my notes

fikih

Hukum Darah pada Wanita yang Mengalami Keguguran

Oleh: Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullaahu

Fadhilatusy Syaikh ditanya tentang seorang wanita yang mengalami keguguran pada usia 3 bulan kandungannya. Apakah dia tetap shalat atau harus meninggalkannya?

Beliau menjawab:

Yang dikenal di sisi para ulama, jika wanita mengalami keguguran maka dia tidak melaksanakan shalat, karena yang gugur dari kandungannya sudah berupa janin yang telah jelas padanya bentuk manusia, sehingga darah yang keluar darinya merupakan darah nifas yang menghalanginya dari pelaksanaan shalat.

Para ulama menyatakan: Dan sangat mungkin bentuk manusia itu begitu jelas jika sudah genap 81 hari usia kehamilan, dan hitungan ini kurang dari 3 bulan. Jika dia yakin bahwa janinnya gugur pada usia 3 bulan, maka darah yang keluar darinya darah nifas. Adapun jika usia kehamilannya sebelum 80 hari, maka darah yang keluar darinya dihukumi darah fasad (istihadhah), sehingga dia tidak boleh meninggalkan shalat hanya karena keluarnya darah tersebut.

Maka wajib baginya untuk mengingat-ingat, jika kegugurannya sebelum 80 hari usia kehamilannya dia mengqadha shalat (yang dia tinggalkan), jika dia tidak ingat berapa kali shalat yang dia tinggalkan maka dia perkirakan kemungkinan yang paling besar jumlah shalat yang dia tinggalkan kemudian mengqadhanya.

(Dinukil dari رسالة في الدماء الطبيعية للنساء (Problema Darah Wanita), karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, hal. 143-144, penerjemah: Abu Hamzah Kaswa, penerbit: Ash-Shaf Media Tegal, cet. ke-1 November 2007M, untuk http://almuslimah.co.nr

****

Oleh: Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullaahu

Fadhilatusy Syaikh ditanya tentang hukum darah yang keluar setelah keguguran?

Beliau menjawab:

Jika janin keluar, maka darah keluar mengikuti keluarnya janin tersebut. Jika telah nampak bentuk manusia pada janin tersebut, tampak tangan, kaki dan anggota badan lainnya, maka darah yang keluar adalah darah nifas sehingga dia tidak boleh shalat dan puasa sampai suci dari darah tersebut. Jika belum nampak bentuk manusia maka darahnya bukan darah nifas, sehingga dia tetap shalat dan puasa kecuali pada hari-hari yang biasanya dia mengalami haidh. Sehingga pada hari-hari tersebut dia tidak melaksanakan shalat dan puasa sampai berakhir masa kebiasaan haidhnya.

(lebih…)


BOLEHKAH WANITA HAIDH DUDUK DI MASJID?

HUKUM WANITA HAIDL DUDUK DI MASJID

Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum wanita haidl duduk di masjid menjadi dua pendapat:

Pertama: Jumhur mengharamkan kecuali sebatas lewat saja.

Kedua: Ibnu Hazm dan Al Muzani dari kalangan Syafi’iyah membolehkan.

Dalil-dalil jumhur.

1. Hadits Ummu ‘Athiyyah ia berkata:

أُمِرْنَا أَنْ نُخْرِجَ الْحُيَّضَ يَوْمَ الْعِيدَيْنِ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ فَيَشْهَدْنَ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَدَعْوَتَهُمْ وَيَعْتَزِلُ الْحُيَّضُ عَنْ مُصَلَّاهُنَّ

“Kami diperintahkan untuk mengeluarkan wanita haidl dan pingitan pada dua hari raya agar mereka menyaksikan jama’ah kaum muslimin dan seruan mereka, sedangkan wanita haidl memisahkan diri dari mushalla (tempat shalat) mereka”. (HR Bukhari dan Muslim dan ini adalah lafadz Bukhari).

Dalam hadits ini Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan para wanita haidl untuk memisahkan diri dari mushalla dan yang dimaksud mushalla di sini adalah tempat shalat, jadi hadits adalah nash yang melarang wanita haidl masuk ke dalam masjid.

