my notes

Qunut Shubuh dan Qunut Nazilah

Tanya:
Assalamu’alaikum Wr Wb
Apakah Rasul baca doa qunut bila shalat shubuh sepanjang hayat? Kapan beliau berqunut? Mohon penjelasan dengan dasar hadits shahih lengkap!

P. Mul 0274 782xxxx

Jawab:

Pertanyaan senada pernah dilayangkan kepada Syeikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin.
Beliau ditanya,

“Apakah disyariatkan menggunakan doa qunut witir (yaitu allahummahdini fiman hadaita …) pada rakaat terakhir shalat shubuh?!”

Jawaban beliau,

“Doa qunut witir yang terkenal yang Nabi ajarkan kepada al Hasan bin Ali yaitu allahummahdini fiman hadaita …tidak terdapat dalil yang menunjukkan bolehnya menggunakan doa tersebut untuk selain shalat witir. Tidak terdapat satupun riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi berqunut dengan membaca doa tersebut baik pada shalat shubuh ataupun shalat yang lain.
Qunut dengan menggunakan doa tersebut di shalat shubuh sama sekali tidak ada dasarnya dari sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sedangkan qunut shubuh namun dengan doa yang lain maka inilah yang diperselisihkan di antara para ulama. Ada dua pendapat dalam hal ini. Pendapat yang paling tepat adalah tidak ada qunut pada shalat shubuh kecuali ada sebab yang terkait dengan kaum muslimin secara umum.

Misalnya ada bencana selain wabah penyakit yang menimpa kaum muslimin maka kaum muslimin disyariatkan untuk berqunut pada semua shalat wajib, termasuk di dalamnya shalat shubuh, agar Allah menghilangkan bencana dari kaum muslimin.
Meski demikian, andai imam melakukan qunut pada shalat shubuh maka seharusnya makmum tetap mengikuti qunut imam dan mengaminkan doanya sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ahmad dalam rangka menjaga persatuan kaum muslimin.
Sedangkan timbulnya permusuhan dan kebencian karena perbedaan pendapat semacam ini adalah suatu yang tidak sepatutnya terjadi. Masalah ini adalah termasuk masalah yang dibolehkan untuk berijtihad di dalamnya. Menjadi kewajiban setiap muslim dan para penuntut ilmu secara khusus untuk berlapang dada ketika ada perbedaan pendapat antara dirinya dengan saudaranya sesama muslim. Terlebih lagi jika diketahui bahwa saudaranya tersebut memiliki niat yang baik dan tujuan yang benar. Mereka tidaklah menginginkan melainkan kebenaran. Sedangkan masalah yang diperselisihkan adalah masalah ijtihadiah. Dalam kondisi demikian maka pendapat kita bagi orang yang berbeda dengan kita tidaklah lebih benar jika dibandingkan dengan pendapat orang tersebut bagi kita. Hal ini dikarenakan pendapat yang ada hanya berdasar ijtihad dan tidak ada dalil tegas dalam masalah tersebut. Bagaimanakah kita salahkan ijtihad orang lain tanpa mau menyalahkan ijtihad kita. Sungguh ini adalah bentuk kezaliman dan permusuhan dalam penilaian terhadap pendapat” (Kutub wa Rasail Ibnu Utsaimin 208/12-13, pertanyaan no 772, Maktabah Syamilah).
Pada kesempatan lain, Ibnu Utsaimin mengatakan,

“Qunut dalam shalat shubuh secara terus menerus tanpa ada sebab syar’i yang menuntut untuk melakukannya adalah perbuatan yang menyelisihi sunnah Rasul. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah qunut shubuh secara terus menerus tanpa sebab. Yang ada beliau melakukan qunut di semua shalat wajib ketika ada sebab. Para ulama menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut di semua shalat wajib jika ada bencana yang menimpa kaum muslimin yang mengharuskan untuk melakukan qunut. Qunut ini tidak hanya khusus pada shalat shubuh namun dilakukan pada semua shalat wajib.
Tentang qunut nazilah (qunut karena ada bencana yang terjadi), para ulama bersilang pendapat tentang siapa saja yang boleh melakukannya, apakah penguasa yaitu pucuk pimpinan tertinggi di suatu negara ataukah semua imam yang memimpin shalat berjamaah di suatu masjid ataukah semua orang boleh qunut nazilah meski dia shalat sendirian.
Ada ulama yang berpendapat bahwa qunut nazilah hanya dilakukan oleh penguasa. Alasannya hanya Nabi saja yang melakukan qunut nazilah di masjid beliau. Tidak ada riwayat yang mengatakan bahwa selain juga mengadakan qunut nazilat pada saat itu.
Pendapat kedua, yang berhak melakukan qunut nazilah adalah imam shalat berjamaah. Alasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengadakan qunut karena beliau adalah imam masjid. Sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri bersabda,

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku mengerjakan shalat” (HR Bukhari).

