Masalah penggunaan celak mata bagi orang yang berpuasa telah dibahas oleh para ulama terdahulu.</p>
<p>Hukum celak mata ketika berpuasa</p>
<p>Para ulama terdahulu berbeda pendapat tentang penggunaan celak mata ketika sedang berpuasa.</p>
<p>Pendapat pertama. Mereka mengatakan celak mata tidak membatalkan puasa. Ini adalah madzhab imam Abu Hanifah, dan madzhab imam Syafi&#8217;i [33], dan juga dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah dalam Majmu&#8217; Fatawanya 25/242.</p>
<p>Dalil mereka:</p>
<p>Mereka mengatakan celak mata walaupun sampai terasa di tenggorokan tidaklah membatalkan puasa; lantaran mata bukan termasuk saluran yang mengantarkan sesuatu ke dalam rongga manusia, dan karena Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam hanya menyebutkan hidung saja yang ada kaitannya dengan tenggorokan sebagaimana dalam hadits yang telah lalu.</p>
<p>Pendapat kedua. Mereka mengatakan celak mata membatalkan puasa apabila terasa di tenggorokan. Ini adalah pendapat madzhab imam Malik dan madzhab imam Ahmad [34].</p>
<p>Dalil mereka:</p>
<p>Menurut mereka, mata sangat berkaitan erat dengan tenggorokan sehingga mengantarkan sesuatu yang masuk ke mata kemudian menuju rongga manusia, dan ini terbukti, bahwa seorang yang menggunakan celak mata (terutama jenis celak yang dingin) dia akan segera merasakannya pada tenggorokannya.</p>
<p>Pendapat yang kuat tentang celak mata adalah pendapat yang pertama, yaitu celak mata tidak membatalkan puasa, walaupun sampai terasa pada tenggorokan atau pada rongga manusia. Pendapat ini dikuatkan oleh beberapa hal, diantaranya:</p>
<p>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam hanya melarang ber-istinsyaq (menghirup atau memasukkan air ke hidung) dalam-dalam ketika sedang berpuasa, dan tidak melarang yang lainnya.</p>
<p>Terbukti dengan keadaan para sahabat yang menggunakan celak mata, dan mereka tidak membatalkan puasanya dengan penggunaan celak mata.</p>
<p>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam memerintahkan para sahabatnya menggunakan celak mata secara umum setiap saat tanpa dikecualikan ketika puasa (lihat HR. Bukhari kitab ath Thib: 18).</p>
<p>Adapun perkataan bahwa mata ada kaitan erat dengan tenggorokan, maka ini bukanlah dalil syar&#8217;i, sehingga tidak bisa dijadikan hujjah.</p>
<p>Celak mata bukan makanan dan minuman yang dimasukkan ke dalam rongga melalui mulut atau hidung, juga tidak berfungsi sebagai makanan dan minuman, dan tidak dapat menggantikan keduanya.</p>
<p>Tetes mata dan pendapat yang kuat</p>
<p>Kami tidak menumpai pembahasan tetes mata bagi orang yang berpuasa di dalam kitab-kitab para pendahulu. Akan tetapi, kami menjumpainya telah dibahas oleh para ulama kontemporer; kebanyakan mereka mengatakan bahwa penggunaan obat tetes mata tidak membatalkan puasa walaupun sampai terasa di tenggorokan. Ini adalah pendapat Syaikh Ibnu Baz [35], Ibnu Utsaimin [36], DR. Fadhl Muhammad Abbas [37], DR. Wahbah az Zuhaili, DR. Shiddiq adh Dharir dan kebanyakan ahli medis [38].</p>
<p>Pendapat mereka didasari oleh dalil-dalil yang telah lalu. Selain itu, juga dikuatkan oleh beberapa hal, diantaranya:</p>
<p>Menurut penelitian, kelopak mata tidak bisa menampung sedikit pun dari benda cair. Oleh karena itu, bila seseorang meneteskan satu tetes obat mata (yang ukurannya ± 0,06 mm), pasti cairan itu keluar/tumpah dari kelopak mata; padahal satu tetes itu sangat sedikit. Sehingga cairan yang masuk ke dalam kelopak mata sangatlah sedikit, apalagi yang sampai ke tenggorokan adalah lebih sangat sedikit lagi; dan ini menjadikan hal tersebut dianggap tidak ada (dimaafkan).</p>
<p>Telah terbukti dalam penelitian medis bahwa yang dirasa pada tenggorokan hanya sekedar rasa dan tidak ada wujud zat/bendanya. Hal itu lantaran terlalu sedikitnya cairan yang bisa ditampung oleh kelopak mata, kemudian cairan yang sangat sedikit tersebut diserap urat-urat kelopak mata dan habislah cairan itu, kemudian tinggallah sisa-sisa rasa cairannya saja yang dapat dirasakan tenggorokan.</p>
<p>Adapun rasa cairan di tenggorokan, maka itu tidak harus membatalkan puasa, dan itu bukan alasan syar&#8217;i untuk membatalkan puasa. Oleh karena itu, sebagai bandingan, apabila ada seseorang yang menginjak buah Handhalah [39] kemudian dia merasakan pahitnya buah ini di tenggorokan dan alat pencernaannya, maka puasanya tidak batal dan tetap sah.</p>
<p>6. قطرة الأذن (Tetes telinga)</p>
<p>Yaitu cairan yang diteteskan ke dalam telinga sebagai obat atau sekedar pembersih bagian dalam telinga.</p>
<p>Hukumnya?</p>
<p>Masalah tetes telinga telah dibahas oleh para ulama terdahulu.</p>
<p>Pendapat pertama. Mereka mengatakan tetes telinga membatalkan puasa. Ini adalah pendapat madzhab Abu Hanifah, madzhab Maliki, salah satu pendapat madzhab Syafi&#8217;i, dan madzhab Ahmad bin Hambal [40].</p>
<p>Dalil mereka:</p>
<p>Mereka mengatakan tetes telinga dan semisalnya membatalkan puasa dengan alasan tetes telinga dapat masuk ke dalam rongga atau otak manusia.</p>
<p>Pendapat kedua. Mereka mengatakan bahwa tetes telinga tidak membatalkan puasa. Ini adalah salah satu pendapat madzhab Syafi&#8217;i dan madzhab Ibnu Hazm [41].</p>
<p>Dalil mereka:</p>
<p>Menurut mereka, telinga bukanlah saluran masuknya sesuatu menuju ke rongga manusia,</p>
<p>Sesuatu yang dimasukkan ke dalam telinga bukan termasuk makanan dan minuman, tidak dapat menggantikan keduanya, dan tidak dapat berfungsi sebagai makanan dan minuman.</p>
<p>Pendapat yang kuat. Pendapat yang kuat ialah tetes telinga tidak membatalkan puasa, karena alasan-alasannya lebih kuat, dan sebenarnya pembahasan tetes telinga tidak jauh dari pembahasan tetes mata. Kalau kita me-rajih-kan (menguatkan) pendapat bahwa tetes mata tidak membatalkan puasa, maka demikian juga tetes telinga lebih layak lagi untuk kita katakan tidak membatalkan puasa (lihat alasan-alasan tentang tetes mata tidak membatalkan puasa).</p>
<p>7. غاز الأوسجين (Oksigen)</p>
<p>Dalam hal ini adalah unsur kimia yang diberikan pada orang sakit dan yang membutuhkan udara tambahan. Alat ini tidak mengandung zat-zat yang yang berupa gas atau benda padat, tidak berwarna, dan tidak mempunyai bau, melainkan hanya udara; sehingga tidak berfungsi sebagai pengganti makanan dan minuman, akan tetapi hanya sebagai pendukung pernapasan saja [42].</p>
<p>Hukumnya?</p>
<p>Tidak diketahui adanya perbedaan pendapat para ulama tentang masalah ini. Dan tidak dijumpai satu dalil pun yang kuat untuk membatalkan puasa dengan penggunaan alat semacam ini, karena oksigen bukan termasuk makanan dan minuman dan tidak berfungsi sebagai pengganti makanan dan minuman, sehingga alat seperti ini tidak membatalkan puasa [43].</p>
<p>8. التبرّع بالدم (Donor darah)</p>
<p>Yaitu mengeluarkan sebagian darahnya untuk diberikan kepada orang lain yang membutuhkan. Masalah ini belum pernah dibahas oleh para ulama terdahulu. Hanya saja, para ulama kontemporer menyamakan/meng-qiyas-kan donor darah dengan masalah bekam/cantuk (pengobatan dengan cara mengeluarkan sebagian darah kotor), yang keduanya sama-sama mengeluarkan darah. Oleh sebab itu, sebelum menentukan hukum donor darah bagi orang yang berpuasa, perlu dijelaskan hukum bekam bagi orang berpuasa.</p>
<p>Hukum bekam ketika berpuasa</p>
<p>Para ulama berbeda pendapat tentang pembekaman, termasuk membatalkan puasa ataukah tidak.</p>
<p>Pendapat pertama. Mereka mengatakan bahwa bekam membatalkan puasa. Ini adalah madzhab Hambali, Ishaq, Ibnul Mundzir, dan mayoritas fuqaha (ahli fikih) [44], dan dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah, dan juga Ibnu Utsaimin dalam fatwanya.</p>
<p>Dalil mereka:</p>
<p>Menurut mereka bekam adalah salah satu hal yang dapat membatalkan puasa.</p>
<p>عَنْ رَافِعِ بْنِ خَادِجٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّي الله عَلَيْهِ وَ سَلََّمْ : أَفْطَرَ الحَاجِمُ وَ المَحْجُوْمُ</p>
<p>Dari Rafi&#8217; bin Khadij radhiyallahu &#8216;anhu berkata: Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: &#8220;Berbuka (batal puasa) orang yang membekam dan dibekam.&#8221; (HR. Tirmidzi: 774, Ahmad 3/465, Ibnu Khuzaimah: 1964, Ibnu Hibban: 3535; hadits ini telah dishahihkan oleh imam Ahmad, imam Bukhari, Ibnul Madini (lihat al Istidzkar 10/122). Demikian juga al Albani menshahihkannya dalam Irwa&#8217;ul Ghalil: 931, Misykatul Mashabih: 2012, dan Shahih Ibnu Khuzaimah: 1983).</p>
<p>Pendapat kedua. Menurut pendapat kedua, bekam tidak membatalkan puasa. Ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama secara umum, baik dari kalangan ulama salaf (terdahulu), maupun khalaf (ulama masa kini) [45].</p>
<p>Dalil mereka:</p>
<p>Menurut mereka ada sebuah hadits yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pernah berbekam sedangkan beliau sedang dalam keadaan puasa, sebagaimana dalam sebuah hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu &#8216;anhuma beliau berkata:</p>
<p>احْتَجَمَ رَسُوْلُ الله صَلَّي الله عَلَيْهِ وَ سَلََّمْ وَ هُوَ صَائِمٌ</p>
<p>&#8220;Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pernah berbekam sedangkan beliau berpuasa.&#8221; (HR. Bukhari:1838,1939, Muslim: 1202).</p>
<p>Pendapat yang kuat. Pendapat yang kuat adalah pendapat kedua, yaitu berbekam tidak membatalkan puasa, dengan alasan dalil yang tersebut di atas; dan dikuatkan oleh beberapa hal di antaranya:</p>
<p>Hadits Ibnu Abbas radhiyallahu &#8216;anhuma yang menyatakan bahwa Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam berbekam dalam keadaan puasa adalah me-nasakh (menghapus) hadits yang mengatakan batalnya puasa seorang yang berbekam dan yang dibekam. Hal ini dibuktikan bahwa Abu Sa&#8217;id al Khudri radhiyallahu &#8216;anhu mengatakan:</p>
<p>رَخَّصَ رَسُوْلُ الله صَلَّي الله عَلَيْهِ وَ سَلََّمْ لِاصَّائِمِ فِي الحِجَامَةِ</p>
<p>&#8220;Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam memberi rukhshah (keringanan) bagi orang yang berpuasa untuk berbekam.&#8221; (HR. Nasa-I 3/432, Daruquthni 2/182, Baihaqi 4/264; Daruquthni mengatakan seluruh perawinya terpercaya, dan dishahihkan oleh al Albani dalam Shahih Ibnu Khuzaimah: 1969)</p>
<p>Berkata Ibnu Hazm rahimahullah: &#8220;Perkataan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam &#8216;memberi rukhshah&#8217; tidak lain menunjukkan arti larangan sebelum datangnya rukhshah (sehingga asalnya dilarang, lalu diizinkan). Oleh karenanya, benarlah perkataan/pendapat bahwa ini (hadits Ibnu Abbas radhiyallahu &#8216;anhuma) me-nasakh hadits yang pertama.&#8221; (al Mushalla 6/204)</p>
<p>Pendapat ini diperkuat dengan adanya hadits-hadits lain yang mengisyaratkan bahwa hadits Rafi&#8217; bin Khadij radhiyallahu &#8216;anhu dihapus, seperti:</p>
<p>عَنْ ثَابِتٍ البُنَّانِي قَالَ سُئِلَ أَنَسٌ بْنُ مَالِكِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كُنْتُمْ تَكْرَهُوْنَ الحِجَامَةَ لِلصَّائِمِ عَلَي عَهْدِ رَسُوْلِ الله صَلَّي الله عَلَيْهِ وَ سَلََّمْ؟ قَالَ لاَ إِلَّا مِنْ أَجْلِ الضَّعْفِ</p>
<p>&#8220;Dari Tsabit al Bunani beliau berkata: Telah ditanya Anas bin Malik radhiyallahu &#8216;anhu: &#8220;Apakah kalian (para sahabat) di zaman Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam membenci bekam bagi orang yang berpuasa?&#8221; Beliau menjawab: &#8220;Tidak (kami tidak membencinya), kecuali kalau menjadi lemah (karena bekam).&#8221; (HR. Bukhari 4/174; lihat Fathul Bari dalam penjelasan hadits ini, dan juga perkataan al Albani rahimahullah yang menguatkan masalah ini dalah Misykatul Mashabih: 2016)</p>
<p>Dari penjelasan di atas, menjadi jelas bahwa donor darah tidak membatalkan puasa, karena di-qiyas-kan kepada masalah bekam menurut pendapat yang kuat adalah tidak membatalkan puasa.</p>
<p>Demikianlah, pembahasan singkat tentang pembatal-pembatal puasa di zaman modern ini. Semoga Allah selalu membimbing kita di atas jalan-Nya yang lurus dan selalu memberikan petunjuk-Nya, sehingga kita dapat menaati-Nya dalam setiap perintah-Nya; demikian juga dalam kewajiban berpuasa, sehingga kita berhak memasuki pintu surga yang bernama ar Rayyan. Amiin.</p>
<p>Keterangan:</p>
<p>[3] Kami hanya menyebutkan beberapa hal saja karena keterbatasan ilmu kami. Mudah-mudahan Allah memudahkan pembahasan ini akan berlanjut di kemudian hari.</p>
<p>[4] Dokter di Rumah Anda hal. 296 pada kolom &#8220;Informasi Penting&#8221;</p>
<p>[5] Majmu&#8217; Fatawa Ibnu Baz 15/265.</p>
<p>[6] Majmu&#8217; Fatawa Ibnu Utsaimin 19/209-210.</p>
<p>[7] Fatawa ash Shiyam hal. 49.</p>
<p>[8] Fatawa Islamiyyah 2/131.</p>
<p>[9] At Tibyan wal Ithaf fi Ahkam ash Shiyam wal I&#8217;tikaf hal. 115.</p>
<p>[10] Lihat majalah al Majma&#8217; thn. ke-10, juz 2, hal 65,76,364,dan 378.</p>
<p>[11] Sebagaimana telah dilakukan penelitian medis terhadap siwak yang mempunyai delapan unsur bahan kimia yang sangat bermanfaat untuk memelihara gigi, gusi, lidah, dan sebagainya (majalah Majma&#8217; al Fiqhi thn ke-10, juz 2, hal. 259).</p>
<p>[12] Sebagaimana dalam HR. Bukhari dan Fathul Bari 4/158.</p>
<p>[13] Majmu&#8217; Fatawa Ibnu Baz 15/265.</p>
<p>[14] Majmu&#8217; Fatawa Ibnu Baz 15/257.</p>
<p>[15] Majmu&#8217; Fatawa Ibnu Utsaimin 19/220-221.</p>
<p>[16] Lihat ad Din al Khalish oleh as Subki 8/457.</p>
<p>[17] Lihat al Fatawa hal. 136.</p>
<p>[18] Lihat at Tibyan wal Ithaf hal. 109.</p>
<p>[19] Lihat majalah al Majma&#8217; thn. ke-10, juz 2, hal. 464.</p>
<p>[20] Lihat Mufaththirat ash Shaum al Mu&#8217;ashirah hal. 65.</p>
<p>[21] Perkataan ini dinukil oleh muridnya, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, dalam Majmu&#8217; Fatawa Ibnu Utsaimin 19/220-221.</p>
<p>[22] Majmu&#8217; Fatawa Ibnu Baz 15/258.</p>
<p>[23] Majmu&#8217; Fatawa Ibnu Utsaimin 19/220-221.</p>
<p>[24] Lihat majalah al Majma&#8217; thn. ke-10, juz 2, hal. 464.</p>
<p>[25] Lihat ad Din al Khalish</p>
<p>[26] Lihat al Fatawa hal. 136.</p>
<p>[27] Fiqhus Sunnah 3/244.</p>
<p>[28] Lihat majalah al Majma&#8217; thn. ke-10, juz 2, hal. 385 dan 399.</p>
<p>[29] Lihat Majmu&#8217; Fatawa Ibnu Baz 15/261.</p>
<p>[30] Lihat Majmu&#8217; Fatawa Ibnu Utsaimin 19/206.</p>
<p>[31] Lihat majalah al Majma&#8217; thn. ke-10, juz 2, hal. 81.</p>
<p>[32] Lihat Majmu&#8217; Fatawa Ibnu Baz 15/280.</p>
<p>[33] Lihat Fathul Qadir 2/257, dan Majmu&#8217; Syarh al Muhadzdzab 6/315.</p>
<p>[34] Lihat at Taj wal Iklil 3/347, dan al Furu&#8217; 3/46.</p>
<p>[35] Lihat Majmu&#8217; Fatawa Ibnu Baz 15/260.</p>
<p>[36] Lihat Majmu&#8217; Fatawa Ibnu Utsaimin 19/206.</p>
<p>[37] Lihat at Tibyan wal Ithaf fi Ahkam ash Shiyam wal I&#8217;tikaf hal. 110.</p>
<p>[38] Lihat majalah al Majma&#8217; thn. ke-10, juz 2, hal. 378,381,385,dan 392.</p>
<p>[39] Buah Handhalah rasanya sangat pahit, banyak dipakai untuk bahan obat-obatan. Lantaran sangat pahitnya, buah Handhalah dapat digunakan untuk membersihkan pencernaan (obat urus-urus) hanya dengan menginjaknya beberapa saat sampai dirasa pahitnya di tenggorokan dan pencernaannya, lalu orang yang menginjaknya merasa mual, kemudian keluarlah isi perut saat itu juga; akan tetapi sangat berbahaya bagi wanita hamil, karena bisa mengakibatkan keguguran hanya dengan menginjaknya (Min Fawa&#8217;id Syaikh DR. Sami&#8217; as Shaqir hafizhahullah fii Syarh Kitab ash Shiyam min Zad al Mustaqni&#8217;)</p>
<p>[40] Lihat Rad al Mukhtar 2/98, 1/204, al Majmu&#8217; Syarh al Muhadzdzab 6/214, dan Syarh al Umdah oleh Syaikhul Islam 1/387</p>
<p>[41] Lihat catatan kaki sebelumnya dan al Muhalla 6/203-204.</p>
<p>[42] Lihat Mufaththirat ash Shiyam al Mu&#8217;asyirah 50.</p>
<p>[43] Sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Baz dalam Majmu&#8217; Fatawanya 15/272-273 dan Ibnu Utsaimin dalam Majmu&#8217; Fatawanya 19/212-213.</p>
<p>[44] Lihat al Majmu&#8217; Syarh al Muhadzdzab 6/349.</p>
<p>[45] Lihat al Fatawa al Hindiyyah 1/199, Bidayatul Mujtahid 1/281, dan al Majmu&#8217; 6/349.</p>
<p>Tulisan ini disadur dari majalah Al Furqon tahun 6 edisi spesial Ramadhan + Syawal.</p>
<p>Penulis: Ustadz Abu Ibrahim Muhammad Ali.</p>
<p>@2010, Artikel http://ummushofiyya.wordpress.com/</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jel4jah.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jel4jah.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jel4jah.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jel4jah.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jel4jah.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jel4jah.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jel4jah.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jel4jah.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jel4jah.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jel4jah.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jel4jah.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jel4jah.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jel4jah.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jel4jah.wordpress.com/196/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jel4jah.wordpress.com&amp;blog=9561536&amp;post=196&amp;subd=jel4jah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jel4jah.wordpress.com/2010/08/12/pembatal-puasa-di-zaman-modern/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c6d361f940b6351a10fd921bbb8e3699?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">D' Tari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Panduan Puasa Ramadhan</title>
		<link>http://jel4jah.wordpress.com/2010/08/11/panduan-puasa-ramadhan/</link>
		<comments>http://jel4jah.wordpress.com/2010/08/11/panduan-puasa-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Aug 2010 23:29:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ummu naila</dc:creator>
				<category><![CDATA[fikih]]></category>
		<category><![CDATA[hukum puasa]]></category>
		<category><![CDATA[pembatal puasa]]></category>
		<category><![CDATA[puasa ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[puasa wajib]]></category>
		<category><![CDATA[tuntunan puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jel4jah.wordpress.com/?p=197</guid>
		<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم Definisi Puasa. Secara bahasa bermakna menahan. Sementara menurut syariat, Imam Al-Qurthubi -rahimahullah- berkata, “Dia (puasa) adalah perbuatan menahan diri dari semua pembatal puasa disertai dengan niat (ibadah), sejak dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.” (Tafsir Al-Qurthubi pada ayat 183 dari surah Al-Baqarah) Imam An-Nawawi berkata -memberikan definisi puasa- dalam Al-Majmu’ (6/247), [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jel4jah.wordpress.com&amp;blog=9561536&amp;post=197&amp;subd=jel4jah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p><strong>بسم الله الرحمن الرحيم</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Definisi Puasa.</p>
<p>Secara bahasa bermakna menahan.<a href="http://jel4jah.files.wordpress.com/2010/08/fotogalerie_foto_2923_foto_detail-croatia2004_pict4459_v2.jpeg"><img class="alignright size-medium wp-image-284" title="fotogalerie_foto_2923_foto_detail.croatia2004_pict4459_v2" src="http://jel4jah.files.wordpress.com/2010/08/fotogalerie_foto_2923_foto_detail-croatia2004_pict4459_v2.jpeg?w=300&#038;h=190" alt="" width="300" height="190" /></a></p>
<p>Sementara  menurut syariat, Imam Al-Qurthubi -rahimahullah- berkata, “Dia (puasa)  adalah perbuatan menahan diri dari semua pembatal puasa disertai dengan  niat (ibadah), sejak dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.”  (Tafsir Al-Qurthubi pada ayat 183 dari surah Al-Baqarah)</p>
<p>Imam An-Nawawi berkata  -memberikan definisi puasa- dalam Al-Majmu’ (6/247), “Penahanan yang  bersifat khusus, dari sesuatu yang tertentu, yang dikerjakan pada waktu  tertentu, dan dilakukan oleh orang tertentu.”</p>
<p>Ucapan beliau, “dari  sesuatu yang tertentu,” yakni seorang yang berpuasa tidaklah menahan  diri dari segala sesuatu akan tetapi terbatas pada apa yang bisa  membatalkan puasanya. “Pada waktu tertentu,” yakni hanya pada siang hari  dan pada hari-hari yang disyariatkan berpuasa di situ. “Oleh orang  tertentu,” yakni hanya bagi mereka yang telah mumayyiz dan sanggup untuk  berpuasa.</p>
<p>Pembagian Puasa.</p>
<p>Puasa dalam syariat Islam terbagi menjadi dua:</p>
<p>1. Puasa sunnah.</p>
<p>2. Puasa wajib, dan dia ada tiga jenis:</p>
<ul>
<li>· Yang wajib karena waktu. Ini adalah puasa ramadhan, dan puasa ini yang akan kita bahas hukum-hukumnya.</li>
<li>· Yang wajib karena adanya sebab, dan dia adalah puasa dalam membayar kaffarat.</li>
<li>· Yang wajib karena seseorang mewajibkannya atas dirinya, yaitu puasa nazar.</li>
</ul>
<p>Syaikhul Islam  Ibnu Taimiah berkata dalam Kitab Ash-Shiyam dari Syarah Al-Umdah (1/26),  “Puasa itu ada lima jenis: Puasa yang wajib dengan syara’ yaitu puasa  bulan ramadhan baik yang ada`an maupun qadha`, puasa wajib dalam  kaffarah, yang wajib karena nazar, dan puasa sunnah.” Lihat juga Shahih  Fiqhus Sunnah (2/88)</p>
<p>Hukum Puasa Ramadhan.</p>
<p>Puasa ramadhan  hukumnya adalah wajib atas setiap muslim yang balig, berakal, sehat dan  muqim (bukan musafir). Dia merupakan salah satu dari rukun Islam, yang  kewajibannya ditunjukkan oleh Al-Qur`an, As-Sunnah, dan ijma’ umat ini.</p>
<p><span id="more-197"></span></p>
<p>Allah Ta’ala berfirman, <em>“Hai  orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana  diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (yaitu)  dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada  yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah  baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari  yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang bisa menjalankannya (tapi  mereka tidak berpuasa) untuk membayar fidyah, (yaitu): memberi makan  seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan  kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik  bagimu jika kamu mengetahui. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah)  bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran  sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai  petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu,  barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan  itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit  atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya  berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang  lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki  kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan  hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan  kepadamu, supaya kamu bersyukur.” </em>(QS. Al-Baqarah: 183-185)</p>
<p>Nabi -Shallallahu alaihi wasallam- bersabda, <em>“Islam dibangun di atas </em><em>lima</em><em> perkara: Syahadat ‘laa ilaha illallah’ dan bahwa Muhammad adalah  Rasulullah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji, dan berpuasa  ramadhan.” </em>(HR. Al-Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16 dari Ibnu Umar)</p>
<p>Umat Islam telah  bersepakat bahwa puasa ramadhan adalah wajib. Barang siapa yang  mengingkari kewajibannya maka dia kafir keluar dari Islam, dan  barangsiapa yang meninggalkannya dengan sengaja tapi tetap meyakini  wajibnya maka dia tidak kafir, akan tetapi dia telah bergelimang dengan  dosa besar, wal’iyadzu billah.</p>
<p>Faidah:</p>
<p>Al-Mardawi dalam Al-Inshaf (3/269) menukil kesepakatan ulama bahwa puasa ramadhan diwajibkan pada tahun kedua hijriah.</p>
<p>Keutamaan Puasa Ramadhan</p>
<p>Di antara dalil-dalil keutamaannya adalah:</p>
<p>1. Dari Abu Hurairah secara marfu’ dalam hadits Qudsi:</p>
<p dir="rtl"><strong>كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ, فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ. الصِّيَامُ جُنَّة</strong><strong>ٌ</strong></p>
<p><em> </em><em>“Semua  amalan anak Adam adalah untuknya kecuali puasa, karena dia itu untuk-Ku  dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai.”</em> (HR. Al-Bukhari no. 1904 dan Muslim no. 1151)</p>
<p>2. Juga dari Abu Hurairah, Nabi -Shallallahu alaihi wasallam- bersabda:</p>
<p dir="rtl"><strong>مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ</strong><strong> </strong></p>
<p><em> “Barangsiapa yang berpuasa ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala maka akan diampuni seluruh dosanya yang telah berlalu.” </em>(HR. Al-Bukhari no. 1900 dan Muslim no. 760)</p>
<p>3. Dari Abu Said Al-Khudri secara marfu’:</p>
<p dir="rtl"><strong>مَا  مِنْ عَبْدٍ يَصُوْمُ يَوْمًا فِي سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ بَاعَدَ اللهُ  بِهَذاَ الْيَوْمِ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِيْنَ خَرِيْفًا</strong><strong> </strong></p>
<p><em>“Tidaklah  seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah kecuali karenanya Allah  akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh 70 tahun perjalanan.” </em>(HR. Al-Bukhari no. 2840 dan Muslim no. 1153)</p>