2. Hadits Jasrah binti Dajajah dari Aisyah ia berkata:

فَإِنِّي لَا أُحِلُّ الْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلَا جُنُبٍ

“Sesungguhnya aku tidak menghalalkan masjid untuk wanita haidl tidak juga junub”. (HR Abu Dawud).

3. Kisah haidlnya Aisyah sewaktu haji wada’ dan Nabi bersabda:

افْعلِي مَا يَفْعَلُ الحَاجَّ غَيْرَ ألاَّ تَطُوفِي بِالبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِي

“lakukanlah semua apa yang dilakukan oleh orang yang berhaji kecuali engkau tidak boleh thawaf di Ka’bah sampai engkau suci”. (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits ini Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang wanita haidl thawaf di Ka’bah karena dikhawatirkan akan tinggal di masjid.

4. Diqiyaskan kepada orang yang junub, karena orang yang junub tidak boleh masuk masjid berdasarkan surat An Nisa : 43 yang disebutkan di dalamnya: “Tidak pula junub kecuali ‘abiri sabiil sampai ia mandi”. Ibnu Mas’ud dan ibnu Abbas menafsirkan bahwa maknanya orang junub tidak boleh masuk masjid kecuali sebatas melewat saja.

5. Hadits Aisyah bahwa ia pernah menyisir rambut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang beri’tikaf di masjid sementara Aisyah haidl dan Aisyah berada di rumahnya dan Nabi memasukkan kepalanya ke dalam rumah. (HR Muslim).

Kalaulah wanita haidl boleh masuk ke dalam masjid tentu Nabi tidak akan melakukan perbuatan seperti itu.

Dalil-dalil pendapat kedua.

Dalil yang paling kuat untuk pendapat kedua adalah karena tidak adanya dalil yang shahih dan sharih yang menunjukkan haramnya wanita haidl duduk-duduk di masjid sehingga di kembalikan kepada hukum istishhab yaitu bahwa pada asalnya sesuatu itu halal.

Mereka menjawab dalil-dalil jumhur sebagai berikut:

(lebih…)


Tsabitkan Penisbahan Kalimah “Sayyidina” Kepada Nabi Di Dalam Selawat?


Dalam hal ini, Sheikh al-Muhaddis Muhammad Nashiruddin al-Albani menyatakan:

Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah pernah ditanya berkenaan kalimat selawat untuk Nabi yang dibaca dalam solat dan di luar solat, sama ada yang wajib atau pun yang sunnah/sunat:

“Apakah dalam ucapan selawat itu disyari’atkan menggunakan kata-kata Sayyid, seperti orang mengatakan “Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad” atau “’ala sayyidina khalqi” atau “’ala sayyid waladi” atau hanya menggunakan kata-kata “Allahumma shalli ‘ala Muhammad”. Manakah yang lebih baik daripada ucapan-ucapan itu? Apakah digunakan kata-kata sayyid atau tidak menggunakannya kerana tidak tersebut dalam hadis-hadis.”
(lebih…)


Transkrip : Sifat Gerakan Telunjuk Ketika Tasyahhud, Syaikh al-Muhaddits Abu Ishaq al-Huwaini

TRANSKRIP :

Tahrik al-Ishba’ (menggerakkan jari telunjuk) sebagaimana yang ditunjukkan oleh guru kami al-Albani rahimahullahu. Saya pernah sholat di samping beliau pada suatu hari, lalu aku menggerakkan jari (telunjukku) seperti ini. Saya melakukannya seperti ini (yaitu menaikturunkan jari telunjuk). Lalu, setelah kami selesai sholat, beliau (Syaikh al-Albani) berkata kepadaku :

هل قرأت شيئا يوفق هذه الحركة؟

“Apakah Anda pernah membaca sesuatu yang mendukung gerakan seperti ini?”