Pendapat ketiga, yang berhak melakukan qunut nazilah adalah semua orang yang mengerjakan shalat karena qunut ini dilakukan disebabkan bencana yang menimpa kaum muslimin. Sedangkan orang yang beriman itu bagaikan sebuah bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.
Pendapat yang paling kuat adalah pendapat ketiga. Sehingga qunut nazilah bisa dilakukan oleh penguasa muslim di suatu negara, para imam shalat berjamaah demikian pula orang-orang yang mengerjakan shalat sendirian.
Akan tetapi tidak diperbolehkan melakukan qunut dalam shalat shubuh secara terus menerus tanpa ada sebab yang melatarbelakanginya karena perbuatan tersebut menyelisihi petunjuk Nabi.
Bila ada sebab maka boleh melakukan qunut di semua shalat wajib yang lima meski ada perbedaan pendapat tentang siapa saja yang boleh melakukannya sebagaimana telah disinggung di atas.
Akan tetapi bacaan qunut dalam qunut nazilah bukanlah bacaan qunut witir yaitu “allahummahdini fiman hadaita” dst. Yang benar doa qunut nazilah adalah doa yang sesuai dengan kondisi yang menyebabkan qunut nazilah dilakukan. Demikianlah yang dipraktekkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Jika seorang itu menjadi makmum sedangkan imamnya melakukan qunut shubuh apakah makmum mengikuti imam dengan mengangkat tangan dan mengaminkan doa qunut imam ataukah diam saja?
Jawabannya, sikap yang benar adalah mengaminkan doa imam sambil mengangkat tangan dalam rangka mengikuti imam karena khawatir merusak persatuan. Imam Ahmad menegaskan bahwa seorang yang menjadi makmum dengan orang yang melakukan qunut shubuh itu tetap mengikuti imam dan mengaminkan doa imam. Padahal Imam Ahmad dalam pendapatnya yang terkenal yang mengatakan bahwa qunut shubuh itu tidak disyariatkan. Meski demikian, beliau membolehkan untuk mengikuti imam yang melakukan qunut shubuh karena dikhawatirkan menyelisihi imam dalam hal ini akan menimbulkan perselisihan hati di antara jamaah masjid tersebut.
Inilah yang diajarkan oleh para shahabat. Khalifah Utsman di akhir-akhir masa kekhilafahannya tidak mengqashar shalat saat mabit di Mina ketika pelaksanaan ibadah haji. Tindakan beliau ini diingkari oleh para shahabat. Meski demikian, para shahabat tetap bermakmum di belakang Khalifah Utsman. Sehingga mereka juga tidak mengqashar shalat. Adalah Ibnu Mas’ud diantara yang mengingkari perbuatan Utsman tersebut. Suatu ketika, ada yang berkata kepada Ibnu Mas’ud,

“Wahai Abu Abdirrahman (yaitu Ibnu Mas’ud) bagaimanakah bisa-bisanya engkau mengerjakan shalat bersama amirul mukminin Utsman tanpa qashar sedangkan Nabi, Abu Bakar dan Umar tidak pernah melakukannya. Beliau mengatakan, “Menyelisihi imam shalat adalah sebuah keburukan” (Diriwayatkan oleh Abu Daud)”

(Kutub wa Rasail Ibnu Utsaimin 208/14-16, pertanyaan no 774, Maktabah Syamilah).

sumber:ustadzaris.com

==============================

SEPUTAR QUNUT NAZILAH

Abû Salmâ al-Atsarî

الحمد لله، والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد:

Peristiwa pembantaian dan penyerangan muslim Palestina di jalur Gaza oleh bangsa Yahudi terlaknat telah memasuki hari ke-13 (Jum’at, 9 Januari 2009). Tidak kurang dari 750 orang telah meninggal dunia, dan sebagian besarnya adalah anak-anak dan kaum wanita. Maka wajib bagi setiap muslim untuk memberikan pertolongan dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Di antara bentuk nushroh (pertolongan) yang besar bagi saudara-saudara kita adalah dengan cara mendoakan mereka di setiap kesempatan, diantaranya adalah dengan qunût nâzilah.

Beberapa negeri Islam telah menegakkan dan melaksanakan qunût nâzilah. Beberapa hari lalu Syaikh Su’ûd Syuraim telah membacakan qunût nâzilah. Para ulama juga telah menfatwakan untuk memberikan pertolongan terhadap saudara-saudara kita kaum muslimin yang tertindas dengan doa dan qunût nâzilah, diantaranya adalah al-Lajnah ad-Dâ`imah secara umum dan Syaikh ‘Abdul Karîm al-Khudair secara khusus. Majelis Ulama Indonesia, di dalam Pernyataan Sikapnya terhadap agresi Yahudi kepada kaum muslimin Palestina juga menyerukan pembacaan qunût nâzilah di setiap sholat wajib. (Sumber : http://www.mui.or.id/konten/berita/mui-tindak-tegas-israel)