<p>4. Dari Abu Hurairah secara marfu’:</p>
<p><em>“Jika bulan ramadhan telah tiba, pintu-pintu langit </em>-dalam sebagian riwayat:<em> Pintu-pintu surga­</em>- <em>dan pintu-pintu jahannam ditutup dan setan-setan dibelenggu.” </em>(HR. Al-Bukhari no. 1899 dan Muslim no. 1079)</p>
<p>5. Masih dari Abu Hurairah secara marfu’:</p>
<p dir="rtl"><strong>الصَّلَوَاتُ  الْخَمْسَةُ, وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ, وَرَمَضَانُ إِلَى  رَمَضَانَ, مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ</strong><strong> </strong></p>
<p><em>“Shalat  yang lima waktu, shalat jumat satu ke shalat jumat selanjutnya, dari  satu ramadhan ke ramadhan berikutnya, semuanya adalah penghapus  dosa-dosa yang ada di antara keduanya, jika dosa-dosa besar dijauhi.” </em>(HR. Muslim no.233)</p>
<p>[Shahih Fiqhus Sunnah hal. 87-90]</p>
<blockquote><p><strong>PANDUAN PUASA RAMADHAN</strong></p></blockquote>
<p><strong>Hukumnya</strong></p>
<p>Alloh Ta’ala berfirman,</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa  sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian  bertakwa.”</em> (QS. Al Baqoroh: 183)</p>
<p>Umat Islam telah bersepakat tentang wajibnya puasa Romadhon dan  merupakan salah satu rukun Islam yang dapat diketahui dengan pasti  merupakan bagian dari agama. Barang siapa yang mengingkari kewajiban  puasa Romadhon maka dia kafir, keluar dari Islam.</p>
<p><strong>Keutamaannya</strong></p>
<p><em>“Orang yang berpuasa di bulan Romadhon karena iman dan mengharap pahala dari Alloh maka dosanya di masa lalu pasti diampuni.”</em> (Muttafaqun ‘alaihi)</p>
<p>Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman dalam hadits Qudsi, <em>“Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Puasa tersebut adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.”</em> (Muttafaqun ‘alaihi)</p>
<p><em>“Sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi  Alloh pada hari kiamat daripada bau misk/kasturi. Dan bagi orang yang  berpuasa ada dua kegembiraan, ketika berbuka mereka bergembira dengan  bukanya dan ketika bertemu Alloh mereka bergembira karena puasanya.”</em> (Muttafaqun ‘alaihi)</p>
<p><em>“Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang disebut Ar-Royyaan.  Pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa masuk surga melalui pintu  tersebut dan tidak masuk melalui pintu tersebut seorang pun kecuali  mereka. Dikatakan kepada mereka, ‘Di mana orang-orang yang berpuasa?’  Maka orang-orang yang berpuasa pun berdiri dan tidak masuk melalui pintu  tersebut seorang pun kecuali mereka. Jika mereka sudah masuk, pintu  tersebut ditutup dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu  tersebut.”</em> (Muttafaqun ‘alaihi)</p>
<p><strong>Kewajiban Berpuasa Romadhon Dengan Melihat Hilal</strong></p>
<p>Rosululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Berpuasalah  karena melihat hilal Romadhon, berhari raya-lah karena melihat hilal  Syawwal. Jika hilal tertutupi mendung maka genapkanlah bulan Sya’ban  menjadi 30 hari.”</em> (Muttafaqun ‘alaih. Lafazh Muslim)</p>
<p><strong>Dengan Apa Bulan Romadhon Ditetapkan ?</strong></p>
<p>Bulan Romadhon ditetapkan dengan melihat hilal meskipun dari satu  orang yang sholih atau dengan menggenapkan bulan Sya’ban menjadi 30  hari. Ibnu Umar <em>rodhiallohu ‘anhu</em> berkata, <em>“Banyak orang  berusaha melihat hilal. Kemudian aku mengabarkan kepada Rosululloh  shollallohu ‘alaihi wa sallam  bahwa aku sungguh-sungguh melihatnya.  Kemudian beliau berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa.”</em> (Shohih. <em>Al Irwa’</em>)</p>
<p>Jika hilal tidak dapat dilihat karena mendung atau sejenisnya maka  bulan Romadhon ditetapkan dengan menggenapkan bulan Sya’ban menjadi 30  hari. Untuk awal bulan Syawwal tidak boleh ditetapkan kecuali dengan  persaksian dua orang. Rosululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Jika ada 2 orang muslim bersaksi, maka berpuasalah dan berhari raya-lah kalian.”</em> (Shohih. <em>Shahih Ibnu Majah</em>)</p>
<p><strong>Catatan:</strong></p>
<p>Barang siapa yang melihat hilal seorang diri maka tidak boleh  berpuasa sampai masyarakat berpuasa, dan tidak boleh berhari raya sampai  masyarakat berhari raya. Rosululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Puasa  adalah hari di mana kalian semua berpuasa. Berhari raya adalah hari di  mana kalian semua berhari raya. Dan berkurban adalah hari di mana kalian  semua berkurban.”</em> (Shohih. <em>Shahih Al-Jami’ Ash-Shoghir</em>. At Tirmidzi berkata, <em>“Sebagian  ahlul ‘ilmi menafsirkan hadits ini dengan mengatakan, ‘Maknanya bahwa  puasa dan hari raya adalah bersama jama’ah [pemerintah kaum muslimin,  pent] dan mayoritas manusia [masyarakat, pent].’”</em>)</p>
<p><strong>Siapa yang Diwajibkan Berpuasa ?</strong></p>
<p>Ulama bersepakat bahwa puasa diwajibkan atas orang Islam, berakal,  sudah baligh, sehat dan tidak sedang bepergian. Bagi wanita harus tidak  dalam keadaan haid dan nifas. (<em>Fiqh Sunnah</em>). Jika ada orang sakit dan musafir tetap berpuasa, maka puasanya sah. Karena bolehnya berbuka bagi keduanya adalah keringanan/<em>rukhshoh</em>, maka jika keduanya tidak mengambil <em>rukhsokh</em>-nya maka itu juga hal yang baik.</p>
<p><strong>Mana yang Lebih Utama, Berbuka atau Berpuasa ?</strong></p>
<p>Jika orang sakit dan musafir tidak menemukan kesulitan untuk  berpuasa, maka berpuasa lebih utama. Namun jika keduanya menemukan  kesulitan untuk berpuasa, maka berbuka lebih utama.</p>
<p>Abu Sa’id Al-Khudzri <em>rodhiallohu ‘anhu</em> berkata, <em>“Kami dulu berperang bersama Rosululloh </em><em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> di bulan Romadhon. Di antara kami ada yang berpuasa dan ada yang tidak  berpuasa. Orang yang berpuasa tidak memarahi orang yang tidak berpuasa  begitu pula sebaliknya. Kami berpendapat bahwa barang siapa yang merasa  mampu kemudian berpuasa maka hal itu baik. Dan kami juga berpendapat  bahwa barang siapa yang merasa lemah kemudian tidak berpuasa maka hal  itu juga baik.” (Shohih. <em>Shohih Tirmidzi</em>)</p>
<p>Adapun tentang tidak wajibnya berpuasa bagi wanita yang sedang haid dan nifas adalah karena Rosululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Bukankah jika wanita sedang haid tidak boleh sholat dan berpuasa? Maka itulah kekurangan agamanya.”</em> (HR. Bukhori)</p>
<p>Jika wanita yang sedang haid dan nifas berpuasa, maka puasanya tidak  sah. Karena suci dari haid dan nifas termasuk salah satu syarat puasa  sehingga wajib bagi keduanya untuk meng-<em>qodho’</em> puasanya. ‘Aisyah <em>rodhiallohu ‘anha</em> berkata, <em>“Dulu  kami mengalami haid di masa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.  Maka kami diperintahkan untuk meng-qodho’ puasa dan tidak diperintahkan  untuk meng-qodho’ sholat.”</em> (Shohih. Shohih Tirmidzi)</p>
<p><strong>Kewajiban Bagi Laki-Laki dan Wanita yang Sudah Tua Serta Orang Sakit yang Tidak Dapat Diharapkan Lagi Kesembuhannya</strong></p>
<p>Bagi yang tidak mampu berpuasa karena sudah tua atau sejenisnya maka  boleh untuk berbuka dengan memberi makan bagi orang miskin setiap hari  yang dia tidak berpuasa karena firman Alloh Ta’ala,</p>
<p>وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ</p>
<p><em>“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika  mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang  miskin.”</em> (QS. Al Baqoroh: 184)</p>
<p><strong>Wanita Hamil dan Menyusui</strong></p>
<p>Jika wanita hamil dan menyusui tidak mampu berpuasa atau khawatir  terhadap anaknya jika berpuasa, maka boleh bagi keduanya untuk berbuka.  Dan wajib bagi keduanya untuk membayar <em>fidyah</em> namun tidak ada kewajiban <em>qodho’</em> bagi keduanya.</p>
<p><strong>Ukuran Makanan yang Wajib Diberikan</strong></p>
<p>Dari Anas bin Malik <em>rodhiallohu ‘anhu</em>, <em>“Sesungguhnya dia   tidak mampu untuk berpuasa Ramadhan pada suatu tahun. Kemudian dia  membuat roti dalam satu piring besar dan memanggil 30 orang miskin dan  membuat mereka semua kenyang.”</em> (Sanadnya Shohih. <em>Al Irwa’</em>)</p>
<p><strong>Rukun-Rukun Puasa</strong></p>
<p>Pertama, <ins>Niat</ins>. Karena sabda Nabi <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em>, <em>“Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan.”</em> (Muttafaqun ‘alaihi)</p>
<p>Niat harus dilakukan setiap malam sebelum terbit fajar karena Rosululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang tidak niat berpuasa sebelum fajar terbit maka puasanya tidak sah’.”</em> (Shohih, <em>Shohih Al-Jami’ Ash-Shoghir</em>)</p>
<p>Kedua, <ins>menahan diri dari hal-hal yang membatalkan dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari</ins>.</p>
<p>Alloh Ta’ala berfirman,</p>
<p>فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُواْ مَا كَتَبَ اللّهُ لَكُمْ وَكُلُواْ  وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ  الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ</p>
<p><em>“Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah  ditetapkan Alloh untukmu, dan makan minumlah hingga jelas bagimu benang  putih dari benang hitam, yaitu fajar.”</em> (QS. Al Baqoroh: 187)</p>
<p><strong>Hal-Hal yang Membatalkan Puasa Ada Enam Perkara</strong></p>
<p>Pertama dan Kedua, <ins>makan</ins> dan minum dengan sengaja. Jika seseorang makan atau minum dalam keadaan lupa maka tidak ada <em>qodho’</em> baginya dan juga tidak membayar <em>kaffaroh</em>/denda.</p>
<p>Ketiga, <ins>muntah dengan sengaja</ins>. Jika muntah dengan tidak sengaja maka tidak ada kewajiban qodho’ dan tidak perlu membayar kafaroh.</p>
<p>Keempat dan Kelima, <ins>haid dan nifas</ins> meskipun menjelang berbuka puasa mengingat adanya kesepakatan ulama tentang hal tersebut.</p>
<p>Keenam, <ins>hubungan suami istri</ins>. Orang yang melakukannya wajib untuk membayar <em>kaffaroh</em>:  Memerdekakan budak jika punya, jika tidak maka berpuasa dua bulan  berturut-turut, jika tidak mampu maka memberi makan 60 orang miskin.  (Muttafaqun ‘alaih)</p>
<p><strong>Adab-Adab Puasa</strong></p>
<p>Dianjurkan bagi orang yang berpuasa untuk memperhatikan adab-adab berikut ini:</p>
<p>Pertama, <ins>makan sahur</ins>. Dianjurkan pula untuk mengakhirkan makan sahur.</p>
<p>Dari Anas <em>rodhiallohu ‘anhu</em> dari Zaid bin Tsabit <em>rodhiallohu ‘anhu</em> berkata, <em>“Kami makan sahur bersama Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam kemudian melaksanakan sholat.”</em> Aku (Anas) berkata, <em>“Berapa lama antara iqomah dan makan sahur?”</em> Zaid bin Tsabit <em>rodhiallohu ‘anhu</em> berkata, <em>“Jangka waktu untuk membaca Al Quran 50 ayat.”</em> (Muttafaqun ‘alaih)</p>
<p>Jika azan terdengar sedangkan makanan dan minuman masih berada di tangan, maka boleh untuk meneruskan makan dan minum.</p>
<p>Kedua, <ins>menahan diri dari kata-kata sia-sia dan kotor/menjijikkan dan sejenisnya</ins> yang bertentangan dengan puasa.</p>
<p>Ketiga, <ins>dermawan dan mempelajari Al Quran</ins>.</p>
<p>Keempat, <ins>menyegerakan berbuka puasa</ins>.</p>
<p>Kelima, <ins>berbuka puasa secara sederhana dengan hal-hal yang disebutkan dalam hadits berikut</ins>.</p>
<p><em>“Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berbuka dengan kurma  basah sebelum sholat. Jika tidak ada kurma basah maka beliau berbuka  dengan kurma kering. Jika tidak ada kurma kering maka beliau minum   beberapa teguk air.”</em> (Hasan Shohih. HR. Abu Daud, Tirmidzi)</p>
<p>Keenam, <ins>berdoa pada saat berbuka sesuai dengan hadits berikut</ins>.</p>
<p><em>“Apabila Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berbuka beliau  berdoa yang artinya, ‘Rasa haus telah hilang, kerongkongan telah basah,  pahala telah ditetapkan, Insyaa Alloh.’”</em> (Hasan. Shohih Sunan Abu Daud)</p>
<p><strong>Hal-Hal yang Diperbolehkan Ketika Berpuasa</strong></p>
<p>Pertama, <ins>mandi untuk menyegarkan badan</ins>.</p>
<p>Kedua, <ins>berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung namun tidak berlebihan</ins>.</p>
<p>Ketiga, <ins>berbekam</ins>. Hukumnya berubah menjadi makruh jika  khawatir dirinya menjadi lemah. Yang dihukumi sama dengan bekam adalah  donor darah. Jika orang yang ingin mendonorkan darahnya merasa khawatir  menjadi lemas maka tidak boleh mendonorkan darah ketika siang hari  kecuali sangat dibutuhkan.</p>
<p>Keempat, <ins>mencium dan bercumbu dengan istri <strong>bagi yang mampu menahan dirinya</strong></ins>.</p>
<p>Kelima, <ins>dalam keadaan junub ketika sudah terbit fajar</ins>.</p>
<p>Keenam, <ins>menyatukan sahur dan berbuka</ins>.</p>
<p>Ketujuh, <ins>menggosok gigi, memakai minyak wangi, minyak rambut, celak mata, obat tetes mata dan suntik</ins>.</p>
<p>Dasar dibolehkannya perkara-perkara tersebut adalah kaidah <em>baroo’ah ashliyyah</em> (seseorang terbebas dari suatu hukum sampai ada dalil, pent) Seandainya  perkara-perkara itu termasuk perkara yang diharamkan ketika berpuasa  niscaya Alloh dan Rosul-Nya akan menjelaskannya.</p>
<p>Alloh berfirman,</p>
<p>وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيّاً</p>
<p><em>“Dan tidaklah Robb kalian itu lupa.”</em> (QS. Maryam: 64)</p>
<p><strong>I’tikaf</strong></p>
<p>I’tikaf di sepuluh hari terakhir di bulan Romadhon adalah sunnah yang  sangat dianjurkan untuk mencari kebaikan dan mencari malam Lailatul  Qodar.</p>
<p>‘Aisyah berkata, <em>“Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam   beri’tikaf di sepuluh hari terakhir pada bulan Romadhon. Beliau  shollallohu ‘alaihi wa sallam  bersabda, ‘Carilah malam Lailatul Qodar  di sepuluh hari terakhir bulan Romadhon.’” (HR. Bukhori). ‘Aisyah juga  berkata, “Carilah malam Lailatul Qodar pada malam ganjil di sepuluh hari  terakhir bulan Romadhon.”</em> (Muttafaq ‘alaih)</p>
<p>Rosululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> juga mendorong dan memotivasi umatnya untuk mencarinya. Abu Huroiroh <em>rodhiallohu ‘anhu</em> berkata, Rosululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barang  siapa yang melaksanakan sholat pada malam Qodar karena keimanan dan  mengharap pahala dari Alloh, maka dosanya yang telah lalu pasti  diampuni.”</em> (Muttafaqun ‘alaih)</p>
<p>I’tikaf tidak boleh dilakukan kecuali di dalam masjid karena firman Alloh Ta’ala,</p>
<p>وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ</p>
<p><em>“Dan janganlah kamu campuri mereka itu, pada saat kamu ber-i’tikaf di dalam masjid.”</em> (QS. Al Baqoroh: 187)</p>
<p>Dan juga karena masjid adalah tempat Nabi bert-i’tikaf.</p>
<p>Dianjurkan bagi orang yang beri’tikaf untuk menyibukkan dirinya  dengan amal ketaatan kepada Alloh seperti sholat; membaca Al Quran;  berzikir, sholawat kepada Nabi <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em>; dan sebagainya.</p>
<p>Dimakruhkan bagi orang yang beri’tikaf untuk menyibukkan dirinya  dengan perkataan atau perbuatan yang tidak ada manfaatnya. Sebagaimana  dimakruhkan pula menahan diri dari berbicara karena menyangka bahwa hal  tersebut mendekatkan diri kepada Alloh ‘Azza wa Jalla. (<em>Fiqh Sunnah</em>).</p>
<p>Dan diperbolehkan untuk keluar dari tempat beri’tikaf karena ada  kebutuhan yang harus dilaksanakan. Sebagaimana diperbolehkan juga untuk  menyisir rambut, mencukur rambut kepala, memotong kuku dan membersihkan  badan. I’tikaf batal apabila seseorang keluar tanpa ada keperluan atau  berhubungan suami istri. <em>Alhamdulillaahilladzii bi ni’matihi tatimmush shoolihaat.</em></p>
<p><em>(Diringkas dari kitab Al Wajiiz fii Fiqhi Sunnati wal Kitaabil  ‘Aziiz Kitab Shiyaam, karya Syaikh Abdul ‘Azhim Badawi Al Kholafi  hafizhohullohu)</em></p>
<p>Pemandangan yang hampir pasti kita saksikan pada setiap bulan  Ramadhan berupa sambutan kaum muslimin terhadapnya dengan berbagai  kegiatan dan amalan, senantiasa mengiringi kegembiraan dan kebahagiaan  mereka pada bulan mulia ini. Memang, bulan mulia yang penuh berkah,  rahmat, dan ampunan ini benar-benar patut untuk disyukuri.</p>
<p>Ya! Kita harus bersyukur kepada Allah atas anugerah-Nya kepada kita  pada bulan mulia ini. Bersyukur kepada-Nya dengan berusaha memperbagus  dan memperbanyak amal ibadah yang disyariatkan untuk dilakukan pada  bulan ini.</p>
<p>Bulan Ramadhan senantiasa berulang pada setiap tahun. Kaum muslimin  pun telah terbiasa dengan rutinitas amalan yang mereka lakukan padanya.  Mulai dari amalan ibadah puasa, shalat Tarawih, memberi makan buka,  membaca Al-Quran, dan lain sebagainya.</p>
<p>Namun sayang, rutinitas yang telah mereka “hafal” ini tidak sedikit  darinya yang kurang bernilai ibadah. Atau, jikapun rutinitas itu  bernilai ibadah, masih saja ada “kotoran-kotoran” yang merusak  ketinggian nilai ibadah. Hal ini tidak jarang disebabkan karena banyak  di antara kaum muslimin yang meremehkan hal-hal penting yang harus  diperhatikan pada bulan Ramadhan.</p>
<p>Di antara hal-hal penting yang harus diperhatikan itu:</p>
<p><strong>1-  Mengilmui ibadah di bulan Ramadhan.</strong></p>
<p>Ilmu adalah pintu kebaikan. Siapa pun yang menghendaki kebaikan, dia  harus memulai dengan ilmu. Maka seorang muslim yang ingin meraih  kebaikan bulan Ramadhan, pastilah dia harus mengilmui ibadah yang  dilakukan di bulan ini. Mengilmui tentang puasa, tentang tata cara  shalat Tarawih, tentang membaca Al-Quran, i’tikaf, zakat dan  ibadah-ibadah lainnya.</p>
<p>Sangat disayangkan banyak kaum muslimin yang meremehkan hal ini.  Padahal, jika mereka melakukan ibadah tanpa ilmu, bisa jadi ibadah yang  mereka lakukan akan menjadi sia-sia, tidak diterima oleh Allah — <em>ta’ala</em> –. Akhirnya, kita pun banyak melihat bermunculan berbagai perkara ibadah yang tidak dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya — <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> — di bulan mulia ini. Sehingga apa yang mereka harapkan menjadi  kebaikan, berbalik menjadi kerugian semata. Semoga Allah melindungi kita  dari hal ini.</p>
<p><strong>2- Niat ikhlas dalam puasa.</strong></p>
<p>Puasa adalah ibadah yang sangat agung di  bulan suci ini. Sampai-sampai Allah pun mengkhususkan ibadah ini hanya  untuk-Nya. Rasulullah — <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> — bersabda,</p>
<p>قَالَ اللهُ عز وجل كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَام ، فَإنَّهُ لِي وَأنَا أجْزِي بِهِ</p>
<p><em>“Allah ‘azza wa jalla berfirman, semua  amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Puasa adalah untuk-Ku dan  Aku sendirilah yang akan membalasnya.” </em>(Muttafaq ‘alaih)</p>
<p>Ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya suatu ibadah, selain harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah — <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> –. Sehingga jika kita ingin puasa kita diterima, pertama kita harus  mengikhlaskan puasa kita hanya karena Allah, bukan karena ikut-ikutan  rutinitas manusia atau karena niat yang lain. Selain itu, puasa kita  harus sesuai dengan tuntunan atau tata cara puasa Rasulullah — <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> –. Dan ini, tentu menuntut kita untuk memperhatikan poin pertama yang kami sampaikan di atas, yaitu ilmu.</p>
<p>Sekadar mengingatkan, bahwa yang dimaksud dengan niat adalah kehendak  dalam hati untuk melakukan sesuatu amalan. Sehingga dalam tuntunan  Rasulullah –<em> shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> –, niat untuk ibadah tidak perlu diucapkan dengan lisan, termasuk di antaranya niat untuk berpuasa.</p>
<p><strong>3- Yang wajib lebih utama dari yang sunah.</strong></p>
<p>Semangat yang menggebu terkadang menjadikan seseorang lalai dengan  skala prioritas yang harusnya diperhatikan. Inilah yang sering kita  saksikan pada bulan ini. Kaum muslimin terkadang lebih memerhatikan yang  sunah dengan melalaikan yang wajib. Padahal seharusnya yang wajib harus  lebih diperhatikan dari yang sunah, sedangkan yang sunah diusahakan  tidak ditinggalkan.</p>
<p>Sebagai contoh, kita lihat kaum muslimin berbondong-bondong shalat  Tarawih berjamaah ke masjid sampai membuat masjid tak muat, padahal  shalat Tarawih tidak termasuk dalam shalat wajib. Namun sayang, mereka  lupa atau lalai shalat berjamaah di masjid untuk lima shalat waktu yang  notabene adalah shalat wajib.</p>
<p>Akan lebih parah lagi, jika ada seorang muslim yang lebih  memerhatikan hal yang mubah-mubah saja dari pada hal yang wajib. Atau  bahkan lebih parah dari itu, memerhatikan hal yang makruh atau haram  dengan melalaikan yang wajib. Na’udzu billah min dzalik.</p>
<p><strong>4- Mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka.</strong></p>
<p>Yang ini, nampaknya banyak dianggap remeh oleh sebagian kaum  muslimin. Di antara mereka ada yang makan sahur jauh sebelum waktu sahar  (akhir waktu malam menjelang terbit fajar). Bahkan di antara mereka ada  yang sama sekali tidak makan sahur. Lalu ketika berbuka pun di antara  mereka ada yang mengakhirkannya sampai menjelang Isya. Semacam ini tentu  saja bertentangan dengan tuntunan Nabi — <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> –.</p>
<p>Rasulullah — <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> — bersabda, <em>“Makan sahurlah, karena ada berkah dalam makan sahur.”</em> (Muttafaq ‘alaih)<br />
Dan disebutkan pula dalam hadits Muttafaq ‘alaih (Riwayat al-Bukhari dan Muslim) bahwa antara makan sahur Rasulullah — <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> — dengan adzan shubuh berselang sekitar bacaan 50 ayat al-Quran.<br />
Rasulullah — <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> — juga bersabda, <em>“Pembeda antara puasa kita dengan puasa Ahlul kitab adalah makan sahur.”</em> (Riwayat Muslim)</p>
<p>Adapun tentang menyegerakan berbuka, Rasulullah –<em> shollallohu ‘alaihi wa sallam </em>– bersabda, <em>“Manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka masih menyegerakan berbuka.”</em> (Muttafaq ‘alaih)<br />
Dan yang dimaksud menyegerakan berbuka di sini, segera berbuka setelah  terbenam matahari. Karena jika seseorang menyengaja berbuka sebelum  terbenam matahari padahal dia tahu, maka puasanya tidak sah alias batal.</p>
<p><strong>5- Mulianya waktu.</strong></p>
<p>Keagungan waktu dan urgensi memerhatikannya, sudah tidak kita ragukan  lagi. Sampai-sampai ada yang mengatakan, “waktu bagaikan pedang, jika  tidak kau patahkan dia yang akan menebasmu.” Maksudnya, jika waktu ini  tidak kita manfaatkan untuk hal-hal yang baik, niscaya dia bisa menjadi  bumerang yang mencelakakan kita.</p>
<p>Nah, di bulan mulia ini, kemuliaan waktu menjadi jauh lebih mulia  dari biasanya. Namun sekali lagi sayang, banyak kaum muslimin yang lalai  akan hal ini. Mereka menghabiskan waktunya di bulan Ramadhan untuk  perkara kesenangan jiwa belaka. Dengan bercanda ria, berjalan-jalan,  tidur, ngobrol, begadang, dan seterusnya. Padahal jika mereka mau  memanfaatkannya untuk ibadah seperti membaca Al-Quran, berdzikir atau  yang lain, maka sesungguhnya di bulan ini amal ibadah kita  dilipatgandakan pahalanya.</p>
<p><strong>6- Ramadhan bulan doa.</strong></p>
<p>Di antara rahasia yang sering dilalaikan, bahwa Ramadhan adalah bulan  doa. Dalam surat al-Baqarah ayat 186, Allah menyebutkan sebuah  keterangan tentang doa. Bahwa Allah dekat dengan hamba-Nya, dan Dia  mengabulkan doa orang yang berdoa kepada-Nya. Jika diperhatikan, ayat  ini Allah sampaikan di tengah-tengah ayat tentang puasa. Hal ini  menunjukkan –sebagaimana dijelaskan para ulama – bahwa Ramadhan adalah  waktu yang tepat untuk berdoa.</p>
<p>Terlebih lagi Rasulullah — <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> — telah bersabda, <em>“Tiga doa yang tidak akan ditolak; doa seorang tua untuk anaknya, doa orang yang berpuasa, doa orang yang bersafar.”</em> (Dihasankan al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 3032)</p>
<p><strong>7- Antara hemat dan sedekah.</strong></p>
<p>Di antara keistimewaan amalan Nabi –<em> shollallohu ‘alaihi wa sallam </em>– di bulan Ramadhan, beliau –<em> shollallohu ‘alaihi wa sallam </em>–  lebih banyak bersedekah dibandingkan bulan-bulan lainnya. Padahal  beliau adalah orang yang paling dermawan di bulan-bulan yang lain. Nah,  tentunya ini menjadi dorongan bagi kita sebagai umat beliau — <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam </em>–, untuk lebih banyak bersedekah di bulan Ramadhan.</p>
<p>Anjuran untuk bersedekah ini tentu menuntut kita untuk lebih berhemat  dalam menggunakan harta untuk keperluan duniawi. Inilah hal yang  mungkin banyak dilalaikan. Yang sering terjadi malah sebaliknya,  pengeluaran untuk urusan duniawi; untuk membeli makanan sahur dan buka,  dan juga untuk membeli perlengkapan menyambut lebaran, lebih  diperhatikan dari pada pengeluaran untuk sedekah.</p>