Subhanallah. Saya benar-benar terkesan dengan adab (etika) syaikh rahimahullahu terhadapku. Beliau tidak dengan serta merta mengkritik diriku atau perkataanku, (dengan mengatakan) “apa yang kamu lakukan?”… tidak!!! Namun beliau bertanya kepadaku, apakah saya memiliki sandaran/dasar di dalam melakukan gerakan seperti ini (yaitu naik dan turun).
(lebih…)


Penjelasan Seputar Qodho dan Fidyah Puasa Ramadhan

MEMBAYAR UTANG (QODHO) PUASA RAMADHAN

Berbagai permasalahan qodho’ puasa (membayar utang atau nyaur puasa) masih belum dipahami oleh sebagian kaum muslimin. Oleh karena itu, pembahasan ini sangat menarik jika kami ketengahkan. Semoga bermanfaat.

Yang dimaksud dengan qodho’ adalah mengerjakan suatu ibadah yang memiliki batasan waktu di luar waktunya.[1] Untuk kasus orang sakit misalnya, di bulan Ramadhan seseorang mengalami sakit berat sehingga tidak kuat berpuasa. Sesudah bulan Ramadhan dia mengganti puasanya tadi. Inilah yang disebut qodho’.

Orang yang Diberi Keringanan untuk Mengqodho’ Puasa

Ada beberapa golongan yang diberi keringanan atau diharuskan untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan dan mesti mengqodho’ puasanya setelah lepas dari udzur, yaitu:

(lebih…)


Pertanyaan Seputar Shalat Witir

Adab-Adab Shalat Witir

oleh Ustadz Abu Muawiyah

Dari Thalq bin Ali radhiallahu anhu dia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَا وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ
“Tidak ada dua witir dalam satu malam.” (HR. Abu Daud no. 1439, At-Tirmizi no. 470, dan Ibnu Majah no. 1661)
Al Hasan bin Ali radliallahu anhuma berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah mengajarkan kepadaku beberapa kalimat yang aku ucapkan ketika melakukan witir, yaitu:

(lebih…)


Qunut Shubuh dan Qunut Nazilah

Tanya:
Assalamu’alaikum Wr Wb
Apakah Rasul baca doa qunut bila shalat shubuh sepanjang hayat? Kapan beliau berqunut? Mohon penjelasan dengan dasar hadits shahih lengkap!

P. Mul 0274 782xxxx

Jawab:

Pertanyaan senada pernah dilayangkan kepada Syeikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin.
Beliau ditanya,

“Apakah disyariatkan menggunakan doa qunut witir (yaitu allahummahdini fiman hadaita …) pada rakaat terakhir shalat shubuh?!”

Jawaban beliau,

(lebih…)


Panduan Puasa Ramadhan

بسم الله الرحمن الرحيم

Definisi Puasa.

Secara bahasa bermakna menahan.

Sementara menurut syariat, Imam Al-Qurthubi -rahimahullah- berkata, “Dia (puasa) adalah perbuatan menahan diri dari semua pembatal puasa disertai dengan niat (ibadah), sejak dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.” (Tafsir Al-Qurthubi pada ayat 183 dari surah Al-Baqarah)

Imam An-Nawawi berkata -memberikan definisi puasa- dalam Al-Majmu’ (6/247), “Penahanan yang bersifat khusus, dari sesuatu yang tertentu, yang dikerjakan pada waktu tertentu, dan dilakukan oleh orang tertentu.”

Ucapan beliau, “dari sesuatu yang tertentu,” yakni seorang yang berpuasa tidaklah menahan diri dari segala sesuatu akan tetapi terbatas pada apa yang bisa membatalkan puasanya. “Pada waktu tertentu,” yakni hanya pada siang hari dan pada hari-hari yang disyariatkan berpuasa di situ. “Oleh orang tertentu,” yakni hanya bagi mereka yang telah mumayyiz dan sanggup untuk berpuasa.

Pembagian Puasa.