Melihat begitu urgen dan diperlukannya pembahasan ini, terlebih masalah ini masih belum diketahui oleh sebagaian kaum muslimin, serta sebagai bentuk turut andil di dalam menyebarkan sunnah dan pembelaan terhadap kaum muslimin Palestina, maka saya turunkan seputar konsep qunût nâzilah yang benar –insyâ Allôh- menurut sunnah Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam secara ringkas. Dengan memohon taufiq kepada Allôh Subhânahu wa Ta’âlâ, saya memulai pembahasan ini :

Definisi Qunût Nâzilah

Qunût berasal dari kata qonata – yaqnutu – qunûtan (قنت يقنت قنوتا) yang berarti ta’at, merendahkan diri, patuh, berdiri dalam sholat, diam di dalam beribadah, do’a, tasbih dan khusyu’. Sedangkan yang dimaksud di sini adalah do’a tertentu yang dilakukan sebelum ruku’ atau setelah ruku’

Nâzilah adalah bentuk mufrad (singular) dari nawâzil. Artinya adalah : “keadaan genting di masa yang penuh kesulitan” (lihat Kisyâful Qinâ’ : I/421).

Jadi, qunût nâzilah artinya adalah doa khusus yang dipanjatkan di saat sholat di saat kaum muslimin mengalami suatu musibah atau bencana, agar Allôh menolong dan memberikan kaum muslimin kemenangan, serta menghancurkan dan membinasakan kaum kafir yang telah berlaku aniaya kepada kaum muslimin.

Waktu dibacakannya qunût nâzilah

Qunût nâzilah disyariatkan untuk dibaca di setiap sholat lima waktu selama sebulan. Dalilnya adalah hadits-hadits nabi yang mulia ‘alaihi ash-Sholâtu was Salâm sebagai berikut :

Dari Ibnu ‘Abbâs Radhiyallâhu ‘anhu beliau berkata :

قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا مُتَتَابِعًا فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَصَلَاةِ الصُّبْحِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ إِذَا قَالَ « سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ»  مِنَ الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ بَنِي سُلَيْمٍ عَلَى رِعْلٍ وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ وَيُؤَمِّنُ مَنْ خَلْفَهُ

“Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam melakukan qunût selama sebulan berturut-turut di waktu zhuhur, ashar, maghib, isya’ dan shubuh, di akhir waktu setiap sholat setelah beliau membaca sami’allâhu liman hamidahu pada rakaat terakhir untuk mendoakan keburukan bagi bani Sulaim, Ri’lin, Dzakwân dan ‘Ushoyyah. Lalu makmum di belakang mengaminkannya.” (HR Imam Ahmad dan Abu Dawud, dihasankan oleh al-Albânî di dalam Shahih Sunan Abî Dâwûd 1443)

Dari Anas bin Mâlik Radhiyallâhu ‘anhu beliau berkata :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ شَهْرًا يَلْعَنُ رِعْلاً وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ عَصَوُا اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam melakukan qunût selama sebulan, beliau mengutuk bani Ri’lan, Dzakwân dan ‘Ushoyyah yang telah membangkang terhadap Allôh dan Rasul-Nya” (Muttafaq ‘Alaihi dan lafazh hadits atas adalah lafazh Muslim)

Qunût Nâzilah disyariatkan ketika ada sebab bencana

Abû Hurairoh Radhiyallâhu ‘anhu menceritakan :

ثُمَّ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم تَرَكَ الدُّعَاءَ بَعْدُ فَقُلْتُ أُرَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ تَرَكَ الدُّعَاءَ لَهُمْ قَالَ فَقِيلَ وَمَا تُرَاهُمْ قَدْ قَدِمُوا

“Kemudian aku melihat Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam meninggalkan doa qunût setelah itu (setelah bencana tidak ada lagi). Lantas aku menyampaikan bahwa aku melihat Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam telah meninggalkan do’a bagi kaum muslimin (yang teraniaya), dan ada orang bertanya, apakah Anda melihat bahwa mereka (yaitu al-Walîd dan rombongannya) telah tiba (di Madinah dengan selamat)” (HR Muslim)

Ibnul Qoyyim rahimahullâhu berkata :

إنما قنت عند النوازل للدعاء لقوم، وللدعاء على آخرين، ثم تركه لما قدم من دعا لهم، وتخلصوا من الأسر

“Sesungguhnya qunût dilaksanakan ketika tertimpa bencana untuk mendoakan (keselamatan) bagi kaum muslimin dan mendoakan (kehancuran) bagi musuh-musuh mereka. Kemudian Nabi meninggalkan doa qunût setelah kaum muslimin mendapatkan keselamatan dan terbebas dari keburukan.” (Zâdul Ma’âd : I/272)

Ibnu Taimiyah rahimahullâhu berkata :

القنوت مسنون عند النوازل، وهذا القول هو الذي عليه فقهاء أهل الحديث، وهو المأثور عن الخلفاء الراشدي

“Qunût disunnahkan ketika tertimpa bencana. Dan ini merupakan pendapatnya ahli fikih dari kalangan ahli hadits, dan qunût ini ma’tsûr (ada riwayatnya) dari al-Khulafâ` ar-Râsyidîn” (Majmû’ al-Fatâwâ 23/108).