<p><strong>8- Keagungan malam-malam terakhir.</strong></p>
<p>Ada fenomena yang perlu dikoreksi. di awal-awal Ramadhan mereka  bersemangat melaksanakan ibadah seperti shalat Tarawih, membaca Al-Quran  dan sebagainya. Namun semakin mendekati akhir Ramadhan, mereka mulai  “lemas” dalam ibadah. Masjid-masjid yang tadinya penuh dengan jamaah,  kini tinggal dua atau tiga shaf saja. Padahal Allah lebih mengagungkan  malam-malam terakhir Ramadhan dibandingkan sebelumnya. Dan Rasulullah — <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> — pun bertambah giat dalam beribadah jika telah memasuki sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.</p>
<p><strong>9- I’tikaf.</strong></p>
<p>Di antara sunnah (ajaran) Nabi — <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> — yang banyak dilalaikan oleh kaum muslimin adalah i’tikaf. Berdiam di  masjid dan tidak keluar darinya, dalam rangka mengkhususkan diri untuk  ibadah kepada Allah — <em>ta’ala</em> –. Ibadah ini merupakan kebiasaan yang dilakukan Nabi — <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> — pada 10 hari terakhir Ramadhan. Ibadah yang mulia ini sering tidak  bisa dilakukan oleh kaum muslimin, karena mereka sibuk dengan persiapan  menyambut hari raya. Seolah-olah, mereka sangat gembira dengan hampir  selesainya bulan Ramadhan. Padahal para pendahulu kita yang shalih,  merasa sedih ketika harus berpisah dengan bulan mulia ini. Lalu di  manakah posisi kita dibandingkan mereka?</p>
<p><strong>10- Jangan lupakan tujuan puasa.</strong></p>
<p>Kita semua tentu tahu tujuan agung ibadah puasa. Namun, apakah kita  sadar ketika Ramadhan telah berlalu, sudahkan kita mencapai tujuan itu?  Ketakwaan, sebagai tujuan dari ibadah puasa, tidak hanya dituntut pada  bulan Ramadhan saja. Bahkan ketakwaan harus senantiasa diusahakan  mengiringi kita di mana pun dan kapan pun. Rasulullah — <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> — bersabda, <em>“Bertakwalah kamu di mana atau kapan pun kamu berada.”</em> (Riwayat at-Tirmidzi)</p>
<p>Semoga, Ramadhan kali ini benar-benar menjadikan kita orang yang  bertakwa di mana pun dan kapan pun kita berada, sampai Allah mewafatkan  kita. <em>Wallahul muwaffiq.</em></p>
<p>***</p>
<p>sumber :</p>
<p>1.  Abu Muawiyah http://al-atsariyyah.com</p>
<p>Tuntunan Ringkas Seputar Hukum-Hukum Puasa Ramadhan</p>
<p>2. Abu Ibrahim Muhammad Saifuddin Hakim (Alumni Ma’had Ilmi)</p>
<p>Murojaah: Ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar</p>
<p>3. http://majalahsakinah.com, 10 Hal yang Sering Diremehkan Ketika Ramadhan</p>
<p><a title="Panduan puasa ramadhan" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/panduan-puasa-ramadhan.html">www.muslim.or.id</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jel4jah.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jel4jah.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jel4jah.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jel4jah.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jel4jah.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jel4jah.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jel4jah.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jel4jah.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jel4jah.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jel4jah.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jel4jah.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jel4jah.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jel4jah.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jel4jah.wordpress.com/197/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jel4jah.wordpress.com&amp;blog=9561536&amp;post=197&amp;subd=jel4jah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jel4jah.wordpress.com/2010/08/11/panduan-puasa-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c6d361f940b6351a10fd921bbb8e3699?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">D' Tari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jel4jah.files.wordpress.com/2010/08/fotogalerie_foto_2923_foto_detail-croatia2004_pict4459_v2.jpeg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">fotogalerie_foto_2923_foto_detail.croatia2004_pict4459_v2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HAKIKAT NABI KHIDIR</title>
		<link>http://jel4jah.wordpress.com/2010/08/09/hakikat-nabi-khidir/</link>
		<comments>http://jel4jah.wordpress.com/2010/08/09/hakikat-nabi-khidir/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Aug 2010 03:20:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ummu naila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[nabi khidir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jel4jah.wordpress.com/?p=194</guid>
		<description><![CDATA[oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam Kisah Nabi Khidir ‘alaihissalam sudah sangat terkenal dan masyhur dikalangan kaum muslimin, karena telah ada dalam al qur’an surat al kahfi ayat 60 – 82. Beliau adalah teman Nabi Musa bin Imran ‘alaihissalam dan tidak benar orang yang mengklaim bahwa beliau bukan teman Nabi Musa bin Imran, sebagaimana yang diriwayatkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jel4jah.wordpress.com&amp;blog=9561536&amp;post=194&amp;subd=jel4jah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1></h1>
<p>oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam</p>
<p>Kisah Nabi Khidir ‘<em>alaihissalam</em> sudah sangat terkenal dan masyhur dikalangan kaum muslimin, karena telah ada dalam al qur’an surat al kahfi ayat 60 – 82.</p>
<p>Beliau adalah teman Nabi Musa bin Imran <em>‘alaihissalam</em> dan tidak benar orang yang mengklaim bahwa beliau bukan teman Nabi Musa  bin Imran, sebagaimana yang diriwayatkan oleh imam Bukhary dan Muslim <em>dari  Sa’id bin Jubair beliau berkata : saya bertanya kepada Ibnu ‘Abbas  bahwa Nufa al bakaaly mengklaim bahwa Musa yang berjumpa dengan Nabi  Khidir bukanlah Musa bani Israil akan tetapi Musa yang lainnya. Lalu  beliau menjawab :” Musuh Allah itu telah berdusta (sangat salah)</em> “.</p>
<p>Nama  beliau adalah Balyaa bin Milkan bin Faaligh bin ‘Aabir bin Syalikh bin  Arfakhsyad bin Saam bin Nuh ‘alaihissalam menurut pendapat yang masyhur  dari para ahli sejarah (lihat Syarah sahih Muslim 15/134), kunyah beliau  adalah Abul’Abbas akan tetapi lebih terkenal dengan gelar Al Khodhir  atau Al Khidhr (orang indonesia mengucapkannya dengan Khidir) yang  bermakna hijau, disebut demikian karena dia duduk di tanah Yang tandus  kemudian tiba-tiba tanah tersebut berguncang dan menjadi hijau  sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh imam  Bukhary dalam sahihnya (no. 3402).</p>
<p><strong>Apakah beliau seorang Nabi atau wali ?</strong></p>
<p><strong><span id="more-194"></span><br />
</strong></p>
<p>Kaum  muslimin berbeda pendapat dalam hal ini, sebagian mereka berpendapat  bahwa beliau adalah malaikat tapi pendapat ini lemah dan aneh  sebagaimana yang dikatakan oleh imam Nawawi dan Ibnu Katsir. Sebagian  lagi berpendapat bahwa beliau adalah wali dan ini adalah pendapat kaum  sufi, akan tetapi pendapat inipun lemah.</p>
<p>Kaum  sufi berusaha membela pendapat yang kedua tersebut untuk mengukuhkan  pendapatnya yang batil bahwa wali lebih tinggi kedudukannya dari nabi.  Subhanallah !!</p>
<p>Sebagian  lagi berpendapat bahwa beliau adalah nabi dan ini adalah pendapat  ahlussunnah wal jama’ah mereka berhujjah dengan kisah nabi Musa dengan  Nabi Khidir ketika membocori perahu, membunuh anak kecil dan menegakkan  sebuah dinding rumah yang hampir roboh, kemudian setelah itu Allah  Ta’ala mengkisahkan Perkataan Nabi Khidir :</p>
<p>رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِيْ</p>
<p>“ <em>sebagai rahmat dari Tuhanmu, dan bukanlah aku melakukan itu menurut kemauanku sendiri</em> “. (QS Al Kahfi : 82).</p>
<p>Ibnu  Katsir berkata dalam al bidayah wannihayah (1/328) :” makna ayat ini ;  tidaklah saya lakukan itu menurut kemauan saya, akan tetapi saya  diperintahkan untuk itu dan mendapatkan wahyu “.</p>
<p>Hal  ini menunjukkan kenabiannya karena Allah menyatakan bahwa tidak ada  yang diberi tahu ilmu gaib kecuali rosul yang diridloi, firman-Nya :</p>
<p>عَالِمَ الغَيْبِ فَلاَ يُظْهِرْ عَلىَ غَيْبِهِ أَحَدًا إِلاَّ مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَّسُوْلٍ</p>
<p><em>“  (Dia adalah Rabb) yang Mengetahui yang gaib, maka dia tidak  memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada  RosulNya yang diridloi</em> ..”. (QS Al jinn : 26-27).</p>
<p>Pendapat inilah yang benar yang  wajib diikuti dan dikuatkan oleh para ulama besar seperti Ibnu Hajar Al  ‘asqalaany rahimahullah, Ibnu Katsir dan ulama lainnya.</p>
<p><strong>Masih hidupkah Nabi Khidir ?</strong></p>
<p>Sebagian  ulama berpendapat bahwa Nabi Khidir masih hidup sebagaimana yang  dikatakan oleh imam Nawawi, Ibnu Shalah, As Suyuthy dan Ats Tsa’laby.  Akan tetapi dalil mereka sangat rapuh tidak bisa dijadikan hujah.  Berikut ini kami paparkan kepada para pembaca dalil mereka beserta  bantahannya.</p>
<p>1.Hadits  yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi dalam al kamil bahwa ketika Rosulullah  di dalam masjid…(lalu disebutkan dalam riwayat ini) seorang laki-laki  berkata kepada Anas bin Malik : pergilah dan katakanlah kepada beliau  sesungguhnya Allah telah mengutamakan anda atas seluruh para nabi….lalu  para sahabat pergi dan melihatnya ternyata dia adalah Khidir.</p>
<p>BANTAHAN</p>
<p>Sanad hadits ini memiliki dua cacat :</p>
<p><em>Pertama</em> : Abdullah bin Nafi’ lemah tidak dapat diterima, Ali bin Madini berkata  : dia suka meriwayatkan riwayat-riwayat yang mungkar “. Bukhary berkata  : haditsnya mungkar “.</p>
<p><em>Kedua</em> : Katsir bin ‘Amru bin Auf seorang perawi</p>
<p>Yang lemah, bahkan tertuduh sebagai pendusta “.</p>
<p>2.  Ibnu Asakir meriwayatkan dari jalan waddlah bin ‘Abbad Al kufi dan juga  dari jalan Abu Dawud dari Anas bin Malik berkata :” suatu malam aku  keluar bersama nabi salallahu ‘alaihi wasallam… (lalu disebutkan  didalamnya) seorang lelaki berkata :” selamat datang wahai utusan  Rosulullah….katakanlah kepada beliau :” wahai Rosulullah, Khidir  mengucapkan salam…”.</p>
<p>Demikian pula diriwayatkan oleh Ibnu Syahin dengan matan yang serupa diatas.</p>
<p>BANTAHAN.</p>
<p>a). adapun jalan wadlah dikatakan oleh imam Baihaqy :” sanad ini sangat lemah”.</p>
<p>b). adapun jalan Abu dawud (namanya Nufai bin al harits al a’ma) dinyatakan pendusta dan pemalsu hadits oleh Ibnu Katsir.</p>
<p>c).  adapun riwayat Ibnu Syahin, dalam sanadnya ada rawi yang bernama Abu  Salamah Muhammad bin Abdullah, Ibnu Thahir menyatakan bahwa ia seorang  pendusta.</p>
<p>3.Diriwayatkan  dari Ibnu ‘Abbas konon Nabi bersabda :” Khidir dan Ilyas bertemu setiap  tahun di musim haji…(HR Ibnu ‘Asakir, Daruqathny dan Al ‘Uqaily).</p>
<p>BANTAHAN</p>
<p>Semua riwayat tersebut berasal dari jalan Muhammad bin Ahmad bin Zaid sedangkan ia seorang yang lemah.</p>
<p>4.Ibnul Jauzy meriwayatkan dari jalan Mahdi bin Hilal dari Ibnu Juraij dari Ibnu Abbas serupa dengan hadits diatas.</p>
<p>BANTAHAN</p>
<p>Imam  Sakhawy berkata :” Riwayat Mahdi bin Hilal dari Ibnu Juraij lebih  sangat lemah dari pada riwayat Al Hasan bin Rizin dari Ibnu Juraij “.  (al maqashidul hasanah 21-22).</p>
<p>5.Ibnu  Abi Hatim dan Imam Syafi’I meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, ia  berkata :” ketika Rosulullah Sallallahu’alaihi wasallam wafat dan  ta’ziyah berdatangan, ada seorang yang datang, para sahabat mendengar  suaranya tapi tidak melihat orangnya, dia berkata :” assalamu ‘alaikum  ahlal bait warahmatullahi wabarakatuh ….”. Ali berkata :” Tahukah kamu  siapa dia ? Dia adalah Khidir.</p>
<p>BANTAHAN</p>
<p>Ibnu  Katsir berkata dalam Al Bidayah wannihayah :” Guru Imam Syafi’I yang  bernama Al Qasim Al ‘Umari seorang rawi yang matruk. Ahmad bin Hambal  dan Ibnu Ma’in berkata :” Dia tukang berdusta “, Ahmad menambahkan :”  dia suka memalsukan hadits “.</p>
<p>Ibnu  Katsir melanjutkan :” Juga diriwayatkan dari jalan lain yang lemah,  dari ja’far bin Muhamad, dari bapaknya dari kakeknya, tetapi tidak sahih  (mursal) “. (1/332).</p>
<p>Ibnu  Hajar memasukkan hadits tersebut ke dalam hadits-hadits yang lemah.  Lihat Fathul Bary 6/435. dan riwayat-riwayat lain yang menunjukkan bahwa  Khidir masih hidup, tapi semuanya lemah dan palsu.</p>
<p>6.Banyaknya cerita dan hikayat tentang orang-orang shalih bertemu dengan nabi Khidir.</p>
<p>BANTAHAN</p>
<p><em>Pertama</em> : Nabi Khidir tidaklah memiliki tanda khusus, sehingga orang yang melihatnya mengetahui bahwa dia adalah khidir.</p>
<p><em>Kedua</em> : pengakuan seseorang bahwa dia khidir tidaklah dapat memastikan bahwa  ia adalah khidir sebenarnya, karena mungkin saja ia dusta Untuk tujuan  tertentu, atau ia adalah setan yang menjerumuskan manusia ke lembah  kesesatan.</p>
<p><strong>Dalil Nabi Khidir telah wafat.</strong></p>
<p>Ibnul  Jauzi menyebutkan bahwa dalil Khidir sudah tidak ada di dunia lagi  adalah empat perkara : yaitu Al Qur’an, As Sunnah, ijma’ dan akal.</p>
<p>1. Dalil dari Al Qur’an yaitu firman Allah :</p>
<p>وَمَا جَعَلْناَ لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الخُلْدَ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمً<strong> </strong><strong>الخَالِدُوْنَ</strong></p>
<p>“ <em>Kami  tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu  (muhamad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal</em> ? “. (QS Al Anbiyya : 34).</p>
<p>Ayat  tersebut menyebutkan secara gamblang bahwa tidak ada seorang pun yang  hidup kekal sebelum Nabi Muhamad Sallallahu ‘alaihi wasallam, ini  menunjukkan bahwa Khidir telah tiada.</p>
<p>2. Dalil dari As Sunnah.</p>
<p>a).sabda Rosulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam :</p>
<p><strong>أرأيتكم ليلتكم هذه فإن على رأس مئة سنة منها لا يبقى على ظهر </strong></p>
<p><strong>االأرض ممن هو اليوم عليها أحد</strong></p>
<p>“ <em>Bagaimana  pendapat kamu tentang malam kamu ini, sesungguhnya pada penghujung  seratus tahun ini, tidak akan ada seorang pun tinggal di atas bumi dari  orang-orang yang hari ini masih hidup diatasnya</em> “. (HR Bukhary &amp; Muslim).</p>
<p>Maksudnya  setelah seratus tahun dari malam itu, semua orang yang hidup waktu itu  akan mati semuanya tanpa terkecuali. Sedangkan sekarang sudah lebih dari  1000 tahun.</p>
<p>b. sabda Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam :</p>
<p><strong>و الذي نفسي بيده لو أن موسى كان حيا ما وسعه إلا اتباعي</strong></p>
<p>“ Demi (Allah) yang jiwaku di tanganNya, seandainya Musa masih hidup, dia harus mengikutiku “. (HR Ahmad, hasan).</p>
<p>Demikian  pula jika Nabi khidir masih hidup, pastilah beliau mengikuti Nabi  Muhammad, melakukan shalat jum’at, dan berjama’ah di belakang beliau dan  berjihad bersama beliau, karena risalah nabi Muhammad adalah untuk  seluruh manusia dan jin tanpa terkecuali. Dan tidak ada satupun nukilan  bahwa Khidir ada bersama para sahabat, shalat berjama’ah, berjihad dan  lainnya.</p>
<p>3. ijma’ ulama peneliti.</p>
<p>Para  ulama peneliti dari kalangan ahli hadits dan lainnya menguatkan  pendapat bahwa Khidir sudah wafat, sebagaiamana para Nabi dan  orang-orang shalih dahulu wafat. Diantara mereka adalah : Imam Ahmad bin  Hambal, imam Bukhary, Ali bin Musa Ar Ridlo, Ibrahim bin Ishaq Al  Harbi, Abul Husain bin Al Munadi, Ibnul Jauzi, Ibnu Taimiyah, Ibnul  Qayyim dan banyak lagi yang lainnya.</p>
<p>4. Adapun akal maka dari berbagai segi :</p>
<ul>
<li>· Orang  yang menetapkan kehidupan Khidir menyatakan bahwa Khidir adalah anak  nabi Adam. Pernyataan ini tidak dapat diterima karena
<ul>
<li>· Ibnul  Jauzi berkata :” seandainya beliau hidup sebelum nabi Nuh, pastilah  beliau naik kapal bersama nabi Nuh, padahal tidak ada seorangpun  menukilkan hal ini.</li>
<li>· para  ulama bersepakat bahwa setelah nabi Nuh turun dari kapal, matilah  orang-orang yang bersama beliau dan keturunan mereka, dan tidak tersisa  kecuali keturunan beliau.</li>
<li>· pendapat  bahwa Khidir masih hidup adalah pendapat atas nama Allah tanpa ilmu,  karena seandainya benar tentulah dikabarkan oleh Allah, dan rosul-Nya  karena hal itu merupakan perkara luar biasa dan menakjubkan sehingga  sepantasnya disebutkan oleh Allah dalam kitabNya.</li>
<li>· bahwa  pegagan orang yang berkeyakinan masih hidupnya Khidir, hanyalah hikayat  dan cerita dari seseorang yang katanya melihat Khidir, padahal Khidir  tidak memiliki tanda husus yang bisa dikenal.</li>
<li>· Jika  Khidir masih hidup, tentulah beliau berjihad melawan orang-orang kafir,  ribath (berjaga/ronda) di jalan Allah, menghadiri shalat jum’at dan  shalat jama’ah bersama Rosulullah dan kaum musimin. Dan hal itu jauh  lebih utama dari pada berkelana di padang sahara, dan tempat-tempat  sepi.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>Riwayat  ini tidak sahih, karena berasal      dari jalan Ibnu Ishaq dan ia  seorang mudallis, juga ia meriwayat dari      orang-orang yang tak  dikenal.</li>
<li>Seandainya  beliau anak nabi Adam      tentulah bentuk tubuhnya sangat tinggi dan  sangat besar, karena Allah      menciptakan nabi Adam setingi 60 hasta  (+_ 30 m), dan manusia terus berkurang      tinggi &amp; besarnya sampai  seperti sekarang (HR Bukhary dan Muslim).</li>
</ul>
<h2>Keyakinan sesat.</h2>
<p>Orang-orang  sufi berkeyakinan bahwa wali itu lebih tinggi derajatnya dari para nabi  sehingga seorang wali boleh keluar dari syari’at nabi. Mereka berdalil  dengan kisah nabi Khidir bersama nabi Musa dari sudut bahwa Khidir  adalah wali bukan nabi, sedangkan beliau mempunyai pengetahuan yang  tidak diketahui oleh nabi Musa.</p>
<p>Orang-orang  sufi menukil dari Abu Yazid Al Bushtamy yang berkata :” demi Allah,  panjiku lebih agung dari panji Muhammad sallalahu ‘alaihi wasallam.  Panjiku berasal dari cahaya dimana dibawahnya terdapat jin dan manusia  yang seluruhnya adalah para nabi “. (lathaiful minan 1/124 karya Asy  Sya’rani, lihat sejarah hitam tasawuf hal. 200 karya Dr. Ihsan Ilahi  Dzahir).</p>
<p>Seorang sufi menegaskan :</p>
<p><em>Kedudukan nabi di barzakh</em></p>
<p><em>Di atas rosul dan di bawah wali</em></p>
<p>(Ath Thabaqat Al Kubra 1/68 karya Sya’rany, lihat sejarah hitam tasawuf hal. 200).</p>
<p>Itulah  perkataan orang-orang sufi yang amat sesat dan menyelisihi ijma’ ulama  yang menyatakan bahwa wali dibawah nabi dan rosul serta tidak boleh  seorangpun keluar dari syari’at Rosulullah, barang siapa yang keluar  atau meyakini bolehnya seorang wali keluar dari syari’at Rosul maka dia  kafir sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama islam.</p>
<p>Syeikhul  islam Ibnu Taimiyah telah membantah keyakinan tersebut, katanya :”  sebagian mereka (orang-orang sufi) berhujah dengan kisah pertemuan Musa  dengan Khidir. Mereka menyangka bahwa Khidir telah keluar dari syari’at  nabi Musa. Dalam hal ini mereka telah tersesat dengan dua alasan :</p>
<p>Pertama  : bahwa Khidir sebenarnya tidak keluar dari syari’at, bahkan apa yang  dilakukannya diperbolehkan menurut syari’at nabi Musa. Itulah sebabnya  ketika Khidir menjelaskan alasan-alasan tindakannya, nabi Musa  membenarkannya. Walaupun pertama kali nabi Musa mengingkari tapi hal itu  karena beliau belum mengerti alasan tindakan nabi Khidir, tapi setelah  Khidir menjelaskan alasan tindakannya, beliaupun membenarkannya.</p>
<p>Kedua  : bahwa Khidir bukan termasuk Umat nabi Musa, ia tidak berkewajiban  mengikuti Musa. Bahkan Khidir mengatakan :” saya memiliki suatu ilmu  yang diajarkan oleh Allah kepadaku yang tidak kamu ketahui. Dan kamupun  memiliki suatu ilmu yag diajarkan Allah kepadamu yang aku tidak ketahui  “.</p>
<p>Hal  itu karena nabi Musa tidak diutus untuk seluruh manusia, sebab nabi  pada waktu itu hanya diutus untuk kaumnya sendiri saja. Sedangkan nabi  Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam diutus untuk seluruh jin dan  manusia. Maka tidak dibenarkan ada seorangpun yang boleh keluar dari  ketaatan kepada nabi Muhamad, baik secara lahir maupun secara batin  “.(majmu’ fatawa 13/266).</p>
<p>Ibnu  ‘Abdil ‘Izz rahimahullah berkata :” adapun orang yang bergantung kepada  kisah Musa dan Khidir dalam rangka membolehkan penggantian wahyu dengan  ilmu laduni, maka sebenarnya ia adalah seorang mulhid (kafir) zindiq  (menyembunyikan kekafiran).</p>
<p>Sesungguhnya  Musa tidak diutus kepada Khidir, demikian pula sebaliknya. Karena itu  Khidir bertanya kepada Musa :” kamukah Musa Bani Israil ?”. sedangkan  Nabi Muhammad diutus untuk seluruh jin dan manusia.</p>
<p>Seandainya  Musa dan Isa hidup, tentu keduanya menjadi pengikut Muhammad. Dan  ketika kelak beliau turun ke bumi, ia akan berhukum berdasarkan syari’at  Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam.</p>
<p>Oleh  karena itu barang siapa yang beranggapan bahwa hubungan dirinya dengan  Muhammad ibarat Khidir dengan Musa (maksudnya tidak perlu terikat dengan  syari’at Muhammad -pen). atau membolehkan seseorang mempunyai keyakinan  demikian, maka hendaklah ia memperbaharui keislamannya dan mengulang  syahadatnya karena ia telah keluar dari islam secara total.</p>
<p>Jelas  tidak mungkin ia disebut wali Allah, akan tetapi ia adalah wali setan  “. (Syarah ‘Aqidah Thahawiyyah hal 511, takhrij Syeikh Al Bany).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jel4jah.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jel4jah.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jel4jah.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jel4jah.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jel4jah.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jel4jah.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jel4jah.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jel4jah.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jel4jah.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jel4jah.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jel4jah.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jel4jah.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jel4jah.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jel4jah.wordpress.com/194/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jel4jah.wordpress.com&amp;blog=9561536&amp;post=194&amp;subd=jel4jah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jel4jah.wordpress.com/2010/08/09/hakikat-nabi-khidir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c6d361f940b6351a10fd921bbb8e3699?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">D' Tari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penjelasan Lengkap Seputar Jilbab Muslimah</title>
		<link>http://jel4jah.wordpress.com/2010/07/23/penjelasan-lengkap-seputar-jilbab-muslimah/</link>
		<comments>http://jel4jah.wordpress.com/2010/07/23/penjelasan-lengkap-seputar-jilbab-muslimah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Jul 2010 03:51:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ummu naila</dc:creator>
				<category><![CDATA[dunia wanita]]></category>
		<category><![CDATA[hijab]]></category>
		<category><![CDATA[hukum berjilbab]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[jilbab muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[jilbab syar'i]]></category>
		<category><![CDATA[kewajiban berjilbab]]></category>
		<category><![CDATA[khimar]]></category>
		<category><![CDATA[pakaian muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[syarat jilbab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jel4jah.wordpress.com/?p=156</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu’alaykum warohmatullah Ustadz, saya ingin bertanya berkaitan dengan jilbab muslimah. Sebenarnya seperti apa yang benar? Insya Allah sudah tahu syaratnya, menutupi seluruh tubuh, longgar, tebal, tidak menarik perhatian, tidak tasyabbuh dengan laki-laki dan wanita kafir, dll. Sedikit saya gambarkan mengenai busana saya sehari-hari (afwan), saya memakai gamis yang gelap tidak menarik perhatian. Hitam, atau merah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jel4jah.wordpress.com&amp;blog=9561536&amp;post=156&amp;subd=jel4jah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Assalamu’alaykum warohmatullah</em></p>