Puasa dalam syariat Islam terbagi menjadi dua:

1. Puasa sunnah.

2. Puasa wajib, dan dia ada tiga jenis:

  • · Yang wajib karena waktu. Ini adalah puasa ramadhan, dan puasa ini yang akan kita bahas hukum-hukumnya.
  • · Yang wajib karena adanya sebab, dan dia adalah puasa dalam membayar kaffarat.
  • · Yang wajib karena seseorang mewajibkannya atas dirinya, yaitu puasa nazar.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiah berkata dalam Kitab Ash-Shiyam dari Syarah Al-Umdah (1/26), “Puasa itu ada lima jenis: Puasa yang wajib dengan syara’ yaitu puasa bulan ramadhan baik yang ada`an maupun qadha`, puasa wajib dalam kaffarah, yang wajib karena nazar, dan puasa sunnah.” Lihat juga Shahih Fiqhus Sunnah (2/88)

Hukum Puasa Ramadhan.

Puasa ramadhan hukumnya adalah wajib atas setiap muslim yang balig, berakal, sehat dan muqim (bukan musafir). Dia merupakan salah satu dari rukun Islam, yang kewajibannya ditunjukkan oleh Al-Qur`an, As-Sunnah, dan ijma’ umat ini.

(lebih…)


Bolehkah Mengusap Jilbab Ketika Berwudhu?

Seringkali seorang muslimah berjilbab merasa kesulitan jika harus berwudhu di tempat umum yang terbuka. Inginnya berwudhu secara sempurna dengan membasuh anggota wudhu secara langsung. Akan tetapi jika hal itu dilakukan maka dikhawatirkan auratnya akan terlihat oleh orang lain yang bukan mahram. Karena anggota wudhu seorang wanita muslimah sebagian besarnya adalah aurat, kecuali wajah dan telapak tangan menurut pendapat yang rojih (terkuat). Lalu, bagaimana cara berwudhu jika kita berada pada kondisi yang demikian? Saudariku, tidak perlu bingung dan mempersulit diri sendiri, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan kemudahan dan keringanan bagi hamba-Nya dalam syari’at Islam ini. Allah Ta’ala berfirman, يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ “…Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…” (QS. Al Baqarah: 185)

(lebih…)


Benarkah arah kiblat kita berubah?

Muhammad Abduh Tuasikal

Permasalahan ini masih menjadi polemik di tengah-tengah kaum muslimin sampai saat ini. Ada yang berusaha mencari arah kiblat yang harus persis menghadap ke Ka’bah, harus bergeser sedikit ke utara. Ada pula yang berpendapat cukup menghadap arahnya saja yaitu arah barat dan shalatnya tetap sah.

Semoga penjelasan kali ini dapat menyelesaikan polemik yang ada. Semoga bermanfaat.

(lebih…)


Tanya Jawab Seputar Wudhu

Tanya : Assalamu’alaikum . Ustadz yang saya hormati , bagaimana hukumnya jika kita bersentuhan dengan istri kita , apakah membatalkan wudhu ? Terimakasih . Wassalamu’alaikum .
Jawab : Para ulama yang mulia dan kita hormati berbeda pendapat dalam masalah : apakah persentuhan antara laki-laki dan wanita membatalkan wudhu atau tidak ? Ada 3 pendapat :
1. Ada yang mengatakan : membatalkan , baik dengan syahwat atau tidak
2. Ada yang mengatakan : tidak membatalkan , baik dengan syahwat atau tidak .
3. Ada yang mengatakan : membatalkan kalau dengan syahwat , tidak membatalkan kalau tidak dengan syahwat .
Adapun ulama yang mengatakan bahwasanya hal tersebut membatalkan wudhu , maka mereka berdalil dengan firman Allah :
)وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيداً طَيِّباً فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ)(المائدة: من الآية6(
Artinya : dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu ( QS . 5 : 6 )
Di dalam ayat di atas Allah menyebutkan bahwa diantara sebab wudhu atau tayammum ketika tidak ada air adalah menyentuh perempuan .
Adapun ulama yang mengatakan bahwasanya menyentuh kulit lawan jenis tidak membatalkan wudhu , maka mereka berdalil dengan hadist :
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبَّلَ بَعْضَ نِسَائِهِ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ وَلَمْ يَتَوَضَّأْ
Artinya : Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhaa bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium sebagian istrinya kemudian keluar untuk shalat berjama’ah dan tidak berwudhu . ( HR. At-Tirmidzy dan Ibnu Majah , dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albany )
Pendapat yang lebih kuat menurut kami adalah yang mengatakan bahwa menyentuh kulit lawan jenis tidak membatalkan wudhu baik dengan syahwat atau tidak , dengan mahram atau bukan , selama tidak keluar air mani atau madzi , karena beberapa hal :