Qunût tidak hanya dilakukan di waktu Shubuh

Qunut tidak hanya dilakukan pada watu shubuh, namun waktu yang paling sering Rasulullah melakukan qunut di dalamnya adalah di waktu shubuh.

Ibnu Taimiyah rahimahullâhu berkata :

فيشرع أن يقنت عند النوازل يدعو للمؤمنين ويدعو على الكفار في الفجر وغيرها من الصلوات، وهكذا كان عمر يقنت لما حارب النصارى بدعائه الذي فيه ( اللهم العن كفرة أهل الكتاب )

“Disyariatkan melakukan qunût nâzilah di kala tertimpa bencana, mendoakan kebaikan bagi kaum muslimin dan keburukan bagi kaum kuffar, baik di waktu shubuh atau waktu-waktu sholat lainnya. Beginilah ‘Umar tatkala beliau memerangi kaum nasrani, beliau melakukan qunût dan berdoa : “Ya Allôh, laknatlah kaum kafir ahli kitab”. (Majmû’ al-Fatâwâ 22/270).

Ibnu Taimiyah rahimahullâhu berkata :

وأكثر قنوته ـ يعني النبي صلى الله عليه وسلم ـ كان في الفجر

“Waktu qunût yang paling sering dilakukan oleh Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam adalah pada waktu shubuh.” (Majmû’al- Fatâwâ : 22/269)

Ibnul Qoyyim rahimahullâhu berkata :

وكان هديه صلى الله عليه وسلم القنوت في النوازل خاصة، وترْكَه عند عدمها، ولم يكن يخصه بالفجر، بل كان أكثر قنوته فيها

“Petunjuk Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam di dalam melakukan qunût adalah mengamalkannya ketika ditimpa bencana secara khusus dan meninggalkannya ketika bencana sudah tidak ada. Beliau tidak mengkhususkannya hanya di waktu shubuh, namun waktu yang paling sering beliau melakukan qunût adalah di waktu shubuh.” (Zâdul Ma’âd : 1/273)

Kapankah dibacakan qunût nâzilah, sebelum atau setelah ruku’?

Telah tetap dari Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam bahwa qunût dapat dilaksanakan sebelum atau setelah ruku’, walau yang paling sering dilakukan Nabi adalah setelah ruku’. Sebagaimana dalam riwayat-riwayat berikut :

عن أنس أنه سئل: أقنت رسول الله صلى الله عليه وسلم في الصبح؟ قال: نعم، فقيل: أوقنت قبل الركوع أو بعد الركوع؟ قال: بعد الركوع يسيرا

Dari Anas Radhiyallâhu ‘anhu beliau ditanya : “Apakah Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam melakukan qunût di waktu shubuh?” Beliau menjawab, “iya”. Lantas beliau ditanya lagi : “Beliau melakukan qunût sebelum atau setelah ruku’?”. Beliau menjawab : “Setelah ruku’ dengan bacaan ringan.” (Muttafaq ‘alaihi)

عن أنس أنه سئل عن القنوت بعد الركوع أو عند الفراغ من القراءة؟ قال: لا بل عند الفراغ من القراءة.

Dari Anas Radhiyallâhu ‘anhu beliau ditanya tentang masalah qunût, apakah dilakukan setelah ruku’ ataukah setelah membaca al-Qur`ân (sebelum ruku’)? Beliau menjawab : “dilakukan setelah membaca al-Qur`ân.” (HR Bukhârî)

Anas Radhiyallâhu ‘anhu juga berkata :

كنا نقنت قبل الركوع وبعده

“Kami pernah melakukan qunût sebelum dan setelah ruku’”

Kesemua hadits di atas menunjukkan bahwa qunût boleh dilakukan sebelum atau setelah ruku’. Dan yang paling sering dilakukan oleh Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam adalah melakukannya setelah ruku’.

Disyariatkannya melakukan Qunût Nâzilah secara ringan dan ringkas

Disunnahkan untuk tidak memperpanjang do’a qunût, dan mencukupkan dengan do’a-do’a yang inti saja, yaitu untuk menolong dan menyelamatkan kaum muslimin dari bencana dan do’a untuk menghancurkan dan menceraiberaikan kaum kuffar. Hal ini sebagaimana di dalam riwayat Anas bin Mâlik Radhiyallâhu ‘anhu ketika beliau ditanya :

هَلْ قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ

“Apakah Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam melaksanakan qunût di sholat shubuh?”

Beliau Radhiyallâhu ‘anhu menjawab :

نَعَمْ بَعْدَ الرُّكُوعِ يَسِيرًا

“Iya, setelah ruku dengan bacaan yang ringan.” (HR Muslim)

Hadits di atas menunjukkan bahwa Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam melaksanakan qunût dengan bacaan yang ringkas dan ringan, tidak memperpanjangnya.