<p><em><a href="http://jel4jah.files.wordpress.com/2010/07/image015.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-216" title="image015" src="http://jel4jah.files.wordpress.com/2010/07/image015.jpg?w=298&#038;h=300" alt="" width="298" height="300" /></a>Ustadz, saya ingin bertanya berkaitan dengan jilbab muslimah. Sebenarnya  seperti apa yang benar? Insya Allah sudah tahu syaratnya, menutupi  seluruh tubuh, longgar, tebal, tidak menarik perhatian, tidak tasyabbuh  dengan laki-laki dan wanita kafir, dll. Sedikit saya gambarkan mengenai  busana saya sehari-hari (afwan), saya memakai gamis yang gelap tidak  menarik perhatian. Hitam, atau merah hati, warna anggur. Namun kerudung  saya hingga perut. Nah kerudung saya ini yang suka dipermasalahkan oleh  teman-teman ngaji saya. Mereka memakai hingga lutut. Sebenarnya panjang  krudung itu sampai mana ustadz? Bukankah di alquran itu hingga dada? An  Nur 31. Kalau saya berdalil begitu, maka teman-teman mengatakan yang  sampai dada itu kerudung dalam. Saya jadi bingung ustadz. Padahal gamis  saya sendiri sudah longgar dan tebal. Tapi kerudung saya seperut. Apakah  itu belum syar’i? Kerudung saya juga lebar. Tidak macam-macam dengan  perhiasan. Dan masalah penggunaan sarung tangan. Bagaimana ustadz hukum  nya, apakah wajib? Kan katanya yang bikin aurot adalah telapak tangan.  Berarti punggung tangan aurot? Mohon penjelasannya. Jazakallahu khairan.</em></p>
<p><em>Wassalamu’alaikum</em></p>
<p><em>(Ummu Hindun)</em></p>
<p><strong>Jawab: </strong></p>
<p><strong><span id="more-156"></span><br />
</strong></p>
<p>Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuhu.</p>
<p><em>Hijab syar’i bagi seorang wanita muslimah ketika keluar rumah setelah  memakai gamis (baju panjang) adalah khimar (kerudung penutup kepala,  leher, dan dada), dan jilbab (baju setelah gamis dan khimar yang menutup  seluruh badan wanita/abaya).</em> Yang penanya kenakan sekarang-wallahu a’lam- adalah khimar yang tercantum dalam firman Allah ta’ala:</p>
<p>(<strong>وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ  فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا  وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ )(النور: من الآية31)</strong></p>
<p>“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan  pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka  menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka.  Dan hendaklah mereka menutupkan khimar ke juyub (celah-celah pakaian)  mereka.” (Qs. 24:31)</p>
<p>Berkata Ath-Thabary rahimahullahu:<br />
<strong><br />
وليلقين خُمُرهنّ …على جيوبهنّ، ليسترن بذلك شعورهنّ وأعناقهن وقُرْطَهُنَّ</strong></p>
<p>“Hendaknya mereka melemparkan khimar-khimar mereka di atas celah pakaian  mereka supaya mereka bisa menutupi rambut, leher , dan anting-anting  mereka.” (Jami’ul Bayan 17/262, tahqiq Abdullah At-Turky)</p>
<p>Berkata Ibnu Katsir rahimahullahu:</p>
<p><strong>يعني: المقانع يعمل لها صَنفات ضاربات على صدور النساء، لتواري ما تحتها  من صدرها وترائبها؛ ليخالفن شعارَ نساء أهل الجاهلية، فإنهن لم يكن يفعلن  ذلك، بل كانت المرأة تمر بين الرجال مسفحة بصدرها، لا يواريه شيء، وربما  أظهرت عنقها وذوائب شعرها وأقرطة آذانها. …والخُمُر: جمع خِمار، وهو ما  يُخَمر به، أي: يغطى به الرأس، وهي التي تسميها الناس المقانع</strong></p>
<p>“Khimar, nama lainnya adalah Al-Maqani’, yaitu kain yang memiliki  ujung-ujung yang dijulurkan ke dada wanita, untuk menutupi dada dan  payudaranya, hal ini dilakukan untuk menyelisihi syi’ar wanita  jahiliyyah karena mereka tidak melakukan yang demikian, bahkan wanita  jahiliyyah dahulu melewati para lelaki dalam keadaan terbuka dadanya,  tidak tertutupi sesuatu, terkadang memperlihatkan lehernya dan  ikatan-ikatan rambutnya, dan anting-anting yang ada di telinganya. Dan  khumur adalah jama’ dari khimar, artinya apa-apa yang digunakan untuk  menutupi, maksudnya disini adalah yang digunakan untuk menutupi kepala,  yang manusia menyebutnya Al-Maqani’ (Tafsir Ibnu Katsir 10/218, cet.  Muassah Qurthubah)</p>
<p>Lihat keterangan yang semakna di kitab-kitab tafsir seperti Tafsir  Al-Baghawy, Tafsir Al-Alusy, Fathul Qadir dll, ketika menafsirkan surat  An-Nur ayat 31.</p>
<p>Dan kitab-kitab fiqh seperti Mawahibul Jalil (4/418, cet. Dar ‘Alamil  Kutub), Al-Fawakih Ad-Dawany (1/334 cet. Darul Kutub Al-’Ilmiyyah),  Mughny Al-Muhtaj (1/502, cet. Darul Ma’rifah) dll.</p>
<p>Demikian pula kitab-kitab lughah (bahasa) seperti Al-Mishbahul Munir  (1/248, cet. Al-Mathba’ah Al-Amiriyyah), Az-Zahir fii ma’ani kalimatin  nas (1/513, tahqiq Hatim Shalih Dhamin), Lisanul ‘Arab hal:1261, Mu’jamu  Lughatil Fuqaha, dll.</p>
<p>Yang intinya bahwa pengertian khimar di dalam surat An-Nur ayat 31  adalah kain kerudung yang digunakan wanita untuk menutup kepala sehingga  tertutup rambut, leher, anting-anting dan dada mereka. Sementara itu  wajib bagi wanita muslimah mengenakan jilbab setelah mengenakan khimar  ketika keluar rumah, sebagaimana tercantum dalam firman Allah ta’ala:</p>
<p>(<strong>يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ  الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى  أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَحِيماً)  (الأحزاب:59)</strong></p>
<p>Artinya:” Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak  perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin agar hendaklah mereka  mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya  mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan  Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. 33:59)</p>
<p>Para ulama berbeda-beda dalam menafsirkan jilbab, ada yang mengatakan  sama dengan khimar, ada yang mengatakan lebih besar, dll (lihat Lisanul  Arab hal: 649). Dan yang benar –wallahu a’lamu- jilbab adalah pakaian  setelah khimar, lebih besar dari khimar, menutup seluruh badan wanita.</p>
<p>Berkata Ibnu Katsir rahimahullahu:<br />
<strong><br />
والجلباب هو: الرداء فوق الخمار</strong></p>
<p>“Dan jilbab adalah pakaian di atas khimar.” (Tafsir Ibnu Katsir 11/252)</p>
<p>Berkata Al-Baghawy rahimahullahu:<br />
<strong><br />
وهو الملاءة التي تشتمل بها المرأة فوق الدرع والخمار.</strong></p>
<p>“Jilbab nama lainnya adalah Al-Mula’ah dimana wanita menutupi dirinya  dengannya, dipakai di atas Ad-Dir’ (gamis/baju panjang dalam/daster) dan  Al-Khimar.” (Ma’alimut Tanzil 5/376, cet. Dar Ath-Thaibah)</p>
<p>Berkata Syeikhul Islam rahimahullahu:<br />
<strong><br />
و الجلابيب هي الملاحف التي تعم الرأس و البدن</strong></p>
<p>“Dan jilbab nama lain dari milhafah, yang menutupi kepala dan badan.” (Syarhul ‘Umdah 2/270)</p>
<p>Berkata Abu Abdillah Al-Qurthuby rahimahullahu:<br />
<strong><br />
الجلابيب جمع جلباب، وهو ثوب أكبر من الخمار…والصحيح أنه الثوب الذي يستر جميع البدن. “الجلابيب</strong></p>
<p>adalah jama’ جلباب, yaitu kain yang lebih besar dari khimar…dan yang  benar bahwasanya jilbab adalah kain yang menutup seluruh badan.”  (Al-Jami’ li Ahkamil Quran 17/230, tahqiq Abdullah At-Turky)</p>
<p>Berkata Syeikh Muhammad Amin Asy-Syinqithy rahimahullahu:<br />
<strong><br />
فقد قال غير واحد من أهل العلم إن معنى : يدنين عليهن من جلابيبهن : أنهن يسترن بها جميع وجوههن</strong></p>
<p><strong>، ولا يظهر منهن شيء إلا عين واحدة تبصر بها ، وممن قال به ابن مسعود ، وابن عباس ، وعبيدة السلماني وغيرهم</strong></p>
<p>“Beberapa ulama telah mengatakan bahwa makna ” يدنين عليهن من جلابيبهن”  bahwasanya para wanita tersebut menutup dengan jilbab tersebut seluruh  wajah mereka, dan tidak nampak sesuatupun darinya kecuali satu mata yang  digunakan untuk melihat, diantara yang mengatakan demikian Ibnu Mas’ud,  Ibnu ‘Abbas, dan Ubaidah As-Salmany dan lain-lain.” (Adhwa’ul Bayan  4/288) Oleh karena itu hendaknya penanya melengkapi busana muslimahnya  dengan jilbab setelah mengenakan khimar.</p>
<p>Datang dalam Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah:<br />
<strong><br />
والمشروع أن يكون الخمار ملاصقا لرأسها، ثم تلتحف فوقه بملحفة وهي الجلباب؛  لقول الله سبحانه: سورة الأحزاب الآية 59 يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ  لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ  مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ الآية.</strong></p>
<p>“Yang disyari’atkan adalah hendaknya khimar menempel di kepalanya,  kemudian menutup di atasnya dengan milhafah, yaitu jilbab, karena firman  Allah ta’alaa dalam surat Al-Ahzab ayat 59:<br />
<strong><br />
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ</strong></p>
<p>(Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah 17/176)</p>
<p>Berkata Syeikh Al-Albany rahimahullahu:<br />
<strong><br />
فالحق الذي يقتضِيه العمل بما في آيتي النّور والأحزاب ؛ أنّ المرأة يجب  عليها إذا خرجت من دارها أنْ تختمر وتلبس الجلباب على الخمار؛ لأنّه كما  قلنا : أسْتر لها وأبعد عن أنْ يصف حجم رأسها وأكتافها , وهذا أمر يطلبه  الشّارع … واعلم أنّ هذا الجمع بين الخمار والجلباب من المرأة إذا خرجت قد  أخلّ به جماهير النّساء المسلمات ؛ فإنّ الواقع منهنّ إمّا الجلباب وحده  على رؤوسهن أو الخمار , وقد يكون غير سابغ في بعضهن… أفما آن للنّساء  الصّالحات حيثما كنّ أنْ ينْتبهن من غفلتهن ويتّقين الله في أنفسهن ويضعن  الجلابيب على خُمرهن</strong></p>
<p>“Maka yang benar, sebagai pengamalan dari dua ayat, An-Nur dan Al-Ahzab,  adalah bahwasanya wanita apabila keluar dari rumahnya wajib atasnya  mengenakan khimar dan jilbab di atas khimar, karena yang demikian lebih  menutup dan lebih tidak terlihat bentuk kepala dan pundaknya, dan ini  yang diinginkan Pembuat syari’at…dan ketahuilah bahwa menggabungkan  antara khimar dengan jilbab bagi wanita apabila keluar rumah telah  dilalaikan oleh mayoritas wanita muslimah, karena yang terjadi adalah  mereka mengenakan jilbab saja atau khimar saja, itu saja kadang tidak  menutup seluruhnya… apakah belum waktunya wanita-wanita shalihah  dimanapun mereka berada supaya sadar dari kelalaian mereka dan bertaqwa  kepada Allah dalam diri-diri mereka, dan mengenakan jilbab di atas  khimar-khimar mereka?” (Jilbab Al-Mar’ah Al-Muslimah hal: 85-86)</p>
<p>Berkata Syeikh Bakr Abu Zaid rahimahullahu:<br />
<strong><br />
حجابها باللباس، وهو يتكون من: الجلباب والخمار، …فيكون تعريف الحجاب  باللباس هو:ستر المرأة جميع بدنها، ومنه الوجه والكفان والقدمان، وستر  زينتها المكتسبة بما يمنع الأجانب عنها رؤية شيء من ذلك، ويكون هذا الحجاب  بـ الجلباب والخمار</strong></p>
<p>“Hijab wanita dengan pakaian terdiri dari jilbab dan khimar…maka  definisi hijab dengan pakaian adalah seorang wanita menutupi seluruh  badannya termasuk wajah, kedua telapak tangan, dan kedua telapak kaki,  dan menutupi perhiasan yang dia usahakan dengan apa-apa yang mencegah  laki-laki asing melihat sebagian dari perhiasan-perhiasan tersebut, dan  hijab ini terdiri dari jilbab dan khimar.” (Hirasatul Fadhilah 29-30)  Sebagian ulama mengatakan bahwa jilbab tidak harus satu potong kain,  akan tetapi diperbolehkan 2 potong dengan syarat bisa menutupi badan  sesuai dengan yang disyari’atkan (Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah  17/178).</p>
<p>Wallahu a’lam.</p>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=370735&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=404818056015&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=404818056015&amp;id=100000064126278"><img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs133.snc4/36978_136468646365272_100000064126278_370735_5783066_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=370736&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=404818056015&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=404818056015&amp;id=100000064126278"><img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs073.ash2/36978_136468693031934_100000064126278_370736_7312014_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<p>Ustadz Abdullah Roy, Lc.</p>
<p>Sumber: tanyajawabagamaislam.blogs</p>
<div>pot.com<br />
<a rel="nofollow" href="http://konsultasisyariah.com/wanita/apaka-batasan-jilbab-syari.html" target="_blank">http://konsultasisyariah.com/wanita/apaka-batasan-jilbab-syari.html</a></div>
<div><strong>APAKAH HARUS GAMIS?</strong></div>
<p>Sebagian muslimah multazimah (yang komitmen dengan berbagai aturan  syariat) beranggapan bahwa pakaian muslimah yang syar’i harus berupa  memakai jubah, gamis panjang atau terusan.</p>
<p>Akhirnya mereka beranggapan bahwa muslimah yang memakai pakaian potongan  (ada atasan dan ada bawahan) bukanlah muslimah yang mengenakan pakaian  yang syar’i. Di samping itu muncul anggapan bahwa itu adalah gaya  berpakaian ala haroki atau hizbi.</p>
<p>Padahal jika kita tahu bahwa model pakaian muslimah semacam itu adalah  model pakaian yang masih diperkenankan oleh syariat tentu tidak  sepantasnya kita memiliki anggapan-anggapan semisal di atas.</p>
<p>Kita semua memiliki kewajiban untuk berilmu sebelum beramal dan berucap.  Berikut ini kami bawakan fatwa ulama ahli sunnah dalam masalah ini.  Setelah mentelaahnya, kita akan mengetahui komentar apa yang tepat untuk  model pakaian muslimah di atas.<br />
<strong><br />
السؤال الخامس من الفتوى رقم ( 7791 )<br />
س5: ما هي شروط الحجاب، أيجب أن يكون الجلباب قطعة واحدة أم يمكن أن يكون قطعتين، وإذا فعل هذا أيكون بدعة أم لا؟ أفيدونا.</strong></p>
<p>Pertanyaan kelima pada fatwa no 7791</p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>“Apa saja syarat hijab (pakaian muslimah)? Apakah jilbab (pakaian  muslimah) itu wajib terdiri dari satu potong kain ataukah diperbolehkan  jika terdiri dari dua potong kain? Jika pakaian muslimah tersebut  terdiri dari dua potong kain apakah itu bid’ah ataukah tidak? Beri kami  jawaban”.</em><br />
<strong><br />
ج5: الحجاب سواء كان قطعة أو قطعتين فليس في ذلك بأس إذا حصل به الستر  المطلوب المشروع. وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه  وسلم.</strong></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>“Tidaklah mengapa seandainya hijab (pakaian muslimah) itu terdiri  dari satu potong kain ataukah dua potong asal pakaian tersebut menutupi  aurat dengan baik sebagaimana yang dikehendaki oleh syariat”.</em><br />
<strong><br />
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء<br />
عضو … الرئيس<br />
عبد الله بن غديان … عبد العزيز بن عبد الله بن باز</strong></p>
<p><big>Fatwa ini ditandatangani oleh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz  sebagai ketua Lajnah Daimah dan Abdullah bin Ghadayan sebagai anggota.</big></p>
<p><big>Fatwa Lajnah Daimah ini terdapat dalam buku Fatawa Lajnah Daimah tepatnya pada jilid 17 halaman 177 </big></p>
<p>Sumber: ustadzaris.com<br />
<a rel="nofollow" href="http://konsultasisyariah.com/wanita/berapakah-potongan-pakaian-wanita-muslimah.html" target="_blank">http://konsultasisyariah.com/wanita/berapakah-potongan-pakaian-wanita-muslimah.html</a></p>
<p><strong>SYARAT HIJAB MUSLIMAH</strong></p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>“Apa saja syarat hijab (pakaian muslimah)? Apakah jilbab (pakaian  muslimah) itu wajib terdiri dari satu potong kain ataukah diperbolehkan  jika terdiri dari dua potong kain? Jika pakaian muslimah tersebut  terdiri dari dua potong kain apakah itu bid’ah ataukah tidak? Beri kami  jawaban”.</em><br />
<strong><br />
ج5: الحجاب سواء كان قطعة أو قطعتين فليس في ذلك بأس إذا حصل به الستر  المطلوب المشروع. وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه  وسلم.</strong></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>“Tidaklah mengapa seandainya hijab (pakaian muslimah) itu terdiri  dari satu potong kain ataukah dua potong asal pakaian tersebut menutupi  aurat dengan baik sebagaimana yang dikehendaki oleh syariat”.</em><br />
<strong><br />
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء<br />
عضو … الرئيس<br />
عبد الله بن غديان … عبد العزيز بن عبد الله بن باز</strong></p>
<p><big>Fatwa ini ditandatangani oleh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz  sebagai ketua Lajnah Daimah dan Abdullah bin Ghadayan sebagai anggota.</big></p>
<p><big>Fatwa Lajnah Daimah ini terdapat dalam buku Fatawa Lajnah Daimah tepatnya pada jilid 17 halaman 177 </big></p>
<p>Sumber: ustadzaris.com<br />
<a rel="nofollow" href="http://konsultasisyariah.com/wanita/berapakah-potongan-pakaian-wanita-muslimah.html" target="_blank">http://konsultasisyariah.com/wanita/berapakah-potongan-pakaian-wanita-muslimah.html</a></p>
<p><strong>HARUSKAH BERWARNA HITAM?</strong></p>
<p>Tentang pakaian syuhroh Ibnul Atsir -sebagaimana yang dikutip oleh asy Syaukani dalam <em>Nailul Autho</em>r juz 2 hal 470- mengatakan,</p>
<p>الشهرة ظهور الشيء ، والمراد أن ثوبه يشتهر بين الناس لمخالفة لونه لألوان ثيابهم فيرفع الناس إليه أبصارهم ويختال عليهم والتكبر</p>
<p>“<strong>Syuhroh</strong> adalah sesuatu yang menonjol. Yang dimaksud dengan  pakaian syuhroh adalah pakaian yang menyebabkan pemakai menjadi kondang  di tengah-tengah masyarakat disebabkan warna pakaiannya menyelisihi  warna pakaian yang umum dipakai masyarakat. Akhirnya banyak orang  menatap tajam orang yang memakai pakaian tersebut dan pemakainya sendiri  lalu merasa dan bersikap sombong terhadap orang lain”.</p>
<p><!--more--></p>
<p>Dalam kutipan di atas terdapat indikator pakaian syuhroh yaitu banyak  orang menatap tajam orang yang memakainya. Hal ini menunjukkan bahwa  jika suatu jenis pakaian itu kurang umum atau kurang familiar , alias  kurang memasyarakat di suatu daerah namun orang-orang di daerah tersebut  menganggapnya wajar sehingga tidak ada sorotan mata yang tajam  ditujukan kepada orang tersebut maka pakaian itu <strong>bukanlah</strong> pakaian syuhroh yang tercela.</p>
<p>Dalam kutipan di atas juga disampaikan dampak buruk dari pakaian syuhroh  yaitu menimbulkan perasaan dan sikap sombong orang yang mengenakan  terhadap orang-orang di sekelilingnya.</p>
<p>Perkataan Ibnul Atsir di atas jelas menunjukkan adanya pakaian syuhroh  yang tercela gara-gara masalah warna pakaian. Warna pakaian yang nyleneh  dengan umumnya warna pakaian di suatu masyarakat dinilai oleh Ibnul  Atsir sebagai pakaian syuhroh yang tercela.</p>
<p><strong>Lantas bagaimana dengan warna hitam yang suka dipakai oleh sebagian  muslimah di negeri kita, apakah tergolong termasuk pakaian syuhroh yang  tercela?</strong></p>
<p>Jawaban masalah ini bisa kita jumpai rubrik tanya jawab <strong>Majalah As-Sunnah</strong> Solo tepatnya pada edisi 5 tahun XIII Sya’ban 1430 atau Agustus 2009 pada halaman kelima dengan judul “Soal Warna Baju”.</p>
<p>Redaksi Majalah As Sunnah mendapatkan pertanyaan sebagai berikut, <em>“Ana  mau menanyakan apa hukum berpakaian bagi seorang muslimah dengan warna  pakaian terang. Apakah ada hadits yang menyatakan berpakaian warna gelap  disunahkan? Terkait di Indonesia misalnya, yang sudah menjadi hal umum  berpakaian berpakaian warna terang. Apakah bisa dijadikan dalil  pemborehan yang berbeda dengan muslimah di negara-negara Arab? Mohon  penjelasannya. Jazakumullahu khair”</em> Amri, Samarinda +62852483xxxxx</p>
<p>Berikut ini jawaban redaksi majalah As Sunah atas pertanyaan di atas, <strong>“Seorang  wanita muslimah boleh memakai pakaian berwarna terang selama tidak  menimbulkan fitnah (baca: godaan terhadap lawan jenis, ed)</strong> berdasarkan beberapa riwayat dari para wanita salaf [riwayat-riwayat ini  bisa dilihat di dalam kitab Jilbab Mar’atil Muslimah, hlm 121-124;  karya Syaikh al Albani].</p>
<p>Namun sepantasnya meninggalkan pakaian berwarna terang yang menarik  perhatian atau berwarna-warni yang menarik hati laki-laki. Karena tujuan  perintah berjilbab adalah untuk menutupi perhiasan. Kalau  jilbab/pakaian itu sendiri dihiasi dengan renda, bros, aksesori,  warna-warni yang menarik pandangan orang maka ini bertentangan dengan  firman Allah azza wa jalla,</p>
<p>ولا يبدين زينتهن</p>
<p><em>“Dan janganlah para wanita mukminah itu menampakkan perhiasan mereka” (QS an Nur/24:31).</em></p>
<p>Ummu Salamah-radhiyallahu ‘anha- berkata,</p>
<p>لما نزلت: يدنين عليهن من جلابيبهن خرج نساء الأنصار كأن علي رؤوسهن الغربان من الأكسية</p>
<p>Ketika turun firman Allah (yang artinya), <em>“Hendaknya mereka (wanita-wanita beriman) mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”</em> (QS al Ahzab/33:59) wanita-wanita Anshar keluar seolah-olah pada kepala  mereka terdapat burung-burung gagak karena warna (warna hitam-red)  kain-kain (mereka). HR Abu Daud no 4101; dishahihkan oleh Syaikh al  Albani.</p>
<p>Hadits ini menunjukkan bahwa wanita-wanita anshar tersebut mengenakan jilbab-jilbab berwarna hitam.</p>
<p>Oleh karena itulah jika keluar rumah, hendaklah wanita memakai pakaian  yang berwarna gelap, tidak menyala dan berwarna-warni agar tidak menarik  pandangan orang. <strong>[Dan tidak harus berwarna hitam, apalagi di sebagian daerah yang masyarakatnya memandang warna hitam itu menyeramkan].</strong> Wallahu a’lam”.</p>
<p><em>Demikian jawaban redaksi majalah As- Sunah <span style="text-decoration:underline;">namun sebagian kalimat yang ditebalkan itu berasal dari saya pribadi</span>, bukan dari pihak redaksi.</em></p>
<p>Jadi di sebagian tempat warna pakaian hitam yang dikenakan oleh seorang  muslimah itu bisa jadi menjadi pakaian syuhroh ketika warna hitam di  daerah tersebut dinilai adalah warna yang <em>“menyeramkan”</em> sehingga dalam kondisi seperti ini sangat tidak dianjurkan untuk memakai warna hitam.</p>
<p>Artikel www.ustadzaris.com<br />
<a rel="nofollow" href="http://ustadzaris.com/haruskah-hitam-menyeramkan" target="_blank">http://ustadzaris.com/haruskah-hitam-menyeramkan</a></p>
<p><strong>BOLEHKAH BERMOTIF DAN BERHIASAN?</strong></p>
<p>Bismillah…</p>
<p>Assalamu’alaikum wa rohmatulloh wa barokatuh,</p>
<p>Ustadz, kami memiliki pertanyaan seputar jilbab muslimah. Telah  terjadi diskusi antara beberapa akhwat, tentang hukum memakai busana  muslimah (jilbab/ gamis/ Jubah) yang bermotif/ berenda/ berbordir/ batik  sewarna/ bergaris-garis di luar rumah di hadapan non mahrom, dimana ada  yang membolehkan dan ada yang tidak. Berikut kami ringkaskan diskusi  yang terjadi:</p>
<p><strong>Yang membolehkan berhujjah/beralasan:</strong></p>
<p>1. Pakaian bermotif/ berenda/ berbordir/ batik sewarna/  bergaris-garis tersebut sudah biasa di negeri kita (Indonesia) dan  berpakaian hitam/gelap polos malah menjadi perhatian orang di sebagian  tempat, kondisi ataupun acara yang kebanyakan orangnya berpakaian  bercorak-corak/batik. Hendaknya kita berpakaian sesuai ‘urf, karena  menurut para ulama hukumnya makruh jika kita menyelisihi ‘urf berpakaian  masyarakat setempat.</p>
<p>2. Hadits Ummu Kholid rodhiyallohu anha yang mengenakan baju bergaris-garis hijau &amp; kuning dalam Shohih al-Bukhori:</p>
<p>أُتِيَ  النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثِيَابٍ فِيهَا خَمِيصَةٌ  سَوْدَاءُ صَغِيرَةٌ فَقَالَ مَنْ تَرَوْنَ أَنْ نَكْسُوَ هَذِهِ فَسَكَتَ  الْقَوْمُ قَالَ ائْتُونِي بِأُمِّ خَالِدٍ فَأُتِيَ بِهَا تُحْمَلُ  فَأَخَذَ الْخَمِيصَةَ بِيَدِهِ فَأَلْبَسَهَا وَقَالَ أَبْلِي وَأَخْلِقِي  وَكَانَ فِيهَا عَلَمٌ أَخْضَرُ أَوْ أَصْفَرُ فَقَالَ يَا أُمَّ خَالِدٍ  هَذَا سَنَاهْ وَسَنَاهْ بِالْحَبَشِيَّةِ حَسَنٌ</p>
<p>“Dibawakan kepada Nabi sebuah kain yang di dalamnya ada pakaian kecil  yang berwarna hitam. Maka beliau bersabda, “Menurut kalian siapa yang  pantas kita pakaikan baju ini?” maka para sahabat diam. Beliau bersabda,  “Bawa Ummu Khalid ke sini,” maka Ummu Khalid pun dibawa kepada beliau,  lalu beliau mengambil baju tersebut dan memakaikannya. Lalu beliau  bersabda, “Semoga tahan lama hingga Allah menggantinya dengan yang  baru.” Pada pakaian tersebut ada corak yang berwarna hijau atau kuning,  dan beliau bersabda: “Wahai Ummu Khalid, ini sanah, sanah.” Sanah adalah  perkataan bahasa Habasyah yang berarti bagus.” (no. 5375)</p>
<p>Dan berpendapat bahwa meski ketika itu Ummi Khalid belum baligh namun  Nabi tidak mungkin melatih dan membiasakan anak kecil untuk mengerjakan  sebuah kemaksiatan, sehingga hadits ini menunjukkan bolehnya seorang  perempuan dewasa mengenakan pakaian berwarna hitam yang bercampur dengan  garis-garis berwarna hijau atau kuning di hadapan laki-laki non mahrom.  Dan juga adanya kaidah “tidak boleh menunda penjelasan ketika  dibutuhkan”.</p>
<p>3. Imam Bukhori pernah meriwayatkan dalam kitab Shohih-nya bahwa  Ummul Mukminin ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha pernah mengenakan pakaian  berwarna merah dengan “corak mawar” ketika sedang melakukan ihrom di  Makkah. (catatan : Namun dalam diskusi tidak diberikan teks haditsnya  &amp; nomor hadits tersebut. Mohon konfirmasi dari ustadz, apakah hadits  yang bermakna seperti ini ada atau tidak dalam shohih al-Bukhori?)</p>
<p>4. Fatwa Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin rohimahulloh yang  teks terjemahannya ada di link :  http://www.alfurqon.co.id/busana-muslimah-dengan-bordir-dan-renda/</p>
<p>5. Fatwa syaikh Ali bin Hasan al-Halabi yang mengatakan bahwa batasan  perhiasan adalah tergantung ‘urf masing-masing daerah. [Bila  diperlukan, file rekamannya bisa kami kirimkan via email(?)]</p>
<p>6. Penjelasan Syaikh Abu Malik Kamal dalam Shohih Fiqhis Sunnah lin Nisaa’ II/147-149.</p>
<p>7. Berpakaian hitam atau warna gelap memang memiliki kecenderungan  untuk tersamarkan dari pandangan, akan tetapi berpakaian motif pun bisa  membuat kita tersamar dari pandangan. Yang terpenting adalah bagaimana  kita berpakaian, bukan seperti apa pakaian kita.</p>
<p>8. Tidak ada dalil shohih &amp; shorih yang melarang baru bermotif/  berenda/ berbordir/ batik sewarna/ bergaris-garis untuk dipakai wanita  dewasa di luar rumahnya di hadapan non mahrom.</p>