(lebih…)


Mengusap Khuf, Kaos Kaki dan Jilbab dalam Wudhu

Penulis: Ummu Ziyad
Muraja’ah: Ust. Aris Munandar

Kita telah mempelajari tata cara wudhu bagi muslimah pada artikel yang telah lalu. Nah, sekarang mari kita melengkapi pengetahuan kita tentang tata cara wudhu yaitu bab mengusap khuf – yang ini merupakan keringanan yang diberikan Allah Azza wa Jalla kepada hamba-Nya.

Sebelum masuk pada pembahasan, pada artikel yang lalu, telah masuk beberapa  pertanyaan berkaitan dengan tata cara wudhu bagi muslimah ketika berada di luar rumah. Dan menjawab hal ini, kondisi paling aman bagi muslimah adalah berwudhu di ruangan tertutup sehingga ketika muslimah hendak menyempurnakan mengusap atau membasuh anggota tubuh yang wajib dikenakan air wudhu, auratnya  tidak terlihat oleh orang-orang yang bukan mahramnya. Sayangnya, tidak semua masjid menyediakan tempat wudhu yang berada di ruangan tertutup.

Alternatif lain adalah dengan wudhu di kamar mandi. Sebagian orang merasa khawatir dan ragu-ragu bila wudhu di kamar mandi wudhunya tidak sah karena kamar mandi merupakan tempat yang biasa digunakan untuk buang hajat. Sehingga kemungkinan besar terdapat najis di dalamnya. Wudhu di kamar mandi hukumnya boleh. Asalkan tidak dikhawatirkan terkena/ terpercik najis yang mungkin ada di kamar mandi. Kita ingat kaidah yang menyebutkan “Sesuatu yang yakin tidak bisa hilang dengan keraguan.” Keragu-raguan atau kekhawatiran kita terkena najis tidak bisa dijadikan dasar tidak bolehnya wudhu di kamar mandi, kecuali setelah kita benar-benar yakin bahwa jika wudhu di kamar mandi kita akan terkena/ terpeciki najis. Jika kita telah memastikan bahwa lantai kamar mandi bersih dari najis dan kita yakin tidak akan terkena/ terperciki najis, maka insya Allah tak mengapa wudhu di kamar mandi.

Sedangkan pelafadzan “bismillah” di kamar mandi, menurut pendapat yang lebih tepat adalah boleh melafadzkannya di kamar  mandi. Hal ini dikarenakan membaca bismillah pada saat wudhu hukumnya wajib, sedangkan menyebut nama Allah di kamar mandi hukumnya makruh. Kaidah mengatakan bahwa makruh itu berubah menjadi mubah jika ada hajat. Dan melaksanakan kewajiban adalah hajat.

Adapun membaca dzikir setelah wudhu dapat dilakukan setelah keluar kamar mandi, yaitu setelah membaca doa keluar kamar mandi. Untuk itu disarankan setelah berwudhu, tidak berlama-lama di kamar mandi (segera keluar).

Bagaimana bila kita yakin bahwa bila wudhu di kamar mandi kita akan terkena/ terperciki najis?

(lebih…)


Hukum-hukum Haid

Oleh Syaikh Muhammad bin Shaleh Al ‘Utsaimin

Terdapat banyak hukum haid, ada lebih dari dua puluh hukum. Dan kami sebutkan di sini hukum-hukum yang kami anggap banyak diperlukan, antara lain.
1. Shalat Diharamkan bagi wanita haid mengerjakan shalat, baik fardhu maupun sunat, dan tidak sah shalatnya.

(lebih…)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.