Imam disunnahkan mengeraskan bacaan qunût dan makmum mengaminkannya

Sebagaimana di dalam hadits Abû Hurairoh Radhiyallâhu ‘anhu :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ عَلَى أَحَدٍ أَوْ يَدْعُوَ لأحَدٍ قَنَتَ بَعْدَ الرُّكُوعِ فَرُبَّمَا قَالَ إِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ «اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ اللَّهُمَّ أَنْجِ الْوَلِيدَ بْنَ الْوَلِيدِ وَسَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ وَعَيَّاشَ بْنَ أَبِي رَبِيعَةَ اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ وَاجْعَلْهَا سِنِينَ كَسِنِي يُوسُفَ» يَجْهَرُ بِذَلِكَ

“Bahwasanya Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam jika hendak berdoa mendoakan keburukan atau kebaikan bagi seseorang setelah rukû’, seringkali beliau mengucapkan setelah ucapan sami’allôhu liman hamidahu : Rabb kami, segala pujian hanyalah milik-Mu. Ya Allôh selamatkanlah al-Walîd bin al-Walîd, Salamah bin Hisyâm dan Ayyâsy bin Abî Rabî’ah. Ya Allôh, keraskanlah adzab-Mu kepada bani Mudhor! Ya Allôh, turunkanlah paceklik kepada mereka sebagaimana paceklik pada zaman Yusuf!” seraya mengeraskan bacaannya. (HR Bukhârî)

An-Nawawî rahimahullâhu berkata :

وحديث قنوت النبي صلى الله عليه وسلم حين قُتل القراء رضي الله عنهم يقتضي أنه كان يجهر به في جميع الصلوات، هذا كلام الرافعي. والصحيح أو الصواب استحباب الجهر

“Hadits tentang qunûtnya Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam ketika terbunuhnya para qurrô` Radhiyallâhu ‘anhum, menunjukkan wajibnya bahwa beliau mengeraskan bacaan doanya di setiap waktu sholatnya, dan ini adalah pendapat ar-Rafi’î. Pendapat yang paling benar dan tepat adalah sunnah hukumnya mengeraskan bacaan.” (al-Majmû’ : 3/482)

Ibnu Hajar rahimahullâhu berkata :

وظهر لي أن الحكمة في جعل قنوت النازلة في الاعتدال دون السجود مع أن السجود مظنة الإجابة كما ثبت (أقرب ما يكون العبد من ربه وهو ساجد) وثبوت الأمر بالدعاء فيه أن المطلوب من قنوت النازلة أن يشارك المأموم الإمام في الدعاء ولو بالتأمين، ومن ثمَّ اتفقوا على أنه يجهر به

“Tampak padaku bahwa hikmah ditetapkannya qunût nâzilah di waktu i’tidâl bukan sujud, padahal sujud adalah saat dikabulkannya doa sebagaimana dalam hadits “keadaan seorang hamba yang paling dekat dengan Rabb-Nya adalah di saat sujudnya”, dan diperintahkan doa di dalamnya adalah, bahwa yang dituju dari dilaksanakannya qunût nâzilah adalah agar makmum dapat menyertai imam di dalam berdoa dan mengaminkannya. Oleh karena itulah, para ulama bersepakat untuk mengeraskan bacaan qunut.” (Fath al-Bârî : 2/570)

Disunnahkan mengangkat kedua tangan ketika berdoa qunût

Sebagaimana dalam hadits Anas Radhiyallâhu ‘anhu beliau berkata :

فَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَلَاةِ الْغَدَاةِ رَفَعَ يَدَيْهِ فَدَعَا عَلَيْهِمْ

“Aku melihat Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam sholat zhuhur mengangkat kedua tangannya dan mendoakan keburukan bagi mereka (kaum kafir).” (HR Ahmad dengan sanad yang shahih)

Dari Abu Râfi’ beliau berkata :

صليت خلف عمر بن الخطاب رضي الله عنه فقنت بعد الركوع، ورفع يديه، وجهر بالدعاء

“Aku pernah sholat di belakan ‘Umar bin Khaththâb Radhiyallâhu ‘anhu dan beliau membaca qunût setelah ruku’ sembari mengangkat kedua tangannya dan mengeraskan bacaan do’anya.” (Diriwayatkan oleh al-Baihaqî dalam Sunan al-Baihaqî 2/212 dan mengatakan keshahihannya dari ‘Umar).

Tidak mengusap wajah setelah qunût

Tidak ada satupun dalil yang shahih yang menunjukkan disyariatkannya mengusap wajah setelah qunut atau berdoa. Semua hadits yang datang tentang mengusap wajah adalah hadits yang dha’if dan tidak bisa dijadikan hujjah.