<p><strong>Yang tidak membolehkan berhujjah/ beralasan:</strong></p>
<p>1. Keumuman firman Alloh ta’ala :</p>
<p>“dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka…” (QS. an-Nur : 31)</p>
<p>“Tetaplah kalian di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias  dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu” [QS.  Al-Ahzab : 33]</p>
<p>Sabda Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam:</p>
<p>“Wanita itu aurat, maka bila ia keluar rumah, setan terus  memandanginya (untuk menghias-hiasinya dalam pandangan lelaki sehingga  terjadilah fitnah).” (Dishahihkan syaikh Al-Albani dalam  ShahihAt-Tirmidzi , dan syaikh Muqbil ibnu Hadi Al-Wadi’i dalam  Ash-Shahihul Musnad, 2/36)</p>
<p>2. Motif/ renda/ bordir/ garis-garis/ batik tersebut termasuk  perhiasan. Bahkan secara ‘urf pun jika kita bertanya pada orang-orang  :“apa tujuan dibuatnya motif/renda/bordir dll tersebut di pakaian yang  asalnya polos?”, akan dijawab : “supaya indah”, “untuk hiasan”, dan yang  semisal itu. Dan secara bahasa pun (dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia /  KBBI online) motif/ renda/ bordir juga disifati sebagai hiasan.</p>
<p>Jika kalung kita sebut sebagai perhiasan leher, gelang adalah  perhiasan tangan, anting adalah perhiasan telinga, lipstik adalah  perhiasan bibir, maka kita juga bisa sebut motif/ berenda/ berbordir/  batik sewarna/ bergaris-garis adalah perhiasan pada baju.</p>
<p>Sedangkan salah satu syarat jilbab yang syar’i yang disebutkan oleh  para ulama adalah bahwa pakaian tersebut bukanlah perhiasan &amp; ia  berfungsi untuk menutupi perhiasan, sehingga tidak masuk akal apabila  jilbab yang dikenakan itu sendiri berupa perhiasan.</p>
<p>3. Dan memakai pakaian warna polos yang tidak mencolok di mata  masyarakat tidak bisa dikatakan menyelisihi ‘urf, jadi untuk sesuai  dengan ‘urf tidak harus dengan menghiasi pakaian dengan motif/ berenda/  berbordir/ batik sewarna/ bergaris-garis.</p>
<p>4. Fatwa Lajnah Da’imah nomor 21352, tetanggal 9/3/1421 H tentang  “model aba’ah yang di syari’atkan untuk wanita”, yang beranggotakan :  Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh, Syaikh Abdulloh bin Ghudayyan, Syaikh  Sholeh al-Fauzan dan Syaikh Bakr Abu Zaid, Lengkapnya ada di  [http://alifta.com/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&amp;PageID=6411&amp;PageNo=1&amp;BookID=3].  Di antara kriteria yang disebutkan adalah:</p>
<p>رابعا: ألا يكون فيها زينة تلفت إليها الأنظار، وعليه فلا بد أن تخلو من الرسوم والزخارف والكتابات والعلامات.</p>
<p>“Keempat : Tidak diberi hiasan-hiasan yang dapat menarik perhatian  mata. Oleh karena itu harus polos dari gambar, pernak-pernik, dan  tulisan-tulisan, maupun simbol-simbol”.</p>
<p>5. Dinukil pula pendapat Syaikh Amr Abdul Mun’im Salim dalam  terjemahan kitabnya “Ahkamuz Ziinah lin Nisaa’” ketika menjelaskan  syarat “Pakaian tersebut tidak berfungsi sebagai perhiasan”, setelah  membawakan Surat an-Nuur ayat 31 beliau menjelaskan : “Hendaklah pakaian  tersebut tidak bercorak (bermotif) atau bergambar atau berwarna warni  lebih dari satu warna dan dibordir. Semua itu termasuk perhiasan yang  tidak boleh ditampakkan oleh kaum wanita di hadapan lelaki yang bukan  mahromnya.”</p>
<p>6. Hadits Ummu Kholid rodhiyallohu anha terjadi ketika Ummu Kholid  masih kecil (bahkan masih digendong), sehingga tidak tepat jika  meng-qiyas-kan hukumnya untuk wanita dewasa. Dan beralasan “Nabi tidak  mungkin melatih dan membiasakan anak kecil untuk mengerjakan sebuah  kemaksiatan” tidak tepat karena banyak ihtimal lainnya, seperti :</p>
<p>Karena kain itu bercorak, maka Nabi memberikannya kepada anak kecil  karena mereka belum mukallaf &amp; tidak terkena hukum berhias.</p>
<p>7. Membolehkan motif/ berenda/ berbordir/ batik sewarna/  bergaris-garis pada pakaian akhwat akan membuka pintu tabarruj,  sedangkan agama kita mengenal kaidah Saddu adz-Dzari’ah.</p>
<p>Mohon tarjih &amp; nasehat ustadz dalam masalah ini dan mohon  penjelasan bagaimana batasan ‘urf yang bisa digunakan dalam masalah  pakaian muslimah ini?</p>
<p>Demikian pertanyaan ini kami buat sejelas-jelasnya. Besar harapan kami ustadz bersedia menjawab pertanyaan ini.</p>
<p>Jazakumullohu khoiron.</p>
<p>Ummu Shofiyyah [mailto:ummu.shofi[at]yahoo.com]</p>
<p><strong>Jawab</strong>:</p>
<p>Oleh : Ustadz Hammad Abu Muawiah <em>hafidzohulloh</em></p>
<p><em>Bismillah. waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh</em></p>
<p>Yang ana yakini bahwa pakaian bermotif tidak boleh digunakan oleh wanita muslimah ketika dia keluar rumah, karena dia termasuk <em>zinah </em>(perhiasan), sementara Allah Ta’ala telah memerintahkan untuk tidak menampakkan perhiasan kecuali kepada mahram.</p>
<p>Sebagaimana yang sudah dimaklumi bahwa para muslimah diwajibkan untuk  berhijab, dan berhijab ini lebih umum maknanya daripada sekedar  berjilbab atau bercadar atau menutupi seluruh anggota tubuhnya. Akan  tetapi berhijab yang syar’i adalah seorang wanita menutupi seluruh  tubuhnya serta perhiasannya, yang dengannya semua non mahram tidak bisa  melihat sedikit pun dari tubuh dan perhiasannya.</p>
<p>Sekarang masalahnya, yang mana yang termasuk perhiasan?</p>
<p>Asy-Syaikh Bakr Abu Zaid dalam kitab Hirasah Al-Fadhilah pada  pembahasan ‘Hijab yang bersifat khusus’ menyebutkan bahwa yang dimaksud  dengan <em>zinah </em>(perhiasan) pada firman Allah Ta’ala, “<em>Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka</em>,”  (QS. An-Nur: 31) adalah semua yang dipakai berhias oleh wanita, selain  dari asal penciptaannya (postur tubuhnya), atau dinamakan <em>az-zinah al-muktasabah</em> (hiasan yang bisa diusahakan).</p>
<p>Maksudnya: Tubuh wanita adalah perhiasan akan tetapi tidak bisa diusahakan adanya, karena memang asal penciptaannya seperti itu.</p>
<p>Selain dari tubuhnya, yang juga diperintahkan untuk disembunyikan  adalah perhiasan yang bisa diusahakan, yaitu segala sesuatu yang menarik  pandangan orang selain dari anggota tubuhnya. Dan para ulama memberikan  batasan dari zinah (perhiasan) adalah semua perkara yang menarik  perhatian orang untuk melihatnya.</p>
<p>Jika ada yang bertanya: Bukankah pakaian luar (walaupun berwarna hitam) juga tetap dilihat oleh orang?</p>
<p>Jawab: Betul,  karenanya seorang wanita dianjurkan untuk tidak sering keluar rumah agar  pakaian luarnya pun tidak terlihat oleh orang lain.</p>
<p>Perlu diketahui bahwa pakaian luar asalnya termasuk perhiasan yang  dilarang untuk diperlihatkan. Hanya saja berhubung terkadang wanita  butuh keluar rumah karena ada keperluan maka pakaian luar pun Allah  kecualikan dari hukum di atas dengan firman-Nya, “<em>Kecuali yang nampak dari (perhiasan)nya</em>.”  Jadi pembolehan menampakkan pakaian luar termasuk hukum dharurat,  karena wanita kadang diizinkan keluar sementara tidak mungkin dia keluar  tanpa berpakaian.</p>
<p>Termasuk dalam ayat ini adalah ketika tanpa disengaja pakaian luarnya  tersingkap sehingga terlihat pakaian dalamnya (maksudnya pakaian rumah  yang ada dibalik jubah atau jilbabnya), maka ini termasuk dalam ayat, “<em>Kecuali yang nampak darinya</em>,” yakni yang terlihat dalam keadaan tidak sengaja, bukan disengaja.</p>
<p><strong>Kesimpulannya</strong>: Kalau para ulama menghukumi pakaian  luar termasuk perhiasan yang harus ditutup, sementara dia hanya  diizinkan untuk dinampakkan karena <em>idhthirar </em>(keterpaksaan/tidak  ada pilihan lain), maka bagaimana bisa seseorang menambahkan lagi  hiasan (apapun motif dan coraknya) padanya yang menjadikan orang lain  tambah tertarik untuk melihatnya. Tentunya perbuatan ini termasuk dari  perbuatan yang terlarang karena menjadikan jilbab luarnya (yang asalnya  boleh dinampakkan secara dharurat) menjadi perhiasan yang tidak boleh  dinampakkan.</p>
<p><strong>Tambahan:</strong></p>
<p>Melihat keterangan makna <em>zinah </em>(perhiasan) di atas, maka  termasuk perhiasan yang harus disembunyikan oleh para wanita adalah: Tas  atau dompetnya yang bisa menarik perhatian, sandal atau sepatu yang  bentuk dan motifnya bisa menarik perhatian, kaus kaki atau kaus tangan  yang bermotif, dan seterusnya. <em>Wallahu Ta’ala a’lam</em>.</p>
<p>.</p>
<p>Adapun dalil-dalil yang  dibawakan oleh pihak yang membolehkan jilbab/jubah bermotif, maka  jawabannya sebagai berikut berdasarkan nomor dalil:</p>
<p><strong>1.</strong> Ucapan ini mengharuskan membolehkan semua pakaian  yang haram boleh dipakai kalau memang pakaian itu banyak dipakai oleh  orang lain. Kami katakan: Kenapa tidak sekalian melepaskan jilbab, toh  yang tidak berjilbab lebih banyak di negeri ini dibandingkan yang  berjilbab.</p>
<p>Kalau dia berkata: Pakaian masyarakat juga tetap harus mengikuti aturan syariat.</p>
<p>Kami katakan: Inilah  yang kami inginkan. Walaupun pakaian bermotif bagi wanita ini adalah  hal yang tersebar di negeri ini, akan tetapi ada syariat yang melarang  wanita untuk menampakkan perhiasan. Dan sudah dijelaskan bahwa pakaian  bermotif termasuk dari perhiasan. <em>Wallahul muwaffiq</em>.</p>
<p><strong>2.</strong> Adapun hadits Ummu Khalid, maka seperti yang anti  sebutkan bahwa Ummu Khalid ketika itu masih anak-anak sehingga  diperbolehkan untuknya apa yang tidak diperbolehkan untuk wanita dewasa.  Karenanya tidak bisa dikatakan bahwa beliau tidak melatih dan  membiasakan anak kecil untuk bermaksiat karena itu bukanlah maksiat bagi  dirinya.</p>
<p>Apakah dikatakan Nabi -alaihishshalatu wassalam- membiasakan anak  kecil berbuat maksiat atau atau dikatakan beliau mengundurkan penjelasan  ketika dibutuhkan, tatkala beliau membiarkan dua anak kecil memukul  rebana sambil bernyanyi di hari id?</p>
<p>Apakah dikatakan Nabi -alaihishshalatu wassalam- membiasakan anak  kecil berbuat maksiat atau atau dikatakan beliau mengundurkan penjelasan  ketika dibutuhkan, tatkala beliau mengizinkan Aisyah bermain boneka  berbentuk makhluk hidup?</p>
<p><em>Hasya wa kalla</em>, sekali-kali tidak.</p>
<p>Jika dia mengatakan: Pembolehan anak kecil menyanyi di hari id dan bermain boneka ada dalil yang membolehkannya. Maka kami katakan: Memakai pakaian bermotif bagi anak kecilpun ada dalil yang membolehkan. Karenanya masalahnya jangan dicampuradukkan.</p>
<p><strong>3.</strong> Haditsnya diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam  kitab Al-Hajj, Bab: Para wanita tawaf dengan para lelaki, no. hadits  1618 (cet. Dar Al-Hadits), dari Atha’ dia berkata:</p>
<p>وَكُنْتُ  آتِي عَائِشَةَ أَنَا وَعُبَيْدُ بْنُ عُمَيْرٍ وَهِيَ مُجَاوِرَةٌ فِي  جَوْفِ ثَبِيرٍ قُلْتُ وَمَا حِجَابُهَا قَالَ هِيَ فِي قُبَّةٍ  تُرْكِيَّةٍ لَهَا غِشَاءٌ وَمَا بَيْنَنَا وَبَيْنَهَا غَيْرُ ذَلِكَ  وَرَأَيْتُ عَلَيْهَا دِرْعًا مُوَرَّدًا</p>
<p>“Dan aku bersama ‘Ubaid bin ‘Umair pernah menemui ‘Aisyah radliallahu  ‘anha yang sedang berada disisi gunung Tsabir. Aku (Ibnu Juraij)  bertanya: “Hijabnya apa? Ia menjawab: “Dia berada di dalam sebuah tenda  kecil. Tenda itu memiliki penutup dan tidak ada pembatas antara kami dan  beliau selain penutup itu, dan aku melihat beliau mengenakan gamis  berwarna mawar”.</p>
<p>Sudah dimaklumi bersama bahwa seorang salafi tidaklah memahami sebuah  hadits hanya berdasarkan terjemahannya, akan tetapi dia diharuskan  untuk merujuk kepada syarah para ulama terhadap hadits tersebut.</p>
<p>Dan kelihatannya kesalahpahaman mereka memahami hadits ini untuk  membolehkan pakaian bermotif juga lahir karena mereka hanya berlandaskan  pada terjemahan biasa dan tidak merujuk kepada ucapan para ulama  terhadap hadits ini.</p>
<p>Kami katakan: Tidak  ada sedikit pun sisi pendalilan dalam kisah bagi yang membolehkan  pakaian yang bermotif. Ini bisa ditinjau dari beberapa sisi:</p>
<p><strong>1)</strong> Makna kalimat <em>dir’an muwarradan</em> dalam kisah di atas bukanlah jubah bermotif mawar  sebagaimana yang diterjemahkan oleh sebagian penerjemah. Akan tetapi  maknanya sebagaimana yang Al-Hafizh Ibnu Hajar terangkan, “Warnanya  warna mawar,” yakni berwarna merah.</p>
<p>Karenanya terjemahan yang anti sebutkan bahwa: [Ummul Mukminin  'Aisyah rodhiyallahu 'anha pernah mengenakan pakaian berwarna merah  dengan "corak mawar" ketika sedang melakukan ihrom di Makkah] adalah  tidak tepat. Lagi pula kisah ini tidak terjadi di Makkah akan tetapi  terjadi di bukit dekat Muzdalifah.</p>
<p><strong>2)</strong> Al-Hafizh menyebutkan lafazh ucapan Atha’ dalam  riwayat Abdurrazzaq, “Pakaian yang berwarna, dan ketika itu saya masih  kecil.” Al-Hafizh berkata, “Maka Atha’ menjelaskan sebab dia bisa  melihat Aisyah,” yakni: Atha’ bisa melihat pakaian Aisyah dan Aisyah  mengizinkan dia melihatnya karena Atha` waktu itu masih kecil. Dan tidak  mengapa seorang wanita menampakkan perhiasannya kepada anak kecil.  Itupun kita katakan Aisyah sengaja menampakkannya, akan tetapi yang  Nampak beliau tidak sengaja menampakkannya, dengan dalil adanya hijab di  antara mereka.</p>
<p><strong>3)</strong> Al-Hafizh juga menambahkan, “Ada kemungkinan dia  tidak sengaja melihat baju yang beliau kenakan.” Dan ketidaksengajaan  tidak boleh dijadikan dalil pembolehan sesuatu yang dikerjakan dengan  sengaja.</p>
<p>(Fathul Bari: 3/545, cet. Dar Al-Hadits)</p>
<p><strong>4.</strong> Bagaimana bisa ucapan Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin  ini dijadikan pendukung bagi yang membolehkan wanita memakai pakaian  bermotif, sementara ucapan beliau tegas sekali melarangnya. Beliau  mengatakan, “Apabila kita terapkan kaidah ini untuk masalah yang  ditanyakan, maka kami mengatakan bahwa hukum asal pakaian itu  dibolehkan, akan tetapi apabila terdapat hiasan- hiasan bordir itu  menarik perhatian bagi yang melihatnya, maka kami melarangnya bukan  karena pakaian itu haram, tetapi karena pakaian itu menimbulkan fitnah.”</p>
<p><strong>5.</strong> Kami tidak tahu fatwa Syaikh Ali Hasan tersebut,  tapi kalau memang beliau mengatakan bahwa batasan perhiasan adalah  tergantung ‘urf masing-masing daerah. Maka tidak ada masalah, kita  katakan: Renda atau corak pada bordir dan semacamnya menurut ‘urf orang  Indonesia adalah hiasan. Silakan tanya kepada siapa saja yang ingin  mengenakan/menambahkan bordiran pada pakaiannya, apa tujuannya?  Kira-kira apa tanggapan para wanita awam yang punya bordiran/motif pada  pakaiannya tatkala dia disuruh untuk menghilangkan/membuang  bordiran/motif itu?</p>
<p>Jawabannya tentu:  Saya pasang itu untuk memperindah pakaian, dan saya tidak mau  menghilangkannya karena akan memperjelek pakaian atau akan membuatnya  kurang menarik.</p>
<p>Bukankah sesuatu yang indah dan menarik perhatian pada wanita termasuk <em>zinah </em>(perhiasan) syar’i yang harus disembunyikan???</p>
<p><strong>6.</strong> Pada kitab Fiqhus Sunnah lin Nisa` cet. Al-Maktabah At-Taufiqiah, pembahasan ini terdapat pada jilid 3 hal. 33-34.</p>
<p>Di sini Abu Malik Kamal -<em>jazahullahu khairan</em>- hanya menyebutkan masalah bolehkah wanita memakai pakaian selain warna hitam?</p>
<p>Itupun di akhir pembahasan beliau menyebutkan bahwa yang dibolehkan  hanya yang satu warna polos. Adapun yang terdiri dari dua warna atau  lebih dalam satu kain maka itu termasuk pakaian yang dilarang karena  akan membentuk suatu motif.</p>
<p>Apa yang beliau sebutkan ini sejalan dengan nukilan yang anti  sebutkan dari Amr bin Abdil Mun’im Salim, “Hendaklah pakaian tersebut  tidak bercorak (bermotif) atau bergambar atau berwarna warni lebih dari  satu warna dan dibordir. Semua itu termasuk perhiasan yang tidak boleh  ditampakkan oleh kaum wanita di hadapan lelaki yang bukan mahromnya.”</p>
<p>Dan kami sependapat dengan mereka berdua di atas, berdasarkan dalil-dalil yang mereka bawakan.</p>
<p>Jadi penulis tidak menyinggung masalah pakaian bermotif atau berenda  dan semacamnya. Tapi kelaziman dari definisi zinah (perhiasan) yang dia  sebutkan, adalah dia harus menggolongkan renda/bordiran termasuk zinah  yang harus untuk ditutup. Karena dia berkata ketika menafsirkan ayat 31  dari surah An-Nur, “Perhiasan di sini secara umum mencakup pakaian luar  jika pakaian luar itu dihiasai dan menarik para lelaki untuk  melihatnya.”</p>
<p>Bukankah ini kenyataan yang terjadi pada mereka yang memakai pakaian  bermotif/berenda? Mata lelaki (yang ngaji maupun yang tidak) bisa  tertarik untuk melihatnya -kecuali yang dirahmati oleh Rabbnya-.</p>
<p>Kemudian di akhir pembahasan beliau (Abu Malik) menyebutkan, “Apa  yang telah kami bahas (berupa pembolehan memakai pakaian berwarna bagi  wanita, pent.) tidak menghalangi untuk kita mengatakan bahwa yang  pakaian yang paling utama dan lebih menutupi tubuh bagi wanita adalah  yang berwarna hitam.”</p>
<p>Maka wahai muslimah yang mengharapkan keberuntungan dan pahala yang  besar, apa yang menghalangi kalian untuk mengamalkan yang paling utama?  Kenapa justru mengamalkan yang kurang utama dan meninggalkan yang lebih  utama, hanya karena tidak enak dihadapan manusia??</p>
<p>Tambahan: Masalah  warna pakaian ini, walaupun pada dasarnya wanita bisa memakai pakaian  berwarna (sekali lagi bukan bermotif atau bordiran), maka di zaman ini  apakah ada alim yang faham kaidah saddu adz-dzariah (menutup wasilah  maksiat) yang akan mengatakan: Bolah seorang wanita memakai pakaian  berwarna pink?</p>
<p>Padahal pink ini sudah identik dengan keindahan dan wanita. Bukankah  kalau kita menerapkan ucapan Syaikh Ali Hasan di atas, pakaian pink ini  juga termasuk zinah (perhiasan) yang harus ditutup?</p>
<p>Maka demikian pula yang kami katakan pada warna-warna lainnya. Kami  katakan sebagaimana apa yang Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin katakan bahwa  walaupun asalnya adalah mubah tapi dia bisa dilarang untuk dipakai  tatkala dia dianggap sebagai perhiasan, <em>wallahu a’lam</em>.</p>
<p><strong>7.</strong> Apa maksudnya ‘dengan berpakaian motif kita bisa  tersamar dari pandangan’? Apa maksudnya dengan pakaian seperti itu kita  bisa berbaur dengan masyarakat dan tidak tampak mencolok?</p>
<p>Kalau iya, kembali kami katakan: Kalau lebih tidak mau mencolok  adalah dengan cara lepas jilbab, insya Allah tidak akan mencolok sama  sekali.</p>
<p>Subhanallah, betapa anehnya pendalilan seperti ini. Bukankah Nabi  -alaihishshalatu wassalam- telah menegaskan bahwa pengikut beliau di  akhir zaman akan dianggap asing (berbeda dari yang lainnya). Lantas  kenapa engkau wahai muslimah ingin agar kamu tidak dianggap mencolok  (asing) di mata manusia?</p>
<p><strong>8.</strong> Kalau maksudnya dalil shahih lagi sharih itu harus berbunyi, “<em>Wahai wanita mukminah, janganlah kalian memakai pakaian bermotif,</em>” atau berbunyi, “<em>Wanita mana saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah mengenakan pakaian berenda</em>,” dan semacamnya.</p>
<p>Maka hanya orang-orang awam atau orang bodoh yang mencari dalil  shahih lagi sharih -semacam ini- dalam semua permasalahan dalam Islam.</p>
<p>Dalil yang shahih lagi sharih bagi kami adalah ayat yang melarang  wanita menampakkan perhiasannya. Dalil yang shahih lagi sharih bagi kami  adalah dalil yang melarang wanita melalui kaum lelaki dengan memakai  apa saja yang membuatnya menarik, baik itu parfum maupun pakaian  bermotif. Bahkan pakaian bermotif ini lebih parah dari parfum, karena  parfum hanya bisa dinikmati oleh orang yang ada di sekitar wanita itu,  sementara pakaian yang menarik pandangan bisa dinikmati dan ditonton  oleh orang yang berjarak 500 meter darinya (dengan menggunakan teropong  tentunya).</p>
<p><em>Wallahu Ta’ala A’lam, wahuwa Yahdi ila sawa`is sabil.</em></p>
<p>***</p>
<p>Dijawab oleh : al-Ustadz Hammad Abu Muawiah <em>hafidzohulloh </em>-<em>wa jazahullohu khoiron</em>-</p>
<p>Sumber : <a href="http://al-atsariyyah.com/?p=1694" target="_blank">http://al-atsariyyah.com/?p=1694</a></p>
<p><a title="Permanent Link: Hukum Wanita Menggelung/Menyanggul Rambut yang Membentuk Benjolan yang Terlihat dari Balik Jilbab (2)" rel="bookmark" href="http://ummushilah.0fees.net/wordpress/?p=796">)</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jel4jah.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jel4jah.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jel4jah.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jel4jah.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jel4jah.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jel4jah.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jel4jah.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jel4jah.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jel4jah.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jel4jah.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jel4jah.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jel4jah.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jel4jah.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jel4jah.wordpress.com/156/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jel4jah.wordpress.com&amp;blog=9561536&amp;post=156&amp;subd=jel4jah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jel4jah.wordpress.com/2010/07/23/penjelasan-lengkap-seputar-jilbab-muslimah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c6d361f940b6351a10fd921bbb8e3699?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">D' Tari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jel4jah.files.wordpress.com/2010/07/image015.jpg?w=298" medium="image">
			<media:title type="html">image015</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs133.snc4/36978_136468646365272_100000064126278_370735_5783066_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs073.ash2/36978_136468693031934_100000064126278_370736_7312014_n.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Menangis dan Tertawa Menurut Sunnah</title>
		<link>http://jel4jah.wordpress.com/2010/07/23/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/</link>
		<comments>http://jel4jah.wordpress.com/2010/07/23/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Jul 2010 02:03:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ummu naila</dc:creator>
				<category><![CDATA[adab islam]]></category>
		<category><![CDATA[adab islami]]></category>
		<category><![CDATA[adab tertawa]]></category>
		<category><![CDATA[menangis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jel4jah.wordpress.com/?p=151</guid>
		<description><![CDATA[Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron Pengantar Redaksi Isak tangis orang dewasa tidaklah sama dengan tangisan anak kecil. Menangis bukanlah aib, bukan pula pintu kesengsaraan. Terkadang tangisan dapat menghidupkan hati, menghapus kesalahan dan men datangkan ampunan ar-Rohman. Dan jangan dikira tertawa atau menertawakan sesuatu adalah hal yang sepele. Apalagi yang menjadi bahan lelucon adalah syari’at Islam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jel4jah.wordpress.com&amp;blog=9561536&amp;post=151&amp;subd=jel4jah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron</strong></p>
<p><strong>Pengantar Redaksi</strong></p>
<p>Isak tangis orang dewasa tidaklah sama dengan tangisan anak kecil.  Menangis bukanlah aib, bukan pula pintu kesengsaraan. Terkadang tangisan  dapat menghidupkan hati, menghapus kesalahan dan men</p>
<p>datangkan ampunan ar-Rohman. Dan jangan dikira tertawa atau  menertawakan sesuatu adalah hal yang sepele. Apalagi yang menjadi bahan  lelucon adalah syari’at Islam yang mulia. Dalam Islam, tertawa dan  menangis ada rambu-rambu syar’inya, namun masih banyak saudara kita  belum mengetahuinya. Benarlah bahwa hal-hal yang dianggap remeh oleh  sebagian kalangan ternyata jika dikaji secara rinci merupakan hal yang  perlu diwaspadai.</p>
<p><em>“Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu  mener­tawakan dan tidak menangis. Sedangkan kamu melalaikannya? Maka  bersujud lah kepada Alloh dan sembahlah (Dia).” </em>(QS. an-Najm 1531: 59-62)</p>
<p><strong>MAKNA AYAT SECARA UMUM</strong></p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em>, ketika menafsirkan ayat ini berkata :</p>
<p>“Ayat ini ditujukan kepada para pendusta Ro­sululloh <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em>.Pertanyaan  pada ayat ini menun­jukkan ingkar dan heran, mengapa mereka mendustakan  Rosululloh          , yang membawa ayat dan bukti yang benar. Bukankah  Rosu­lulloh<em> Shallallahu ‘alaihi wasallam</em>, pemberi peringatan  seperti para utusan sebelumnya. Mengapa mereka tidak khawatir disiksa  se­perti disiksanya pendusta risalah para utusan sebelumnya. Oleh sebab  itu Alloh <em>Ta’ala</em> berkata : “Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini wahai pendusta Rosululloh <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em>? Sehingga kamu menertawakan pemberi­taan berupa al-Qur’an ini ?</p>
<p>Kamu menertawakan hukum-hukumnya, me­nertawakan Rosululloh<em> Shallallahu ‘alaihi wasallam</em>, menertawakan ibadahnya dan menghinanya. Kalian merasa heran dan menertawakan dia<em> Shallallahu ‘alaihi wasallam</em>.</p>
<p>Mengapa kamu tidak menangis ketika mende­ngar al-Qur’an karena rasa takut kepada Alloh <em>Ta’ala</em> dan tidak mau kembali kepada yang haq ? Akan tetapi hatimu bertambah keras? – maka kami berlindung kepada. Alloh <em>Ta’ala</em> dari hati yang keras ini- dan mengapa kamu menjadi orang yang melupakan  al-Qur’an dengan sen­da guraumu dan nyanyianmu? Sebagian kamu bila  mendengar ayat Alloh, kamu menyanyi, bukankah itu sifat orang kafir,  Alloh <em>‘Azza wa jalla</em> berfirman : <em>“Dan orang-orang yang  kafir berkata : “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan  Al-Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat  mengalahkan mereka.”</em> (QS. Fushshilat 1411: 26) <a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftn1">[1]</a></p>
<p><strong>MENGAPA BAYI LAHIR MENANGIS ?<br />
</strong></p>
<p><strong><span id="more-151"></span><br />
</strong></p>
<p>Dari Abu Huroiroh <em>radhiyallahu ‘anhu</em> Rosululloh <em>Shallallahu ‘alihi wa sallam </em>bersabda :</p>
<p><em>“Tidak seorang bayi pun yang dilahirkan kecuali telah disentuh oleh setan sehingga ia menangis, kecuali Maryam dan putranya.”</em> <a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Oleh karena itu orang tua sebaiknya segera memohon perlindungan  kepada Alloh Ta’ala untuk anak dan keturunannya yang sedang lahir dari  godaan setan yang terlaknat. Silakan membaca surat Ali Imron ayat 31.</p>
<p><strong>BILA MENANGIS MEMBAWA MALAPETAKA </strong></p>
<p>Rosululloh <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, bersabda : <em>“Sesungguhnya  Alloh Ta’ala tidak menyiksa karena air mata atau karena kesedih­an  hati. Tetapi Dia menyiksa atau mengasihi sebab ini, -beliau menunjuk ke  lidah beliau-.”</em> <a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftn3">[3]</a>. Maksudnya Alloh <em>Ta’ala </em>menyiksa karena ratapan yang diucapkan lidah ketika menolak takdir Alloh <em>Ta’ala</em> atas si mayit.</p>
<p>Meratapi orang mati adalah hal yang tercela karena menunjukkan pelakunya tidak beriman kepada takdir Alloh <em>Ta’ala</em> atau tidak ridho ketentuan Alloh <em>Ta’ala</em>.</p>
<p>Ummu Athiyyah <em>radhiyallahu ‘anha </em>berkata : <em>“Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengambil bai’at (janji setia) pada kami agar tidak meratapi kematian.”</em> <a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftn4">[4]</a>.</p>
<p>Tatkala suami Ummu Salamah <em>radhiyallahu anha</em> meninggal dunia, Ummu Salamah          <em>radhiyallahu ‘anha </em>hendak menangis bersama wanita yang datang di rumahnya, lalu Rosululloh <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, bersabda : <em>“Apakah kamu akan memasukkan setan di rumah yang Alloh Ta’ala telah mengusirnya.”</em> Beliau mengulangi dua kali. Lalu Ummu Salamah <em>radhiyallahu ‘anha</em> diam dan tidak menangis lagi. <a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Ibnul Mubarok <em>rahimahullah</em>, berkata : jeritan tangisan akan  berbahaya kepada si mayit apabila sebe­lum meninggal dunia si mayit  tidak melarang keluarganya dari meratap. Rosululloh<em> Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ber­sabda :<em>“Sesungguhnya mayat disiksa lantaran tangisan keluarganya.”</em> <a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Inilah salah satu contoh menangis yang berbahaya. Demikian juga  tangisan ketika dirinya atau keluarganya terkena musibah. Manusia memang  boleh bersedih tetapi tidak boleh menangis  dengan mengeraskan suara.</p>
<p>Rosululloh <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berkata kepada Mua’adz bin Jabal <em>radhiyallahu ‘anhu</em>: “Barangkali kami akan melewati masjidku dan kuburanku.” Lalu Mua’adz menangis karena sedih. Lantas Rosululloh<em> Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berkata : “Jangan menangis wahai Mu’adz, sungguh menangis dengan keras adalah perbuatan setan.” <a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftn7">[7]</a></p>
<p><strong>KEUTAMAAN MENANGIS KARENA TAKUT KEPADA ALLOH <em>TA’ALA</em></strong></p>
<p>Menangis pada umumnya karena sedih, sakit atau tertimpa musibah. Akan  tetapi terkadang karena rasa gembira dan haru, semuanya itu hu­kumnya  boleh asal tidak seperti tangisan jahiliyah.</p>
<p>Menangis terkadang mendapat pahala bila di­karenakan takut siksaan  Alloh, seperti orang yang berbuat maksiat lalu dia sadar dan istighfar,  atau menangis karena mengingat kebesaran kekua­saan-Nya atau berharap  rohmat dan surga-Nya. Menangislah karena takut kepada Alloh <em>Ta’ala</em>.</p>
<p>Rosululloh <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, bersabda :</p>
<p><em>“Tidaklah masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Alloh.”</em> <a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Ibnu ‘Ajlan <em>rahimahullah </em>berkata : “Setiap tetesan air mata yang mengalir karena membaca al-Qur’an maka dia dirohmati oleh Alloh <em>Ta’ala</em>.” <a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftn9">[9]</a></p>
<p>Adapun di antara contoh menangis karena ta­kut kepada Alloh <em>Ta’ala</em> adalah : <strong> </strong></p>
<p><strong>1. </strong><strong>Menangis ketika sedang sholat</strong></p>
<p>Dari Muthorrif dari ayahnya, dia berkata : “Aku. melihat Rosululloh<em> Shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>sedang sholat, dan di dada­nya ada suara seperti suara air yang mendidih karena menangis.”<a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftn10">[10]</a> <strong> </strong></p>
<p><strong>2. </strong><strong>Menangis tatkala membaca al-Qur’an atau membaca Sunnah Rosululloh <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em></strong></p>
<p><em>“Apabila dibacakan ayat-ayat Alloh Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.”</em> (QS. Maryam [19]:58)</p>
<p>Ibnu Umar  <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ketika membaca Surat al-Hadid ayat 16 (yang artinya): <em>“Belum datangkah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Alloh.”</em> beliau <em>radhiyallahu ‘anhu </em>menangis se­hingga membasahi jenggotnya dan berkata : <em>“Wa­hai Alloh.”</em> <a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftn11">[11]</a> <strong> </strong></p>
<p><strong>3. Menangis pada saat berdzikir dan berdo’a ke­pada Alloh <em>Ta’ala.</em></strong></p>
<p>Rosululloh <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, bersabda : “Ada tujuh orang yang akan mendapat naungan pada hari kiamat, tidak ada naungan kecuali naungan-Nya …</p>
<p><em>“…Dan orang yang berdzikir kepada Alloh dengan bersepi lalu menetes air kedua matanya… “</em> <a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftn12">[12]</a> <strong> </strong></p>
<p><strong>4. </strong><strong>Menangis saat melintasi daerah yang berge­limang kemaksiatan.</strong></p>
<p>Abdulloh bin Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, berkata : “Rosululloh <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,  berkata kepada Ashabul Hijr : ‘janganlah kalian memasuki daerah suatu  kaum yang telah disik­sa, kecuali dengan menangis. Kalau kamu tidak  menangis, janganlah memasuki daerah mereka agar kalian tidak tertimpa  apa yang menimpa me­reka.” <a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftn13">[13]</a> <strong> </strong></p>
<p><strong>5. </strong><strong>Menangis apabila keluarga dan masyarakat meninggalkan sholat atau berbuat maksiat.</strong></p>
<p>Az-Zuhri <em>rahimahullah</em>, berkata : “Saya datang kepada Anas bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu </em>di  Damaskus dan ia sedang menangis. Lalu saya bertanya : ‘Mengapa engkau  menangis?’ Ia menjawab : ‘Saya tidak tahu lagi amal yang aku dapati di  masa Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>yang masih dipedulikan orang sekarang, selain sholat, itu pun sudah disia-siakan.” <a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftn14">[14]</a> <strong> </strong></p>
<p><strong>6. </strong><strong>Menangis ketika mendengar khutbah atau ceramah.</strong></p>
<p>Abu Said al-Khudri <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, berkata : “pada suatu hari Rosululloh<em> Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, berada di atas mimbar lalu bersabda : ‘Ada seorang hamba yang diberi pilihan Alloh <em>Ta’ala</em> antara diberi kemewahan dunia atau di­beri sesuatu yang ada di  sisi-Nya. Ternyata hamba itu memilih sesuatu yang ada di sisi-Nya.’  Setelah itu Abu Bakr  <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, tampak menangis.” <a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftn15">[15]</a> <strong> </strong></p>
<p><strong>7. </strong><strong>Menangis bila menjumpai ulama sunnah sakit mendekati ajalnya.</strong></p>
<p>Said bin Jubair, berkata : “Ibnu Abbas<em> radhiyallahu ‘anhu</em>;  pernah bertanya : ‘Apakah hari Kamis itu?’ lalu be­liau menangis hingga  air matanya membasahi ba­tu-batu kerikil. Aku bertanya : ‘Wahai Ibnu  Abbas, ada apa dengan hari Kamis?’ Beliau menjawab : ‘Pada hari itu  penyakit Rosululloh <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, bertambah parah kemudian beliau <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda : <em>‘Kemarilah, aku akan menyampaikan untukmu suatu wasiat sehingga kamu tidak akan tersesat setelahku…’.”</em> <a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftn16">[16]</a> <strong> </strong></p>
<p><strong>8. </strong><strong>Menangis karena mengingat dosa</strong></p>
<p>Tholhah Ibnu Mushorif <em>rahimahullah</em> berkata : “Ada orang yang berbuat dosa, maka setiap dosa yang dia ingat dia menangis.” <a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftn17">[17]</a> <strong> </strong></p>
<p><strong>9. </strong><strong>Menangis ketika mendengar adzan</strong></p>
<p>Al-Qodhi Fudhail bin ‘Iyadh <em>rahimahullah </em>menangis di masjid ketika mendengar adzan hingga pasir di hadapannya basah olehnya. <a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftn18">[18]</a></p>
<p><strong>10. </strong><strong>Menangis ketika berkhutbah</strong></p>
<p>Abu Zaid <em>rahimahullah </em>berkata : “Saya melihat Umar bin Abdul Aziz <em>rahimahullah</em>, menangis di atas mimbar, tidak mampu bicara karena tangisannya sangat kuat.” <a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftn19">[19]</a></p>
<p><strong>BAHAYA SERING TERTAWA</strong></p>
<p>Tertawa dapat mengeluarkan seseorang dari iman dan Islam. Tertawa  yang tidak terkendali bisa berdampak buruk bagi diri dan orang lain.  Sering kita jumpai awalnya orang senda gurau lalu berakhir dengan  kebencian dan pertengkaran.</p>
<p>Imam Ibnu Hibban <em>rahimahullah </em>berkata : “Banyak dalil yang  menjelaskan larangan tertawa yang berlebih­lebihan, karena sering  tertawa pasti berdampak ti­dak baik.” Kemudian beliau membacakan hadits  Rosululloh <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em></p>
<p><em>“Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak mena­ngis.”</em> <a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftn20">[20]</a></p>
<p>Anas bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu </em>mengatakan : “Tidak ada hari yang lebih menyedihkan bagi para sahabat dari pada hari itu.” Anas bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata lagi : “Me­reka menutupi kepala mereka sambil terdengar isak tangis mereka.” <a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftn21">[21]</a></p>
<p>Bahkan orang yang sering tertawa akan me­nerima dampak yang buruk. Di antara dampak itu adalah :</p>
<p><!--more--></p>
<p><strong>1. </strong><strong>Mendapat hukuman dari Alloh <em>Ta’ala</em></strong></p>
<p><em>“Maka hendaklah mereka sedikit tertawa dan ba­nyak menangis, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan.”</em> <strong> </strong></p>
<p><strong>2. </strong><strong>Hati sulit mengingat Alloh <em>Ta’ala</em></strong></p>
<p>Rosululloh <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda :</p>
<p><em>“Dan janganlah terlalu banyak tertawa. Sesungguh­nya terlalu banyak tertawa dapat mematikan hati.”</em> <a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftn22">[22]</a> <strong> </strong></p>
<p><strong>3. </strong><strong>Tertawa membatalkan sholat.</strong></p>
<p>Jabir bin Abdulloh<em> radhiyallahu ‘anhu </em>berkata : “Apabila se­seorang tertawa di dalam sholat maka ia ha­rus mengulangi sholatnya dan tidak mengulangi wudhunya.” <a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftn23">[23]</a> <strong> </strong></p>
<p><strong>4. </strong><strong>Terkadang tertawa merupakan bentuk ejekan kepada orang, lantas bagaimana jika yang diejek adalah ahli ibadah?</strong></p>
<p>Ibnu Mas’ud <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, berkata : <em>“Ketika Rosululloh</em> <em>Shallallahu  ‘alaihi wa sallam, sholat di dekat Ka’bah ada Abu jahl beserta kawan-  kawannya sedang duduk-duduk di situ. Sehari sebelumnya ada unta korban  disembelih. Abu jahl berkata: ‘Siapakah di antara kalian yang mau  mengambil kotoran unta di Banifulan lalu meletakkannya di atas kedua  pundak Muhammad sewaktu ia sujud? Bangkitlah seorang yang paling jahat  di antara mereka dan segera mengambil kotoran itu. Di saat Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa sallam sujud, ia letakkan kotoran itu di atas  kedua pundak beliau. Lalu mereka pun tertawa terpingkal-pingkal sambil  saling melirik, sedangkan aku berdiri menyaksikan kejadian itu.  Seandainya aku mempunyai kekuatan, niscaya akan aku buang kotoran itu  dari punggung Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rosululloh  Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap saja bersujud, tidak mengangkat  kepalanya hingga seseorang mengabarkan kepada Fathimah. Kemudian Fatimah  yang saat itu masih gadis kecil datang membuang kotoran dari tubuh  ayah-nya. “</em> <a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftn24">[24]</a> <strong></strong></p>
<p><strong>5. </strong><strong>Orang yang suka mengundang tawa biasanya berbohong untuk membuat orang lain tertawa.</strong></p>
<p>Rosululloh<em> Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, bersabda :</p>
<p><em>“Celakalah orang yang berbicara padahal ia berbohong, hanya  sekadar untuk membuat orang-orang lain tertawa. Celakalah dia, dan  celakalah dia.”</em> <a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftn25">[25]</a></p>
<p>Hadits ini merupakan peringatan bagi para pelawak dan da’i yang ceramahnya mengundang tawa hadirin. <strong></strong></p>
<p><strong>6. </strong><strong>Menertawakan Alloh <em>Ta’ala</em>, ayat-ayat-Nya dan Rosul-Nya akan menyebabkan jatuh kepada</strong> <strong>perbuatan kufur</strong>.</p>
<p>Bacalah surat at-Taubah ayat 65-66, dan bacalah firman-Nya :</p>
<p><em>“Maka tatkala dia datang kepada mereka dengan membawa mukjizat-mukjizat Kami dengan serta merta mereka menertawakannya.” </em>(QS. az-Zukhruf [43]: 47) <strong></strong></p>
<p><strong>7. </strong><strong>Menertawakan orang-orang yang mengamalkan Sunnah.</strong></p>
<p>Mereka dihukum Alloh  <em>Ta’ala</em> dengan dilupakan dari mengingat Alloh <em>Ta’ala</em>.</p>
<p><em>“Lalu kamu menjadikan mereka buah ejekan, sehingga (kesibukan)  kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku, dan adalah  kamu selalu mener­tawakan mereka.”</em> (QS. al-Mu’minun [231: :110) <strong></strong></p>
<p><strong>8. </strong><strong>Orang yang suka menertawakan urusan agama adalah pendusta wahyu dan utusan Alloh <em>Ta’ala.</em></strong></p>
<p>Baca surat az-Zukhruf [43]: 47, surat an-Ni­sa’[4]:140, al-An’am [6]:  5 dan 10, at-Taubah [9]: 64 dan 65, ar-Ro’du [13]: 32, al-Hijr [15]:  11, al-Kahfi [18]: 56 dan 106, al-Anbiya’ [21]: 36 dan 41, al-­Furqon  [25]:41, ar-Rum [30]: 10, dan surat lainnya.</p>
<p><strong>WASPADALAH DENGAN TANGISANMU</strong></p>
<p>Suatu ketika orang-orang munafik merasa gembira karena tidak ikut berperang bersama Rosululloh<em> Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Bahkan mereka mengacau orang yang hendak berperang, maka Alloh <em>Ta’ala</em> mengi­ngatkan dengan ayat-Nya :</p>
<p><em>“Maka hendaklah mereka sedikit tertawa dan banyak menangis, sebagai pembalasan dari apa yang selalu me­reka kerjakan.”</em> (QS. at-Taubah [9]: 82)</p>
<p>Ibnu Abbas <em>radhiyallahu ‘anhu</em> menerangkan ayat ini : “Dunia  ini hanya sebentar, silahkan tertawa wahai orang yang suka tertawa. Jika  anda meninggalkan dunia dan mengahadap Alloh <em>Ta’ala</em>, kalian akan menangis sepanjang masa.”</p>
<p>Imam al-Qurthubi <em>rahimahullah </em>berkata : “Ayat di atas  menunjukkan ancaman bagi orang yang sering tertawa atau menertawakan  orang. Dan bukan berarti kita disuruh menertawakan orang.”<a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftn26">[26]</a></p>
<p><strong>PENYANYI ADALAH PENERTAWA AL-QUR’AN</strong></p>
<p>Janganlah kita membenarkan adanya dakwah yang diiringi dengan lagu, nasyid, rebana dan semisalnya.</p>
<p>Ibnu Abbas <em>radhiyallahu ‘anhu </em>ketika menafsirkan ayat pemba­hasan kita ini berkata : “Maksud ayat, <em>“Sedang kamu melengahkannya”</em> mereka itu adalah penyanyi ketika mendengar ayat al-Qur’an dan berlagak sombong.</p>
<p>Ibnul Qoyyim al-Jauzi <em>rahimahullah </em>berkata : “Jika ayat ini  dipahami nyanyian maka itu pemahaman yang benar, karena nyanyian  mengakibatkan orang benci mendengarkan al-Qur’an, dan orang yang  menyanyi suka Benda gurau, melupakan al-Qur’an, berpaling dan berlagak  sombong. Ini semua membuat orang lupa ibadah. <a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftn27">[27]</a>.</p>
<p>Dalam kitabnya <em>Adabul Qodho’</em>, Imam Syafi’i <em>rahimahullah </em>berkata : “Orang yang sering mendengarkan nyanyian tidak boleh menjadi saksi dan kesaksiannya batal.” Lalu beliau <em>rahimahullah </em>membacakan surat an‑ Najm [53] ayat 59-61 dan surat Luqman [31] ayat 6</p>
<p>Rosululloh <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda yang artinya <em>“Sesung­guhnya  Alloh melarang dua suaranya orang yang bodoh: berdendang riang pada  saat mendapat nikmat dan suara tangisan pada saat terkena musibah  (mer­atapi kematian).”</em> <a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftn28">[28]</a></p>
<p>Ibnu Mas’ud <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, berkata : “Nyanyian adalah awal mula zina.” Makhul             , berkata : “Nyanyian menumbuhkan kemunafikan dalam hati. <a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftn29">[29]</a></p>
<p><strong>KAPAN PENERTAWA AKAN DITERTAWAKAN?</strong></p>
<p>Rosululloh <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, sebelum menyeru umat agar beribadah kepada Alloh <em>Ta’ala</em> dan tidak menyekutu­kan dengan lainnya, beliau diberi gelar <strong><em>al-Amin</em></strong> (<em>orang yang dapat dipercaya</em>). Tetapi setelah Nabi Muhammad<em> Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menyeru manusia agar beribadah kepada Alloh <em>Ta’ala</em> saja, gelar beliau <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> diganti dengan <strong><em>sya’ir majnun</em></strong> (<em>penyair gila</em>)<a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftn30">[30]</a> <strong><em>kahin</em> </strong>(dukun dan para normal)<a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftn31">[31]</a>.</p>
<p>Setiap utusan Alloh <em>Ta’ala</em> sebelum Rosululloh Muhammad <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> digelari dengan <strong><em>sahirun/majnun</em></strong> (tukang sihir atau gila)<a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftn32">[32]</a>.</p>
<p>Begitu pula pada zaman sekarang ketika dak­wah salafus sholih  menyebar di masyarakat, para da’inya dicela, orang berjenggot dan  bercelana di atas mata kaki dicaci dan dihina, padahal mereka  mengamalkan Sunnah Rosululloh <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> .</p>
<p>Alloh <em>Ta’ala</em> mengingatkan kaum muslimin, se­benarnya siapa pelaku pencela Sunnah Rosu­lulloh<em> Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>?</p>
<p><em>“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah me­reka yang menertawakan orang-orang yang beriman.”</em> (QS. al-Muthoffifin [83]: 29)</p>
<p>Mereka melirikkan mata ketika bertemu de­ngan orang yang beriman,  orang beriman dicap orang tersesat. Walaupun demikian kaum mus­limin  hendaknya bersabar dan tetap istiqomah di atas yang benar sebagaimana  istiqomahnya para utusan Alloh <em>Ta’ala</em> dan para sahabatnya. Kelak pada hari kiamat orang mukmin akan menertawakan mereka.</p>
<p>Firman-Nya :</p>
<p><em>“Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menerta­wakan orang-orang kafir.”</em> (QS.al-Muthofifin [83]: 34)</p>
<p><strong>KAPAN KITA BOLEH TERTAWA?</strong> <strong></strong></p>
<p><strong>1. </strong><strong>Saat hati gembira atau ada sebab lain yang dibenarkan syar’i.</strong></p>
<p>Tertawa yang diperbolehkan adalah tertawa yang tidak mengeraskan  suara seperti kebiasaan orang jahiliyah, akan tetapi cukup senyum dan  boleh menampakkan gigi seri</p>
<p><em>“Sesungguhnya aku dilarang meratap. Dilarang dua su­ara yang  jahat: mengeraskan suara ketika tertawa pada saat mendapatkan nikmat,  bermain-main, senda gurau dan terompet setan, dan dari suara jeritan  menangis pada saat kena musibah, menggaruk wajah, menyobek saku dan  teriakan setan.” </em><a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftn33">[33]</a></p>
<p><strong>2. </strong><strong>Saat memberi sesuatu kepada orang lain</strong></p>
<p>Anas bin Malik berkata <em>radhiyallahu ‘anhu</em>: <em>“Aku pernah  berjalan bersama Rosululloh              beliau mengenakan selendang  dari Najran yang pinggirnya kasar. Tiba-tiba seorang badui berpapasan  dengan beliau, lalu menarik selendang beliau dengan kuat. Ketika aku  memandang ke leher Rosululloh, ternyata pinggiran selendang telah  membekas di lehernya karena kuatnya tarikan. Orang itu kemudian berkata :  “Hai Muhammad, berikan aku sebagian dari harta Alloh Ta’ala yang ada  padamu. Rosululloh, berpaling kepadanya, lalu tertawa dan memberikan  suatu pemberian kepadanya.”</em> <a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftn34">[34]</a> <strong></strong></p>
<p><strong>3. </strong><strong>Saat bergembira ketika mendapatkan nikmat terutama nikmat iman dan Islam</strong></p>
<p>Anas bin Malik<em> radhiyallahu ‘anhu </em>berkata : “Ketika Rosululloh <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersama kami, tiba-tiba beliau terlena sesaat, kemudian beliau  mengangkat kepala sambil tersenyum. Kami bertanya : ‘Wahai Rosululloh,  apa yang membuat Anda tertawa?’ Beliau <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>menjawab : ‘Baru saja satu surat diturunkan kepadaku, yaitu surat al-Kautsar.” (<em>Shohih Muslim</em> 607) <strong></strong></p>
<p><strong>4. </strong><strong>Senyum bila menjumpai saudara yang beriman. </strong></p>
<p>Abu Dzar <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata : “Rosululloh <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda :</p>
<p><em>“Jangan meremehkan kebaikan, walaupun hanya sedikit semisal berwajah ceria (senyum) ketika bertemu dengan teman.” </em><a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftn35">[35]</a></p>
<p>Senyum seperti ini sungguh sangat baik, karena menunjukkan lapang  dada. Tetapi harus benar dalam penempatannya. Di antara senyuman yang  dianjurkan adalah senyumnya istri kepada suami, orang tua kepada anaknya  atau sebaliknya, tuan rumah kepada tamunya, dan kepada manusia secara  umum walaupun kepada orang yang hati kita kurang senang kepadanya.</p>
<p><strong>DO’A MENGHILANGKAN DOSA TERTAWA</strong></p>
<p>Terkadang manusia lalai atau lupa sehingga salah dalam berbicara  bahkan kadang tanpa disadari telah menyakitkan hati orang lain.  Sebaiknya orang yang suka tertawa atau bergurau segera istighfar dan  banyak berdo’a.</p>
<p>Abu Musa al-Asy’ari <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata : “Saya mendengar Rosululloh <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berdo’a :<em> “Ya Alloh, ampunilah dosaku, kebodohanku, kebo­rosanku dalam urusanku,  dan apa-apa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada diriku. Ya Alloh  am­punilah diriku, kesalahanku, kesengajaanku, kebodohanku, senda  gurauku dan semuanya yang ada padaku. Ya Alloh, ampunilah diriku dari  dosa yang aku lakukan, apa yang aku sembunyikan, apa yang aku tampakkan.  Engkau yang memajukan, Engkau yang mengundurkan, dan Engkau berkuasa  atas segala sesuatu.” </em><a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftn36">[36]</a><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Akhirnya semoga semua amal kita senantiasa sesuai dengan Sunnah Rosululloh<em> Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> , tangisan dan tawa yang diridhoi oleh Alloh <em>Ta’ala</em>.</p>