Al-Baihaqî Rahimahullâhu berkata :

فأما مسح اليدين بالوجه عند الفراغ من الدعاء فلست أحفظه عن أحد من السلف في دعاء القنوت، وإن كان يروى عن بعضهم في الدعاء خارج الصلاة، وقد روي فيه عن النبي صلى الله عليه وسلم حديث فيه ضعف. وهو مستعمل عند بعضهم خارج الصلاة، وأما في الصلاة فهو عمل لم يثبت بخبر صحيح ولا أثر ثابت، ولا قياس. فالأولى أن لا يفعله ويقتصر على ما فعله السلف رضي الله عنهم من رفع اليدين دون مسحهما بالوجه في الصلاة وبالله التوفيق “

“Adapun mengusap wajah dengan kedua tangan setelah selesai berdoa qunut, maka aku tidak menghapal ada satupun riwayat dari kaum salaf yang mengamalkannya ketika berdoa qunut. Walaupun ada riwayat dari sebagian mereka tentang mengusap wajah ketika berdoa di luar sholat. Juga diriwayatkan dari Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam tentang hal ini namun haditsnya dhaif. Hal ini diamalkan oleh sebagian mereka hanya di luar sholat. Adapun di dalam sholat, maka ini adalah amal yang tidak ada hadits dan atsar yang shahih menetapkannya, dan tidak pula qiyas. Yang lebih utama adalah tidak mengamalkan hal ini (mengusap wajah) dan mencukupkan dengan perbuatan salaf Radhiyallâhu ‘anhum yang mengangkat tangan mereka ketika sholat tanpa mengusap wajah. Wabillahi at-Taufîq.” (Sunan al-Baihaqî 2/212)

Imam Nawawî rahimahullâhu mengomentari :

وله ـ يعني البيهقي ـ رسالة مشهورة كتبها إلى الشيخ أبي محمد الجويني أنكر عليه فيها أشياء من جملتها مسحه وجهه بعد القنوت

“Baihaqî memiliki risalah yang terkenal yang ditulis kepada Syaikh Abu Muhammad al-Juwainî, beliau mengingkarinya dalam banyak hal, diantaranya tentang pendapatnya mengenai mengusap wajah setelah qunut.” (al-Majmû’ 3/480)

Ibnu Taimiyah Rahimahullâhu berkata :

وأما مسح وجهه بيديه فليس عنه فيه إلا حديث أو حديثان لا يقوم بهما حجة

“Adapun mengusap wajah dengan kedua tangan, maka tidak ada dalilnya kecuali satu atau dua hadits yang tidak dapat dijadikan hujjah.” (Majmû’ al-Fatâwâ 22/519)

Bolehkah mengamalkan qunût nâzilah tanpa izin ulil amri?

Tidak patut bagi imam masjid melaksanakan qunût melainkan setelah mendapatkan izin dari ulil amri (penguasa dan ulama). Karena qunûtnya imam masjid tanpa izin ulil amri dapat menimbulkan kekacauan. Apabila pintu ini dibuka, niscaya akan ada orang akan merasa bahwa sekarang sedang terjadi musibah besar dan sebagian lagi tidak. Semuanya menurut keyakinan dan pendapatnya masing-masing. Sehingga dampaknya muncul perselisihan dan pertikaian.

Sepatutnya dalam masalah-masalah besar yang berkaitan dengan umat, hendaknya dibicarakan dengan dengan para ulama, meminta bimbingan dan arahan mereka. Termasuk pula dalam masalah qunût nâzilah.

Mengamalkan qunût pada sholat jamâ’ah atau munfarid?

Para ulama berbeda pendapat tentang hal ini. Al-Qôdhî dan Ibnu Taimiyah berpendapat bolehnya qunût pada sholat munfarid (al-Inshâf 2/175). Pendapat yang râjih dan terpilih dalam hal ini adalah, mengamalkan qunût hanya pada sholât jamâ’ah, bukan munfarid (sholat sendirian). Karena tidak ada dalil shahih yang menunjukkan bahwa qunût nâzilah pernah dilakukan oleh Rasulullah dan sahabatnya pada sholat munfarid.

Bagaimana qunût pada sholat jum’at?

Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Bahkan beberapa ulama menjadikan masalah ini sebagai bab di dalam kitab-kitab mereka, seperti ‘Abdur Razzâq di dalam Mushonnaf-nya bab al-Qunût Yaum al-Jum’ah, Ibnu Abî Syaibah di dalam Mushonnaf-nya bab Fî Qunûti Yaum al-Jum’ah, Ibnul Mundzir di dalam al-Awsâth bab Dzikrul Qunût fî al-Jum’ah, dan kesemua ulama ini menyebutkan atsar para sahabat dan tabi’in yang meninggalkan qunût pada sholat Jum’at. Namun, tidak ada dalil yang jelas bahwa qunût yang ditinggalkan pada sholat Jum’at tersebut apakah qunût nâzilah atau bukan, sehingga penunjukan keharamannya tidak jelas.

Al-Mardâwî mengatakan bahwa qunût diamalkan di seluruh sholat wajib kecuali sholat Jum’at, dan ini adalah pendapat yang paling benar dari madzhabnya. Al-Majd di dalam Syarh-nya dan Ibnu ‘Abdûs di dalam Tadzkirah-nya menyatakan tentang pelaksanaan qunût di sholat Jum’at.

Yang râjih adalah tidak diamalkan qunût pada sholât Jum’at, karena tidak ada riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi dan sahabat beliau melakukan qunût pada hari Jum’at. Hukum asal di dalam ibadah adalah terlarang, sampai ada dalil yang memalingkan larangannya.

Permasalahan ini, yaitu qunût di sholat munfarid dan sholat Jum’at, lebih memerlukan pembahasan lebih jauh lagi. Wallôhu a’lam.

Tidak ada lafazh atau bacaan khusus di dalam qunût nâzilah

Qunût Nâzilah tidak memiliki bacaan doa tertentu, bacaannya sesuai dengan keadaan bencana yang menimpa. Adapun bacaan Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam : “Allôhummâ ihdinâ fîman hadaita…” dst, bacaan ini hanya dibaca Nabi di qunût witir saja. Tidak ada satupun dalil yang menyebutkan bahwa Nabi membaca doa ini pada qunût nâzilah.

Ibnu Taimiyah rahimahullâhu berkata :

فالسنة أن يقنت عند النازلة ويدعو فيها بما يناسب القوم المحاربين

“Yang sunnah adalah melakukan qunût di kala tertimpa bencana, dengan membaca doa yang sesuai bagi kaum yang memerangi.” (Majmû’ Fatâwâ : 21/155)

Beliau rahimahullâhu juga berkata :

وينبغي للقانت أن يدعو عند كل نازلة بالدعاء المناسب لتلك النازلة.وإذا سمى من يدعو لهم من المؤمنين ومن يدعو عليهم من الكافرين المحاربين كان ذلك حسناً

“Sepatutnya bagi orang yang melakukan qunût untuk berdoa di kala tertimpa bencana dengan doa yang sesuai dengan bencana tersebut. Apabila menyebut nama kaum mukminin yang didoakan kebaikan atasnya dan menyebut nama kaum kuffar yang memerangi kaum muslimin yang didoakan keburukan bagi mereka, maka yang demikian ini lebih baik.”

Beliau rahimahullâhu berkata kembali :

“’Umar Radhiyallâhu ‘anhu melakukan qunût tatkala kaum muslimin ditimpa oleh bencana. Beliau berdoa di dalam qunût dengan doa yang sesuai dengan bencana tersebut, sebagaimana Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam ketika melakukan qunût pertama kali, beliau mendoakan keburukan bagi kabilah Bani Sulaim yang telah membunuh para pembaca al-Qur`an (Qurrô’), beliau mendoakan keburukan bagi mereka yang sesuai dengan tujuannya. Kemudian ketika Nabi melakukan qunût yang mendoakan keselamatan bagi para sahabat Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam yang tertindas, beliau berdoa dengan doa yang sesuai dengan tujuannya.

Sunnah Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam dan al-Khulafâ` ar-Râsyidîn menunjukkan atas dua hal : Pertama, doa qunût itu disyariatkan ketika ada sebab yang mengharuskannya, bukan sunnah yang senantiasa diamalkan di dalam sholat. Kedua, doa di dalam qunût ini bukanlah doa yang sudah baku lafazhnya. Namun doa di dalam qunût itu sesuai dengan keadaan dan tujuannya. (Majmû’ Fatâwâ : 23/109)

Jadi, tidaklah mengapa apabila kita berdoa di dalam qunût dengan bacaan yang sesuai dengan keadaan di zaman ini dengan meniru ushlub (gaya bahasa) Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam, seperti misalnya :

اللهم أنج إخواننا المسلمين في العراق وفلسطين وأفغانستان والشيشان وكشمير، اللهم انصرهم ، اللهم اشدد وطأتك على اليهود و النصارى والهندوس ومن شايعهم وأعانهم، اللهم العنهم اللهم اجعلها عليهم سنين كسني يوسف

“Ya Allôh, selamatkanlah saudara-saudara kita kaum muslimin di Iraq, Palestina, Afghanistan, Chechnya dan Kasymir. Ya Allôh tolonglah mereka. Ya Allôh, keraskanlah adzab-Mu kepada Yahudi, Nasrani, Hindu dan siapa saja yang menyokong dan menolong mereka. Ya Allôh laknatlah mereka dan turunkanlah paceklik kepada mereka sebagaimana paceklik pada zaman Yusuf.”