<p>Sumber: Majalah Al-Furqon, edisi: 12 thn ke 9 Rojab 1431.H, Juni/Juli 2010.M</p>
<p>Artikel: <a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/">ibnuabbaskendari.wordpress.com</a></p>
<p>Catatan Kaki:</p>
<hr size="1" /><a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftnref1">[1]</a> <em>Tafsir al-Quran al-Karim</em>, Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> 11/40</p>
<p><a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftnref2">[2]</a> Shohih Bukhori 4/199</p>
<p><a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftnref3">[3]</a> Shohih Muslim 1532</p>
<p><a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftnref4">[4]</a> HR. Bukhori 2/106</p>
<p><a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftnref5">[5]</a> HR. Muslim 3/39</p>
<p><a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftnref6">[6]</a> HR. Bukhori 2/101</p>
<p><a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftnref7">[7]</a> HR. Ahmad. Dishohihkan Syaikh al-Albani <em>rahimahullah </em>dalam <em>Silsilah Shohihah </em>5/665</p>
<p><a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftnref8">[8]</a> HR. Tirmidzi dishohihkan oleh al-Albani <em>rahimahullah</em> dalam al-Misykah 3828</p>
<p><a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftnref9">[9]</a> <em>ar-Riqqotu wal-Buka’</em> 1/83</p>
<p><a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftnref10">[10]</a> Dikeluarkan oleh Imam Lima Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani <em>rahimahullah </em>dalam <em>Shohih at-Targhib</em> 3/162</p>
<p><a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftnref11">[11]</a> <em>ar-Riqqotu wal-Buka’</em> 1/81</p>
<p><a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftnref12">[12]</a> HR. Bu­khori 1/168</p>
<p><a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftnref13">[13]</a> <em>Shohih Muslim</em> 5292</p>
<p><a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftnref14">[14]</a> HR. Muslim 3089</p>
<p><a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftnref15">[15]</a> <em>Shohih Mus­lim</em> 4390</p>
<p><a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftnref16">[16]</a> <em>Shohih Muslim</em> No.3089</p>
<p><a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftnref17">[17]</a> <em>ar-Riqqotu wal-Buka’ </em>1/183</p>
<p><a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftnref18">[18]</a> <em>ar-Riqqotu wal-Buka’</em> 1/153</p>
<p><a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftnref19">[19]</a> <em>Ar-Riqqotu wal-Buka’ </em>1/111</p>
<p><a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftnref20">[20]</a> <em>Shohih Bukhori</em> 8/217</p>
<p><a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftnref21">[21]</a> <em>Shohih Muslim</em> 4351</p>
<p><a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftnref22">[22]</a> HR. Tirmidzi 2/50. Dishohihkan Syaikh al-Alba­ni, <em>Silsilah Shohihah</em> 3/4</p>
<p><a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftnref23">[23]</a> Diriwayatkan oleh Said bin Man­shur dan ad-Daruquthni</p>
<p><a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftnref24">[24]</a> <em>Shohih Muslim</em> 3349</p>
<p><a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftnref25">[25]</a> Hadits hasan riwayat Abu Dawud 4/454, Baca <em>Shohihul jami’</em> 7136</p>
<p><a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftnref26">[26]</a> <em>Tafsir al-Qurthubi</em> 8/217</p>
<p><a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftnref27">[27]</a> <em>Badaai’ut Tafsir</em> oleh Ibnul Qoyyim al-Jauzi <em>rahimahullah </em>4/312</p>
<p><a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftnref28">[28]</a> HR. Tirmidzi 1005</p>
<p><a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftnref29">[29]</a> <em>Rowaiut Tafsir</em> oleh Ibnu Rajjab 2/320</p>
<p><a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftnref30">[30]</a> Baca surat al-Shofat [37] : 36,</p>
<p><a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftnref31">[31]</a> Baca surat ath-Thur [52] : 29</p>
<p><a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftnref32">[32]</a> Baca surat al-Dzariyat [51] : 52</p>
<p><a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftnref33">[33]</a> HR. Tirmidzi 4/226</p>
<p><a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftnref34">[34]</a> <em>Shohih Muslim</em> 1749</p>
<p><a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftnref35">[35]</a> HR. Muslim 8/37</p>
<p><a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/15/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/#_ftnref36">[36]</a> <em>Shohih Bukhori</em> 5/2350</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jel4jah.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jel4jah.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jel4jah.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jel4jah.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jel4jah.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jel4jah.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jel4jah.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jel4jah.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jel4jah.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jel4jah.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jel4jah.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jel4jah.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jel4jah.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jel4jah.wordpress.com/151/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jel4jah.wordpress.com&amp;blog=9561536&amp;post=151&amp;subd=jel4jah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jel4jah.wordpress.com/2010/07/23/menangis-dan-tertawa-menurut-sunnah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c6d361f940b6351a10fd921bbb8e3699?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">D' Tari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Mengusap Jilbab Ketika Berwudhu?</title>
		<link>http://jel4jah.wordpress.com/2010/07/23/bolehkah-mengusap-jilbab-ketika-berwudhu/</link>
		<comments>http://jel4jah.wordpress.com/2010/07/23/bolehkah-mengusap-jilbab-ketika-berwudhu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Jul 2010 01:56:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ummu naila</dc:creator>
				<category><![CDATA[fikih]]></category>
		<category><![CDATA[fikih wanita]]></category>
		<category><![CDATA[mengusap jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[tatacara wudhu]]></category>
		<category><![CDATA[wudhu]]></category>
		<category><![CDATA[wudhu wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jel4jah.wordpress.com/?p=148</guid>
		<description><![CDATA[Seringkali seorang muslimah berjilbab merasa kesulitan jika harus berwudhu di tempat umum yang terbuka. Inginnya berwudhu secara sempurna dengan membasuh anggota wudhu secara langsung. Akan tetapi jika hal itu dilakukan maka dikhawatirkan auratnya akan terlihat oleh orang lain yang bukan mahram. Karena anggota wudhu seorang wanita muslimah sebagian besarnya adalah aurat, kecuali wajah dan telapak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jel4jah.wordpress.com&amp;blog=9561536&amp;post=148&amp;subd=jel4jah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seringkali seorang muslimah berjilbab merasa kesulitan jika harus berwudhu di tempat umum yang terbuka. Inginnya berwudhu secara sempurna dengan membasuh anggota wudhu secara langsung. Akan tetapi jika hal itu dilakukan maka dikhawatirkan auratnya akan terlihat oleh orang lain yang bukan mahram. Karena anggota wudhu seorang wanita muslimah sebagian besarnya adalah aurat, kecuali wajah dan telapak tangan menurut pendapat yang rojih (terkuat). Lalu, bagaimana cara berwudhu jika kita berada pada kondisi yang demikian?     Saudariku, tidak perlu bingung dan mempersulit diri sendiri, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan kemudahan dan keringanan bagi hamba-Nya dalam syari’at Islam ini. Allah Ta’ala berfirman,  يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ  “…Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…” (QS. Al Baqarah: 185)</p>
<p><span id="more-148"></span></p>
<p>Pada bahasan kali ini, kita akan membahas mengenai hukum wudhunya seorang muslimah dengan tetap mengenakan kerudungnya. Semoga Allah Ta’ala memberikan kemudahan.  Seorang wanita boleh berwudhu dengan tetap memakai kerudungnya  Terkait wudhunya seorang muslimah dengan tetap memakai kerudung penutup kepala, maka diperbolehkan bagi seorang wanita untuk mengusap kerudungnya sebagai ganti dari mengusap kepala. Lalu apa dalil yang membolehkan hal tersebut? Dalilnya adalah bahwasanya Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha dulu pernah berwudhu dengan tetap memakai kerudungnya dan beliau mengusap kerudungnya. Ummu Salamah adalah istri dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka apakah Ummu Salamah akan melakukannya (mengusap kerudung) tanpa izin dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?[1] Apabila mengusap kerudung ketika berwudhu tidak diperbolehkan, tentunya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan melarang Ummu Salamah melakukannya.  Ibnu Mundzir rahimahullah dalam Al Mughni (1/132) mengatakan, “Adapun kain penutup kepala wanita (kerudung) maka boleh mengusapnya karena Ummu Salamah sering mengusap kerudungnya.”  Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah berwudhu dengan mengusap surban penutup kepala yang beliau kenakan. Maka hal ini dapat diqiyaskan dengan mengusap kerudung bagi wanita. Dari ‘Amru bin Umayyah radhiyallahu ‘anhu, dari bapaknya, beliau berkata,  رأيت النبي صلّى الله عليه وسلّم، يمسح على عمامته وخفَّيه  “Aku pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap bagian atas surbannya dan kedua khufnya.”[2]  Juga dari Bilal radhiyallahu ‘anhu,  أن النبي صلّى الله عليه وسلّم، مسح على الخفين والخمار  “Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap kedua khuf dan khimarnya.”[3]  Dalam kondisi apakah seorang wanita diperbolehkan untuk mengusap kerudungnya ketika berwudhu?  Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “(Pendapat) yang masyhur dari madzhab Imam Ahmad, bahwasanya seorang wanita mengusap kerudungnya jika menutupi hingga di bawah lehernya, karena mengusap semacam ini terdapat contoh dari sebagian istri-istri para sahabat radhiyallahu ‘anhunna. Bagaimana pun, jika hal tersebut (membuka kerudung) menyulitkan, baik karena udara yang amat dingin atau sulit untuk melepas kerudung dan memakainya lagi, maka bertoleransi dalam hal seperti ini tidaklah mengapa. Jika tidak, maka yang lebih utama adalah mengusap kepala secara langsung.”[4]  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “Adapun jika tidak ada kebutuhan akan hal tersebut (berwudhu dengan tetap memakai kerudung -pen) maka terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama (yaitu boleh berwudhu dengan tetap memakai kerudung ataukah harus melepas kerudung -pen).”[5]  Dengan demikian, jika membuka kerudung itu menyulitkan misalnya karena udara yang amat dingin, kerudung sulit untuk dilepas dan sulit untuk dipakai kembali, dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk membuka kerudung karena dikhawatirkan akan terlihat auratnya oleh orang lain, atau udzur yang lain, maka tidaklah mengapa untuk tidak membuka kerudung ketika berwudhu. Namun, jika memungkinkan untuk membuka kerudung, maka yang lebih utama adalah membukanya sehingga dapat mengusap kepalanya secara langsung.  Tata cara mengusap kerudung  Adapun mengusap kerudung sebagai pengganti mengusap kepala pada saat wudhu, menurut pendapat yang kuat ada dua cara[6], diqiyaskan dengan tata cara mengusap surban, yaitu:</p>
<p><!--more--></p>
<p>Pertama: Cukup mengusap kerudung yang sedang dipakai  Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh ‘Amr bin Umayyah radhiyallahu ‘anhu dari bapaknya,  “Aku pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap bagian atas surbannya dan kedua khufnya.”  Surban boleh diusap seluruhnya atau sebagian besarnya.[7] Karena kerudung bagi seorang wanita bisa diqiyaskan dengan surban bagi pria, maka cara mengusapnya pun sama, yaitu boleh mengusap seluruh bagian kerudung yang menutupi kepala atau boleh sebagiannya saja. Akan tetapi, jika dirasa sulit untuk mengusap seluruh kerudung, maka diperbolehkan mengusap sebagian kerudung saja yaitu bagian atasnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits dari ‘Amr bin Umayyah radhiyallahu ‘anhu di atas.  Kedua: Mengusap bagian depan kepala (ubun-ubun) kemudian mengusap kerudung  Dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu,  أن النبي صلّى الله عليه وسلّم، توضأ، ومسح بناصيته وعلى العمامة وعلى خفيه  “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berwudhu mengusap ubun-ubunnya, surbannya, dan juga khufnya.”[8]  Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu beliau berkata,  رأيتُ رسولَ اللّه صلى الله عليه وسلم يتوضأ وعليه عمَامة قطْرِيَّةٌ، فَأدْخَلَ يَدَه مِنْ تحت العمَامَة، فمسح مُقدَّمَ رأسه، ولم يَنْقُضِ العِمًامَة  “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu, sedang beliau memakai surban dari Qatar. Maka beliau menyelipkan tangannya dari bawah surban untuk menyapu kepala bagian depan, tanpa melepas surban itu.” (HR. Abu Dawud)  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Jika seorang wanita takut akan dingin dan yang semisalnya maka dia boleh mengusap kerudungnya. Karena sesungguhnya Ummu Salamah mengusap kerudungnya. Dan hendaknya mengusap kerudung disertai dengan mengusap sebagian rambutnya.”[9]  Maka diperbolehkan bagi seorang muslimah untuk mengusap kerudungnya saja atau mengusap kerudung beserta sebagian rambutnya. Namun, untuk berhati-hati hendaknya mengusap sebagian kecil dari rambut bagian depannya beserta kerudung, karena jumhur ulama tidak membolehkan hanya mengusap kerudung saja, sebagaimana diungkapkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari.[10]  Syarat-syarat mengusap kerudung  Para ulama berselisih pendapat tentang syarat-syarat mengusap penutup kepala (dalam konteks bahasan ini adalah kerudung). Sebagian ulama berpendapat bahwa syarat-syarat mengusap penutup kepala sama dengan syarat-syarat mengusap khuf (sepatu). Perlu diketahui bahwa di antara syarat-syarat mengusap khuf adalah khuf dipakai dalam keadaan suci dan batas waktu mengusap khuf adalah sehari semalam untuk orang yang mukim dan tiga hari tiga malam untuk musafir. Sebagian lagi berpendapat bahwa syarat-syarat mengusap kerudung tidak dapat diqiyaskan dengan persyaratan mengusap khuf. Mengapa demikian? Meskipun sama-sama mengusap, tetapi mengusap kerudung merupakan pengganti dari mengusap kepala yang mana kepala merupakan anggota wudhu yang cukup dengan diusap, sedangkan mengusap khuf merupakan pengganti dari mengusap kaki yang mana kaki merupakan anggota wudhu yang dibasuh/dicuci.  Oleh karena itu tidaklah disyaratkan untuk memakai penutup kepala dalam keadaan suci dan tidak ada batasan waktu, dan inilah pendapat yang lebih kuat, in syaa Allah. Mereka berpendapat karena dalam hal ini tidak ada ketetapan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai batasan waktunya. Kapan pun seorang wanita muslimah memakai kerudung dan berkepentingan untuk mengusapnya ketika berwudhu maka ia boleh mengusapnya, dan bilamana ia bisa melepas kerudungnya ketika berwudhu maka ia mengusap kepalanya, dan tidak ada batas waktu untuk hal tersebut. Namun, untuk lebih berhati-hati hendaknya kita tidak memakai penutup kepala kecuali dalam keadaan suci.[11]Wallahu a’lamu.</p>
<p>Penulis: Ummu Isma’il  Muroja’ah: M. A. Tuasikal  Artikel www.remajaislam.com     [1] Lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah (21/186), Maktabah Syamilah  [2] HR. Al-Bukhari dalam Fathul Bari (1/308 no. 205) dan lainnya.  [3] HR. Muslim (1/231) no. 275  [4]Majmu’ Fatawa wa Rasaail Ibnu ‘Utsaimin (11/120), Maktabah Syamilah  [5]Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah (21/218)  [6]Thohurul Muslimi fii Dhouil Kitabi was SunnatiMafhuumun wa Fadhoilu wa Adabun wa Ahkamun hal. 35 &amp; 52, Syaikh Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani, Maktabah Syamilah  [7] Lihat Syarh Al-‘Umdah hal. 276 dan Majmu’ Fatawa wa Rasaail Ibnu ‘Utsaimin (11/119)  [8] HR. Muslim (1/230) no. 274  [9]Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah (21/218), Maktabah Syamilah  [10] Lihat Fiqhus Sunnah lin Nisaa, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim  [11]Majmu’ Fatawa wa Rasaail Ibnu ‘Utsaimin (11/119)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jel4jah.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jel4jah.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jel4jah.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jel4jah.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jel4jah.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jel4jah.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jel4jah.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jel4jah.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jel4jah.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jel4jah.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jel4jah.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jel4jah.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jel4jah.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jel4jah.wordpress.com/148/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jel4jah.wordpress.com&amp;blog=9561536&amp;post=148&amp;subd=jel4jah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jel4jah.wordpress.com/2010/07/23/bolehkah-mengusap-jilbab-ketika-berwudhu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c6d361f940b6351a10fd921bbb8e3699?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">D' Tari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Wanita Menambahkan Namanya dengan Nama Suami ?</title>
		<link>http://jel4jah.wordpress.com/2010/07/21/bolehkah-wanita-menambahkan-namanya-dengan-nama-suami/</link>
		<comments>http://jel4jah.wordpress.com/2010/07/21/bolehkah-wanita-menambahkan-namanya-dengan-nama-suami/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jul 2010 05:13:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ummu naila</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[kaidah nama]]></category>
		<category><![CDATA[nama islami]]></category>
		<category><![CDATA[nama kunyah]]></category>
		<category><![CDATA[nama muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[nama wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jel4jah.wordpress.com/?p=143</guid>
		<description><![CDATA[Setelah menikah, terkadang seorang wanita mengganti namanya belakangnya atau nama keluarganya dengan nama suaminya. Hal ini juga banyak dilakukan di negara-negara barat, seperti istrinya Bill Clinton: Hillary Clinton yang nama aslinya Hillary Diane Rodham; istrinya Barrack Obama: Michelle Obama yang nama aslinya Michelle LaVaughn Robinson, dan lain-lain. Lalu bagaimanakah pendapat para ulama tentang masalah ini? [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jel4jah.wordpress.com&amp;blog=9561536&amp;post=143&amp;subd=jel4jah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah menikah, terkadang seorang wanita mengganti namanya belakangnya atau nama keluarganya dengan nama suaminya. Hal ini juga banyak dilakukan di negara-negara barat, seperti istrinya Bill Clinton: Hillary Clinton yang nama aslinya Hillary Diane Rodham; istrinya Barrack Obama: Michelle Obama yang nama aslinya Michelle LaVaughn Robinson, dan lain-lain.</p>
<p>Lalu bagaimanakah pendapat para ulama tentang masalah ini?</p>
<p>Fatwa Lajnah Da’imah:</p>
<p>Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah lil Buhutsil Ilmiyyah wal Ifta’ juz 20 halaman 379.</p>
<p>Pertanyaan :<a href="http://jel4jah.files.wordpress.com/2010/07/fotogalerie_foto_2924_foto_detail-croatia2004_pict4468.jpeg"><img class="alignright size-medium wp-image-291" title="fotogalerie_foto_2924_foto_detail.croatia2004_pict4468" src="http://jel4jah.files.wordpress.com/2010/07/fotogalerie_foto_2924_foto_detail-croatia2004_pict4468.jpeg?w=300&#038;h=201" alt="" width="300" height="201" /></a></p>
<p>Telah umum di sebagian negara, seorang wanita muslimah setelah menikah menisbatkan namanya dengan nama suaminya atau laqobnya. Misalnya: Zainab menikah dengan Zaid, Apakah boleh baginya menuliskan namanya : Zainab Zaid? Ataukah hal tersebut merupakan budaya barat yang harus dijauhi dan berhati-hati dengannya?</p>
<p><span id="more-143"></span></p>
<p>Jawab :</p>
<p>Tidak boleh seseorang menisbatkan dirinya kepada selain ayahnya.</p>
<p>Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:</p>
<p>ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ</p>
<p>“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan memakai nama bapak-bapak mereka, itulah yang lebih adil di sisi Allah.” [QS al-Ahzab: 5]</p>
<p>Sungguh telah datang ancaman yang keras bagi orang yang menisbatkan kepada selain ayahnya. Maka dari itu tidak boleh seorang wanita menisbatkan dirinya kepada suaminya sebagaimana adat yang berlaku pada kaum kuffar dan yang menyerupai mereka dari kaum muslimin.</p>
<p>وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم</p>
<p>al-Lajnah ad-Da’imah lil Buhutsil Ilmiyyah wal Ifta’</p>
<p>Ketua : Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz</p>
<p>Wakil : Abdul Aziz Alu Syaikh</p>
<p>Anggota :</p>
<p>Abdulloh bin ghudayyan</p>
<p>Sholih al-Fauzan</p>
<p>Bakr Abu Zaid</p>
<p>فتاوى اللجنة الدائمةالسؤال الثالث من الفتوى رقم ( 18147 )<br />
س3: قد شاع في بعض البلدان نسبة المرأة المسلمة بعد الزواج إلى اسم زوجها أو لقبه، فمثلا تزوجت زينب زيدا، فهل يجوز لها أن تكتب: (زينب زيد)، أم هي من الحضارة الغربية التي يجب اجتنابها والحذر منها؟<br />
ج3: لا يجوز نسبة الإنسان إلى غير أبيه، قال تعالى: { ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ } (1) وقد جاء الوعيد الشديد على من انتسب إلى غير أبيه. وعلى هذا فلا يجوز نسبة المرأة إلى زوجها كما جرت العادة عند الكفار، ومن تشبه بهم من المسلمين<br />
وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.<br />
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء<br />
عضو … عضو … عضو … نائب الرئيس … الرئيس<br />
بكر أبو زيد … صالح الفوزان … عبد الله بن غديان … عبد العزيز آل الشيخ … عبد العزيز بن عبد الله بن باز</p>
<p>***</p>
<p>Fatwa Syaikh Sholih al-Fauzan hafidzohulloh</p>
<p>Pertanyaan :</p>
<p>Apakah boleh seorang wanita setelah menikah melepaskan nama keluarganya dan mengambil nama suaminya sebagaimana orang barat?</p>
<p>Jawab :</p>
<p>Hal itu tidak diperbolehkan, bernasab kepada selain ayahnya tidak boleh, haram dalam islam.</p>
<p>Haram dalam islam seorang muslim bernasab kepada selain ayahnya baik laki-laki atau wanita. Dan baginya ancaman yang keras dan laknat bagi yang melakukannya yaitu yang bernasab kepada selain ayahnya hal itu tidak boleh selamanya.</p>
<p>Dari kaset Syarh Mandhumatul Adab Syaikh al-Fauzan Hafidhohulloh</p>
<p>السؤالهل يجوز للمرأة بعد الزواج ان تتنازل عن اسمها العائلي وتاخذ اسم زوجها كما هو الحال في الغرب؟الجواب</p>
<p>هذا لا يجوز الانتساب الى غير الاب لا يجوز حرام في الاسلام<br />
حرام في الاسلام ان المسلم ينتسب الى غير ابيه سواءا كان رجلا ام امرأة وهذا عليه وعيد شديد وملعون من فعله الذي ينتسب الى غير مواليه او ينتسب الى غير ابيه هذا لا يجوز ابدا</p>
<p>من شريط شرح منظومة الآداب للشيخ الفوزان حفظه الله</p>
<p>***</p>
<p>Fatwa Syaikh Muhammad Ali Farkus hafidzohulloh</p>
<p>Pertanyaan :</p>
<p>Apakah wajib secara syar’i bagi seorang wanita menyertakan nama suaminya atau sebisa mungkin tetap menggunakan nama aslinya?</p>
<p>Jawab :</p>
<p>:الحمد لله ربِّ العالمين، والصلاة والسلام على من أرسله الله رحمة للعالمين، وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، أمَّا بعد</p>
<p>Tidak boleh dari segi nasab seseorang bernasab kepada selain nasabnya yang asli atau mengaku keturunan dari yang bukan ayahnya sendiri. Sungguh islam telah mengharamkan seorang ayah mengingkari nasab anaknya tanpa sebab yang benar secara ijma’.</p>
<p>Alloh berfirman :</p>
<p>ادْعُوهُمْ لآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِندَ اللهِ فَإِن لَّمْ تَعْلَمُوا آبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُم بِهِ وَلَكِن مَّا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا</p>
<p>Dan sabda nabi shollallohu alaihi wa sallam :</p>