Lafazh di atas serupa dengan lafazh bacaan doa Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam yang diriwayatkan oleh Abû Hurairoh ketika beliau qunût mendoakan keselamatan bagi sahabat beliau yang teraniaya dan ditahan kaum kafir untuk berhijrah. Mereka disiksa, dilukai, dan diancam oleh kaum kafir ketika itu. Diantara mereka adalah ‘Ayyâsy bin Abî Rabî’ah, al-Walîd bin al-Walîd dan Salamah bin Hisyâm. Beliau ketika itu membaca :

اللَّهُمَّ أَنْجِ عَيَّاشَ بْنَ أَبِي رَبِيعَةَ اللَّهُمَّ أَنْجِ الْوَلِيدَ بْنَ الْوَلِيدِ اللَّهُمَّ أَنْجِ سَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ اللَّهُمَّ أَنْجِ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ سِنِينَ كَسِنِي يُوسُفَ

“Ya Allôh, selamatkanlah ‘Ayyâsy bin Abî Rabî’ah! Ya Allôh, selamatkanlah al-Walîd bin al-Walîd! Ya Allôh, selamatkanlah Salamah bin Hisyâm! Ya Allôh, selamatkanlah kaum mukminin yang tertindas. Ya Allôh, keraskanlah adzab-Mu kepada bani Mudhor! Ya Allôh, turunkanlah paceklik kepada mereka sebagaimana paceklik pada zaman Yusuf.” (HR Bukhârî).

Sungguh, meniru ushlub Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam adalah lebih baik, walaupun membaca doa yang ushlub-nya berbeda namun sesuai dengan kondisi tidaklah mengapa.

Beberapa kekeliruan dalam masalah bacaan qunût

Ada beberapa kekeliruan di dalam masalah bacaan qunût yang perlu diluruskan, diantaranya :

1. Membaca doa Allôhummâ-hdinâ fîman hadaita dst. Hal ini hanya untuk qunût witr, bukan qunût nâzilah.

2. Melazimkan dan menyenantiasakan bacaan sholawat kepada Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam di akhir bacaan doa qunût. Hal ini tidak ada dalil dan tuntunannya dari Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam. Adapun riwayat yang ma’tsûr dari para sahabat tentang sholawat adalah pada bacaan qunût witir.

3. Membaca doa dengan konteks yang salah, seperti misalnya memintakan adzab kepada Yahudi dan kaum kuffar, ditutup dengan Ya Arhamar Râhimîn (wahai Dzat yang maha pengasih) atau semisalnya. Hal ini tidak benar sebab tawassul dengan sifat rahmah tidak sesuai dengan maksud doa untuk memberikan adzab dan kehancuran bagi kaum kuffar.

4. Memanjangkan doa dan berdoa keluar dari konteks nâzilah, seperti berdoa meminta suatu hal yang tidak ada kaitannya dengan bencana.

5. Makmum tidak mengangkat tangan dan mengaminkan bacaan qunut imam.

6. Mengusap wajah dengan telapak tangan setelah selesai membaca qunut.

Demikianlah risalah ringkas ini saya susun. Semoga dapat memberikan manfaat baik bagi diri penyusun sendiri, maupun kaum muslimin lainnya yang membacanya. Segala tegur sapa, nasehat masukan dan kritikan penyusun terima dengan lapang dada, dan jangan segan untuk mengingatkan penyusun apabila ada kesalahan atau kekurangan dari artikel di atas. Semoga Alloh Subhânahu wa Ta’âlâ segera mengangkat kezhaliman dan penindasan yang dialami saudara-saudara kita kaum muslimin di bumi Palestina dan selainnya, dan menghancurkan serta memporakporandakan barisan kaum kafir yang memerangi kaum muslimin.

وبالله التوفيق، والحمد لله رب العلمين.

2 responses

  1. parewa

    wajar, krn yg menulis tulisan di atas adalah kelompok anti qunut….

    Desember 24, 2010 pukul 9:44 am

    • maaf,saya ingin sedikit meluruskan. masalah do’a qunut subuh adalah perkara khilafiyah yang para ulama jg terdapat perselisihan di dalamnya.kami hanya mengikuti salah satu pendapat dengan berdasarkan dalil. jadi ini bukan masalah pro atau kontra(antipati) .ini adalah terkait dengan pemahaman terhadap suatu persoalan dengan berpegang pada dalil syar’i.ketika pun saya pribadi sholat berada di belakang imam yang qunut, maka sebagai makmum jg ikut mengamini. firanda.com >>Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata, “Lihatlah para Imam (kaum muslimin) yang benar-benar memahami nilai persatuan. Imam Ahmad rahimahullah berpendapat qunut shalat Subuh adalah bid’ah. Meskipun demikian beliau berkata, “Jika engkau shalat di belakang Imam yang qunut maka ikutilah qunutnya, dan aminkanlah doa imam tersebut.” Semua ini demi persatuan barisan dan hati, serta agar tidak timbul kebencian antara sebagian kita terhadap sebagian yang lain.” (Asy-Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’ 4/86)
      *Para ulama yang berselisih paham saja tetap menunjukkan sikap terpuji, lalu mengapa kita yang orang biasa harus saling mencaci??
      Allohul Musta’an

      Juli 25, 2011 pukul 3:19 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.