<p>مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ أَوْ انْتَمَى إِلَى غَيْرِ مَوَالِيهِ، فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ، لاَ يَقْبَلُ اللهُ مِنْهُ يَوْمَ القِيَامَةِ صَرْفًا وَلاَ عَدْلاً</p>
<p>“Barang siapa yang mengaku sebagai anak kepada selain bapaknya atau menisbatkan dirinya kepada yang bukan walinya, maka baginya laknat Alloh, malaikat, dan segenap manusia. Pada hari Kiamat nanti, Alloh tidak akan menerima darinya ibadah yang wajib maupun yang sunnah”</p>
<p>Dikeluarkan oleh Muslim dalam al-Hajj (3327) dan Tirmidzi dalam al-Wala’ wal Habbah bab Ma ja’a fiman tawalla ghoiro mawalihi (2127), Ahmad (616) dari hadits Ali bin Abi Tholib rodhiyallohu anhu.</p>
<p>Dan dalam riwayat yang lain :</p>
<p>مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ غَيْرُ أَبِيهِ، فَالجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ</p>
<p>“Barang siapa bernasab kepada selain ayahnya dan ia mengetahui bahwa ia bukan ayahnya, maka surga haram baginya.”</p>
<p>Dikeluarkan oleh Bukhori dalam al-Maghozi bab : Ghozwatuth Tho`if (3982), Muslim dalam “al-Iman” (220), Abu Dawud dalam “al-Adab” (bab Bab Seseorang mengaku keturunan dari yang bukan bapaknya (5113) dan Ibnu Majah dalam (al-Hudud) bab : Bab orang yang mengaku keturunan dari yang bukan bapaknya atau berwali kepada selain walinya (2610) dan Ibnu Hibban (415) dan Darimi (2453) dan Ahmad (1500) dan hadits Sa’ad bin Abi Waqqosh dan Abu Bakroh rodhiyallohu anhuma.</p>
<p>Maka tidak boleh dikatakan : Fulanah bintu Fulan sedangkan ia bukan anaknya, tetapi boleh dikatakan : Fulanah zaujatu Fulan (Fulanah istrinya si Fulan) atau tanggungannya si Fulan atau wakilnya Fulan. Dan jika tidak disebutkan idhofah-idhofah ini -dan hal ini sudah diketahui &amp; biasa- maka sesungguhnya apa-apa yang berlaku dalam adat, itulah yang dipertimbangkan dalam syari’at-.</p>
<p>والعلمُ عند الله تعالى، وآخر دعوانا أنِ الحمد لله ربِّ العالمين، وصلى الله على نبيّنا محمّد وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، وسلّم تسليمًا</p>
<p>Makkah, 4 Syawwal 1427 H</p>
<p>Bertepatan dengan 16 Oktober 2006 M</p>
<p>***</p>
<p>السؤال: هل الواجبُ على المرأةِ حملُ لقبِ زوجِها شرعًا أم بإمكانها البقاء على لقبها الأصليِّ ؟الجوابالحمد لله ربِّ العالمين، والصلاة والسلام على من أرسله الله رحمة للعالمين، وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، أمَّا بعد:<br />
فلا يجوزُ من حيث النسبُ أن يُنْسَبَ المرءُ إلى غير نسبه الأصلي أو يُدَّعَى إلى غير أبيه، فقد حَرَّم الإسلام على الأب أن يُنْكِرَ نَسَبَ ولدِه بغير حقٍّ إجماعًا، لقوله تعالى: ﴿ادْعُوهُمْ لآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِندَ اللهِ فَإِن لَّمْ تَعْلَمُوا آبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُم بِهِ وَلَكِن مَّا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا﴾ [الأحزاب: 5]، ولقوله صلى الله عليه وآله وسلم: «مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ أَوْ انْتَمَى إِلَى غَيْرِ مَوَالِيهِ، فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ، لاَ يَقْبَلُ اللهُ مِنْهُ يَوْمَ القِيَامَةِ صَرْفًا وَلاَ عَدْلاً»(١- أخرجه مسلم في «الحج» (3327)، والترمذي في «الولاء والهبة» باب: باب ما جاء فيمن تولى غير مواليه (2127)، وأحمد (616)، من حديث علي بن أبي طالب رضي الله عنه، وفي رواية أخرى: «مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ غَيْرُ أَبِيهِ، فَالجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ»(٢- أخرجه البخاري في «المغازي» باب: غزوة الطائف (3982)، ومسلم في «الإيمان» (220)، وأبو داود في «الأدب» باب: باب في الرجل ينتمي إلى غير مواليه (5113)، وابن ماجه في «الحدود» باب: باب من ادعى إلى غير أبيه أو تولى غير مواليه (2610)، وابن حبان (415)، والدارمي (2453)، وأحمد (1500)، من حديث سعد بن أبي وقاص وأبي بكرة رضي الله عنهما)</p>
<p>، فإذا كان لا يجوز أن يقال: فلانة بنت فلان وهي ليست ابنته، ولكن يجوز أن يقال: فلانة زوجة فلان أو مكفولة فلان أو وكيلة عن فلان، فإذا لم تذكر هذه الإضافات -وكانت معروفة معهودة- «فإنّ ما يجري بالعرف يجري بالشرع».<br />
والعلمُ عند الله تعالى، وآخر دعوانا أنِ الحمد لله ربِّ العالمين، وصلى الله على نبيّنا محمّد وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، وسلّم تسليمًا.</p>
<p>مكة في: 4 شـوال 1427ﻫ</p>
<p>الموافق ﻟ: 26 أكتوبر 2006م</p>
<p>***</p>
<p>Lalu, Bagaimana yang disyariatkan?</p>
<p>Yang disunnahkan adalah menggunakan nama kunyah (baca: kun-yah), sebagaimana telah tsabit dalam banyak hadits, dan ini jelas lebih utama daripada menggunakan laqob/julukan-julukan yang berasal dari adat barat ataupun ‘ajam. Sebagaimana yang dikatakan oleh syaikh al-Albani rohimahulloh dalam Silsilah al-Ahaadits ash-Shohihah no. 132 :</p>
<p>Rosululloh shollallohu alahi wa sallam bersabda :</p>
<p>اكْتَنِي [بابنك عبدالله – يعني : ابن الزبير] أَنْتِ أُمَّ عَبْدِ اللَّهِ</p>
<p>“Berkun-yahlah [dengan anakmu –yakni: Ibnu Zubair] kamu adalah Ummu Abdillah” [Lihat ash-Shohihah no. 132]</p>
<p>Dikeluarkan oleh al-Imam Ahmad : haddatsana Abdurrozzaq (bin Hammam, pent), haddatsana Ma’mar (bin Rosyid, pent) dari Hisyam (bin ‘Urwah, pent), dari bapaknya (Urwah bin Zubair, pent) : bahwa ‘Aisyah berkata kepada Nabi shollallohu alaihi wa sallam :</p>
<p>يَا رَسُولَ اللَّهِ كُلُّ نِسَائِكَ لَهَا كُنْيَةٌ غَيْرِي فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  فذكره بدون الزيادة</p>
<p>“Wahai Rasulullah, semua istrimu selain aku memiliki kun-yah”, lalu Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda kepadanya : (lalu beliau menyebutkan hadits ini tanpa tambahan).</p>
<p>Berkata (Urwah, pent) : Ketika itu ‘Aisyah disebut sebagai Ummu Abdillah sampai ia meninggal dan ia tidak pernah melahirkan sama sekali.</p>
<p>Berdasarkan hadits ini, disyariatkan berkun-yah walaupun seseorang tidak memiliki anak, ini merupakan adab Islami yang tidak ada bandingannya pada ummat lainnya sejauh yang aku ketahui. Maka sepatutnya bagi kaum muslimin untuk berpegang teguh padanya, baik laki-laki maupun wanita, dan meninggalkan apa yang masuk sedkit demi sedikit kepada mereka dari adat-adat kaum ‘Ajam seperti al-Biik (البيك), al-Afnadi (الأفندي), al-Basya (الباشا), dan yang semisal itu seperti al-Misyu (المسيو), as-Sayyid (السيد), as-Sayyidah (السيدة), dan al-Anisah (الآنسة), ketika semua itu masuk ke dalam Islam. Dan para fuqoha’ al-Hanafiyyah telah menegaskan tentang dibencinya al-Afnadi (الأفندي) karena di dalamnya terdapat tazkiyah, sebagaimana dalam kitab ‘Hasyiyah Ibnu Abidin’. Dan Sayyid hanya saja dimutlaqkan atas orang yang memiliki kepemimpinan atau jabatan, dan pada masalah ini terdapat hadits (قوموا إلى سيدكم) “Berdirilah kepada (tolonglah, pent) sayyid kalian”, dan telah berlalu pada nomor 66 (dalam ash-Shohihah, pent) dan tidak dimutlakkan atas semua orang karena ini juga masuk pada bentuk tazkiyah.</p>
<p>Faidah : adapun hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah rodhiyallohu anha bahwa bahwa ia mengalami keguguran dari Nabi shollallohu alaihi wa sallam, lalu ia menamainya (janin yang gugur tersebut, pent) Abdulloh, dan ia berkun-yah dengannya, maka hadits tersebut bathil secara sanad dan matan. Dan keterangannya ada pada adh-Dho’ifah jilid ke-9. -Selesai perkataan syaikh al-Albani rohimahulloh-</p>
<p>Maroji‘:</p>
<p>alifta.net – Fatwa Lajnah Da’imah</p>
<p>Sahab.net – Fatwa Syaikh Sholeh Fauzan</p>
<p>Ferkous.com – Fatwa Syaikh Farkus</p>
<p>Tholib.wordpress.com – Perkataan Syaikh al-Albani</p>
<p>Sumber: http://ummushilah.0fees.net/wordpress/?p=1336</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jel4jah.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jel4jah.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jel4jah.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jel4jah.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jel4jah.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jel4jah.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jel4jah.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jel4jah.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jel4jah.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jel4jah.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jel4jah.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jel4jah.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jel4jah.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jel4jah.wordpress.com/143/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jel4jah.wordpress.com&amp;blog=9561536&amp;post=143&amp;subd=jel4jah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jel4jah.wordpress.com/2010/07/21/bolehkah-wanita-menambahkan-namanya-dengan-nama-suami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c6d361f940b6351a10fd921bbb8e3699?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">D' Tari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jel4jah.files.wordpress.com/2010/07/fotogalerie_foto_2924_foto_detail-croatia2004_pict4468.jpeg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">fotogalerie_foto_2924_foto_detail.croatia2004_pict4468</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Benarkah arah kiblat kita berubah?</title>
		<link>http://jel4jah.wordpress.com/2010/07/21/benarkah-arah-kiblat-kita-berubah/</link>
		<comments>http://jel4jah.wordpress.com/2010/07/21/benarkah-arah-kiblat-kita-berubah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jul 2010 05:08:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ummu naila</dc:creator>
				<category><![CDATA[fikih]]></category>
		<category><![CDATA[arah kiblat]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kiblat]]></category>
		<category><![CDATA[kiblat shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jel4jah.wordpress.com/?p=107</guid>
		<description><![CDATA[Muhammad Abduh Tuasikal Permasalahan ini masih menjadi polemik di tengah-tengah kaum muslimin sampai saat ini. Ada yang berusaha mencari arah kiblat yang harus persis menghadap ke Ka’bah, harus bergeser sedikit ke utara. Ada pula yang berpendapat cukup menghadap arahnya saja yaitu arah barat dan shalatnya tetap sah. Semoga penjelasan kali ini dapat menyelesaikan polemik yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jel4jah.wordpress.com&amp;blog=9561536&amp;post=107&amp;subd=jel4jah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Permasalahan ini masih menjadi polemik di tengah-tengah kaum muslimin sampai saat ini. Ada yang berusaha mencari arah kiblat yang harus persis menghadap ke Ka’bah, harus bergeser sedikit ke utara. Ada pula yang berpendapat cukup menghadap arahnya saja yaitu arah barat dan shalatnya tetap sah.</p>
<p>Semoga penjelasan kali ini dapat menyelesaikan polemik yang ada. Semoga bermanfaat.</p>
<p><a href="http://jel4jah.files.wordpress.com/2010/07/kabah.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-289" title="ka'bah" src="http://jel4jah.files.wordpress.com/2010/07/kabah.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><span id="more-107"></span></p>
<p>Menghadap Kiblat Merupakan Syarat Sah Shalat</p>
<p>Syarat sah shalat yang harus dilakukan sebelum melaksanakannya di antaranya adalah menghadap kiblat. (Lihat At Tadzhib fi Adillati Matnil Ghoyat wa At Taqrib – Matni Abi Syuja’, hal. 52, Darul Fikri dan Al Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitab Al ‘Aziz, hal. 82, Dar Ibnu Rojab)</p>
<p>Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,</p>
<p>فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ</p>
<p>“Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (QS. Al Baqarah: 144)</p>
<p>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda kepada orang jelek shalat (musi’ salatahu),</p>
<p>إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَأَسْبِغِ الْوُضُوءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ فَكَبِّرْ</p>
<p>“Jika engkau hendak mengerjakan shalat, maka sempurnakanlah wudhumu lalu menghadaplah ke kiblat, kemudian bertakbirlah.” (HR. Bukhari no. 6251 dan Muslim no. 912)</p>
<p>An Nawawi dalam Syarh Muslim mengatakan, “Hadits ini terdapat faedah yang sangat banyak dan dari hadits ini diketahui pertama kali tentang hal-hal tadi adalah wajib shalat dan bukanlah sunnah.” Beliau juga mengatakan, “Dalam hadits ini menunjukkan tentang wajibnya thoharoh (bersuci), menghadap kiblat, takbirotul ihrom dan membaca Al Fatihah.” (Lihat Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, 2/132)</p>
<p>Yang Mendapat Udzur (Keringanan) Tidak Menghadap Kiblat</p>
<p>Dalam Matan Al Ghoyat wat Taqrib (kitab Fiqih Syafi’iyyah), Abu Syuja’ rahimahullah mengatakan, “Ada dua keadaan seseorang boleh tidak menghadap kiblat : [1] Ketika keadaan sangat takut dan [2] Ketika shalat sunnah di atas kendaraan ketika safar.”</p>
<p>Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,</p>
<p>فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالًا أَوْ رُكْبَانًا</p>
<p>“Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan.” (QS. Al Baqarah [2] : 239). Yaitu jika seseorang tidak mampu shalat dengan sempurna karena takut dan semacamnya, maka shalatlah dengan cara yang mudah bagi kalian, bisa dengan berjalan atau dengan menaiki kendaraan.</p>
<p>Ibnu Umar mengatakan,</p>
<p>فَإِنْ كَانَ خَوْفٌ هُوَ أَشَدَّ مِنْ ذَلِكَ صَلَّوْا رِجَالاً ، قِيَامًا عَلَى أَقْدَامِهِمْ ، أَوْ رُكْبَانًا مُسْتَقْبِلِى الْقِبْلَةِ أَوْ غَيْرَ مُسْتَقْبِلِيهَا</p>
<p>“Apabila rasa takut lebih dari ini, maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan dengan menghadap kiblat atau pun tidak.”</p>
<p>Malik berkata (bahwa) Nafi’ berkata,</p>
<p>لاَ أُرَى عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ ذَكَرَ ذَلِكَ إِلاَّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم</p>
<p>“Aku tidaklah menilai Abdullah bin Umar (yaitu Ibnu Umar, pen) mengatakan seperti ini kecuali dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 4535)</p>
<p>Ibnu Umar berkata,</p>
<p>وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يُسَبِّحُ عَلَى الرَّاحِلَةِ قِبَلَ أَىِّ وَجْهٍ تَوَجَّهَ ، وَيُوتِرُ عَلَيْهَا ، غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يُصَلِّى عَلَيْهَا الْمَكْتُوبَةَ</p>
<p>“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengerjakan shalat sunnah di atas kendaraan dengan menghadap arah yang dituju kendaraan dan juga beliau melaksanakan witir di atasnya. Dan beliau tidak pernah mengerjakan shalat wajib di atas kendaraan.” (HR. Bukhari no. 1098 dan Muslim no. 1652) (Lihat At Tadzhib fi Adillati Matnil Ghoyat wa At Taqrib – Matni Abi Syuja’, hal. 53 dan Al Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitab Al ‘Aziz, hal. 82-83, Dar Ibnu Rojab)</p>
<p>Cara Menghadap Kiblat Ketika Melihat Ka’bah Secara Langsung</p>
<p>Para ulama sepakat bahwa siapa saja yang mampu melihat ka’bah secara langsung, wajib baginya menghadap persis ke Ka’bah dan tidak boleh dia berijtihad untuk menghadap kea rah lain.</p>
<p>Ibnu Qudamah Al Maqdisiy dalam Al Mughni mengatakan, “Jika seseorang langsung melihat ka’bah, wajib baginya menghadap langsung ke ka’bah. Kami tidak mengetahui adanya perselisihan mengenai hal ini. Ibnu ‘Aqil mengatakan, ‘Jika melenceng sebagian dari yang namanya Ka’bah, shalatnya tidak sah’.” (Lihat Al Mughni, 2/272)</p>
<p>Lalu Bagaimanakah Jika Kita Tidak Melihat Ka’bah Secara Langsung?</p>
<p>Jika melihat ka’bah secara langsung, para ulama sepakat untuk menghadap persis ke ka’bah dan tidak boleh melenceng. Lalu bagaimana dengan orang yang tidak melihat ka’bah seperti kaum muslimin yang berada di India, Malaysia, dan di negeri kita sendiri (Indonesia)?</p>
<p>Dalam Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah dikatakan bahwa para ulama berselisih pendapat bagi orang yang tidak melihat ka’bah secara langsung karena tempat yang jauh dari Ka’bah. Yang mereka perselisihkan adalah apakah orang yang tidak melihat ka’bah secara langsung wajib baginya menghadap langsung ke ka’bah ataukah menghadap ke arahnya saja. (Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah, 2/11816)</p>
<p>Pendapat ulama Hanafiyah, pendapat yang terkuat pada madzhab Malikiyah dan Hanabilah, juga hal ini adalah pendapat Imam Asy Syafi’i (sebagaimana dinukil dari Al Muzanniy), mereka mengatakan bahwa bagi orang yang berada jauh dari Makkah, cukup baginya menghadap ke arah ka’bah (tidak mesti persis), jadi cukup menurut persangkaan kuatnya di situ arah kiblat, maka dia menghadap ke arah tersebut (dan tidak mesti persis).</p>
<p>Dalil dari pendapat pertama ini adalah</p>
<p>وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ</p>
<p>“Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (QS. Al Baqarah: 144). Menurut pendapat pertama ini, mereka menafsirkan “syatro” dalam ayat tersebut dengan arah yaitu arah ka’bah. Jadi bukan yang dimaksud persis menghadap ke ka’bah namun cukup menghadap arahnya.</p>
<p>Para ulama tersebut juga berdalil dengan hadits,</p>
<p>مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ قِبْلَةٌ</p>
<p>“Arah antara timur dan barat adalah qiblat.” (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi. Tirmidzi mengatakan hadits ini shohih. Dikatakan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholi dan Misykatul Mashobih bahwa hadits ini shohih). Jadi maksudnya, bagi siapa saja yang tidak melihat ka’bah secara langsung maka dia cukup menghadap ke arahnya saja dan kalau di Indonesia berarti antara utara dan selatan adalah kiblat. Jadi cukup dia menghadap ke arahnya saja (yaitu cukup ke barat) dan tidak mengapa melenceng  atau tidak persis ke arah ka’bah.</p>
<p>Sedangkan pendapat lainnya mengatakan bahwa yang diwajibkan adalah menghadap ke arah ka’bah persis dan tidak cukup menghadap ke arahnya saja. Jadi kalau arah ka’bah misalnya adalah di arah barat dan bergeser 10 derajat ke utara, maka kita harus menghadap ke arah tersebut. Inilah pendapat yang dipilih oleh Syafi’iyah, Ibnul Qashshor dari Malikiyah, salah satu pendapat Imam Ahmad, dan pendapat Abul Khottob dari Hanabilah.</p>
<p>Menurut pendapat kedua ini, mereka mengatakan bahwa yang dimaksud ayat:</p>
<p>وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ</p>
<p>“Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke ka’bah.” (QS. Al Baqarah: 144), yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah ka’bah. Jadi seseorang harus menghadap ke ka’bah persis. Dan tafsiran mereka ini dikuatkan dengan hadits muttafaqun ‘alaih bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat dua raka’at di depan ka’bah, lalu beliau bersabda,</p>
<p>هَذِهِ الْقِبْلَةُ</p>
<p>“Inilah arah kiblat.” (HR. Bukhari no. 398 dan Muslim no. 1330). Karena dalam hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa inilah kiblat. Dan ini menunjukkan pembatasan, sehingga tidak boleh menghadap ke arah lainnya. Maka dari itu, menurut pendapat kedua ini mereka katakan bahwa yang dimaksud dengan surat Al Baqarah di atas adalah perintah menghadap persis ke arah ka’bah. Bahkan menurut ulama-ulama tersebut, yang namanya perintah menghadap ke arah kiblat berarti adalah menghadap ke arah kiblat persis dan ini sesuai dengan kaedah bahasa Arab. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah, 2/1119 dan Nailul Author, 3/253)</p>
<p>Jadi, intinya jika seseorang tidak melihat ka’bah secara langsung, di sini ada perselisihan pendapat di antara ulama. Padahal jika kita lihat dalil masing-masing kubu adalah sama. Namun, pemahamannya saja yang berbeda karena berargumen dengan hadits yang mereka pegang.</p>
<p>Pendapat yang Lebih Kuat</p>
<p>Dari dua pendapat di atas, kami lebih cenderung pada pendapat pertama yaitu pendapat jumhur (mayoritas ulama) yang mengatakan bahwa bagi yang tidak melihat ka’bah secara langsung, maka cukup bagi mereka untuk menghadap arahnya saja. Jadi kalau di negeri kita, cukup menghadap arah di antara utara dan selatan. Jadi . Sedangkan pendapat kedua yang dipilih oleh Syafi’iyah, sebenarnya hadits yang mereka gunakan adalah hadits yang bisa dikompromikan dengan hadits yang digunakan oleh kelompok pertama. Yaitu maksudnya,  hadits yang digunakan pendapat kedua adalah untuk orang yang melihat ka’bah secara langsung sehingga dia harus menghadap persis ke ka’bah.</p>
<p>Sehingga dapat kita katakan:</p>
<p>1. Jika kita melihat ka’bah secara langsung, maka kita punya kewajiban untuk menghadap ke arah ka’bah persis, tanpa boleh melenceng.<br />
2. Namun jika kita berada jauh dari Ka’bah, maka kita cukup menghadap ke arahnya saja, yaitu di negeri kita adalah arah antara utara dan selatan.</p>
<p>Sekarang masalahnya, apakah boleh kita –yang berada di Indonesia- menghadap ke barat lalu bergeser sedikit ke arah utara? Jawabannya, selama itu tidak menyusahkan diri, maka itu tidak mengapa. Karena arah tadi juga arah kiblat. Bahkan kami katakan agar terlepas dari perselisihan ulama, cara tersebut mungkin lebih baik selama kita mampu melakukannya dan tidak menyusah-nyusahkan diri.</p>
<p>Namun jika merasa kesulitan mengubah posisi kiblat, karena masjid agak terlalu jauh untuk dimiringkan dan sangat sulit bahkan kondisi masjid malah menjadi sempit, maka selama itu masih antara arah utara dan selatan, maka posisi kiblat tersebut dianggap sah. Akan tetapi, jika mungkin kita mampu mengubah arah kiblat seperti pada masjid yang baru dibangun atau untuk tempat shalat kita di rumah, selama itu tidak ada kesulitan, maka lebih utama kita merubahnya.</p>
<p>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا ، وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَىْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ</p>
<p>“Sesungguhnya agama itu mudah. Tidak ada seorangpun yang membebani dirinya di luar kemampuannya kecuali dia akan dikalahkan. Hendaklah kalian melakukan amal dengan sempurna (tanpa berlebihan dan menganggap remeh). Jika tidak mampu berbuat yang sempurna (ideal) maka lakukanlah yang mendekatinya. Perhatikanlah ada pahala di balik amal yang selalu kontinu. Lakukanlah ibadah (secara kontinu) di waktu pagi dan waktu setelah matahari tergelincir serta beberapa waktu di akhir malam.” (HR. Bukhari no. 39. Lihat penjelasan hadits ini di Fathul Bari)</p>
<p>Jika ada yang mengatakan, “Kami tetap ngotot, untuk meluruskan arah kiblat walaupun dengan penuh kesulitan.” Maka cukup kami kemukakan perkataan Ash Shon’aniy,</p>
<p>“Ada yang mengatakan bahwa kami akan pas-pasin arah kiblat persis ke ka’bah. Maka kami katakan bahwa hal ini terlalu menyusahkan diri dan seperti ini tidak ada dalil yang menuntunkannya bahkan hal ini tidak pernah dilakukan oleh para sahabat padahal mereka adalah sebaik-baik generasi umat ini. Jadi yang benar, kita cukup menghadap arahnya saja, walau kita berada di daerah Mekkah dan sekitarnya (yaitu selama kita tidak melihat Ka’bah secara langsung).” (Subulus Salam, 1/463)</p>
<p>Jadi intinya, jika memang penuh kesulitan untuk mengepas-ngepasin arah kiblat agar persis ke Ka’bah maka janganlah menyusahkan diri. Namun, jika memang memiliki kemudahan, ya monggo silakan. Tetapi ingatlah bertakwalah kepada Allah semampu kalian.</p>
<p>Demikian penjelasan singkat mengenai arah kiblat. Semoga kajian yang singkat ini bermanfaat bagi kaum muslimin sekalian dan semoga kita selalu mendapatkan ilmu yang bermanfaat agar dapat menerangi jalan hidup kita. Wallahu a’lam bish showab.</p>
<p>وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ</p>
<p>“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Hud: 88)</p>
<p>Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.</p>
<p>Sumber: http://rumaysho.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jel4jah.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jel4jah.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jel4jah.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jel4jah.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jel4jah.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jel4jah.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jel4jah.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jel4jah.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jel4jah.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jel4jah.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jel4jah.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jel4jah.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jel4jah.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jel4jah.wordpress.com/107/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jel4jah.wordpress.com&amp;blog=9561536&amp;post=107&amp;subd=jel4jah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jel4jah.wordpress.com/2010/07/21/benarkah-arah-kiblat-kita-berubah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c6d361f940b6351a10fd921bbb8e3699?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">D' Tari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jel4jah.files.wordpress.com/2010/07/kabah.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">ka'bah</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
